
"Terserah papi aja ah" ucap Leela sambil bersiap mau berdiri. Namanya juga ibu hamil, apalagi keadaan perut sudah semakin membuncit membuat Leela agak kesusahan jika hendak berdiri langsung.
"mau kemana?" tanya Bimo
"Cari Shepa" ucap Leela sambil meringis.
"oh cari Shepa ya udah hati hati, mau aku temani nggak?"
"nggak usah"
"ya udah tapi jangan ngobrol sama wiji ya" bisik Bimo sambil berdiri disamping sang istri.
"Cemburu ya?" goda Leela.
"nggak siapa juga yang cemburu, orang dia masih kalah ganteng kok sama aku"
"emmhh bilang aja iya" ucap Leela sambil mencebikan bibirnya.
Euh gemasnya Bimo melihat tingkah sang istri ingin rasanya ia langsung menerkam istrinya saat itu juga. Namun sayang hal itu diurungkan Bimo mengingat masih banyaknya tamu.
"hati hati" ucap Bimo sambil memandang kepergian sang istri dari sisi tempat duduknya.
"Pak Diman" Leela memanggil pak Diman yang kala itu sedang lewat di depannya.
"Iya nyonya"
"Lihat Shepa?"
"Non Shepa ada di taman belakang nyonya"
"ngapain?"
"Saya kurang tau nyonya"
"Ooohh" Lantas Leela langsung berjalan ke arah taman.
"E,emm" Leela berdehem saat ia sudah didekat sang adik.
__ADS_1
"Eh kak Leela" ucap Shepa yang sedikit kaget.
"Kok disini?" tanya Leela.
"Nggak apa apa kak, cuma tadi di dalam terasa panas aja" ucap Shepa yang malah membuat Leela berspekulasi.
"emang AC di dalam kurang dingin ya ?" ucap Leela.
"i-iya" Shep sedikit gelanggapan.
"kalau apa yang dikatakan papi Andra itu benar, kakak pun pernah merasakan diposisi kamu saat ini. Mencintai dalam diam, menunggu keajaiban datang dan membuat cinta itu tak bertepuk sebelah tangan. Kenapa kamu harus mengalami hal seperti kakak She? kenapa tidak cukup di kakak aja yang mmerasakannya. Kakak tidak tau harus berbuat apa untuk kamu, sementara dia juga sahabat kakak. Andai dia bukan sahabat kakak mungkin saja kakak bisa membantu kamu"
Cara bening terlihat merembes dari sudut mata cantik Leela. "Kenapa kakak nangis?" tanya Shepa yang bingung melihat air mata di pipi sang kakak.
"Emmh tidak apa apa, kakak hanya terharu aja sebentar lagi mau mengalami moment impian setiap perempuan" ucap Leela.
Shepa tersenyum "Selamat ya kak, semoga kebahagiaan menyertai keluarga kakak selalu"
"Iya kamu juga ya" ucap Leela berusaha menahan sesak dalam dada nya. Bagaimana dia tidak merasa sedih jika sang adik harus mengalami hal yang sama seperti dirinya.
Bedanya Leela mencintai Bimo dalam diam ketika sudah menikah. Tapi Shepa bahkan tidak ada ikatan apa pun yang mendasari dirinya untuk tetap memperjuangkan cintanya.
"Bim, kok aku nggak lihat Shepa, apa dia tidak datang?" Bisik Arga yang tak ingin didengar oleh Revina.
"Ada kok, tadi dia kesini Leela aja sedang mencari dia, kenapa emang?" tanya Bimo balik.
"Nggak apa apa, cuma kangen aja sama dia" ucap Arga sambil terkekeh.
"Cari aja sendiri kalau mau sekedar basa basi, jangan coba coba mau dua duanya Ga, kalau kau masih sayang dengan kepala mu" ancam Bimo.
"iyaaaa" Arga kemudian pergi dari sana.
Bimo mendengus "Begitu ribet kisah mereka bak benang kusut, lagian si Arga ngapain coba? udah milih tapi masih aja" Bimo menggelengkan kepalanya tak mengerti jalan pikiran sahabatnya.
Arga berjalan ke arah dimana Leela dan Shepa berada. Entah kenapa seulas senyum manis terpasang diwajahnya.
Dehaman Arga membuat keduanya menoleh secara bersamaan. "Hai, aku ganggu kalian ya?" tanya Arga.
__ADS_1
"Eh, pak Arga. Enggak ada apa ya pak?" pura pura Leela.
"Saya sudah lama tidak bertemu dengan adikmu La, sekedar bertanya kabar boleh kan?" tanya Arga.
"Oh" Leela mengangguk paham tujuan sahabat dari suaminya sekaligus mantan bosnya dulu. "Kalau gitu kakak ke dalam dulu ya She" ucap Leela sambil mengusap bahu sang adik.
"kakak harap kamu tidak menunjukan kebodohan mu sebagai perempuan yang dibutakan oleh cinta She. Jangan mempermalukan diri sendiri She" ucap Leela dalam hati
Leela berlalu meninggalkan mereka berdua. Leela membuang nafasnya secara kasar "Leela" ucap wiji yang kala itu melihat Leela baru masuk kembali ke ruangan dimana acara tadi berlangsung.
Leela menghentikan langkahnya saat ia mengetahui yang memanggilnya adalah wiji. "Kak Wij?"
"Apa kabar? Sekarang kamu terlihat jauh berbeda dari terakhir kita bertemu ya" ucap Wiji
"Kabar baik kak Wij, kak Wij sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah seperti yang kamu lihat" ucap Wiji dengan senyuman. "Tak terasa ya waktu perpisahan kita membuatmu semakin banyak perubahan" ucapnya lagi.
Leela membalas dengan senyum tapi tidak dengan Bimo yang melihatnya dari kejauhan. Tangannya terkepal sangat erat matanya terlihat memerah tanda sedang memancarkan sebuah kemarahan yang siap meledak menghancurkan Bumi. 😂
Bimo bergegas melangkahkan kakinya menghampiri keduanya. "Sayang" ucap Bimo
"Papi Andra?"
"iya ini suami kamu, emangnya siapa lagi? kan suami kamu cuma satu yang ganteng dan kaya ini bukan dia" ucap Bimo sambil memcebikan bibirnya diakhir kalimat.
"Papi kenapa?" tanya Leela yang bingung tak bisa membaca ekspresi yang ditunjukan oleh suaminya.
"Oh ya La, kak Wij kesana dulu ya" ucap Wiji yang tak enak dengan Bimo. Wiji yakin saat ini Bimo sedang diselimuti oleh kecemburuan.
Leela tak membalas ucapan Wiji, ia malah sibuk memandangi ekspresi yang ditunjukan Bimo mencari sebuah jawaban dari pertanyaan yang muncul di otaknya.
"Sudah aki katakan jangan bicara dengan laki laki lain terutama Wiji" ucap Bimo masih menahan amarah dari kecemburuannya.
"Tadi..." belum sempat Leela menyelesaikan ucapannya, Bimo sudah menarik Leela ke ruangan yang jauh dari jangkauan tamu undangan.
Setalah tiba disana, Bimo langsung menyalurkan amarah nya dengan tindakan yang tidak biasa. Bahkan jika dilihat oleh mata normal itu bukan amarah tapi sebuah gairah.
__ADS_1
"Papi diluar masih banyak tamu" ucap Leela berusaha menghentikan aktifitas Bimo.
"Aku tidak peduli dengan mereka" ucap Bimo yang tetap melanjutkan aktifitasnya. Kalau sudah demikian mau gimana lagi. Bimo lah tuannya.