Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
episode enam puluh sembilan


__ADS_3

Sunyi melanda dua anak manusia yang sama sama memiliki kecemasan dalam hatinya.


Bimo tetap fokus pada kemudi sesekali kadang ia melirik yang disebelahnya.


Sesekali Leela meremas tangannya yang gemetar dan berkeringat. Leela tetap pada posisi menunduk tidak berani mengangkat wajah, ataupun membuka pembicaraan.


Semuanya larut dalam kecemasan.


Semoga hasilnya benar benar positif. Bimo


Ya Allah bagaimana jika hasilnya tidak sesuai harapan mereka. Jangan kecewakan mereka ya Allah.


"Kamu gugup?" tanya Bimo saat mobil yang dikendarainya memasuki area parkir rumah sakit.


"A-aku takut, hasilnya mengecewakan mereka" ucap Leela pelan bahkan hampir tak terdengar.


"Percayalah positif atau negatif mereka tetap keluargamu" ucap Bimo dilanjut dengan sebuah kecupan di kening Leela.


Leela menganggukan kepalanya pelan.


Terimakasih papi Andra, atas semua yang papi berikan untukku dan keluargaku.


Bimo menggandeng tangan Leela saat mereka sudah turun dari mobil dan berjalan bersama memasuki rumah sakit tersebut.


"Duduk dulu ya, biar saya yang selesaikan dulu administrasinya" ucap Bimo lembut.


Bimo menuju tempat administrasi, sementara Leela duduk di kursi tunggu. Sesekali baik Bimo maupun Leela saling curi pandang membuat petugas administrasi tak tahan lagi untuk tak berkomentar.


"Baru menikah ya pak?" tanya salah satu petugas.


Bimo menjawab dengan senyuman.


"Romantis banget pak, cocok cantik sama ganteng" ucap petugas itu lagi.


"Benarkah?" Bimo memastikan setelah mendengar pujian dari petugas tersebut.


"iya pak, ini dan silahkan tunggu giliran ya pak"


Bimo mengambil nomor antrian yang diberikan petugas kemudian menghampiri sang istri.


"Masih lama ya pi" tanya Leela saat melihat kertas yang dipegang Bimo.

__ADS_1


"Sudah gak sabar ya? atau jangan jangan mau cepat pulang dan . . . . " ucap Bimo sambil menaik turunkan alisnya.


"apaan sih" ucap Leela sambil memukul pelan bahu sang suami.


Salah seorang laki laki duduk persis di sebelah Leela. Mengetahui hal itu Bimo langsung bertindak.


"Yang tukar posisi duduknya ya!" ucap Bimo membuat Leela bingung.


"apaan sih, kan disitu juga sama"


"nggak bisa aku mau duduk disitu" ucap Bimo kekeh.


"papi jangan malu maluin deh"


"emmmhhh mungkin ini efek jabang bayi sayang" ucap Bimo lagi.


"hah? kan belum ketahuan pi hamil apa nggak nya" ucap Leela sambil menyatukan kedua alisnya.


"mbak suaminya cemburuan ya, mbaknya cantik cantik kok mau punya suami kayak onoh" ucap laki laki yang sedang duduk persis sebelah Leela.


"Heh kau tidak tau siapa saya?" tanya Bimo saat mendengar ucapan lelaki itu.


"nggak bisa seorang Bimo di rendakan oleh orang yang tak berkelas macam dia" ucap Bimo sambil menunjuk tepat ke arah wajah lelaki itu.


"mbak bilangin sama suaminya, saya nggak suka wanita yang sudah bersuami. Kok betah sih mbak" lagi lagi lelaki itu membuat darah Bimo mendidih.


"heh" ucap Bimo dengan nada suara yang naik membuat pasien yang sedang menunggu antrean beralih menatap Bimo.


"Piiiii, udah" ucap Leela dengan sedikit menahan suaranya. "malu dilihatin" lanjutnya.


Sementara lelaki yang tadi berdebat dengan Bimo tertawa pelan sambil mengejek Bimo.


"Aku nggak suka sama dia"


"ya udah biarkan saja, lagian kan tujuan kita mau cek kehamilan bukan mau berdebat" ucap Leela.


"kok kamu kayaknya membela dia, atau jangan jangan kamu kenal lagi sama dia, iya?"


"kok jadi ngelantur sih papi, aneh deh"


"kau yang aneh, nggak kenal aja kamu belain. Kau suka sama dia?"

__ADS_1


"ih papi ini, terserah papi aja deh" ucap Leela yang kesal dengan tingkah suaminya.


"Lho kalau nggak merasa ya nggak usah marah dong sayang" ucap Bimo.


Sementara laki laki yang tadi mengejek Bimo.


"menyebalkan" jawab Leela.


"Cium dulu dong" ucap Bimo sambil menaikan satu alis dan mengetuk ngetuk pipinya.


"ih papi tambah ngaco deh"


"Ayo cium dulu" ucap Bimo masih bersikap seperti semula.


"nggak"


"Atau aku yang harus mencium mu lebih dulu" ucap Bimo membuat pipi Leela bersemu merah.


Leela melotot saat mendengar ucapan Bimo. Pipinya terasa panas dan jantungnya berpacu lebih cepat.


"Tuh kan mau" ucap Bimo sambil menyentuh pipi Leela. "Ayo cium dulu"


Leela diam tak mau melakukan permintaan Bimo. "Ayo" Bimo masih memaksa Leela.


"papi malu ini masih di rumah sakit" ucap Leela masih dengan menahan suaranya.


"Apa perlu aku sewa rumah sakit ini biar mereka membersihkan tempat ini selagi kita ada disini" ucap Bimo menunjukan arogansinya. Tingkat kesombongannya bisa naik kalau sedang posisi seperti ini.


"nggak perlu" ucap Leela masih seperti tadi.


"ya udah cium dulu dong" masih dengan permintaannya.


"Astaga"


"Udah cium aja mbak, manja banget sih jadi laki" ucap Laki laki yang tadi.


"diam kau" bentak Bimo


Cup, satu kecupan mendarat di pipi Bimo. Ya Leela terpaksa melakukannya karena tak ingin suaminya berulah seperti tadi lagi.


Leela dan Bimo seakan lupa dengan tujuannya datang kerumah sakit akibat hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2