
Adzan subuh sudah berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah mewah tersebut. Leela masih di alam mimpi mungkin dia terbuai oleh setiap kata yang diucapkan Bimo. Namun sesaat saat Leela masih ada di alam mimpi,ia bermimpi akan adanya gempa berkekuatan tinggi, sontak Leela berteriak minta tolong, toloooong tolong. Namun begitu ia membuka mata betapa kaget nya Bimo sedang menguncangkan badannya sambil tersenyum tanpa dosa. Rupanya gempa tadi bukan murni gempa alam, tapi ternyata akibat ulah Bimo.
"Beraninya kau berteriak sepagi ini" ucap Bimo saat serpihan nyawa Leela benar benar sudah terkumpul.
ternyata kau punya sisi yang menggemaskan.
"Ayo bangun, mau tetap disitu?" ucap Bimo.
Berkali kali Leela mengucek matanya. Tak percaya Bimo akan bangun sepagi ini dan mengajaknya ibadah berjamaah. Padahal selama pernikahan ini berlangsung Leelaah yang selalu bangun lebih awal.
"Aku baru bangun subuh aja kau sudah begitu terpesonanya melihatku" merangkak mendekati Leela "Apalagi jika kau sudah merasakan gimana rasanya jadi istri yang sepenuhnya ck ck ck" ucap Bimo pelan sambil mendekatkan bibirnya ke kuping Leela.
"Baiklah terserah kau saja" ucap Leela sambil buru buru bangun menjauhi Bimo.
Bimo melirik jam dinding lalu berkata, "Kita masih punya waktu" ucap Bimo dengan senyum penuh arti.
Leela menyatukan kedua alisnya berusaha mencerna apa yang diucapkan oleh suaminya. Namun begitu melihat senyum Bimo yang penuh arti, ia berlari kekamar mandi secepat kilat.
"Astagfirullah kumat lagi dia" ucap Leela sambil memegang dadanya. Ada rasa aneh yang muncul di dalam dirinya, jantung nya suka tiba tiba berdetak tak karuan kayak di disko saat Bimo berbicara begitu dekat.
hah? apa yang kupikirkan?
Sementara Bimo tersenyum melihat tingkah konyol Leela yang lari ke kamar mandi secepat kilat, gimana kalau tetpleset repot juga dia.
Bimo melangkah ke kamar Andra untuk membangunkan putranya. "Ndra bangun sayang" Bimo membangunkan Leela dengan cara yang lembut.
"eee,eemm"
__ADS_1
"Ayo bangun, katanya mau adik tapi nggak minta sama Allah?" ucap Bimo lagi
Mendengar kata adik, Andra berusaha membuka mata. Memang selama ini Leela lah yang mengajarkan tentang caranya ibadah, meskipun harus pelan pelan dan kadang dibuat bercanda oleh Andra.
"Adiknya udah jadi ya pi?" tanya Andra sambil mengucek matanya.
"Belum, nanti minta sama Allah dulu baru minta sama mami ya!!" seru Bimo.
"Aaaahhh nggak mau" ucap Andra sambil kembali menjatuhkan kepalanya ke bantal semula.
"eh eh eh ayo bangun dong ndra!!!"
"nggak" ucap Andra sambil kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"ya sudah kalau gitu, nanti nggak ada lagi jatah jalan jalan dan beli mainan" ancam Bimo pada putranya. Tak ada sahutan dari Andra "Ndra" Bimo menguncakan lagi tubuh anaknya. Masih sama tak ada sahutan.
K**enapa ini anak jadi sulit untuk dibangunkan sekarang, padahal dulu gampang jika aku yang turun tangan.
Jam sudah menunjukan pukul 06:30 dimana semua sudah kumpul dimeja makan. Tuan Wijaya dan nyonya Tresna pun ada disana.
Bimo paling terakhir turun lalu menyapa kedua orang tuanya.
"Pagi ma, pa kapan kalian datang?" tanya Bimo sambil menarik salh satu kursi meja makan.
"Tadi malam, ya mama terlalu senang saat Andra bilang disambungan telpon bahwa mami sama papinya lagi buat adik" ucap tuan Wijaya.
Bimo lalu menatap Leela "nggak ada buat adik ma, Leela menolak menjalankan kewajibannya" ucap Bimo sambil menatap sang istri yang pipinya sudah memerah mendengar ucapan dirinya.
__ADS_1
"hah? benarkah? kenapa la kamu menolaknya? padahal mama sama papa ingin sekali mendengar kabar bahagia dari kalian" ucap nyonya Tresna sambil membalikan piring yang ada didepannya.
"emmhhh anu ma" Leela enggan untuk menjawabnya padahal jelas jelas semalam ia mengatakan siap tapi Bimo malah mengerjainya depan kedua mertuanya.
"Tidak apa ma, mungkin Leela sedang mempersiapkan diri, iya kan La?" tuan Wijaya membelanya.
"Tenang ma, anak mu ini punya sejuta cara agar Leela mau, iya kan sayang?" ucap Bimo sambil menaik naikan alisnya.
Aaaahhh rasanya ingin mati saja dari pada harus mendengarkan obrolan yang seperti ini.
Bicara omong kosong apa lagi si dia? kenapa dia jadi aneh begini? padahalkan tak seharusnya ia berbicara seperti itu depan mama dan papa mertua.
Leela mulai mengambilkan nasi untuk Bimo dan Andra serta lauk pauknya.
"Kau tak ingin menyuapiku?" celetuk Bimo tiba tiba, tapi hal itu sungguh membuat kedua orang tuanya merasa senang, kini anaknya tak lagi bersikap dingin pada istrinya.
"Iiihhh papi kalah sama Andla, Andla bisa kok pi makan sendili" ucap Andra.
Leela tak menjawabnya ia hanya memasang senyum tipis menahan malu, dengan setiap kata yang diucapkan sang suami.
"Manja" celetuk tuan Wijaya.
"iihhh papi kayak nggak pernah muda aja" celetuk nyonya Tresna.
"Papi nggak kayak gitu kok mi" tuan Wijaya membela diri.
"iya karena papa lebih dingin dari pada Bimo, huuuhhh nggak ada mesra mesranya sama sekali" ucap nyonya Tresna tak ingin kalah dengan suaminya sendiri.
__ADS_1
"udahlah mah, kalau papa nggak mesra nggak mungkin akan ada Bimo, iya nggak Ndra?" masih membela diri dan mengajak cucunya bercanda.
Andra yang tak mengerti apa apa hanya mengatakan "ya" sambil mengguk anggukan kepala.