Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
episode tujuh puluh lima


__ADS_3

Leela kembalikan kamar hanya untuk menyiapkan kebutuhan sang suami. Sebelum suami keluar dari kamar mandi ia segera pergi dari sana.


Bimo Keluar kamar mandi dengan berharap Leela sudah kembali. "Lho kok masih nggak ada" namun matanya menangkap semua yang diperlukannya sudah ada di sana.


"Oh rupanya dia kembali dan kabur lagi, lihat aja nanti"


Pukul 06:45 semua penghuni rumah sudah berada di meja makan kecuali Bimo. Wijaya sedang asik menikmati kopi buatan sang istri sambil membaca koran.


Tresna dan Leela sedang menyajikan makanan untuk sarapan. Sikecil Andra sedang asik minum susu sambil memainkan robot robot kecil kesukaannya.


Sepuluh menit kemudian Bimo turun menghampiri yang lainnya dengan wajah yang sedikit di tekuk, hingga menyita perhatian sang papa.


"Kenapa Bim? nggak dapat jatah?" tanya Wijaya sambil melipat koran yang baru setengahnya ia baca.


Bimo tak menjawab ia malah sibuk memandangi sang istri yang tak memperdulikan kehadirannya.


"Bim? ditanya malah bengong?" seru pak Wijaya.


"Bukan nggak dapat jatah pa, dia tuh ditinggal kabur sama Leela, tadi pagi." Tresna menimpali.


"Hahaha lagian kamu tuh ada ada aja Bim, Bim. Masa nggak cukup tadi malam" ucap Wijaya.


"Papa kayak nggak pernah muda aja" jawab Bimo.


Bimo dan Wijaya sama sama tertawa, sementara Andra terlihat bingung melihat papi dan kakeknya sedang tertawa puas.


Setelah selesai menatap sarapan, akhirnya mereka menikmati sarapan bersama.


Setelah selesai sarapan, semua orang kembali dengan aktifitasnya masing masing. Bimo berangkat ke kantor untuk bekerja,


Leela mengantarkan Andra ke sekolah, Tresna dan Wijaya pun sama sama kembali ke rutinitasnya.


***


Sekitar pukul 14:15 Bimo yang baru saja menyelesaikan pertemuan dengan salah satu kliennya sedang mengendarai mobil sport kesayangannya.


Namun begitu ia melewati kafe milik sahabatnya ia berpikir untuk mampir sejenak.


Bimo pun memarkirkan mobilnya di lahan parkir depan AGB kafe.


"Permisi, pak Arga ada?" tanya Bimo pada Revina yang sedang ada di meja kasir.


"Oh pak Arga ada di ruangannya" jawab Revina sambil memasang senyum ramah.


Sebenarnya tadi ketika Bimo masuk dan bertanya pada Revina. Pikiran Revina sedang tidak di tempat, ia masih memikirkan perkataan Arga kemarin.


Bimo berjalan menuju ruangan Arga, sementara Revina kembali ke alam lamuannya.

__ADS_1


"Apa aku jujur saja ya, ah tapi bagaimana jika aku di tolak? Apa aku masih punya muka untuk bekerja di kafe ini?" Revina Bertanya dalam hatinya sendiri.


"Tapi kalau nggak jujur, mau sampai kapan aku menyimpanny? Bodo amatlah apa pun yang terjadi nanti, itu sudah resiko yang sudah seharusnya aku tanggung" Revina meyakinkan diri.


"mbak, mbak" Seorang pengunjung menyadarkan lamunan Revina.


"Ah iya, maaf pesan apa mbak?" tanya Revina sambil menyodorkan buku menu.


"Kerja kok melamun mbak, melamunkan pacarnya ya" tanya si pelanggan sambil memilih menu.


Mendengar pertanyaan pelanggannya Revina hanya menjawab dengan senyum.


"yang ini aja mbak, sama yang ini ya, nanti diantar kemeja sana" ucap pelanggannya sambil menunjuk meja yang sudah diduduki beberapa perempuan dan laki laki.


"baik mbak" jawab Revina sopan.


Si pelanggan tadi melangkah menuju teman temannya yang sudah tiba beberapa menit lebih dulu darinya.


"Hai sorry ya aku terlambat" ucap nya


"Udah nggak aneh lo mah, kan loe paling ngaret diantara kita" celetuk Shepa.


Ternyata kumpulan itu tak lain adalah Shepa dan teman temannya. Mereka kemudian duduk bersama sambil berbincang bincang.


"Trus She, gimana kelnjutan kisah loe sama sahabat kakak ipar loe?" tanya salah satu teman Shepa.


"Naksir? hah nggak mungkin, jelas jelas aku bukan tipe nya" Kilah Shepa.


"Ya kan cinta kadang suka semberono singgah di hati seseorang. Yang tadinya nggak suka tiba tiba aja jadi suka, kayak kakak ipar loe" ucap salah satu teman laki lakinya.


"Ya emang sih, kadang aku juga nggak rela kalau misalkan dia memanfaatkan aku hanya untuk ngetes perasaan wanita itu padanya" keluh Shepa.


"yaaaaahhh" sorak teman temannya.


"ini mah fix, She loe juga suka sama dia kan?" ucap salah satunya.


Shepa menjawab dengan senyum, ia sendiri tak memungkinkan, kalau sebenarnya ia juga senang saat Arga merayu agar dirinya berhenti marah terhadapnya.


Namun kadang ia juga cemburu saat Arga melakukan hal manis padanya, tapi ditujukan untuk membuat wanita lain cemburu dan mengakui perasaannya.


Tanpa mereka sadari bahwa Revina sudah mendekat ke meja mereka dan sempat mendengar ucapan Shepa tadi.


"Kayaknya dia juga suka sama pak Arga" keluh Revina dalam hatinya.


Revina segera menghampiri mereka dan meletakan pesanan dari salah satu sahabat Shepa.


"Permisi, ini pesanan anda" ucap Revina sopan.

__ADS_1


"oh iya terimakasih" ucap si pemesan tadi.


Sejenak Shepa dan Revina saling beradu pandang, seolah mengatakan mari kita bersaing untuk mendapatkan hatinya. Begitulah yang terlihat dari pancaran mata dua wanita yang sedang saling beradu pandang.


"Kok masih disini mbak?" tanya laki laki dari sahabat Shepa yang sejak tadi mengamati Shepa dan pelayan yang sedang di hadapannya.


"Eh maaf, saya permisi dulu" ucap Revina saat sudah memutus pandangannya dari Shepa.


”Loe kenal dia She?" Tanya Deri.


"Hah?" Shepa terlihat enggan untuk menjawab.


"Yeah ditanya malah balik tanya" ucap Deri.


"Aku yakin tadi dia sempat mendengar kalimat terakhir yang aku ucapkan." Batin Shepa bicara.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


. Ok Maaf ya sudah membuat kalian menunggu lama.


Tinggalkan jejak, like, vote, dan comment.

__ADS_1


__ADS_2