
Hari sudah petang sang senja sudah mulai kekuningan. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhiri jalan jalan hari ini.
Didalam mobil Leela diam mengingat apa yang tadi bersama Ariana adalah Wiji atau bukan. Sementara Andra tertidur dipangkuan sang mami karena kelelahan bermain.
"kenapa?" tiba tiba Bimo yang biasanya dingin kini memulai pembicaraan.
Leela menatap Bimo heran.
"kenapa apanya?" tanya Leela balik tak mengerti arah pertanyaan yang dilontarkan Bimo.
"ya kau kenapa diam?" pandangan matanya tetap fokus ke depan.
"kan biasanya juga saya diam" jawab Leela acuh.
iiiiisssshhh susah sekali mengajaknya bicara. Batin Bimo.
"emmm maksud saya" Bimo bingung kalimat apa lagi yang mesti diucapkannya. Bimo menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, ditatap penuh rasa heran oleh Leela.
ini manusia dingin kesambet apa lagi ya? Apa tadi dia salah makan?. Batin Leela yang bicara.
Akhirnya sama sama diam lagi. Mobil berhenti sejenak, untuk memindahkan Andra tidur dikursi belakang, kasihan rasanya jika ia harus tidur dipelukan sang mami sampai rumah.
Langit terlihat mendung pertanda akan turun hujan. Suara petir saling bersahutan menambah suasana semakin dingin kala itu. Ternyata benar hujan turun dengan begitu derasnya, mengguyur membasahi bumi. Tiba tiba terdengar suara tangisan dari kursi belakang, yang tak lain suara Andra yang terbangun karena mendengar suara petir menyambar.
"mamiiiiii" Andra menjerit sambil menutupi telinga. Leela menoleh ke kursi belakang, Andra duduk dengan kaki ditekuk dan kedua tangannya ada di telinga, ia terlihat benar benar ketakutan. Melihat keadaan Andra yang seperti itu, tanpa pikir panjang Leela langsung meraih tubuh gemuk bocah itu lalu memeluknya dengan kasih sayang yang hangat untuk menenangkan. Lagi lagi Bimo menatap Leela sambil berdecak kagum, kini rasa kagumnya terhadap ibu sambung anaknya semakin bertambah. Namun ia begitu enggan untuk mengakui secara nyata, ego dan keangkuhannya masih saja melekat pada dirinya.
kau benar benar berhati lembut Leela, tak salah jika aku memilihmu untuk ku dan untuk Andra. Tanpa disadari Bimo bergumam dalam hati sambil tersenyum menatap Leela.
Leela menyadari bahwa Bimo sedang menatapnya, "kenapa" tanya Leela karena Bimo menatapanya tanpa berkedip.
Bimo gelanggapan saat suara Leela menyadarkan tatapannya ia tak punya jawaban yang tepat karena ketahuan. "Ti- tidak ada apa apa". Bodoh kau benar benar bodoh, kenapa kau bisa seceroboh ini Bim?
Bimo merutukui kebodohanya, pandangan matanya segera ia alihkan kedepan agar Leela tak semakin bertanya. Padahal kapan Leela penasaran dengan dirinya.
deg deg deg detak jantung Bimo berdetak tak karuan. "Astaga" gumam Bimo pelan sambil sesekali tangannya memukul kemudi dan meremas rambutnya.
please jangan kesurupan disini. Leela
__ADS_1
"mami takut" ucap Andra sambil mengeratkan pelukan dan menyusupkan wajah ke dada Leela.
"cup cup cup kan ada mami sayang, mami janji mami akan menjaga Andra ya"
Andra mengangguk dalam pelukan sang mami. Wanita itu benar benar penuh memberikan kasih sayangnya terhadap bocah kecil itu tanpa memikirkan ah ini anak tiri. Ketulusannya membuat Andra semakin betah dan menyayanginya.
"Lepaskan dia, dan aku akan mengambilnya dengan senang hati" Tiba tiba ucapan Arga tadi kembali terngiang di otak Bimo. Bahkan tanpa disuruh otaknya bekerja dan memutarkan setiap kejadian yang terjadi di siang hari tadi. Ucapan Arga, keakraban Leela dengan kawan lamanya yang terlihat begitu hangat, bahkan aksi perang Leela yang sempat ditunjukan Leela beberapa waktu lalu kini berputar di otaknya. Amarahnya kini naik kembali, "aku takan membiarkan siapapun mengambil milikku, sekalipun itu sahabatku sendiri" ucap Bimo pelan namun masih bisa didengar oleh orang yang ada di sebelahnya.
Tuh kan benar, ia mulai kesurupan. Eh tapi apa setan mau mendekati manusia macam es balok ini? Sepertinya tidak mungkin. Leela tersenyum dengan pemikirannya sendiri.
***
"Diminum dulu teh nya pak" ucap ibu sambil menyodorkan segelas teh hangat untuk suaminya.
"Bu, apa Leela bahagia dengan pernikahannya ya?" tanya pak Duki pada istrinya. Pak Duki adalah ayah kandung Leela. Akhir akhir ini ia begitu cemas memikirkan kebahagiaan Leela.
Apa Leela bahagia dengan pernikahannya? Apa Bimo memperlakukan Leela sebagai mana mestinya? Banyak hal yang dipikirkan seputar anaknya.
Ibu menyentuh tangan suaminya yang kulitnya sudah mulai mengendur menunjukan bahwa usianya kini tak lagi muda. "InsyaAllah Leela akan bahagia pak, dia anak yang baik Allah pasti memberikan yang terbaik pula untuknya" balas sang istri sambil tersenyum.
Pak Duki menarik nafasnya dalam kemudian menhembuskannya melalui mulut dengan pelan. "Dia sudah begitu banyak berkorban untuk kita dan adik adiknya" kalimatnya menggantung, matanya hampir dipenuhi cairan bening yang siap meluncur dipipi, menatap istrinya sendu.
"Waalaikumsalam" jawab pak Duki dan istrinya. "Tumben sudah pulang Shep?" tanya ibu.
"iya bu, eh iya pak bu Shepa punya kabar bahagia untuk ibu dan bapak" sambil menarik salah satu kursi meja makan. Ibu dan bapak tak menjawab ia memilih diam menunggu anaknya melanjutkan kalimatnya.
"Shepa dapat beasiswa untuk kuliat di salah satu kampus di jakarta bu pak" ucapnnya sambil matanya berbinar menunjukan kebahagiaannya.
"Alhamdulillah" jawab suami istri itu kompak bersamaan.
"Syukurlah jadi kau tak perlu merepotkan lagi kakakmu itu" ucap pak Duki disamping putrinya.
Shepa hanya membalas dengan senyum merekahnya. Rasa syukur yang tiada henti terus ia panjatkan. Perjuangan dan pengorbanan yang ia lakukan selama ini kini membuahkan hasil.
Tunggu aku kak, aku akan membantumu keluar dari rumah suamimu yang tak punya hati itu.
Tak disangka ternyata Shepa tau tentang mengapa Leela menikah dengan Bimo.
__ADS_1
Beberapa waktu lalu saat di pesta pernikahan sang kakak tak sengaja ia mendengar percakapan kakak dan kakak iparnnya itu.
"sampai kapan pernikahan ini akan berlangsung?" tanya Leela saat mereka sedang diruang ganti pakaian.
"Tak usah banyak tanya, kau harus tau batas batas mana yang tidak boleh kau lalui. Ingat kau dan aku menikah atas kerja sama. Harusnya kau bersyukur aku mau membantu melunasi utang keluarga mu dan membebaskan mu dari lelaki tua bangka itu. Ck seharusnya aku tak perlu repot repot melakukan hal bodoh macam ini" ucap Bimo dingin tanpa memandang Leela. Sementara Leela tak memberikan tanggapan apa apa lagi, ia hanya duduk termenung depan meja rias sambil memandang wajahnya. Hasil karya MUA terkenal membuatnya merasa kagum akan hasil karya MUA tersebut. Bagaimana tidak, ia yang biasanya tampil apa adanya dengan polesan makeup tipis, kini wajahnya terlihat asing namun tak menghilangkan aura kecantikannya.
"apa jadi kak Leela menikah bukan karena mereka saling mencintai?" Shepa benar benar terkejut mendengar percakapan antara Leela dan Bimo. Tadinya ia berniat mengucapkan selamat atas kebahagian kakaknya, karena pernikahan yang mewah dan megah adalah impian setiap wanita. Namun belum sempat ia masuk dan mengucapkan selamat ia lebih dulu mendengar percakapan mereka tanpa sengaja.
Shepa tak habis pikir dengan jalan pikiran kakaknya, bagaimana bisa ia mau dinikahi oleh manusia tak punya hati macam Bimo.
Maka dari itu ia betekad akan belajar bersungguh sungguh agar kelak nanti ia bisa membantu kakaknya lepas dari jeratan perjanjian yang ada didalam rumah tangga kakaknya.
.
.
.
.
.
.
.
. Hallo para readers setiaku, ini udah puasa hari ke sembilan lho siapa yang puasanya sudah bocor??? Author sih mendoakan semoga puasa kalian lancar semua ya....
Sambil ngabuburit yuuuk berikan vote yang banyak ya buat karya Author ini, dari pada ngabuburit keluar. hehehe authornya pemaksaan ya. vote vote vote vote vote
Sun jauh dari author untuk para readers setiaku 😘 😘 😘 😘
eh ulah ketang bisi batal 😂 😂 😂 😂 😂
bantu follow juga ig nya author ya
ig: Nuryantiag
__ADS_1
fb: Nuryanthi Sudarma