Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
Episode empat puluh lima


__ADS_3

Setelah Leela keluar Bimo tersenyum pada dokter Rizan. "jangan katakan padanya kalau aku hanya demam biasa" ucap Bimo.


"haha ada apa tuan muda Bimo?" balas dokter dengan tatapan dan senyum curiga.


"aku hanya ingin memastikan apa yang tengah aku rasakan saat ini"


Dokter Rizan tersenyum, "Kau sudah mencintainya Bim?" tanya dokter sambil menepuk pundak Bimo pelan. Bimo sendiri tak menjawabnya ia hanya tersenyum. Ia sendiri masih enggan mengakui perasaannya. Apa benar itu cinta atau hanya perasaan tak ingin kehilangan kebahagiaan putranya. Diamnya Bimo membuat dokter Rizan menyimpulkan sendiri perasaan Bimo terhadap Leela.


"Sudahlah akui saja Bim, kau tak perlu malu untuk hal itu" ucap dokter Rizan sambil membereskan peralatan yang digunakannya tadi.


"Aku harus memastikan itu dulu"


"Apalagi? kurang apalagi dia begitu menyayangi putra mu, bahkan dia bertahan selama berbulan bulan menjadi istri tanpa cintamu. Kalau itu orang lain dan bukan Leela aku yakin pernikahan ini tak akan bertahan lama. Aku yakin itu"


"kau benar, aku akan menguji kesabarannya lagi" balas Bimo.


"kau benar benar gila Bimo" ucap dokter sambil mentoyor kepala Bimo.


Keduanya sama sama tertawa, namun tawanya terhenti saat mendengar suara Leela bicara dengan pelayan depan pintu.


"Berhenti dan lakukan tugasmu" ucap Bimo pelan, lalu ia kembali berbaring.


"ini minumnya dok" ucap Leela


"Terimakasih nyonya, berikan obat ini padanya" ucap dokter memberikan beberapa kantong obat.


"aku? kenapa harus aku?" ucap Leela sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tentu saja, kau kan istrinya nyonya" balas dokter Rizan dengan ringan seringan kapas.


"istri?" tanya Leela memastikan dirinya.


"ya kau istrinya, kau sudah menikah kan dengannya?


Dengan kesal Leela mengambil kantong obat dari tangan dokter Rizan, Lalu memberikannya pada Bimo.


kau sungguh pintar Bimo ucap dokter Rizan dalam hati sambil menahan senyum.


"Baiklah aku permisi dulu, ada banyak pekerjaan yang tak bisa ku tinggalkan" pamit dokter Rizan sambil menyaut tas kerjanya.


"Tunggu kau belum memberitahuku, dia sakit apa?" ucap Leela setelah membantu Bimo meminum obatnya.


"Berikan dia makanan bergizi dan pastikan istirahatnya cukup, maka dia akan cepat sembuh, tak perlu sampai berhari hari" Dokter Rizan tak memberitahukan sakit Bimo. Ia hanya memberikan jawaban yang membuat Leela mengerenyitkan alis.


Makanan bergizi? Memangnya apa yang selama ini dia makan. Bukankah makanan dirumah ini selalu makanan bergizi. Aneh benar benar aneh.


Tak kuasa lagi menahan senyum, dokter itu segera pergi meninggalkan ruangan itu.


Pak Diman mengantarkannya sampai ke pintu depan.

__ADS_1


Leela duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari ranjang tempat Bimo berbaring. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Hingga terdengar pintu kamar diketuk dari luar.


Seorang pelayan masuk membawa nampan yang terdapat mangkuk berisikan bubur.


"ini bubur untuk sarapan tuan, nyonya" ucap pelayan tersebut.


"tarimakasih" balas Leela sambil meraih nampan tersebut.


"Bangunlah kau harus sarapan terlebih dahulu" duduk sambil menyerahkan nampan berisikan bubur tersebut.


"bisakah kau membantu untuk menyuapiku? tanganku sangat lemas" kilah Bimo.


"kau benar benar menyebalkan" balas Leela. Walaupun begitu Leela tetap membantu menyuapi Bimo hingga bubur tersebut tandas.


"Ternyata orang sakit seperti mu, bisa rakus juga ya" ucap Leela sambil memukul pelan salah satu tangan Bimo dengan sendok makan.


"aww sakit" Bimo meringis manja.


"manja sekali, kau tak pantas untuk itu. Manja seperti itu hanya cocok jika Andra yang melakukannya"


"Andra kan putraku, makanya ia memiliki sifat manja sepertiku" membela diri.


Tanpa mereka sadari hal tersebut membuat mereka semakin dekat.


"ah aku pegal jika lama lama berbaring" modus Bimo.


"Bisakah kau membantuku?" balik bertanya.


"baiklah baiklah kau menang hari ini" ucap Leela sambil sedikit tertawa.


Leela membantu Bimo untuk duduk membuat posisi mereka begitu dekat. Tatapan mereka saling bertemu lama hingga Leela menyadarinya. Deg deg deg detak jantung keduanya berdetak tak karuan.


Astaga jantung diamlah kau, jangan membuatku malu. rutuk Bimo dalam hati.


"A-aku harus menjemput Andra ke sekolah" ucap Leela mengalihkan rasa canggung yang timbul diantara keduanya.


Leela hendak pergi namun Bimo menariknya hingga Leela kehilangan keseimbangan badan hingga Leela jatuh menimpa Bimo. Lagi lagi kecanggungan yang muncul diantara mereka. Pasalnya baru kali ini mereka begitu dekat hampir tak ada jarak diantaranya.


"maaf kau lagi sakit malah aku menimpamu" ucap Leela cepat cepat menguasai diri.


"Bisakah kau tak pergi untuk saat ini" ucap Bimo pelan dengan wajah dibuat sememelas mungkin.


"tapi bagaimana dengan Andra, aku tak ingin dia kesal gara gara menungguku menjemputnya lama"


"kau benar benar menyayanginya?"


"tentu dia putra ku" balas Leela.


"salah dia putraku, dia lahir karena ada cinta diantara aku dan ibunya" ucap Bimo, tanpa menyadari perkataanya membuat Leela merubah ekspresi wajah dengan kecewa.

__ADS_1


"ya kau benar aku hanya orang lain baginya" ucap Leela pelan.


"tidak tidak maksudku bukan begitu" ucap Bimo menyadari kesalahan dalam ucapannya.


"kau pasti capek sudah mengurusku, biar Edvan saja yang menjemput Andra, duduk lah kembali disini aku merasa pegal please" ucap Bimo lagi


"Ada mau nya baru kau bersikap baik, mau sakit mau sehat sama saja sama sama menyebalkan" Bimo terkekeh mendengar ucapan Leela, meski begitu Leela tetap melakukannya.


terimakasih Leela. Bimo tersenyum


"sebelah sini pegal juga" menyodorkan tangan satu lagi sambil memasang senyum jenakanya.


Menghadapi Bimo jauh lebih sulit, lebih mudah bagi Leela mengahadapi Andra. Leela menarik nafas dan membuangnya kasar.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.Segini dulu ya up nya readers setiaku, jangan lupa vote, vote, vote like and comment 😊


kalian masak apa buat persiapan berbuka?


jangan lupa vote ya!!!!!

__ADS_1


__ADS_2