
Bimo sedang berada dibawah guyuran air shower. Ia menumpahkan kekesalannya disana, padahal kenapa juga dia harus kesal.
Leela yang sudah berada dikamar mulai menyiapkan pakaian yang hendak dipakai Bimo nanti.
Ceklek pintu kamar mandi terbuka, Bimo melangakah megambil pakaian yang sudah disiapkan sang istri.
"Kau sudah makan papi Andra?" tanya Leela membuka pembicaraan.
Bimo meliriknya dengan tatapan tajam "kenapa kau masih menggunakan panggilan itu bukankan aku sudah bilang untuk menggantinya" tanya Bimo dengan nada yang sangat dingin.
"kenapa? apa ada yang salah?" tanya Leela balik saat mendengar nada dingin dari suaminya. Leela merasa ada yang aneh dengan Bimo.
"apa aku membuat kesalahan?" tanya Leela gugup saat melihat tatapan tak bersahabat dari suaminya.
"tentu saja" teriak Bimo sambil mendorong tubuh Leela ke ranjang tempat tidur.
Leela tak bisa berkata lagi, karena bibirnya sudah dikunci oleh bibir Bimo. Tangan yang sudah tak terkondisikan lagi membuat Leela mencoba menerimanya.
"aku sudah bilang jangan menggunakan itu lagi saat kau memanggilku" ucap Bimo didekat telinga Leela saat ia menghentikan sejenak penyerangannya.
Belum sempat Leela menjawab Bimo sudah menyerangnya kembali. Akhirnya mereka tidur setelah menyelesaikan pekerjaan malam mereka.
Malam yang diawali amarah namun berakhir manis bagi keduanya. Leela terlelap dalam pelukan hangat sang suami, bagitupun sebaliknya dengan Bimo.
***
Arga melajukan mobilnya untuk mengantar Shepa pulang. Setelah hari ini ia dipaksa harus berpura pura manis pada Arga didepan Revina.
__ADS_1
Cih jelas jelas wanita itu tak menunjukan respon apa pun, masih saja keukeuh aku harus melakukan itu. Menyebalkan, lho lho lho ini mau kemana?
Shepa baru menyadari bahwa jalan yang ia lewati bukan jalan menuju kost kost annya.
Shepa menarik tangan Arga dengan kasar membuat Arga kaget dibuatnya.
"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Arga
"Berhenti kau mau membawaku kemana?" teriak Leela panik, takut jika Arga melakukan hal yang tidak tidak padanya.
"Aku akan mengantarmu pulang, apa kurang jelas?" ucap Arga.
"tapi ini bukan jalan menuju tempat tinggalku" jawab Shepa, terdengar nadanya suaranya gemeteran menahan rasa takut.
Arga tersenyum mendengar nada bicara dari Shepa. "hei apa kau takut? aku akan memenuhi janji ku saat kita membuat perjanjian" ucap Arga lalu ia membawa mobil yang dikendarainya menuju besmen sebuah apartemen.
"nggak mau" teriak Shepa dengan air mata yang sudah mulai terjun tanpa pamit dipipinya yang halus dan merah merona.
"hei apa kau akan ikut pulang kerumah ku, makanya kau tak ingin keluar?" tanya Arga.
"aku nggak mau dijual" ucap Shepa pelan terdengar jelas sekali ketakutannya.
"hahahaha kau ini terlihat pintar ternyata bodoh juga ya" ucap Arga
Shepa mendelikan matanya lalu menatap Arga yang tertawa puas didepannya.
Arga menghentikan tawanya meski sebenarnya tak sanggup.
__ADS_1
"Mulai sekarang kau akan tinggal disini, bukan lagi di kost mu yang gang nya sempit dan bau" ucap Arga
Shepa mengangkat kepalanya dan bertanya "benarkah?"
"tentu saja mana mungkin aku membiarkan partner kerja ku hidup tak layak" ucap Arga
"kau tak akan menjual ku?" tanya Shepa memastikan.
"tentu saja tidak, gila saja aku jika melakukan itu, bisa bisa kakak ipar mu menggorok dan mencincang tubuh ku" ucap Arga
"aku masih sayang terhadap nyawaku sendiri" lanjut Arga.
Shepa masih menatap Arga, ia mencari jawaban disana. Hingga ucapan Arga menghentikan aoa yang dilakukan Shepa.
"kau mau masuk?, atau kau akan tetap di mobil bersama ku?" tanya Arga.
"huusss" ucap Shepa dilanjutkan dengan mentoyor kepala Arga.
***
Revina menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk kesayangannya. Ia mentap langit langit disana. Tanpa disuruh otaknya kembali memutar setiap adegan yang terjadi antara Arga dan seorang wanita (Shepa)
siapa dia? ada hubungan apa manusia rese iti dengannya? sejak kapan mereka menjalinnya? apa jangan jangan itu istrinya?
Begitulah isi pikiran dan hatinya, pertanyaan demi pertanyaan terlontar diotaknya.
"aaaaaaaahhhh kenapa aku harus memikirnyaaaaa" teriak Revina.
__ADS_1
Entah kenapa hal tersebut berhasil membuat pikirannya bekerja.