
"Shepa tunggu" ucap Arga sambil menahan tangan Shepa yang hendak keluar dari mobil. Setelah dari rumah Bimo dan mendengarkan berita bahagia keluarga Bimo, Arga mengantarkan Shepa pulang, meski Shepa sempat menolak.
Tapi karena Wijaya yang menyuruh akhirnya Shepa setuju. Wijaya Khawatir jika anak perempuan pulang sendiri malam malam, meski saat itu belum terlalu malam.
Baik Tresna maupun Wijaya, mereka memperlakukan Shepa layaknya keluarga sendiri.
Shepa berusaha melepas cekalan dari Arga.
"Lepas gak?" teriak Shepa.
"Shuuuutt, nggak usah teriak teriak She, aku nggak bakal ngapa ngapain kok"
"Terus mau apa?" tanya Shepa dengan nada yang masih tinggi bahkan pipinya yang berkulit putih jadi bersemu merah.
Terlihat sekali jika ia sedang menahan amarah. Grep Arga langsung memeluk Shepa sementara Shepa berusaha melepaskan diri dari dekapan Arga.
"Jangan marah lagi ya" ucap Arga masih memeluk Shepa.
"Lepas, lepas gak?" ucap Shepa dengan mata yang hampir keluar. "Lepaaasss" teriak Shepa.
Arga melepaskan pelukannya, ia terlihat sedang mengatur nafasnya. Arga meraih tangan Shepa dan berkata "please jangan marah ya" memasang wajah memelas.
"Aku minta maaf atas kejadian itu, tapi sungguh aku sama seperti mu, tak ingin Leela tersiksa. Tapi jika kamu tau soal itu maka masalahnya akan jadi lain lagi. Dan aku yakin Leela akan tambah tersiksa karenanya"
Shepa masih diam dengan posisi tangan dilipat dan disimpan di dada. "Kita baikan ya" ucap Arga lagi.
Shepa tak menjawab, malah ia keluar dari mobil dan meninggalkan Arga sendiri disana.
"Oh hati, kau sebenarnya mau yang mana?" gumam Arga pada dirinya sambil menyentuh dadanya.
Arga turun dari mobil untuk memastikan Shepa sampai ke kost nya aman. Lalu setelahnya ia mulai melajukan kembali mobilnya ke arah kafe.
Kafe tutup jam 10 malam, namun sekarang masih sekitar jam 8 lebih beberapa menit, jadi kafe masih belum tutup.
Arga mengnarik nafas dalam dan menghembuskan nya secara kasar. Di dalam kafe terlihat masih ramai penggunjung.
Arga memandangi gerak Revina dari kejauhan. "Aggghhh hati, kenapa kau membuatku terbelenggu dengan dua pilihan" terdengar Arga sedikit menahan giginya.
Revina dam Shepa sama sama memiliki kecantikan yang bisa dibandingkan satu sama lainnya.
Revina cantik, baik dan pekerja keras, sering mengajaknya berdebat karena hal sepele namun itu menjadi warna tersendiri dimata Arga.
__ADS_1
Shepa, cantik tidak terlalu tinggi, mandiri dan sedikit keras kepala, selepas dari itu dia juga baik.
Arga dibuat bingung dengan dua pilihan yang sama sama memiliki nilai lebih. Tak dipungkiri olehnya jika ia memang menyukai Revina. Namun disisi lain Arga juga merasa nyaman saat bersama Shepa.
Revina tersenyum manis saat berpapasan dengan Arga ketika ia sudah memasuki kafe nya.
"Buatkan aku kopi tanpa gula" ucap Arga pada Revina sesaat sebelum dia memasuki ruangan.
Arga duduk di kursi kebanggannya, dan meletakan kepalanya pada meja didepannya. Terlihat sesekali ia memijit kepalanya.
"kenapa sih jatuh cinta sesulit ini?" gumam Arga.
Tak selang berapa lama Revina datang membawa pesanan Arga.
"ini pak kopinya" ucap Ariana setalah mendapat izin memasuki ruangan bosnya sekaligus orang yang ia rindukan.
Ya Revina mengakui jika ia rindu berdebat dengan Arga, rindu sikap rese dan seenaknya Arga. Namun ia merasa kehilangan itu sejak Arga membawa gadis lain dan memperlakukannya dengan manis.
Cemburu? mungkin itu yang dirasakan Revina saat melihatnya.
kalau aku diizinkan mengakui perasaanku saat ini juga, maka aku akan mengatakan yang sebenarnya.
"iya" ucap Revina, ada rasa yang aneh saat pandangan mereka bertemu sejenak.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" tanya Arga.
aku tidak salah dengar?
Revina diam sejenak tak langsung menjawab.
"Pernah, kenapa?" jawab Revina dengan nada lembut.
"Apa jatuh cinta se membingungkan inikah?" tanya Arga lagi.
Apa itu artinya kau sedang menimang perasaanmu. Cinta siapa yang kau maksud, aku atau perempuan itu?
"Tergantung pak, karena sejauh ini saya belum pernah terlibat cinta dua pilihan?" jawab Revina "Selama ini saya sedang menunggu cinta saya tersambut"
Apa yang ditunggunya cinta dariku?
Arga senang Revina mengatakan itu, anggap saja jika Revina sedang menunggu dirinya begitu pikir Arga.
__ADS_1
Arga mengusap wajahnya dengan dua telapak tangannya. "Kau boleh keluar" ucap Arga.
kenapa kau tak bertanya siapa orang yang ku tunggu?
Revina bicara dalam hati sambil keluar meninggalkan ruangan bosnya. Sebenarnya Arga mulai memikirkan tentang cinta saat melihat kehidupan sahabatnya yang tak lain adalah Bimo.
Katakan saja jika ia terinspirasi, namun ketika hendak memilih cinta ia dihadapkan pada dua pilihan. Setiap pilihan memiliki nilai plus dan minusnya.
Sahabatnya sedang bahagia, namun Arga sedang dilema. "Argghh haruskah aku memilih, atau lebih baik aku ambil dua duanya"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Guys apa kalian sedang menunggu novel ini?
Maaf ya karena Author up nya tergantung waktu senggangnya.
tadinya mau dibikin tamat aja setelah pengakuan cinta Bimo dan Leela. Gimana menurut kalian?
vote like and comment ya
__ADS_1