Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
episode tujuh puluh tujuh


__ADS_3

Tok tok tok terdengar suara pintu diketuk dari luar yang secara tak sengaja menghentikan obrolan dua sahabat itu.


"masuk!" seru Arga


Begitu pintu terbuka wajah Revina lah yang nampak. "Maaf pak mengganggu, di depan ada yang ingin bertemu dengan bapak"


"Oh ya? baiklah"


"Permisi pak" yang dibalas anggukan oleh Arga.


"Ya udah kita lanjutkan obrolan kita lain waktu" ucap Bimo sambil berdiri dari duduk nya.


"Oke" sahut Arga mengacungkan jempolnya.


Sebelum Bimo melangkah ia teringat sesuatu dan berbalik. "Tunggu, apa wanita tadi ada diantara Shepa kau dan..." kalimatnya terhenti oleh Arga.


"Ya benar dia salah satunya" ucap Arga sambil sedikit tertawa.


"Haha ok, sampai bertemu kembali nanti" ucap Bimo.


Bimo menuju parkiran, menghampiri mobilnya yang terparkir disana. Sementara Arga menemui orang yang dikatakan oleh Revina tadi.


Sepanjang perjalanan Bimo mengingat kembali ucapan Arga serta kisah awal mula ia mengikat Leela.


Senyum tepancar dari bibir milik Bimo. "Ck aku menertawakan Arga, apa mungkin Arga juga dulu sempat menertawakan saya ckckck"


Tak butuh berapa lama untuk Bimo tiba kembali dikantornya. Saat Bimo sudah tiba di lantai atas tempat dimana ruangannya berada Edvan sedang berdiri menyambutnya.


"Tadi ibu sempat telpon ke kantor pak" ucap Arga memberitahukan.


"Benarkah? apa yang istri saya katakan?"


"Tadi ibu bilang mau bicara sama bapak, tapi karena saya bilang bapak sedang menemui klien, ibu menyuruh bapak menghubunginya jika bapak tidak sedang sibuk" ucap Edvan.


Bimo manggut manggut, "Baiklah akan aku hubungi kembali dia" ucap Bimo seraya tersenyum.


"Deuh kalau orang sedang jatuh cinta wibawanya beda ya?" ucap Edvan dalam hati saat melihat perubahan sikap dari sang atasan.


"kau mau merasakan juga hati? sabar ya"


Edvan kembali ke meja kerja dan mengambil beberapa berkas untuk diserahakan kepada Bimo.


Bimo yang sudah duduk di kursi kebesarannya sedang tersenyum sambil memandang foto milik Leela yang berukuran tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil.

__ADS_1


"Pasti dia merindukan ku" ucap Bimo dengan begitu percaya dirinya.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Bimo tanpa mengalihkan pandangannya dari poto sang istri.


"Maaf pak ini ada beberapa berkas yang perlu ditanda tangani sama yang perlu di pelajari terkait hasil pertemuan tadi" ucap Edvan yang sedang memegang beberapa tumpuk berkas namun tak terlalu tebal.


"Letakan saja disitu" ucap Bimo masih pada posisi yang sama.


"Baik pak"


"Tuh kan kalau orang jatuh cinta ya kayak gitu, senyam senyum sendiri. Berasa kayak nggak ada yang lebih penting dari pada itu. Tenang hati nanti juga merasakan, kapan?" Edvan.


Bimo mengambil benda pipih yang terselip di saku celananya. Tuuuttt tuuuutt suara sambungan telepon sesaat setelah Bimo mendial no yang di beri nama "My sweet wife ❤ ❤ ❤"


"Ya halo" Terdengar suara Leela namun sedikit tidak jelas karena terlalu berisik disana.


"Ada apa sayang tadi telpon? pasti merindukan aku ya" ucap Bimo dengan percaya dirinya.


"Gak kedengaran nanti aja teleponnya" ucap Leela.


Tut, Leela langsung mematikan sambungan telepon nya. "Lah kok dimatiin?" ucap Bimo sambil menatap sambungan telepon yang terputus.


"Brisik sekali tadi, sedang apa dia? tadi suruh telepon bagian di telepon balik malah dimatikan, dasar emang perempuan sulit tuk dimengerti" ucap Bimo sambil meletakan kembali benda pipih tersebut.


"Sudah bosan bekerja apa dia? Apa apaan in sebentar lagi jam kantor habis tapi kenapa dia memberi ku berkas sebanyak ini." ucap Bimo sambil melirik jam tangan berwarna silver yang melingkar ditangan kirinya.


"Berani kau mengerjaiku maka kau akan jadi jomblo seumur hidup, tak akan ada perempuan yang akan mau dekat dengannya."


Banyak sekali sumpah serapah yang ia ucapkan untuk Edvan. Sampai Edvan yang saat itu hendak mengetuk pintu menghentikan niatnya.


"Hah, apa ini maksudnya? kenapa pak Bimo menyumpah serapahi ku. Ini nih cinta yang membuat orang jadi gila, nggak tau apa apa kok jadi tumbal" batin Edvan.


"Maaf nggak jadi saya masuk, kerjakan aja sendiri" ucap Edvan yang mengurungkan niatnya menawarkan bantuan pada Bimo.


Sementara Bimo sedang membolak balik memilih mana yang akan dikerjakan terlebih dahulu.


Ketika suasana hati sedang tidak enak, maka pekerjaan yang mudah dikerjakan pun akan terlihat sangat sulit.


Ungkapan tersebut mewakili keadaan Bimo saat ini. Yang Bimo inginkan adalah segera pulang, menemui sang istri dan bertanya kenapa dia mematikan sambungan telepon nya.


"Arrggg sial" ucap Bimo sambil menghentakan tangan kanannya ke meja.

__ADS_1


Bimo tak bisa berkonsentrasi, akhirnya ia memutuskan meninggalkan pekerjaannya.


Bimo memasukkan berkas yang diberikan Edvan tadi ke dalam tas kerjanya untuk ia pelajari di rumah.


Sesegera mungkin ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kerjanya. "Lho pak Bimo mau kemana?" tanya Edvan saat melihat atasannya tergesa gesa.


Pertanyaan dari Edvan tak dihiraukan oleh Bimo. Ia berjalan begitu saja, yang jadi fokus utamanya adalah ingin segera sampai di rumah.


"Terserahlah bos ya bebas" ucap Edvan saat pertanyaannya tak digubris oleh sang atasan.


Bimo melajukan mobilnya ke arah jalan pulang. Dikarenakan sebagian kantor dan tempat industri sudah mulai membubarkan diri.


Yang pada akhirnya membuat Bimo mau tidak mau terjebak dalam kemacetan. "Ah bodoh, apa kalian tidak punya jalan lain. Kalian menghalangi jalan ku" ucap Bimo sambil memukul kemudi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


. Maaf ya kalau masih ada typo 🙏🙏🙏 tetap dukung karya Author yang belum seberapa ini ya 😊


Vote, like dan komen nya masih aku tunggu 😊


__ADS_2