Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
Episode enam puluh satu


__ADS_3

Dering dari telepon genggam milik Bimo berbunyi nyaring. Bimo yang sedang duduk menikmati secangkir kopi segera meraih benda pipih yangvtergeletak diatas meja.


"Ndra papi tinggal sebentar ya" ucap Bimo pada putranya yang sedang asik dengan acara kartun yang ditontonnya.


Rupanya telepon yang diterima Bimo tak lain adalah laporan dari sekertarisnya yang bernama Edvan.


"Kau yakin semua sudah terhapus?" Bimo memastikan. Tak ingin adik iparnya mengetahui perihal yang dialami sang istri. Khawatir apa yang Arga katakan akan jadi kenyataan.


Sementara Leela sedang termenung depan meja riasnya sambil menatap bayangan dirinya disana.


Leela mendesah pelan dan memejamkan matanya sejenak. Ahh rasanya ia ingin menghilang saja dari bumi. Leela membayangkan bagaimana jika kejadian tadi ada yang merekam dan menyebarkannya ke sosial media. Bukan hanya dirinya yang malu, tapi keluarga dirinya dan suaminya yang akan menanggung malu.


Pintu kamar terdengar dibuka, ternyata Bimo yang masuk dan menghampirinya.


"Kenapa dikamar terus?" tanya Bimo.


"Tidak apa apa hanya sedang ingin sendiri" jawab Leela dan menoleh pada sang suami.


"Sakit?"


"Tidak, saya baik baik saja"


Mendengar jawaban Leela, Bimo berniat ingin menggodanya. Ya karena sekarang hal tersebut sudah mulai menjadi hobinya.


"Eeemmmhh saya tau kenapa kau diam saja dikamar"


Leela menoleh tanpa menjawab. Bimo berjalan mendekati sang istri "Kau ingin mempercepat waktu untuk bertempur diranjang kan?" bisik Bimo yang membuat pipi sang istri bersemu merah.


Astagfirullah dia kumat lagi.


"iyakan?" lanjut Bimo lagi.


"Apa sih papi Andra?" ucap Leela sambil mendorong dada suaminya yang terlalu dekat membuat jantung Leela bekerja tak beraturan.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di kening Leela. "aku sudah katakan jangan memakai kata itu lagi untuk memanggilku" ucap Bimo.


Bimo menarik Leela kedalam pelukannya. Dan sesekali Bimo mencium kening sang istri dengan begitu lamanya.


Apa ini artinya aku benar benar sudah jadi istri seutuhnya bagi mu? tapi mengapa aku tak pernah mendengar ungkapan cinta dari mulut mu langsung?


Leela memejamkan mata dalam dekapan suaminya yang begitu terasa hangat.


"Aku tau pelukan ku ini sungguh nyaman dan bisa menenangkan mu kan?" celetuk Bimo.


"Astaga" Leela berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami sambil membelalak kan mata. "Kau yang mendekapku lebih dulu" bela Leela.


"Kenapa kau tidak menolak, ayolah ngaku saja bahwa sebenarnya kau juga menginginkan nya kan?" Ucap Bimo sambil menaik turunkan alisnya.


Leela ingin berlalu meninggalkan Bimo namun tangan nya lebih dulu ditahan. Bimo menarik sang istri kembali kepelukannya dan segera bibir Bimo menyentuh bibir sang istri.


Ciuman yang makin lama makin menuntut mendorong Bimo membawa sang istri ke ranjang tempat tidurnya. Mereka berdua terbuai akan kehangatan dan sentuhan satu sama lainnya. Namun ketika Bimo hendak melepaskan kain yang masih melekat pada tubuhnya terkejut dihentikan oleh Leela.


"kenapa?" tanya Bimo.


"Astaga" Bimo menepuk jidatnya langsung


"kenapa bisa lupa sih? nganggu saja" Bimo menggerutu sambil beranjak kearah pintu.


Leela tak kuat menahan tawa melihat tingkah Bimo yang menggerutu seperti anak kecil yang keinginannya tidak dipenuhi.


Melihat Leela yang sedang tersenyum menahan tawa membuat Bimo gemas pada sang istri. Bimo kembali menghampiri istrinya dan menarik kedua pipi sang istri.


"Tertawa saja jika itu membuatmu merasa lega" ucap Bimo.


Leela menghentikan tawanya "Hah kenapa?" tanya Leela.


"Kan sudah aku katakan tadi sore, agar aku bisa melihat senyum ini setiap hari" ucap Bimo sambil memandangi wajah merona sang istri.

__ADS_1


Ah Leela dibuat tersipu malu akan tingkah laku Bimo. Namun ia juga tak menarik bahwa dirinya begitu bahagia akan hal ini.


Meski tak ada kata cinta yang terucap namun Leela yakin bahwa kinibia menjadi istri yang mendapatkan cinta dari suaminya.


Semoga benar apa yang aku pikirkan ini.


Keduanya kini terlihat saling menertawakan satu sama lainnya, bahkan mereka lupa jika Andra masih bermain dibawah bersama suster pengasuhnya.


Saat Bimo hendak kembali mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri tiba tiba sebuah ketukan menghentikan aksi Bimo.


"Astaga apa lagi ini?" gerutu Bimo sambil turun dari ranjang dan berjalan mendekat kearah pintu.


Bimo menghela nafas panjang begitu pintu kamar dibuka Andra menampaka giginya.


"Aku sampai lupa bahwa Andra belum tidur" ucap Bimo kearah sang istri.


Tanpa permisi Andra sibocah kecil yang lucu nan menggemaskan berjalan memasuki kamar sang papi.


"Andla mau tidul disini ya mi boleh?" tanya Andra sambil memasang wajah memelasnya.


Leela melirik kearah sang suami seolah meminta persetujuan.


"Tidak" ucap Bimo yang mengerti akan tatapan yang istri.


"Kok sekalang nggak boleh telus sih pi" Ucap Andra dengan nada sedikit marah. "Kan dulu aku selalu boleh sama papi kalau aku mau tidul disini" lanjut Andra sambil memalingkan wajahnya dari tatapan sang papi.


"Kan kalau Andra tidur disini gimana papi dan mami mau buat adik untuk Andra?" ucap Bilo yang langsung mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"yah alasan telus, olang adik nya juga nggak jadi jadi" ucap Andra masih dengan keadaan muka yang cemberut.


Leela menggelengkan kepalanya pelan. Bagaimana Andra bisa berkata hal seperti itu. Siapa yang mengajarinya begitu pikir Leela.


"Udah ya pi kali ini Andra boleh tidur disini" ucap Leela kali ini ia tak bisa membiarkan Andra yang merajuk.

__ADS_1


"Tuh kan pi, kata mami juga boleh kan" ucap Andra tak lupa cemberutnya masih ada.


Bimo menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak terasa gatal. Dengan berat hati akhirnya ia mengikhlaskan keinginan putranya, meski kini ia yang memasang wajah cemberut pada sang istri yang sudah membela anaknya.


__ADS_2