
Part of Revina
Revina masih duduk didepan tv sedang menikmati kartun kesukaannya setiap pagi. Ya sebelum berangkat kerja ia takan absen untuk menikmatinya.
Meski matanya menatap siaran televisi namun pikirannya sedang terbang berkelana hingga dia tidak mendengar namanya dipanggil panggil oleh sang bunda.
"Rev?" Bunda menepuk pundak Revina pelan.
"Eh heh bunda ada apa bun?" balas Revina sedikit kaget dan menoleh kearah sang bunda.
"Kami ini sedang mikirin apa sih, bengong aha dari tadi?"
"nggak kok bun aku nggak mikir apa apa, cuma sedang menikmati film kartun aja bun" kilah Revina.
"Halah kamu ini bisa aja ngeles kaya ular" balas bunda.
"Masa sih bun aku kayak ular, persaan aku cantik kok, kan suka perawatan bun"
"Haduh susah ngomong sama anak macam kamu" balas bunda tak ingin memperpanjang perdebatan paginya dengan sang anak.
Revina bingung sendiri, emang nya bunda tadi ngomong apa? begitu pikirnya.
"Jangan lupa sebelum berangkat ibu nitip ini untuk bos mu Re" teriak ibu dari dapur.
Astaga apa lagi ini? kenapa titipan bos? bos rese itu? aaaaahhhhh
Kafe Arga memang dibuka mulai dari jam sembilan, namun para kariawan harus sudah ada di tempat sejak 08:30.
Melihat jam di yang menempel didinding sudah menunjukan jam 07:00 Revina begegas untuk membersihkan diri dan bersiap. Kini semenjak Leela tidak lagi bekerja di kafe milik Arga, lebih tepatnya sejak Leela menjadi istri sah dari Bimo kini ialah yang menjadi orang kepercayaan Arga.
Meski kadang perdebatan kerap hadir diantara mereka. Namun Revina tetap berusaha untuk seprofesional mungkin.
Kadang ia ingin menangis dan berteriak tatkala Shepa berkunjung dan berbicara akrab dengan Arga bos nya.
Tidak dipungkiri sebenarnya ada rasa aneh saat Arga tak lagi mengajaknya berdebat dan malah asyik ngobrol dengan Shepa.
Shepa mendesah pelan dan memakai sepatu kets jadulnya. "Semoga hari ini perempuan itu tak datang lagi ke kafe, Aamiin" ucap Revina sambil mengusapkan kedua tangannya bekas berdoa.
"Ngapain kamu Re, berdoa seperti itu?" Tanya bunda yang ternyata memergoki anaknya sedang mendoakan sesuatu.
Pasti anak ini sudah mulai tertarik pada lawan jenis. Bunda
Revina menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"Bunda kok main nongol nongol aja, kenapa sih bun kalau mau nongol nggak bilang dulu"
"Terserah ibu dong, tadi kamu mendoakan apa, hayo ngaku" telunjuk bundanya nepel di kening Revina.
"Bunda kata novel dibuat oleh La Sheira, sekertaris Han berkata Terlalu banyak tau akan memperpendek umur bunda" Ucap Revina sambil mengambil tas gendong keramatnya.
"Halah kebanyakan baca novel nih anak, jangan lupa iti pesanan bos mu" teriak ibu sambil memebereskan ruang tengah bekas anaknya.
***
Kafe sudah buka dari setengah jam yang lalu namun pemilikny baru datang saat jam menunjuk 09:30. Kok bisa ya kan kuncinya dipercayakan pada Revina sekarang.
Melihat bos rese nya datang Revina berdiri dari kursi duduknya bersiap untuk menyambut.
Senyum manis sudah Revina pasang, tapi Arga begitu saja melewatinya saat Revina mulai menyapa.
"Pagi pak bos" ucap Revina, Arga hanya melirik sebentar lalu fokus kembali ke jalannya.
"Tumben pak nggak ngajak debat lagi" Tiba tiba kalimat itu muncul dari mulut lemes Revina.
Arga menoleh, sementara Revina buru buru menutup mulut lemesnya. Revina memaksakan senyum setelahnya "Lagi nggak niat" balas Arga.
hadeuh ini mulut nggak bisa diajak kompromi.
***
Ariana berjalan tergesa gesa memasuki tempat kerja sahabatnya.
"Permisi pak Wiji ada?" tanya Ariana
Seorang resepsionis yang sudah kenal dengan Ariana tersenyum "Ada sedang diruangannya silahkan masuk aja bu"
Saat Ariana sudah melangkah ia menghentikan langkahnya dan berbalik mengajar sempurna ke Penjaga resepsionis tadi.
"Lain kali jangan panggil saya ibu, ingat saya belum menikah" ucap Ariana dan berlebih pergi dari sana.
"euh lantas saya harus bilang apa? repot sih jadi orang sok cantik" Gumam penjaga resepsionis.
Ariana tiba didepan pintu ruangan Wiji, tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk begitu saja.
Wiji sudah tak terkejut lagi dengan sikap Ariana yang seenaknya saja. Wiji sudah tak aneh lagi dengan sikap sahabatnya yang satu ini.
"Wij sekarang apa yang harus kita lakukan? ayolah Wij lakukan sesuatu?" ucap Ariana sambil mendaratkan bokongnya di sofa yang tersedia di dalam ruangan Wiji.
__ADS_1
Wiji memang terlahir dari keluarga kaya. Kenapa ia dan Leela dulu satu sekolah? ia karena sekolah itu merupakan sekolah fav di daerah Leela. Sementara Wiji saat itu tinggal bersama kakek dan neneknya.
Namun setelah lulus sekolah menegah atas Wiji kembali ke ibukota dan melanjutkan kuliahnya disana. Dan di ibukota juga lah ia mulai bersahabat dengan Ariana saat mereka bertemu di kampus yang sama.
"Memangnya aku harus melakukan apa Ar?" tanya Wiji.
"Yah kila lakukan sesuatu lah Wij, masa ia kita diam saja diperlakukan seperti itu oleh Bimo" Ariana mendesa "Ah ini gara gara istrinya itu" lanjtunya lagi.
"Bukan kita, tapi kamu" menunjuk dengan bibirnya "Kan kamu yang bikin ulah sama istrinya mantan kamu itu" Lanjut wiji seperti mencibir Ariana.
"Kok kamu jadi gini sih Wij, nggak asyik"
"Ya kan aku nggak bikin ulah Ar" balas Wiji.
"Ya seengganya kamu bantu aku dong Wij" Kini Ariana memasang wajah memelasnya berharap Wiji akan melakukan sesuatu untuknya.
Wiji mengangkat kedua bahunya "Aku nggak ikut ikutan ya, kamu aja" ucap Wiji dan kembali membuka file yang harus dipelajarinnya.
"Astaga Wijiiiiii" teriak Ariana yang udah nggak kuat melihat tingkah sahabatnya ini. Bukan membela malah menyudutkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
. Ok jangan lupa tinggalkan Vote, like and comment dan jangan lupa jadikan fav kalian ya ☺☺☺
__ADS_1
Follow ig Author ya
Ig: Nuryantiag