Terpaksa Menikahi Duda Kaya

Terpaksa Menikahi Duda Kaya
episode empat puluh dua


__ADS_3

Merasa sudah puas bermain ditemani sang papi, Andra berlari kearah Leela.


"mami laper" memelas dan bermanja.


"lapeeeerrr? mau makan apa sayang?" tanya Leela penuh kelembutan.


"pizza boleh mi?"


"izin sama papi dulu ya" ucap Leela dengan senyum.


Andra si bocah lucu pun, mendekat sama sang papi. Bimo menundukan kepala saat Andra menarik narik celananya, untung nggak melorot.


"apa?" tanya Bimo, sudah hafal betul sikap Andra. Jika sudah begini pasti anak itu punya keinginan.


"makan pizza boleh ya pi?" memasang wajah so imut. "Kalau diijinkan, Andla nggak nakal lagi deh pi" ucap Andra dengan manggut manggut sambil mengatupkan kedua tangan mungilnya di depan dada. Apa boleh buat kalau sudah begini ya Bimo harus mengijinkannya. Bimo mengangguk, sementara Andra kembali bersorak riang sambil loncat loncat kecil. Melihat Andra begitu bahagia, seketika semua rasa kesalnya tiba tiba memudar begitu saja.


"mami papi mengijinkan" teriak Andra pada Leela, Leela mengangguk dan tersenyum.


"Huuuhhhhh Tuhan kenapa aku memiliki sahabat sepertinya. Kalau aku jadi dia aku akan sangat bersyukur, Bisnis berjalan pesat, istri cantik dan punya anak yang menggemaskan. Tapi itu punya Bimo bukan punya ku, menyedihkan" Gumam Arga pelan kemudian berjalan ke arah mereka.


"dia sedang apa ya? apa dia memikirkan ku seperti aku memikirkannya, ah kenapa sulit sekali kata itu terucap" Batin Arga lagi.


Begitulah nasib jomblo, ia Arga memang tak kalah ganteng dari Bimo, memiliki sikap yang hangat tak membuatnya memiliki seorang kekasih? Kenapa karena Arga tipe cowok yang suka memilih milih. Jika dihitung mungkin Arga hanya punya satu mantan itupun jika dianggap.


Akhirnya mereka sama sama menikmati pizza dalam canda dan tawa. Disitu terlihat juga Bimo yang biasanya acuh terhadap Leela sesekali menawarkan minum atau hanya sebatas nambah lagi.


Mereka terlihat begitu bahagia, namun hari itu dan di tempat yang sama dengan mereka, ada seseorang yang tidak bahagia yaitu seorang wanita yang sedang duduk di meja pojok sambil menikmati secangkir kopi. Ya wanita itu tak lain Ariana. Sekarang ia terasa begitu jauh dengan Bimo bak terhalang oleh tembok Berlin yang melaluinya butuh perjuangan. Ia mencoba menerima setelah semua usahanya tak ada yang membuahkan hasil. Sesal itu pasti, kenapa dulu saat Bimo melamarnya ia malah menolaknya. Padahal jika saja waktu itu ia tak menolaknya maka yang jadi nyonya Kusuma adalah dirinya.


"Bim, apa tak ada lagi kesempatan untuk ku?" berkata lirih sambil menatap ke arah mereka.


Selang beberapa menit seseorang datang menghampirinya.

__ADS_1


"Hey kau sudah menunggu lama" Seseorang duduk dihadapannya hingga menyadarkan dia dari lamunannya.


"oh astaga kau hampir membuatku mati karena jantungan, kau sungguh tak pernah berubah selalu saja terlambat" Ariana mengomel.


"haha santai kawan, jika kau marah marah maka kau akan terlihat seperti mak lampir. Pantas saja kekasih mu meninggalkan mu ternyata kau sungguh cerewet" Balas seseorang yang ada di hadapan Ariana.


"menyebalkan, kau tau sekarang aku tak bisa lagi bersamanya, dia telah berpaling" ucap Ariana sendu, matanya hampir saja mengeluarkan mutiara mutiara yang tak mampu untuk di jual.


"ok ok hentikan itu, sekarang aku disini bukan untuk melihat kau bersedih, jadi ku mohon hentikanlah"


"baiklah tapi hari ini kau harus menemaniku jalan jalan, dan berbelanja jika kau tak ingin melihat ku bersedih lagi"


"cih inilah yang paling tidak ku suka jika harus membujuk seorang wanita. Padahal seharusnya aku membiarkan saja kau menangis benarkan"


"hahahaha" akhirnya mereka sama sama tertawa, menertawakan diri masing masing.


Tertawa mereka begitu keras tak menghiraukan keadaan sekitar. Leela sempat menoleh ke arah sumber suara.


"Itukan Ariana, tumben sekali dia tidak menyerangku padahal disini kan ada papinya Andra" Ia bergumam.


"Habiiiiiiisss" teriak Andra membuat Leela dan yang lain tertawa lagi.


"Mau nambah?" tanya Bimo.


"iya kata om Alga juga" ucap Arga menunjuk Arga dengan tangan kirinya, tangan kawannya masih di mulut.


"lho kok om sih ndra?" tak terima karena di pojokan oleh bocah sekecil Andra.


"Akui saja pak, kalau bapak emang diya makan" celetuk Leela semakin meruntuhkan harga diri Arga.


"anak sama mami sama saja" hardik Arga.

__ADS_1


"Bapaknya dingin, anak istrinya panas, emang keluarga Dispenser" ucap Arga pelan.


"Habis ini pulang ya!" ucap Leela pada Andra.


"nggak" jawab Andra lemas sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.up nya segini dulu ya man teman,,, jangan lupa vote, like, and comment

__ADS_1


follow juga


ig: Nuryanthiag


__ADS_2