
Pagi pagi setelah usai solat subuh, ibu bergegas hendak pergi kepasar. Alasan kenapa kepasar di pagi pagi buta tak lain biar ibu mendapatkan sayur mayur yang masih segar. Ibu biasanya pergi ke pasar hanya sendiri, namun kali ini Shepa mengajukan diri untuk mengantar ibu.
"Ibu pergi dulu ya" teriak ibu sambil melangkah keluar rumah.
"iya" jawab anak anak yang masih di dalam.
"ke pasar bu?" tanya bu imah, tetangga sebelah yang sedang menyiram bunga itu adalah kebiasaannya di pagi hari.
"ia, mau cari sayuran biar masih segar bu" jawab ibu tanpa melupakan senyum manisnya. Namanya juga di kampung jadi rasa kekeluargaannya masih begitu terasa kental. Sepanjang perjalanan pasti ada saja yang bertanya sambil menganggu tanda sopan. Lain halnya dengan dikota yang kadang sama tetangga sebelah aja yang rumahnya persis sebelah kita saja tidak kenal.
"Tumben bu ditemani Shepa" tanya ibu titin
"iya mungpang mumpung Shepa masih disini" jawab ibu.
"Lho emangnya Shepa mau kemana?" tanya bu titin lagi penasaran.
Shepa tak menjawab, ia hanya memasang senyum saja. "Alhamdulillah Shepa dapat beasiswa untuk kuliah di kampus xxx di jakarta bu" ibu yang menjawab.
Jarak pasar yang tak begitu jauh dari rumah membuat ibu dan lainnya cepat sampai kepasar. "Alhamdulillah, hebat ya Shepa bisa dapat beasiswa" jawab bu titin sambil menyentuh salah satu sayuran yang ada di depannya.
"Katanya punya mantu duda kaya, yang anak perusahaannya dimana mana, tapi untuk kuliah saja mengandalkan beasiswa" celetuk seorang ibu ibu yang tak jauh dari mereka sama sama sedang memilih sayuran.
Shepa hendak menjawab namun ditahan oleh ibu sambil menggelengkan kepala pelan sebagai tanda bahwa Shepa tak perlu membalasnya. "Biarkan saja" bisik ibu.
"jangan jangan anaknya hanya jadi budak pemuas saja oleh orang kaya itu. Dinikahi tanpa dicintai, miris sekali" lagi lagi orang yang sama berkata tak mengenakan hati.
"tutup mulut mu, kau sama sekali tak tak pantas mengatakan hal seperti itu terhadap putriku. Anakku tak seredah seperti yang kau katakan" Ucap ibu sambil mengacungkan jari telunjuknya didepan wanita itu.
Ibu yang sudah geram mendengar celotehan wanita itu kini angkat bicara. Padahal biasanya ibu hanya mendengarkan tanpa ingin membalas, namun kali ini ia tak bisa diam lagi. Ibu mana yang senang jika anaknya dijelek jelekan oleh orang lain yang tak ikut membesarkan anaknya. Sekalipun jika anaknya nakal tetap perasaan ibu tak akan tega jika anaknya di caci atau di jelek jelekan.
"Anda bicara lagi seperti tadi, saya pastikan timun yang sedang anda pegang akan mendarat dimulut anda" ucap ibu. Shepa hanya diam saja karan ibu tak mengijinkannya untuk meladeni orang tersebut. Ibu tidak ingin jika putrinya tidak memiliki sopan santun terhadap orang tua.
Sakit rasanya saat mendengar perkataan tak mengenakan tadi. Hatinya benar benar merasa remuk, buliran mutiara yang siap terjun memenuhi pelupuk matanya.
***
Sementara di rumah mewah itu, seseorang masih meringkuk dibawah selimut yang ada di kamar mewah didominasi dengan dekorasi berwana putih dan gold tersebut. Jam sudah menunjukan pukul 08:00 namun Bimo masih enggan keluar dari sana. Ini adalah kedua kalinya Bimo bolos dan malas bekerja. Semua pekerjaannya hari ia serahkan pada Edvan sekertarisnya.
Andra sudah diantarkan kesekolah, dan Leela sudah kembali lagi kerumah.
"Lho kok mobil papinya Andra masih di garasi?" ucap Leela saat baru turun dari mobil, dan mobil Bimo masih ada ditempat semula.
"Pak Diman, tuan Bimo sudah berangkat?" tanya Leela saat sudah sampai didalam rumah.
"Sepertinya tuan masih dikamar nyonya"
"Dikamar???" tanya Leela heran sambil mengerutkan keningnya.
"sepertinya begitu nyonya, karena saya tidak melihat tuan turun untuk sarapan nyonya"
__ADS_1
"baiklah biar saya lihat dulu ke kamar ya" pamit Leela ingin memastikan keadaan suaminya. Begitu Leela tiba di kamar ternyata benar orang itu masih betah dibawah selimut. Padahal matahari sudah meninggi.
kenapa lagi sih?
"Kau tidak bekerja?" tanya Leela mendekat.
Namun yang ditanya hanya menjawab emmmmhhh.
"ini sudah siang, apa kau tidak punya pekerjaan? jika kau tidak bekerja bagaimana kau akan membahagiakan hidup putramu?" Leela terus saja mengoceh. Sementara Bimo hanya menjawab dengan kata "emmmhhhh"
Kerana penasaran akhirnya Leela mencoba menarik selimut yang menutupi tubuh Bimo. Bimo hanya diam saja dan masih menutup matanya. Leela menepelkan tangan pada kening Bimo.
"Astagfirullah kau demam" ucap Leela kaget.
Leela segera turun mencari pak Diman.
"pak Diman taunmu sedang sakit, pantas saja dia tak pergi bekerja, hubungi dokter keluarga kita suruh datang kemari"
"baik nyonya"
Setelah itu ia meninggalkan pak Diman yang sedang menghubungi dokter keluarga. Leela pergi ke dapur mengambil es dalam baskom kecil untuk meredakan demam Bimo sementara.
Leela meletakan handuk kecil yang sudah di celupkan kedalam baskom kecil yang berisi air ke kening Bimo.
"emmmhhh emmmmhhh emmmhhhh" gumam pelan Bimo merasakan demamnya.
Dalam keadaan setengah sadar dia sempat ingin membalas makian istrinya namun ia tak berdaya sama sekali. Suhu badan yang tinggi, membuatnya lemas dan susah untuk membuka mata.
kau merawatku tapi kau memaki ku. Tunggu saat aku sembuh Leela.
"kau pernah mengatakan padaku agar aku tak mencampuri urusan mu dan aku hanya diperbolehkan untuk mengurusi Andra saja. Tapi lihat sekarang kau malah merepotkan ku" tanpa Leela sadari bahwa Bimo mendengar semuanya.
"Andai saja aku tak bertemu dengannya kemarin, aku akan rela menghabiskan sisa umurku untuk membantu mu mengurus Andra. Tapi tuhan masih menyayangiku, hingga dengan kuasanya aku bisa bertemu lagi dengannya, huuuhhh" Leela membuang nafasnya dengan kasar melalui mulutnya.
dengannya? Apa yang dia maksud pria di mall itu? Siapa sebenarnya dia? kekasih dimasa lalunya kah? Apa dia akan pergi meninggalkanku? Aku tak kan membiarkan orang lain mengambil apa yang sudah jadi milikku.
Aaaahhh aku harus segera sehat kembali. isi hati Bimo.
Tak selang berapa lama dokter keluarga Bimo pun datang.
tok tok tok suara pintu diketuk Leela segera membukakan pintu. Tampaklah seorang pria berjas putih dengan wajah mirip seperti orang india berdiri didepan pintu kamar.
"Selamat pagi nyonya" ucap dokter tersebut.
"pagi dokter, silahkan masuk" Leela mempersilahkannya masuk. Dokter tersebut mengeluarkan beberapa alat kesehatan yang dibawanya. Dan segera memeriksa Bimo.
"Dia sakit apa dok?" tanya Leela penasaran.
Bimo membuka mata dan menatap dokter Rizan yang tak lain masih sahabat Bimo dan Arga. Dokter mengerti arti tatapan Bimo.
__ADS_1
"Sebelum saya memberi tau Bimo sakit apa, bisakah aku minta tolong untuk mengambilkan air minum? Bimo harus segera minum obat" ucap dokter Rizan.
Tanpa banyak bicara lagi Leela segera keluar kamar untuk mengambilkan air.
"merepotkan" ucap Leela pelan namun Dokter Rizan dan Bimo masih bisa mendengarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.Halooooo author abal abal kembali lagi nih.
Terimakasih sudah menunggu next up dari novel ini ya. Kalian membuatku bertambah semangat. jangan lupa dengan vote, like dan commentnya ya
😘 😘😘😘
follow juga
ig: Nuryantiag
fb: Nuryanthi Sudarma
Nu tos bocor puasana sabar gaduh gentosaneun. Nu can bocor ulah ngabocorkeun maneh lebar.
__ADS_1