
sebelumnya: merasa tertarik dia mulai membawa buku itu keluar dengan hati yang bahagia.
sebelum long li keluar ruangan, secara misterius pedang dalam balok es mulai perlahan menghilang dan beberapa kitab yang telah dia pegang sebelumnya sudah mulai perlahan hilang dalam rak seakan di tarik oleh sesuatu yang misterius.
terdengar suara langkah prajurit menuju ruang tahanan.
tap
tap
tap
" kenapa kalian datang mengunjungiku?"
"apakah kalian ingin memastikan aku telah mati?" bentak pangeran long li
" maaf pangeran , hamba cuma menyampaikan pesan kaisar supaya pangeran menemui kaisar di aula pertemuan istana." ucap prajurit ketakutan
" owh "
"terus saya pergi kesana dengan seperti ini?" masih dengan sifat arogannya sambil menampilkan pakainnya yang lusuh setelah beberapa bulan tidak di cuci.
" maaf pangeran, pelayan istana telah penyiapkan pakaiaan pangeran di dalam kamar, sekarang pangeran telah bebas dari hukuman."
" baik, kalian bopong aku ke kamarku."
" baik pangeran" dengan nada ragu-ragu.
*****
di aula istana
__ADS_1
" Yang mulia, memanggil hamba?"
" apakah hukuman anakmu ini di perpanjang lagi?" ucap pangeran dengan nada datar.
" long li jaga sikap mu terhadap kaisar." bentark ibundanya samping kaisar.
" ibunda, bukannya kaisar telah membenciku? sehingga beliau dengan tega memenjarakanku. " sambil tangan di lipat didada.
" jaga sopan santun mu anakku, sepertikah ini cara menghargai orang tuamu sendiri?" permaisuri dengan nada kesal.
" cih orang tua macam apa yang telah memenjarakan anaknya". pangeran bicara dengan seenaknya.
" cukup!" perintah kaisar
" jangan ada pertengkaran lagi"
" tapi Yang mulia, dia itu telah....."
" jangan ada lagi perdebatan, biar aku saja bicara sama dia. kalian semua , tinggalkan tempat ini sekarang, biar aku bicara dengan anakku berdua."
" baik Yang mulia" kata pejabat tinggi kekaisaran saga sambil meninggalkan aula pertemuam secara serentak.
*****
"anakku, sekarang kita cuma tinggal berdua, bisakah kau bicara sopan padaku."
" baik, aku akan bicara sopan padamu tapi jelaskan padaku, kenapa kau masukan aku dalam ruangan pribadimu."
" aku bosan melihat buku setiap harinya." pangeran bicara dengan nada ketus.
" semua ini untuk kebaikanmu sendiri, bukankan ruang itu cocok untuk memikirkan kesalahanmu selama ini?" ucap kaisar dengan nada pelan
__ADS_1
"cocok apanya, semua itu bisa buatku stress."
"benarkah begitu?"
"iya!" ucap pangeran dengan yang begitu kesal sekali terhadap ayahandanya.
ketika kaisar termenung dengan ucapan anaknya. dia melihat sesuatu yang berkilau pengeluarkan aura ke biruan di jari manis anaknya.
" apa itu yang kau pegang?" bentak kaisar dengan nada terkejut.
seingatnya barang itu pasti terletak di ruang terlarang serta dia tau barang apa saja yang ada di dalamn ruangan itu karena ada daftar barang-barang peninggalan leluhurnya yang ditulis dalam kulit domba terletak dalam laci yang kuncinya dia pegang sendiri . dia belum pernah sekali pun membuka ruangan terlarang itu karena tidak ada kunci cadangan yang ditinggalkan leluhurnya, kunci itu hilang sejak perang dunia terjadi antar kekaisaran yang menelan banyak korban, kejadian itu terjadi puluhan abad yang lalu.
" oh ini."
"ini cincinku. emangnya kenapa ayahanda bertanya padaku?"
"apakah mencurigaiku mencuri?" tanya pangeran menyelidik.
"tidak anakku, aku tidak pernah melihatmu memakai apapun selama ini, sejak kau masuk penjara sampai saat ini, baru kali ini aku lihat kau memakai cincin?" kaisar tetap bingung kenapa cincin itu bisa sampai ke tangan anaknya.
" sudah lah ayanda. jangan bertele lagi, apakah ayanda mengingkan cincinku ini?"
" jangan pernah harap apalagi mimpi"
" kau benar- benar telah keterlaluan terhadapku. seperti ini kau bicara padaku anakku?"
" sudahlah ayanda, aku mau tidur dulu." sambil memutar badannya meninggalkan ayandanya yang kebingunan terhadap sikap anaknya yang tidak pernah berubah sama sekali.
kaisar termenung di kursinya dengan penuh banyak masalah yang ada di fikirannya. dia mulai terlihat sudah tidak muda lagi di tambah sikap anak bungsunya tetap memiliki karakter buruk di bandingkan saudara lainnya.
" huft, semoga anak bungsuku bisa berubah suatu saat nanti ." sambil pasrah terhadap sikap anaknya barusan.
__ADS_1