The Prince Saga

The Prince Saga
chapter 95. Ketakutan tetua Puok


__ADS_3

tetua Puok berjalan keluar dari rumahnya dengan wajah tampak seperti orang ketakutan. semalaman dia tidak bisa tidur dan terus saja merasa gelisah akibat kejadian kemaren. dia dan sekeluarga mengalami rasa ketakutan yang sangat amat takut. sudah puluhan tahun dia berada di desa An Ming , baru kali ini dia merasakan ketakutan seperti ini.


semua bermula...kejadian waktu itu..


mereka merasakan seperti apa yang di rasakan oleh penduduk di desa An Ming. kepanasan dan kedingin terjadi dalam waktu yang relatif singkat. walaupun begitu, dia tidak bisa menutupi semua rasa yang di rasakan saat ini.


semua isi kepalanya bercampur aduk dan banyak menimpulkan pertanyaan dalam fikirannya.


" ayah.. " shi sin berjalan di dekatnya.


" ayah kenapa ?"


" ayah tidak apa apa " tetua puok menampilkan wajah yang penuh senyuman


" kau pergi lah kerumah . ayah mau ke rumah pimpinan kang sebentar " tetua puok masih mencoba tersenyum


" tapi ayah.... apakah harus sepagi ini "


" kau tidak usah banyak bertanya lagi. bantu lah ibu mu di rumah. ayah ada urusan sangat penting saat ini. apa kau paham anak ku ?" tetua puok mencoba memberikan sedikit pengertian agar shi sin meninggalkan dirinya.


" baik ayah...


aku pulang dulu. apakah ayah yakin tidak ku temani ke sana? "


" tidak usah shi shin . ayah bisa sendiri "


" tapi wajah ayah pucat sekali. aku jadi kuatir "

__ADS_1


" ayah tidak apa apa .." tetua puok meninggalkan putrinya di tengah jalan sendirian. dia berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang


sebenarnya dia merasa kan kecemasan atas nasib anak anaknya suatu saat nanti. setelah berbagai kejadian belakangan ini, bisa bisa nyawa keluarganya akan terancam . hal ini lah yang terus menghantui fikirannya. apa lagi saat saat shi shin di culik tetua Tao yang membuatnya frustasi tidak bisa berbuat apa pun menyelamatkan anaknya.


" tetua.... " sapa Ling dari arah yang berlawanan namun orang di sapa malah diam saja dan terus saja menunduk ke bawah dengan wajah yang terbilang cukup pucat.


ling berjalan cepat ke arahnya dan langsung menapuk pundak tetua puok yang masih tertunduk. " tetua.... " Ling langsung menyapa secara langsung tepat di dekatnya.


" ooohhh kau Ling " tetua puok menatap wajah Ling yang terus saja fikirannya berkecamuk..


" tetua kenapa " tanya Ling yang mencoba memahami apa yang ada di fikiran tetua Puok saat ini.


" aku tidak apa apa Ling "


" kau kenapa ke sini "


" aku mencari tetua karena ada yang mau di bahas dengan pimpinan Kang "


" aaahh..


tidak ada Ling " tetua Puok memalingkan wajahnya dari hadapan Ling.


" tetua... apa yang tetua fikirkan sampai harus seperti ini " Ling mengkrenyutkan keningnya.


" tidak ada apa apa Ling... aku hanya merasakan sedikit rasa takut terhadap keluarga ku sejak kejadian kemaren "


" itu saja " tetua Puok hanya diam beberapa saat, kemudian dia mau bercerita tentang masa lalunya tapi merasakan keraguan. tetua puok mencoba menutupi suasana hatinya tapi..

__ADS_1


tetap saja.... tetua Puok tidak bisa menutupi masalah yang ada difikirannya saat ini ... di hadapan Ling yang telah membaca dari mimik wajahnya yang terlihat jelas lagi berkecamuk.


dia kemudian menceritakan semua isi hatinya pada Ling sedangkan Ling hanya diam dan terus mendengarkan setiap kata yang di ucapkan tetua puok terhadap masalah yang telah dia hadaapi selama ini.


setiap masalah yang terjadi terus saja mengancam dirinya dan keluarganya.


di tambah lagi aura panas dan dingin yang muncul secara tiba tiba. dia merasakan ketakutan yang amat mendalam atas kejadian masa lampau karena sebelum dia pindah ke desa An ming. kampung halamannya dulu telah luluh lantah di hancurkan oleh seseorang yang memiliki kekuatan yang cukup kuat dengan pasukan yang cukup banyak.


sebelum kedatangan orang itu yang merupakan jenderal dari pasukan tersebut, hawa tiba tiba berubah ubah seperti yang terjadi di desa An ming sebelumnya. dia melihat kematian tiap kematian yang terjadi di kampung halamannya maupun ketika dalam perjalanan menuju desa An ming yang merupakan pulau terpencil di benua ini..


hal ini lah membuatnya semakin trauma setiap kali merasakan aura tersebut. dia tidak bisa kembali membayangkan... melihat kedua orang tuanya tewas tercincang oleh seorang jenderal yang terbilang kejam, sedangkan saudara saudaranya di bunuh secara keji dan saudarinya di perkosa dengan biadab oleh pasukan itu. waktu itu tetua Puok baru berumur sepuluh tahun dan tidak bisa berbuat apa pun kecuali hanya melarikan diri dengan berlari secepat mungkin dari kampung halamannya menuju tempat aman tanpa mengenal lelah.


dia tidak melihat dengan jelas siapa jenderal yang telah menghancurkan desanya yang terbilang sangat damai dan indah. semua terjadi sangat cepat dan dia tidak bisa menyadari kalau keluarganya sudah tewas semua ketika dia pulang dari mengembala kambing di padang rumput yang tidak terlalu jauh dari desa.


Ling yang daritadi mendengarkan cerita tetua Puok ikut merasakan kesedihan yang cukup mendalam. dia tidak menyangka kalau tetua Puok mengalami hal se tragis itu pada masa kecil dulu.


Ling mengusap kedua matanya yang terus saja menetes air mata setelah mendengarkan kisah kelam tetua Puok. Ling langsung mengerti alasan tetua Puok mengalami ketakutan saat ini.


beberapa saat kemudian baru lah Ling memberani kan diri untuk bicara setelah melihat tetua puok sedikit tenang dengan masalah pribadinya. Ling mencoba menapuk pundak tetua Puok dengan memberikan sedikit pendapat tentang masa lalu tetua Puok dan Ling merasa tersimpati masalah itu tapi..... saat ini ada masalah yang lebih serius lagi yang akan mereka hadapi di masa depan. Ling langsung menatap ke arah wajah tetua Puok.


" tetua... lebih baik kita ke rumah pimpinan kang sekarang, ada masalah yang akan kita hadapi, ini semua demi menjaga kedamaian desa ini. aku berharap tetua Puok mau menyalurkan bantuan tetua terhadap pertahanan desa ini " Ling langsung bicara pada intinya.


" baik lah. apa pun bantuannya akan aku penuhi dan aku sanggup memenuhi semampu ku demi desa kita ini " tetua Puok bicara penuh semangat dan dia bicar ber api api...


" iya tetua ... saat ini kita butuh bantuan dalam jumlah banyak.. aku sedikit ragu minta bantuan pada bawahan tetua yang lain karena tetua itu telah tewas sebelumnya " bicara Ling yang ragu ragu


" tenang saja kalau masalah itu Ling. aku sendiri yang akan turun tangan. biar aku pimpinan bawahan tetua yang dua itu. jumlah pasukan mereka lumayan banyak dan terlatih. kau bisa percayakan hal ni pada ku.."

__ADS_1


" sebelum kita pergi ke rumah pimpinan kang, lebih baik kita pergi dulu ke pasukan itu biar kita bisa bawa perwakilan mereka "


" aku setuju tetua " mereka berdua langsung mengarahkan diri mereka untuk berjalan beriringan menuju tempat yang akan mereka tuju.


__ADS_2