The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Kecelakaan


__ADS_3

"Apa....!?" teriak gadis itu kaget mendengar pak Nugroho mengatakan jika Yasya kecelakaan.


Tak butuh waktu lama, ia mengikuti pak Nugroho yang kini telah berangkat menuju rumah sakit yang disebutkan olehnya tadi.


Reyna berlari ia berhenti didepan halte dan menghentikan sebuah taksi. Dengan langkah cepat gadis itu segera menaiki taksi tersebut.


"Pak antarkan saya ke RS Dharma Sehat sekarang ya, agak cepet pak" katanya pada supir.


"Baik mbak" ujarnya sembari melanjutkan perjalanannya.


Setelah tiba, Reyna membayar ongkos dan beranjak pergi masuk ke dalam rumah sakit.


Gadis itu berhenti tepat didepan lobi dan bertanya pada suster bagian administrasi.


"Suster... suster... saya mau tanya sus, barusan apa benar ada seseorang yang mengalami kecelakaan, bernama Iryasya Ferdiansyah?" tanya gadis itu dengan panik.


"Iya mbak... pasien bernama Iryasya Ferdiansyah, korban kecelakaan berada di ruang Melati nomor 27, disebelah kiri anda masuk kedalam lalu belok kanan" tuturnya membuat Reyna mengangguk dengan keringat yang bercucuran dikening.


"Makasih sus" katanya singkat sembari berlari menuju ruang yang ditunjukkan oleh suster tersebut padanya.


Setelah hampir sampai gadis itu melihat pak Nugroho hendak pergi berlawanan arah dengannya. Wajahnya sama khawatirnya dengan Reyna.


Menyadari bahwa muridnya kini berada diluar sekolah saat jam pelajaran masih berlangsung membuat pak Nugroho terkejut melihat keberadaan Reyna yang kini tengah berlari kearahnya.


"Reyna... kamu kenapa berada disini?, bapak sudah bilang, suruh teman-teman mu belajar. Malah keluyuran" katanya dengan tegas.


"Maaf pak, saya tadi sudah telfon Kanaya kok... gimana keadaan pak Yasya? saya kemari untuk membantu dia" katanya dengan nafas yang tersengal.


"Tidak apa-apa, dia hanya luka kecil di kaki dan lecet sedikit di siku, sore juga sudah boleh pulang."


"Syukurlah... saya mau jenguk dulu ya pak."


"Ya sudah, bapak juga mau mengurusi biaya administrasi dulu, kamu temani pak Yasya sebentar ya" kata pak Nugroho pada Reyna yang kini mulai tersenyum dan mengangguk patuh.


Tak butuh waktu lama, gadis itu berlari menerobos orang-orang yang berada diluar ruangan yang kini memadati ruang tunggu.


Gadis itu perlahan membuka pintu ruangan tempat dimana Yasya dirawat. Terlihat pria itu yang tengah meringis kesakitan tatkala sikunya yang telah diperban mengeluarkan banyak sekali darah.


Pria itu menatap Reyna dengan pandangannya yang terkejut sekaligus tidak menyangka dengan kehadiran Reyna.


"Reyna? kenapa kamu ada disini?" tanya Yasya membuat Reyna terdiam sejenak dan melangkah kembali mendekati bangsal tersebut.


"Gimana keadaan bapak? pak Yasya baik-baik saja kan? ada yang sakit?" tanya gadis itu dengan raut wajah penuh kecemasan.


Yasya tersenyum, ia menggeleng pelan menanggapi kekhawatiran Reyna yang begitu perhatian padanya.


"Saya nggak papa Rey, kamu tenang aja" ujarnya lembut membuat Reyna tersenyum membalas.


"Aw..." teriakan kecil dari Yasya membuat mata Reyna membelalak.


"Pak, ini perbannya kebuka, biar saya ganti" ujar gadis itu yang sedikit memegangi siku Yasya yang tengah diperban.


"Nggak usah Rey, nanti juga pasti ada suster sendiri kok yang bantuin saya" ujarnya menolak.


"Udah, pak Yasya tenang aja. Gini-gini saya dulu pernah lo ikut PMR."


"Kamu yakin?" tanya Yasya sekali lagi untuk memastikan kemampuan gadis yang kini tengah tersenyum kearahnya.


"Iya pak" Pelan-pelan Reyna membuka perban disiku kanan pria itu lalu ia ambil kapas dan kain kasa di meja.


Reyna benar-benar membersihkan darah itu pelan-pelan. Namun kepalanya mendadak pening melihat darah segar dan luka yang cukup dalam tersebut.


"Aw... sakit Rey" teriak Yasya yang kini tengah meringis kesakitan.


"Iya pak, sabar bentar lagi selesai kok."


"Bapak kenapa bisa kecelakaan? kenapa nggak dari awal aja berangkat nya. Temen-temen juga nunggu, dikira pak Yasya kemana" lanjutnya sambil menghela nafas panjang.


"Saya tadi ada urusan mendesak Rey, mau nggak mau harus berangkat kesiangan, karena takut telat, saya naik ojek. Karena saya suruh ke tukang ojeknya buat ngebut, pas ada didepan ada truk lewat, jadi kami ngehindar dan malah nabrak pembatas jalan" jelas Yasya menceritakan. Namun gadis itu malah tak fokus dengan apa yang dibicarakan pria itu.


Matanya menatap tajam darah dan luka yang tengah ia bersihkan. Matanya membulat sempurna. Lama kelamaan ia merasa sangat pening, tangannya juga ikut gemetar.


Reyna terus mengobati luka Yasya tanpa memperdulikan keadaannya. Ia dengan segera membalut luka tersebut sebelum matanya mulai berkunang-kunang.


"Sudah selesai" ujar gadis itu dengan ceria.


"Makasih ya Rey" kata Yasya yang dibalas anggukan oleh Reyna.


"Rey.... kamu kenapa? kamu sakit ya?" wajah gadis itu nampak bingung dengan perkataan Yasya barusan. 'Bukannya dia yang sakit kenapa jadi aku' batinnya sembari menunjuk dirinya sendiri dengan alisnya yang terangkat sebelah.


"Wajah kamu pucat banget."


"Masa sih pak?" Reyna memegangi wajahnya, ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari lubang hidungnya dan benar saja.


"Kamu mimisan Rey" kata Yasya menunjuk hidung gadis itu. Reyn mencoba mengusapnya, dan ternyata memang darah yang mengalir.


Ia merasa semakin pusing, tubuhnya lemas sekali, lama-kelamaan semua penglihatan Reyna memudar.


"Rey... kamu kenapa ?" tanya Yasya yang dapat didengar gadis itu meski samar-samar.


Tak terasa sudah hampir lima belas menit gadis itu tak sadarkan diri. Tiba-tiba matanya terbuka perlahan.


"Hah kenapa aku ini?" gadis itu langsung bangun dari tempatnya. Ia ternyata terbaring disebelah ranjang Yasya.


"Sudah bangun?" tanya pria itu yang kini mulai tersenyum kearah Reyna.


"Pak, saya kenapa ya?" tanya Reyna dengan memijit pelipisnya yang sedikit pening.


"Kamu kenapa gak bilang kalau kamu pobia darah?" kata Yasya membuat Reyna membelalak.


"Saya cuma mau bantu pak Yasya aja kok."

__ADS_1


"Haha, ternyata sekarang kamu udah fasih manggil nama saya" Reyna langsung berdiri dari ranjangnya dan duduk disamping Yasya.


"Katanya pernah ikut PMR?" tanyanya lagi dengan kekehannya membuat Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Saya emang udah pernah ikut PMR kok, cuma kalo masalah darah saya nggak biasa sama yang kaya gini" ujar Reyna yang kini mulai menahan malu.


"Ya sudah nggak papa, makasih ya kamu sudah bantu saya" Reyna mengiyakan kata-kata Yasya dan mengangguk pelan.


"Kamu nggak balik ke sekolah lagi?" tanya Yasya yang kini mulai menatap gadis itu dengan pandangannya yang menyelidiki.


"Saya mau nemenin pak Yasya aja" kata Reyna spontan membuat Yasya tersenyum.


"Kenapa?" tanya Yasya lagi yang membuat Reyna bingung. Ia sendiripun tak tau mengapa. Mata gadis itu kemudian melirik Yasya yang tengah diam-diam tersenyum kecil. Membuat wajah gadis itu memerah seketika.


"Wajah kamu merah? kenapa?" tanya Yasya dengan senyumnya lagi.


"Ihhhh... pak" Reyna memukul tangannya lembut dan memalingkan wajah.


"Awww..." teriak Yasya berpura-pura.


"Maaf... maaf... sakit ya ?" tanya Reyna dan langsung ia pegang tangan pria itu. Perlahan gadis itu memperhatikan tangan Yasya yang sedikit ada memar bekas kecelakaan.


Yasya hanya diam, gadis itu pun beralih menatapnya. Ia lihat dirinya cengengesan sendiri membuat Reyna cemberut dibuatnya.


"Ngeselin" ujarnya Reyna dengan wajahnya yang ditekuk sebal.


"Maaf maaf... jangan cemberut gitu dong."


Melihat Reyna yang sedikit kesal, Yasya menyentuh pipi gadis itu, dan benar saja wajahnya mulai memerah. Reyna menatapnya dan dibalas dengan tatapan pria itu yang intens.


Mata elang dan alis mata yang tebal, hidung yang mancung dan bibir tipis itu. begitu sempurna, sangat tampan. Batin Reyna sembari menelan salivanya kasar.


Pun begitu dengan Yasya, ia juga menelan ludahnya kala menyadari sekali lagi begitu cantiknya gadis dihadapannya itu.


Tiba-tiba saja Yasya menarik tengkuk gadis itu, menyisakan wajah mereka yang hanya berjarak satu senti.


Bahkan maupun Reyna atau Yasya mereka sama-sama mendengar deruan nafas maupun jantung yang berdetak kencang dari masing-masing milik mereka.


Yasya menatap Reyna dengan lamat-lamat. Begitupun dengan Reyna yang kini seperti sebuah sihir yang menghantam jiwanya. Otaknya meronta sedang tubuhnya seakan menikmati kedekatan mereka.


deg deg deg


Yasya menutup matanya dan bibirnya mulai menyentuh lembut wajah gadis itu, Reyna mengikuti alur pria itu dengan menutup matanya dalam-dalam.


Tak disangka apa yang dilakukan Yasya selanjutnya membuat Reyna terkejut. Pria itu ******* bibir Reyna dengan lembut, penuh kasih sayang.


drttt drtttt....


belum sempat gadis itu membalas namun handphonenya bergetar, sontak mereka menjauh masing-masing.


Reyna menutup mulutnya tak menyangka, dan Yasya hanya tersenyum tanpa mau menatap gadis itu kembali. Jujur saja hanya melihat senyum tipisnya saja membuat gadis itu mabuk kepalang. Apalagi mengingat sesuatu yang baru saja terjadi.


Pria itu melirik ke layar hp Reyna, tanpa disadari Reyna melihat perubahan wajah yang tak suka dari pria itu.


"Kenapa nggak dijawab?" tanyanya cuek kemudian Reyna segera mengangkat panggilan itu.


"Ha.. hallo" ujar gadis itu terbata sembari menatap Yasya yang kini terdiam dengan penglihatannya yang memalingkan wajahnya kearah lain.


"Rey... kamu pulang jam berapa? abang jemput ya" kata Reyhan diseberang sana.


"Enggak, nggak usah, nanti aku pulang sendiri."


"Yang bener? jangan-jangan mau berduaan ya sama Hengky?" goda Reyhan, dan gadis itu melotot seketika.


Sekilas Reyna menatap Yasya yang hanya diam sedari tadi, sepertinya dia nggak suka dengan kejadian tadi. Mungkin dia menyesal, begitu batin Reyna berbicara. Gadis itu menghela nafas beratnya.


"Rey..."


"Rey hellowwwww" suara nyaring disebrang sana membuat gadis itu terkejut. Lamunannya buyar seketika.


"Ah iya."


"Udah makan siang belum? abang ajak makan yuk" kata Reyhan menawarkan.


"Belum, habis ini aku makan kok" kata Reyna yang kini beralih menatap Yasya.


"Ya udah, kamu hati-hati ya... abang mau kerja dulu."


"Jangan sampe telat makan ya bang" Reyna menutup panggilan itu dan hendak bergegas keluar dari ruangan.


Namun saat ia berdiri Yasya mencekal lengan gadis itu.


" Mau kemana Rey?" tanya Yasya dengan wajahnya yang ditekuk sedari gadis itu mengakhiri percakapannya bersama sang kakak.


"Bentar ya pak, saya ada urusan, bentar lagi saya balik lagi kok" pria itu hanya diam dan menatap Reyna dengan dingin seraya melepaskan genggamannya dari lengan Reyna. Setelah gadis itu membalas tatapannya Yasya hanya membuang muka.


'Pak Yasya kenapa? apa mungkin dia nyesel karena kita tadi habis ciuman?


bodoh, bodoh apa yang aku fikirkan?' ujar Reyna dalam batinnya.


Setelah itu Reyna pergi meninggalkan Yasya tanpa pamit. Mungkin ia tidak enak jika harus mengganggu pria itu yang kini bisa dibilang tengah badmood.


Pria itu bahkan masih ingat kejadian 5 menit yang lalu, sungguh ini adalah ciuman pertama bagi Yasya.


Sampai ia akhirnya sadar, gadis itu pasti ditelfon oleh pacarnya yang tempo hari menjemputnya.


Yasya masih berangan kala mengingat panggilan di hp Reyna yang menunjukkan foto Reyna dengan lelaki itu.


Begitu mesra, Reyna dan pria dewasa itu berfoto dengan pose berpelukkan.


Ditambah lagi saat Reyna menjawab telfonnya, Yasya semakin panas dibuatnya.

__ADS_1


"Sadarlah Yasya, kenapa kamu gegabah begini? kamu harus ingat Syahbila... Reyna itu hanya murid mu" gumam Yasya lirih.


"Pak Yasya" suara itu membangunkan lamunan Yasya, ia terkejut ketika Reyna membuka pintu ruangan dengan membawa beberapa makanan.


"Pak Yasya pasti belum makan siang kan? saya bawain sup" kata Reyna dengan senyumnya yang manis itu.


"Makasih ya Rey"


"Saya suapin boleh?" tawar Reyna yang kini mulai membukakan kotak makan itu untuk Yasya.


"Nggak perlu, saya bisa makan sendiri" ujar Yasya ketus.


"Pak tangannya masih sakit, biar saya yang suapin" kata Reyna yang mulai membujuk, namun Yasya malah menepis tangan nya.


"Oke" balas Reyna pasrah dan meletakkan sup itu di pangkuan pria itu.


"Saya kekamar mandi dulu" kata Reyna dengan wajah muramnya.


Yasya mencoba makan dengan tangannya, saat ia mengangkat tangan kanannya dengan sial siku pria itu terasa sangat perih.


Yasya mencoba memakai tangan kirinya, sedikit susah mungkin, tapi ia masih tak menyerah untuk mencoba.


Tiba-tiba sebuah tangan merebut sendok yang hendak ia suap.


"Sudah saya bilang, biar saya yang suapin" kata Reyna dengan wajahnya yang datar.


Yasya menggeleng dan menuruti gadis itu untuk memakan suapan dari gadis itu.


"Soal yang tadi, hemmm."


"Maaf" ucap Yasya dan Reyna bersamaan.


"Kamu nggak salah Rey, lebih baik kita lupakan yang sudah terjadi, anggap semua tidak pernah terjadi pada kita" seketika wajah gadis itu berubah, bahkan Reyna juga menghentikan tangannya kala hendak menyuapi Yasya.


"Iya" jawabnya singkat dan lanjut menyuapi Yasya dengan senyuman paksanya.


Setelah selesai makan tidak ada perbincangan diantara mereka


Canggung, mungkin kata itu yang mewakili suasana saat ini.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka, membuat Yasya dan Reyna langsung menatap seseorang dibalik pintu itu.


"Hay" suara familiar yang dapat didengar oleh gadis itu kini masuk dengan aksen khasnya.


"Hengky, ngapain kamu kesini?" tanya gadis itu yang kini mulai melirik Yasya.


"Kata pak Nugroho kamu ada disini jagain guru magang, oh ternyata bapak ya yang kecelakaan? gimana keadaan bapak?."


"Panggil saya pak Yasya. Saya baik, hanya luka kecil, sebentar lagi juga mau pulang."


"Oh pak Yasya, saya Hengky teman Reyna kelas IPS I" ujar Hengky memperkenalkan diri.


"Iya saya sering liat kamu di kelas IPS I, kebetulan teman saya juga magang di kelas kamu" ujar pria itu dengan senyuman lembut.


"Eh Rey, pulang yuk" ajak Hengky pada Reyna.


Reyna seperti agak ragu menjawabnya.


"Tapi pak Yasya?" kata gadis itu yang kini tengah ragu dengan keadaan Yasya.


"Sebentar lagi orang tua saya datang, kalian pulang saja dulu" ujar pria itu membuat wajah Reyna lesu.


"Tapi?" kata Reyna khawatir.


"Kalo kamu khawatir, kita disini dulu, nunggu sampe orang tua pak Yasya datang, gimana?" kata Hengky yang kini mulai mengerti dengan perasaan Reyna.


"Nggak papa kan pak?" Reyna bertanya penuh semangat.


Dan pria itu hanya mengangguk pelan.


Sekitar setengah jam Yasya dan Hengky mengobrol dan ditengahi oleh Reyna, tiba-tiba ia mendengar suara familiar yang tak asing ditelinganya


ceklek....


.


"Ya Ampuuuuunnnn Iryasya.... kenapa bisa kaya gini nak? kenapa nggak hubungi papa dari tadi, mau keluar dari sini baru ngabarin" ucap Dian dengan heboh, memang dari dulu Yasya yang selalu diperhatikan seperti ini, karena memang Yasya adalah anak tunggal. Kadang ia merasa tak nyaman, apalagi saat ini, didepan murid-muridnya sendiri.


"Mi... aku nggak papa kok, cuma lecet sedikit" ucap Yasya dengan senyum agar tidak terlalu khawatir.


"Iya mi, anak kita itu sudah besar, besok pasti juga sembuh sendiri kok" kata Adi membela.


Yasya beralih melihat Hengky dan Reyna saling menatap dan memandangi pria itu.


"Ah, mi... pi.. ini mereka berdua murid ku, Hengky dan Reyna" ucap pria itu memperkenankan mereka.


"Oh hallo... wahhh cantik dan ganteng ya, kalian kelas berapa?" tanya Dian sambil memandangi mereka.


"Hallo tante, saya Reyna dan ini Hengky, kami masih kelas sepuluh."


"Iya tan, cuma beda kelas aja" kata Hengky ikut nimbrung.


"Kalian pacaran ya??l cocok sekali... dulu tante waktu masih muda juga kaya kalian gini. PDKT juga sama papanya Iryasya."


Kata Dian membuat Reyna membelalakkan matanya.


"Oh nggak kok tan, kita cuma temenan" kata Reyna dengan senyumnya.


"Tadi saya jemput Reyna tan, soalnya dari tadi pagi ternyata Reyna ada disini nungguin pak Yasya" jelas Hengky membuat Dian terkesima oleh Reyna sesaat. Gadis cantik dan baik.


"Oh ya? terima kasih banyak ya Reyna" kata Dian dengan ramah membuat gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok tante, saya cuma nemenin aja biar pak Yasya nggak kesepian aja."


"Walau bagaimanapun kami tetap berterima kasih sama kamu Reyna" kata Adi menimpali membuat Reyna tersipu.


__ADS_2