
Langkah kaki Reyna memasuki pemakaman umum bersama dengan Yasya yang berada dibelakangnya.
Reyna berhenti dan menunduk, berjongkok dihadapan makam sang ibu yang sudah lama ia rindukan.
Disentuhnya batu nisan yang terukir nama Almira Syakieb disana, ditatapnya dengan senyuman, namun matanya menyiratkan sebuah kesedihan yang tak dapat ia lukisan dengan cara visual maupun kata yang tak dapat terucap dari mulutnya.
Cobaan demi cobaan ia lalui sendiri, berkat kegigihan hati serta kekuatan dari penyemangat nya Reyna mampu menghadapi itu semua dengan tegar dan masih dapat bangkit kembali.
Yasya mengikuti Reyna yang kini duduk di pemakaman Almira, disentuhnya puncak kepala gadis itu dan dipeluknya, membuat Reyna semakin kuat menghadapi masalah yang ada termasuk kerinduannya yang mendalam pada Almira.
"Mama, ini adalah pak Yasya, mama masih ingat kan?" kata Reyna sambil menyentuh batu nisan itu, matanya berkaca-kaca, menahan kesedihan yang ia rasakan. Yasya menatap gadis itu dengan tatapan sendu yang ikut menyelimuti hatinya serta terus memeluknya.
"Hiks, ma Reyna sayang banget sama pak Yasya, dia yang memberi kekuatan selama ini pada Reyna, jika tidak ada dia, Reyna pasti akan sendiri didunia ini ma hiks hiks"
"Sssttt" desis Yasya sambil terus memeluk erat tubuh Reyna yang mulai melemah.
Melihat gadis yang dicintainya itu terisak membuat hati Yasya tergugah untuk mengelus punggung Reyna yang bergetar. Yasya faham betul apa yang dirasakan oleh gadis ini, gadis yang berpura-pura kuat demi menguatkan orang-orang disekelilingnya, meskipun sahabat dan keluarganya pergi meninggalkannya satu persatu, namun dirinya tetap tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Dan kali ini Reyna menumpahkan kesedihannya dihadapan makam sang ibu.
"Aku tidak akan meninggalkan mu Reyna, tidak akan. Walaupun semua orang menjauh darimu, namun aku yang akan menjadi satu-satunya orang yang berdiri untuk menopang mu" kata Yasya meyakinkan ditengah kasih sayang yang ia berikan pada gadis dalam pelukannya itu.
"Pak Yasya, hiks" Reyna membalas pelukan hangat dari Yasya, melepaskan semua beban berat yang ia tanggung selama ini. Kini Reyna merasa dirinya tidak sendirian lagi, karena dia telah mempunyai tujuan dalam hidupnya yaitu Iryasya.
Sementara itu di tempat lain, tangan seorang pria mengepal kuat tatkala dirinya menatap wajah sombong dari gadis yang notabennya adalah pacarnya.
Gadis itu hanya tersenyum menantang memperhatikan gerak-gerik Hengky yang tengah menatapnya dengan wajah garang.
Saat ini mereka tengah berada di koridor paling sepi sekolahan untuk menghindari keramaian. Tampaknya saat ini Keyla telah membuat marah pria itu yang tengah menatapnya dengan amarah yang begitu besar.
"Lo apain tante Almira ha?! lo bunuh dia?!" ucap tegas Hengky seraya mengguncangkan tubuh gadis itu dengan keras, membuat Keyla menepis tangan Hengky secepat mungkin.
"Terus kenapa?! ha? lagian dia juga udah mati kan" nada Keyla begitu santai, membuat Hengky semakin naik pitam oleh sifat kejam Keyla.
"HEY! LO ITU PSIKOPAT KEY, ******** LO. SAMPAH KAYA LO EMANG PANTES DI BUANG!" Hengky memukul tembok tepat disamping kiri kepala gadis itu, namun tampaknya gertakan dari Hengky tak dipedulikan olehnya. Malahan dia saat ini melipat kedua tangannya, seolah menantang tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Itu pantes buat Reyna dapetin, gue nggak salah dan nggak akan pernah bersalah, yang salah dia karena udah jadi simpanan dan melahirkan anak haram seperti Reyna."
Mata Hengky memerah saat setelah mendengar kalimat jahat yang dilontarkan oleh Keyla, rahangnya mengeras, darahnya seperti mendidih ingin segera meledak saat itu juga.
Tangan Hengky mengepal, hendak memukul Keyla namun sebuah tangan menghalangi nya.
"Ky stop Ky, jangan kebawa emosi."
Ucapan Kanaya sambil menarik tubuh Hengky dari hadapan Keyla yang saat ini masih tersenyum sombong mempertahankan posisinya bersandar ditembok dengan melipat kedua tangannya.
"Lo liat kan, dia itu jadi cewek nggak punya harga diri, nggak punya otak nggak punya hati! dia yang udah nyebabin tante Mira meninggal. Lo fikirin gimana perasaan Reyna sekarang, kalo bukan karena cewek sialan itu, nggak akan ada yang kehilangan nyawa! DASAR CEWEK BRENGSEK LO!."
Umpatan dari Hengky yang hendak maju berniat untuk menghajar Keyla diredam oleh Kanaya yang menghalanginya. Rasanya Hengky sudah meledak sekarang, bagaimana bisa Keyla dengan wajah polosnya menghancurkan kehidupan seseorang dengan kejahatannya yang mengerikan. Kanaya dan Hengky sendiri tidak habis fikir tentang hal itu.
"Hengky stop! lo tau kan gimana wajah aslinya dia sekarang, lo sendiri juga salah, ngapain lo main-main sama nenek lampir kaya dia" kata Kanaya ikut tersulut emosi.
Kanaya mendekat kearah Keyla, wajahnya merah padam dengan amarahnya yang tak bisa terbendung lagi.
Plakkkkk....
Sebuah tamparan mendarat dipipi Keyla, membuat gadis itu menatap tajam Kanaya.
"Apa? ha? itu buat konspirasi lo terhadap tante Almira" kata Kanaya dengan amarahnya.
"Lo"
plakkkk...
Satu tamparan keras lagi mendarat dipipi Keyla dengan keras.
"Itu buat rencana busuk lo yang sengaja ngebuat Reyna keluar dari sekolah" ucapan tegas dari Kanaya membuat wajah Keyla menahan amarah, wajah nya datar dan dingin dengan senyuman penuh kebencian.
"Lo fikir lo siapa ha? berani-beraninya nampar gue" kata Keyla yang mulai menahan amarahnya.
Plakkkk..
Satu tamparan lagi membuat Keyla menggertakkan giginya.
"Itu bonus buat lo, karena lo pantes buat dapetin apa yang seharusnya lo dapet dari dulu" kata Kanaya puas sambil tersenyum menang.
"Lo!" suara Keyla yang belum sempat selesai, di potong oleh Kanaya yang kini juga ikut menatapnya tajam.
__ADS_1
"Gue bangga nampar lo, seorang pembunuh hukuman tamparan itu terlalu ringan buat lo, tapi gimana kalo penjara yang bicara? psikopat berdarah dingin, nggak punya otak kaya lo yang seharusnya mati!"
Kanaya mendorong tubuh Keyla, rasanya hati Kanaya sudah mau membunuh gadis jahanam yang kali ini telah tersungkur dilantai. Namun dia masih bisa mengontrol emosinya dengan pergi dari tempat itu dan menarik Hengky.
"Nggak akan ada yang bisa ngelaporin gue, karena barang bukti gue bersih" ucap Keyla dengan senyumnya yang mengerikan.
Yasya dan Reyna telah duduk disebuah cafe, menikmati secangkir coklat yang hangat siang itu. Meskipun perasaan Reyna kala itu sedang kalut, namun dengan kesiapannya dia harus menghadapi pertemuan mereka dengan Syahbilla yang telah diatur oleh Yasya.
Gadis itu menyesap coklat hangat dengan tangan yang sedikit gemetar, membuat pria dihadapannya membelai lembut rambut indah Reyna yang panjang.
"Jangan gugup, kita pasti bisa menghadapinya. Syahbilla adalah gadis yang sangat pengertian, dia pasti mengerti apa yang ingin kita jelaskan padanya, kamu tenang saja ya" ucapan lembut dari Yasya membuat Reyna menjadi tenang sesaat.
Rasanya setiap kata-kata yang keluar dari mulut Yasya adalah sebuah mantra yang sangat berpengaruh untuknya. Reyna merasa dirinya sangat beruntung mendapatkan pria seperti Yasya, lembut, baik hati, dan selalu ada disisinya setiap saat.
Reyna mengangguk, ditengoknya arloji yang berada dilengan kirinya membuat gadis itu menatap pria tampan dihadapannya dengan tatapan mata bertanya.
"Pak Yasya, ini sudah hampir setengah jam, apa dia biasanya seperti ini?" Reyna tidak bisa menahan kekhawatirannya, sudah berapa lama mereka menunggu, namun keberadaan gadis itu belum juga menampakkan batang hidungnya.
Reyna mendengus cemas, rasa khawatir itu kembali melanda setelah beberapa saat Yasya menenangkannya.
"Reyna kamu tenang dulu" kata Yasya menghibur.
Suara dering ponsel Yasya berbunyi, membuat kata-katanya terputus begitu saja, dan segera beralih mengangkat panggilan itu dengan segera.
"Hallo" ujarnya begitu menerima telfon entah darimana.
Reyna menatap Yasya dengan tanda tanya dibenaknya, wajah Yasya terlihat terkejut dengan matanya yang terbelalak sempurna.
"APA?!" Reyna semakin mengernyitkan keningnya, rasa khawatir itu semakin bertambah kala Yasya berteriak dan bangkit dari tempat duduknya, membuat Reyna mengikuti pria itu.
Yasya segera menutup panggilannya dan menatap lekat kedua mata Reyna dengan tatapan cemas.
"Ada apa pak?" tanya gadis itu dengan kerutan cemas di dahinya.
"Syahbilla, dia kecelakaan Rey" ucapan dari Yasya membuat Reyna tak bisa berfikir jernih. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"Apa?! kenapa bisa?" lanjutnya sambil menutup sebagian mulutnya.
"Tidak ada waktu lagi, kita kerumah sakit sekarang" ujar Yasya sambil menggenggam erat tangan Reyna.
Gadis itu merasa bersalah karena baru tau jika Syahbilla telah berada ditempat mereka janjian, namun kembali dengan perasaan kacau dan rasa cemburu, membuat dirinya tak fokus mengendarai mobil yang hampir menabrak truk besar, namun akhirnya dirinya berhasil menghindarinya meski harus menabarak pembatas jalan yang membuatnya harus dilarikan ke RS.
Rasa khawatir itu seperti gemuruh dan awan hitam diatas kepalanya yang begitu mengganggu hatinya. Apa yang harus dia lakukan? seharian ini begitu banyak masalah yang harus ia alami.
Deg deg deg...
Jantungnya terasa bergetar hebat, rasa sakit itu menjalar di dadanya yang membuatnya meringis kesakitan.
"Aah" teriak Reyna menahan kesakitan di dadanya yang tiba-tiba membuatnya memejamkan mata.
Seperti akan ada sesuatu yang membuat dirinya merasakan sakit, namun apa? Sebuah pertanyaan membuat tanda tanya di hati Reyna.
"Reyna ada apa?" pertanyaan dari Yasya membuat Reyna menggeleng, dan menyembunyikan rasa sakitnya.
Reyna tersenyum kembali namun tak bisa menyembunyikan pergerakan matanya yang begitu cemas akan keadaan seseorang yang berada didalam sana.
"Huhuhu, bagaimana ini jeng, Syahbilla hiks hiks" suara seorang wanita paruh baya membuat kedua pasangan itu bangkit, dan beralih menatap kedua ibu-ibu itu yang bisa ditebak adalah orang tua Yasya dan Syahbilla.
"Yasya, bagaimana keadaan Syahbilla? kenapa bisa terjadi hal seperti ini?" pertanyaan dari Rosella membuat Yasya mengintruksikan wanita itu untuk duduk dan menenangkan dirinya.
"Tante duduk dulu, yang sabar dokter masih menangani Syahbilla" ujar Yasya menenangkan.
Dian menatap tajam Reyna yang kali ini masih berdiri dengan perasaan bersalah, Dian menarik lengan Reyna.
"Kemari nak, saya ingin bertanya suatu hal padamu" ucap Dian sambil menggenggam tangan Reyna dengan kasar.
Yasya menatap mata sang ibu, membuat Dian tersenyum dan menggeleng mengintruksikan kepada sang putra untuk tetap berada disana.
"Kamu siapa?" pertanyaan dari Rosella membuat Reyna bingung harus menjawab apa, wajahnya tampak cemas dan tidak nyaman.
"Saya," belum sempat gadis itu melanjutkan perkataannya, namun Dian dengan cepat menyambar kata-katanya.
"Dia murid nya Irya jeng" kata Dian meyakinkan.
ceklek...
__ADS_1
Terbukanya pintu ruangan itu membuat semua orang yang berada disana menatap sang dokter yang kali ini keluar dari dalam ruangan.
"Siapa disini yang bernama Yasya?" pertanyaan dari dokter membuat Yasya memajukan tubuhnya.
"Pasien dari tadi memanggil nama anda, tolong temui dia, sepertinya dia sangat syok dan membutuhkan anda saat ini" kata dokter membuat Yasya terdiam sejenak.
Yasya tampak ragu, ditatapnya wajah Reyna yang kali ini menunduk lesu dan wajah khawatirnya yang semakin membuat gadis cantik itu seperti terpojok.
"Tapi dok," ucapan Yasya segera ditampik oleh sang ibu yang kini mendorong tubuhnya.
"Nak, cepat temui tunangan mu dulu, tenang saja, dia pasti akan baik-baik saja. Kalian sudah berpacaran selama dua tahun, tapi jarang sekali memiliki waktu untuk berdua" ucapan dari Dian membuat Reyna terkejut, wajahnya pucat pasi, dengan mata yang berkaca-kaca. Reyna bahkan baru tau jika Yasya dan Syahbilla telah berpacaran selama itu, namun Yasya tidak pernah menceritakan padanya.
Yasya mencoba meraih tangan Reyna, namun dengan segera Dian menariknya.
"Ayo nak, kita bicara dulu" kata Dian dan dibalas anggukan oleh Reyna, namun perasaan Yasya semakin tidak tenang, dia takut jika Dian mengatakan sesuatu yang membuat Reyna salah paham terhadapnya.
"Mi" kata Yasya sambil menggeleng.
"Yasya ikuti kata dokter, kalau terjadi apa-apa dengan calon menantu mami, mami tidak akan memaafkan mu" ucapan tegas dari Dian membuat Reyna meneteskan air matanya.
"Pak Yasya, sebaiknya bapak cepat temui dia" kata Reyna dengan wajahnya yang memerah sembab dan suara yang semakin melemah, membuat Yasya tak tega dengan gadis itu.
"Tapi Rey" katanya ragu, membuat Reyna mengepalkan kedua tangannya.
"Saya mohon" Reyna memohon dan segera menghapus jejak air matanya, mencoba menguatkan hatinya.
"Yasya, ayo nak" Rosella menarik lengan Yasya dan dengan terpaksa dia mengikuti langkah wanita itu, membuat pria itu dirundung rasa kebimbangan.
Langkah Yasya menjauh dari Reyna dan menatap lekat wajah cantik gadis itu sambil berjalan menjauh darinya.
Reyna hanya bisa pasrah sekarang, sesuatu yang direncanakan tidak berjalan dengan semestinya. Rasanya hati Reyna teramat sakit untuk mengingat bagaimana keadaan Syahbilla yang sangat membutuhkan Yasya.
Reyna adalah orang ketiga diantara dua pasang kekasih yang menjalin hubungan lama. Dadanya sesak, seperti dijatuhi ribuan serpihan kaca dari langit.
"Kamu tau kan kalau Yasya dan Syahbilla saling mencintai?"
Ucapan Dian membuat Reyna menunduk dan mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa lagi.
"Mereka sudah berpacaran selama dua tahun, dua tahun Reyna, dan kamu akan menghancurkan harapan dua keluarga. Apa kamu tau bagaimana Syahbilla sangat mencintai Iryasya? dia bahkan kecelakaan gara-gara kamu."
Ucapan menekan dari Dian membuat tubuh Reyna bergetar, gadis itu tampak tidak bisa menahan kesedihannya lagi, matanya semakin memerah dengan air mata mengalir dikedua matanya.
"Maaf tante, hiks" ucapan dari Reyna membuat Dian menggeleng, meskipun Dian tidak suka terhadap Reyna, namun jiwanya tidak bisa bersikap kasar pada gadis itu.
"Tante mohon, tinggalkan Yasya, tante sangat berterimakasih jika kamu menjauhinya. Yasya adalah putra tunggal tante, dan tante tidak mau masa depannya suram. Sedangkan Syahbilla, dia memiliki kemampuan untuk menjadi calon istri Yasya, dia gadis baik dan berpendidikan, tante mohon Reyna, kamu dan Syahbilla juga sama-sama perempuan, kamu pasti tau kan perasaan dia bagaimana."
Ujar Dian panjang lebar, membuat Reyna mengangguk.
Reyna segera menghapus air matanya, dan mencoba untuk tetap tenang meski hatinya teramat sangat sakit untuk dirasakan.
"Saya tau tante, saya janji, tidak akan mengganggu hubungan mereka lagi. Maafkan saya" kata Reyna sambil menatap wajah paruh baya perempuan dihadapannya. Reyna melangkah menjauh, meninggalkan Dian yang tengah tersenyum tenang meski harus merasa tegang dengan apa yang terjadi barusan.
"Hiks hiks" tangisnya gadis itu sambil berlari menjauh dari rumah sakit sambil menghapus air matanya.
Reyna berhenti disebuah kursi panjang di taman depan rumah sakit. Dirinya duduk disana, mencoba menguatkan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Semua orang telah jauh darinya, ibunya yang telah meninggal, kakak dan ayahnya yang membencinya, sahabatnya Hengky dan Kanaya juga telah pergi ditambah lagi Yasya yang sekarang telah berada disisi tunangannya.
Gadis itu telah sendiri saat ini, tiada lagi pundak Yasya yang menenangkan hatinya, tiada lagi canda tawa teman-temannya yang membuatnya tertawa hingga lupa akan kesedihannya. Reyna telah sendiri, hanya takdir yang memeluknya, mengalir bagai ombak yang tak beraturan membuat hatinya dirundung kesedihan mendalam.
Entah mengapa rasanya hari ini seperti hari panjang, membuat seperti setiap detiknya adalah rasa sakit untuknya.
Reyna yang sebelumnya tenang oleh belaian lembut Yasya, kini harus sendirian lagi dan pergi menjauh dari segalanya. Dia hanya berharap untuk istirahat, melupakan semuanya yang terjadi, meski berat namun harus tetap ia lalui.
__ADS_1