
Mereka telah sampai di mansion milik Yasya. Sejak tadi sikap dingin pria itu membuat Reyna bertambah canggung. Bahkan gadis itu sempat kesusahan ketika hendak memulai pembicaraan yang tak kunjung dibalas oleh Yasya sepatah katapun.
Kini Yasya berjalan cepat mendahului Reyna, saat setelah sampai diambang pintu gadis itu hendak menyentuh punggungnya. Namun gerakan Reyna sepertinya kalah cepat dengan langkah Yasya.
"Pak Yasya" panggilan lirih Reyna membuat pria itu berhenti melangkah namun enggan untuk membalikkan tubuhnya. Reyna mencoba mendekat ia ingin tau apa yang sebenarnya dirasakan oleh Yasya yang tiba-tiba berubah sedingin es.
"Ada apa dengan bapak? saya tidak mengerti. Jika ada yang salah dari saya katakan, jangan hanya diam saja, saya jadi bingung."
Reyna semakin berjalan mendekat dengan langkah kakinya yang terdengar ditelinga pria itu.
"Pak Yasya marah?" tanya Reyna dengan nada lembut membuat pria itu yang semula membelakangi tubuh Reyna kini beralih membalikkan tubuhnya menghadap Reyna dengan tatapan datar.
"Sebaiknya kamu segera kembali ke kamar mu Reyna, ini sudah malam, waktunya untuk tidur."
Ia hendak melangkah lagi, namun dengan buru-buru gadis itu menarik lengan Yasya. Dengan sigap ia berjinjit dan mencium bibir Yasya singkat.
Cup ....
Yasya hanya diam tanpa merespon. Reyna dengan segera menarik tubuhnya kembali. Gadis itu membulatkan matanya kala baru menyadari apa yang barusan ia lakukan pada pria dihadapannya ini. Sebuah keberanian yang selama ini ia tutupi kini muncul begitu saja tanpa ia sadari.
"Ma... maaf" kata Reyna canggung seraya mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.
Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu kemudian berjalan menyerobot Yasya yang kini masih terdiam dengan ekspresi datarnya.
Tiba-tiba saja Reyna dikejutkan kala sebuah tangan kekar memeluk tubuhnya dari arah belakang. Bisa ia tebak hembusan nafasnya dileher jenjang gadis itu.
Aromanya sangat familiar merasuk ke indera penciuman Reyna. Lelaki itu memeluk pinggangnya dengan sangat mesra. Membuat Reyna merona dibuatnya.
"Emmm pak" kata-kata gadis itu bahkan dipotong oleh Yasya yang kini mulai bersikap manis seperti biasa membuat gadis itu tersenyum lega.
"Reyna... saya ingin menanyakan sesuatu" ucap Yasya didekat telinga Reyna yang terdengar seperti bisikan, dengan masih mempertahankan posisinya membuat tengkuk gadis itu meremang.
"A.. apa?" tanya gadis itu gugup dengan suara lirihnya.
"Kenapa Hengky tidak marah dengan kamu saat dia tau kalau kita tengah makan malam bersama?" pertanyaan itu membuat Reyna membulatkan matanya. Ia mengerutkan keningnya sambil memiringkan pandangannya sedikit menoleh kearah pria itu.
.
"Kenapa Hengky harus marah? dia adalah sahabat saya, jika dia ingin menanyakan sesuatu, mungkin dia tidak enak jika ada pak Yasya."
"Begitu ya?" tampak wajah pria itu mendadak tersenyum tipis dengan menyembunyikannya dari Reyna yang kini masih enggan untuk bergerak.
Pria itu membalikkan tubuh Reyna, ia menatap lekat kedua bola mata besar gadis cantik dihadapannya. Dengan tatapannya yang penuh arti ia bahkan enggan untuk tersenyum kembali. Apalagi alasannya jika bukan karena gengsi.
Yasya mulai mendekatkan wajahnya kearah wajah gadis dihadapannya. Ia bisa menebak apa yang ingin dilakukan oleh pria tersebut. Digenggamnya wajah Reyna dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang leher Reyna lembut.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat di bibir manis gadis itu. Selesai dengan aksi mencium pria itu menyelipkan sebagian rambut Reyna disela telinga gadis itu membuat rona merah dipipi Reyna terlihat jelas.
"Sebaiknya kamu kembali ke kamar kamu, besok kita akan pergi" tutur pria itu dengan senyuman, membuat Reyna mengangguk patuh dan tersenyum membalasnya.
Malam telah berganti menjadi cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela rumah besar milik keluarga Ferdiansyah yang hanya di jamah saat mereka melaksanakan hari libur bersama keluarga.
Yasya tengah bersiap merapihkan isi mobilnya, menunggu gadis pujaannya untuk menuju kesebuah tempat dimana gadis itu akan meninggalkan apartemen dan juga persinggahannya selama ini.
__ADS_1
Terlihat wajah tampannya keluar dari mobil setelah sebelumnya ia menyalakan mesin untuk hanya sekedar memanasi kendaraannya tersebut.
Pria bertubuh atletis itu memakai kaos putih dengan celana jeans, tampak gagah dan tampan seperti biasanya.
"Pak Yasya... kita berangkat sekarang?" tanya gadis yang tengah berdiri di teras rumah, membuat Yasya membalikkan tubuhnya, menatap tubuh gadis yang memakai kaos putih dan rok yang berwarna senada. Ditambah dengan rambutnya yang digerai menjulang sampai punggung, membuat siapa saja pasti terpesona dengan kecantikan Reyna.
Yasya mengangguk dan mempersilahkan gadis itu untuk masuk kedalam mobilnya.
Didalam mobil tiada obrolan seru untuk dibahas hanya Reyna yang selalu berkutat membahas soal Almira.
"Pak Yasya," panggil Reyna antusias.
"Heummm?" Yasya masih fokus menyetir dengan pandangannya yang melirik kearah gadis itu dengan senyuman.
"Apa mama bertanya sesuatu tentang saya?."
Yasya hanya diam tanpa mengatakan apapun, matanya tetap fokus pada jalanan didepannya.
"Apa mama bilang kalau dia merindukan saya?" Reyna menghela nafas beratnya kala Yasya hanya terdiam tanpa mengatakan suatu hal apapun.
"Pak Yasya jawab!" rengek gadis itu dengan manja sambil memegangi lengan Yasya.
.
"Sstt... kita akan sampai sebentar lagi, saya sedang berkonsentrasi Reyna."
Ucapan Yasya menohok hati gadis cantik itu, membuat dirinya dilanda kecurigaan. Perasaannya ingin sekali bertemu sang ibu yang telah merawat dan membesarkan dia. Namun dia merasa takut, jika suatu hal yang tidak diinginkan.
'pa mama tidak ingin menemui ku? Tuhan... aku sangat gugup, sudah sangat lama aku tidak bertemu mama. Tempo hari ketika Hengky menghubunginya, mama bilang tidak perduli padaku. Apa benar mama juga sangat membenci ku seperti papa?' batin Reyna kini masih menangis dalam diamnya.
.
"ada apa???"
."please... stop..."
ucapan Reyna membuat pria itu terpaksa untuk menghentikan mobilnya.
"Reyna... kenapa??? bukankah kamu ingin bertemu dengan ibumu???"
Reyna hanya terdiam, matanya berkaca-kaca. Dia mengingat semua yang dialami olehnya beberapa waktu lalu. Entah apa yang disembunyikan oleh Yasya, tapi itu sangat menggangu perasaannya saat ini.
"Reyna... katakan..."
"hiks... saya tidak ingin bertemu mama..."
Yasya menatap gadis disampingnya dengan wajah sendu. Air mata yang tidak ingin Yasya lihat kini menggenang di pelupuk matanya.
"apa kamu tidak ingin menemui mama mu??"
"entah kenapa... hiks... semakin dekat, semakin dekat kita menuju kediaman mama, hati saya merasa sakit... dada saya sesak... perasaan saya tidak enak... pak Yasya katakan dengan jujur... apa mama membenci saya??? hiks hiks..."
Pria itu memeluk tubuh gadis itu, membuat Reyna membalas pelukan hangat yang disalurkan oleh Yasya.
"Mama kamu sangat mencintaimu... dia bahkan rela melakukan apapun demi kehidupan kamu."
.
__ADS_1
"Apa itu benar?" tanya gadis itu meyakinkan, membuat pria dihadapannya tersenyum sambil mengangguk.
"Iya... saya tidak akan bohong padamu"
"Tapi..." ucapan Reyna menggantung kala tangan besar Yasya menangkup kedua pipi Reyna dan menghapus air mata yang berada disana.
"Jangan menangis lagi... kita kesana okay" ujar pria itu menenangkan membuat hati Reyna mulai membaik.
"Iya...." ucap Reyna dengan mengangguk.
***
Mobil sedan berwarna putih itu memasuki pekarangan rumah yang sangat rindang dengan bunga-bunga dan beberapa pohon berbuah didepannya.
Rumah minimalis itu sangat indah meskipun tidak besar. Dengan eksterior rumah berwarna biru muda dan abu-abu, menambah mewah ditengah kesederhanaan yang ada didalamnya.
"Ini rumahnya pak" kata Reyna sambil mengangkat sebelah alisnya. Ia bahkan menutup mulutnya tak percaya saking banyaknya rasa yang terukir dalam hatinya.
"Ini rumah nenek kamu... ibu Kumala Syakieb."
"Nenek tinggal disini? bersama mama?" tanya Reyna dengan pandangannya yang ia kunci pada rumah minimalis itu.
.
"Masuklah... saya akan menyusul" Reyna tersenyum, semangat dan segera keluar dari mobil.
Dia berlari untuk kemudian segera memencet bel rumah minimalis itu.
Beberapa saat kemudian, keluarlah seorang nenek tua yang mungkin umurnya sekitar 70 tahunan.
"Nenek.... " Reyna tersenyum dan memeluk tubuh renta wanita itu. Membuat dirinya membalas pelukan dari sang cucu.
"Reyna... cucu ku, nenek kangen sama kamu."
.
"Reyna juga kangen sama nenek... huhu... nenek."
Kebahagiaan Reyna tidak bisa ditahan, air matanya begitu deras mengalir sesenggukan.
Membuat mata sang nenek ikut berkaca-kaca melampiaskan kerinduan pada sang cucu yang sudah lama tidak berjumpa.
Mereka saling melepas rindu tanpa merenggangkan pelukan.
"Mama... apa mama disini?" tanya Reyna membuat Kumala terdiam.
"Mama mu?" tampak wajah Kumala mengernyit bingung dengan pandangannya yang beralih pada Yasya yang kini mendekati mereka.
"Iya mama... tunggu,." Reyna melepaskan pelukannya, dan menghapus air matanya.
"Nenek tau tidak, aku peringkat satu seangkatan ku loh, aku berjuang keras demi bertemu mama... mama pasti didalam kan. Nek apa boleh aku masuk, aku akan mengejutkan mama dengan kehadiran ku."
Kumala menatap senyum nanar kearah cucunya itu dan mengangguk untuk mempersilahkan gadis itu masuk.
Reyna kemudian mencari di semua penjuru rumah, dari belakang, kamar-kamar dan semuanya. Namun sayangnya tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang lain selain neneknya yang tinggal disana...
"Ma... mama dimana?" teriakan Reyna menggema di seluruh ruangan. Membuat dirinya kembali untuk bertanya pada neneknya.
__ADS_1