
Kring... kring... kring....
Pagi telah tiba, matahari menyeruak memasuki sela-sela jendela kamar besar yang berada disebuah apartemen.
Reyna tampak masih menutup matanya, dan perlahan menekan tombol jam beker diatas nakas. Matanya mengerjap beberapa kali untuk menyempurnakan nyawanya. Dia merasa heran, dengan jam beker yang berdering, dia bahkan tidak ingat untuk menyalakan alarm.
Dia juga mengingat satu hal yang ia lupakan sedari dia bangun. Keberadaannya yang sebelumnya berada di sofa untuk belajar kini beralih berbaring di ranjang berukuran king size.
Reyna mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar, dia menemukan Yasya yang masih tertidur pulas disampingnya.
Perlahan dirinya membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah tampan pria dihadapannya ini. Reyna tersenyum bahagia, menikmati perasaan ketika melihat seorang pria yang ia cintai berada disampingnya kala bangun di pagi hari.
"Terimakasih pak Yasya... " ucapnya pelan, dan mencium pipi Yasya dengan cepat.
Terlihat jelas wajah gadis itu yang memerah, dengan senyum yang tak pernah lepas dari pipinya yang menggemaskan. Melihat pria itu yang tertidur tampak nyaman, Reyna enggan membangunkan dia dan memutuskan untuk segera bangkit dari tidurnya.
Dalam sekejap, dia mengangkat selimut kemudian bersiap untuk sekolah.
***
Ceklek...
Reyna telah keluar dari kamar mandi, tampak wajahnya yang penuh semangat dan seragam putih abu-abu melengkapi kesiapannya untuk menghadapi ujian hari ini.
Dia menatap heran pada pria yang masih nyaman dengan posisi tidurnya sedari tadi. Perlahan gadis itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Yasya.
"Pak Yasya... bangun... ini sudah siang, bapak nggak kuliah ya?" ujar Reyna seraya menggoyangkan pelan tubuh Yasya.
Terlihat Yasya menggeliat, membuat Reyna gemas untuk membangunkannya.
"Pak Yasya... aahhhhh" Reyna berteriak kala tangan kekar merengkuh tubuhnya hingga posisinya kini berada diatas tubuh pria yang kini masih bertahan dengan matanya yang terpejam.
"Saya masih ngantuk Reyna... apa kamu tega membangunkan istirahat saya" ucap Yasya dengan mata tertutup. Reyna menelan salivanya kala tubuhnya tengah menghimpit pria dibawahnya, wajahnya bersemu merah, tubuhnya terasa kaku.
"Pk... pak Yasya... ini, lepaskan saya... saya mau berangkat ini sudah siang."
Tiba-tiba saja kelopak mata indah dari pria itu terbuka. Membuat Reyna berkeringat dingin, bahkan dia merasakan jantungnya yang berpacu dengan cepat.
Reyna memalingkan wajahnya, seolah tak berani menatap pria yang tersenyum kearahnya. Pria itu terkekeh kala melihat rona diwajah Reyna yang semakin memerah dengan posisi mereka saat ini
"pak Yasya... ayolah saya bisa telat nanti."
"Oke oke... maaf" Reyna segera bangkit dari posisinya. Dia segera bergegas untuk berangkat sekolah.
***
"Reyna... akhirnya lo masuk juga.... ohhh gue kangen banget tau nggak sama lo" ucap Naya yang tidak berhenti merangkul pundak sahabatnya itu sedari Reyna masuk ke gedung sekolah itu.
Reyna tampak tersenyum simpul karena bisa bertemu Kanaya setelah berhari-hari dirinya di opname.
***
"Baiklah anak-anak, kita mulai ujian ini, jangan ada yang mencontek, kerjakan dengan jujur" ucap seorang guru wanita sambil membagikan soal pada murid-muridnya disebuah kelas.
"Iya buk" suara riuh sebelum ketenangan dalam ujian di mulai.
Semua siswa-siswi termasuk Reyna dan Kanaya tampak serius mengerjakan soal. Dengan keyakinannya yang kuat selama dia belajar, dia akan berjuang keras untuk ujian ini. Bukan hanya nilainya yang membuat dirinya lebih semangat namun tujuannya untuk bertemu dengan Almira menjadi momok tersendiri untuk gagal dalam ujiannya kali ini.
'Reyna kamu pasti bisa' batin Reyna menyemangati dirinya.
kriiiiiinggg.....
Suara bel istirahat berbunyi, menandakan bahwa ujian telah usai dan sekaligus jam istirahat tiba . Semua murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing.
"Reyna... ke kantin yuk" ajak Kanaya yang menghampiri Reyna.
"Emmm nggak ah Nay... aku lagi pengen belajar aja" kata gadis itu, yang masih tak bergeming pada buku dan pulpen di tangannya.
"Jangan terlalu serius lah... emang lo nggak laper apa? perut gue udah keroncong nih... ayukkk sebentar aja, abis itu kita balik ke kelas."
__ADS_1
Reyna menghembuskan nafas beratnya. Dia memutar bola matanya malas, dirapihkannya buku-buku yang berserakan dimeja dan segera ia bangkit dari bangkunya.
"Nah... gitu dong."
Tak tak tak...
Belum sampai dua gadis itu keluar dari pintu kelas, suara langkah kaki mendekat kearah mereka.
"Tuh.... si ganteng dateng, dari kemaren gue didesak mulu sama dia, samperin gih" bisik Kanaya ditelinga Reyna, tatkala melihat Hengky yang berdiri dibalik pintu sambil memandangi mereka berdua.
"Ehhh tapi lo jangan ninggalin gue donk."
"Ehh gue juga nggak mau kali kaya waktu kemaren itu, bisa-bisanya gue tungguin lo di kantin malah elu ngedate bareng sama doi."
"Ngaco lo" kata Reyna sewot.
"Kalian berdua ngomongin apa?" duara berat dari Hengky, membuat dua gadis itu tersentak dan memandangi satu sama lain.
"Kita lagi ngomongin soal ujian yang tadi kok ky" ucap Reyna asal.
"Reyna, kamu dari mana aja dua hari ini, terakhir aku anterin kamu pulang, habis itu aku hubungi juga nggak bisa, kamu nggak apa-apa kan?."
"Aku nggak apa-apa kok Ky... bukannya Naya udah ngasih tau kamu ya kenapa aku nggak sekolah dua hari ini?" Hengky heran dengan tingkah Reyna yang gugup, dirinya seperti menyembunyikan sesuatu.
"Enggak... dia cuma ngomong kamu ada urusan penting kerumah nenek kamu yang ada di wisma asri."
Reyna menahan nafasnya, dan melirik Naya dengan tatapan tajam.
"Emang iya kan Rey? tau nggak, si Hengky sampe ngintrogasi gue tiap hari nanyain soal kabar lo..." ucap Kanaya dengan cengengesan.
"Eng... bukan ngintrogasi, gue cuma nanya aja kok" elak Hengky dengan tatapan canggungnya.
"Yang penting sekarang udah nggak ada masalah lagi kan, kalo gitu... ke kantin yuk" ajak Reyna pada dua sahabatnya itu. Yang kemudian disetujui oleh mereka berdua.
'Maafin aku Ky, aku nggak bisa ngasih tau kamu masalah keluarga ku... biarkan ini jadi masalahku sendiri, aku nggak ingin ada orang yang terbebani dengan keadaan ku... aku janji, kalau aku udah tinggal bersama mama, aku akan terbuka denganmu.' batin Reyna dalam hatinya, sambil melangkah pelan, mengikuti dua sahabatnya yang berjalan tak jauh didepannya.
Entah kenapa rasanya dia merasa tak nyaman ketika mengingat senyuman ibunya yang ia lihat untuk terakhir kalinya dalam mimpi tempo hari. Namun dirinya selalu tersenyum untuk menyembunyikan perasaan gelisahnya.
***
Sebuah mobil berwarna putih menyusuri jalan di kompleks perumahan Wisma Asri, mobil itu tampak berhenti didepan rumah sederhana namun sangat indah dan rindang dengan pohon serta bunga-bunga cantik dihalamannya yang luas.
Pria itu turun dari mobilnya dan segera mendekat kearah pintu yang terpampang dari radius penglihatannya.
Senyum lega ketika dirinya telah sampai dirumah ini, membuat dirinya sedikit tenang untuk mencari keberadaan Almira.
tok tok tok
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan tersenyum kepada sang tamu.
"Permisi ibu...." ucap pria itu dengan senyumannya yang ramah.
"Maaf, mau cari siapa ya?" tanya ibu itu pada Yasya.
"Saya adalah teman Reyna... yang tempo hari pernah kesini... ibu masih ingat?" Ibu itu tampak berfikir sebentar, namun dia segera mengingat gadis yang terluka kemarin hari.
"Oh gadis itu, gadis cantik itu terluka saat sampai disini... ehmm kalau begitu silahkan masuk dulu."
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Iryasya."
"Saya ibu Monica... mari silahkan masuk"
Yasya mengikuti Monica kedalam rumahnya.
"Jadi... apa kamu juga mencari keberadaan ibu gadis itu nak?" kata Monica sambil menurunkan nampan yang berisi jus keatas meja dihadapannya.
Terlihat wajah tampan Yasya yang khawatir dan gusar ketika belum menemukan petunjuk untuk menemukan Almira.
"Nak... tampaknya kamu juga mengkhawatirkan dia seperti gadis itu... tapi kemungkinan besar, ada satu orang yang mengenal makelar dari rumah yang ibu beli ini."
__ADS_1
Yasya mengerutkan dahi menatap sang wanita paruh baya dihadapannya. Ia sangat berharap dapat menemukan Almira yang kini entah dimana kabarnya.
Mengingat keadaan dan juga harapan gadis itu yang begitu besar, serta penderitaannya yang tak kunjung selesai membuat Yasya harus turun tangan untuk membantunya.
"Ibu Monica... keberadaan mamanya Reyna sangat berarti bagi dia, kalau boleh saya tau siapa yang mengenal beliau?" tanya Yasya dengan antusias.
"Namanya pak Aji Santoso, dia terkenal sebagai agen jual beli rumah dan tanah. Kamu bisa bertanya pada pak RT setempat, orang-orang disini mengenal pak Aji, mungkin beliau juga bisa membantu."
Yasya tersenyum lega mendengar perkataan Monica barusan, dia menyunggingkan senyum dan meneguk minuman yang disediakan oleh sang pemilik rumah.
"Ibu Monica.... saya sangat berterimakasih untuk info yang anda berikan, semoga ini membantu pencarian kami."
"Tidak perlu seperti itu, saya hanya menyampaikan apa yang saya tau... Sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, saya merasakan dia kekurangan perhatian dari orang tuanya."
Yasya mengerutkan dahinya, dia menatap mata sang pemilik rumah yang terlihat sendu mengingat kehadiran Reyna tempo hari.
"Maksud Bu Monic?" tanya Yasya yang kini mulai khawatir. Pasalnya Reyna terlalu nekat dan tidak memberitahu jika ia mencari ibunya sampai sejauh ini.
"Iya... dia kemari dengan luka di lututnya, bahkan demi mengetahui keberadaan ibunya, dia sampai melupakan rasa sakitnya. Sungguh anak yang berbakti" kata-kata Monica membuat Yasya tertegun. Keadaan Reyna sekarang membuat dirinya lebih dewasa. Mungkin dia adalah gadis remaja, tapi sayangnya masa remaja yang kini ia alami harus hilang dan terpaksa membuat dirinya lebih tegar dan kuat untuk menghadapi segalanya.
***
RT 3 Lingkungan kompleks Wisma Asri.
Setelah Yasya pamit dari rumah ibu Monica, dia segera pergi untuk menemui pak Rt setempat. Mobilnya berhenti disebuah rumah yang cukup besar dengan pagar dan kolam ikan kecil serta tumbuh-tumbuhan didepan rumahnya.
Seorang gadis keluar dari rumah itu yang semula duduk diteras. Mendekat kearah Yasya yang tengah berdiri di samping mobil putihnya.
"Masnya cari siapa ya?" tanya seorang gadis yang hanya memakai tank top dan rok mini yang memperlihatkan bagian pahanya yang mulus.
Gadis itu terlihat tersenyum kala melihat pria tampan dihadapannya.
"Saya mencari pak Rt, apa ada dirumah?" ujar Yasya dengan seramah mungkin.
"Oh... itu ayah saya mas, ada keperluan apa ya? mau ngelamar ya?" tanya gadis itu sembari tersenyum centil membuat Yasya bergidik ngeri dibuatnya.
Yasya menggeleng, kini hilanglah sudah senyum keramahan yang ia buat. Matanya mendadak membulat dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
"Mari... silahkan masuk" kata gadis itu mempersilahkan membuat Yasya berjalan kedalam rumah itu, dengan penuh ketidaknyamanan dia mengikuti gadis itu sampai ruang tamu dan segera duduk ketika dipersilahkan.
"Maaf... saya mau bertemu pak Rt."
"Oh ayah saya sedang dinas ke luar kota, sebentar ya, saya ambilkan kopi dulu."
"nggak usah repot-repot... saya hanya perlu dengan pak RT" kata Yasya yang merasa kurang nyaman dengan keadaannya.
"Mely.... ada tamu ya" suara wanita paruh baya yang datang menghampiri mereka membuat Yasya menghembuskan nafas lega.
"Ibuk... ini... ada tamu, katanya mau nyari ayah."
"Yasudah ambilkan air untuk tamu" ucap ibu itu pada anak perempuannya.
"Maaf... ada apa cari suami saya? sepertinya kamu bukan orang disini ya," Tanya bu RT dengan senyuman yang ramah membuat Yasya bisa merasa nyaman setelah sebelumnya dihantui rasa ketegangan.
"Iya bu... saya datang dari pusat ibukota, emmm begini, saya mencari seseorang yang telah menjual rumah di nomor 43, apa ibu mengenal nenek Syakieb?" terlihat ibu itu mengerutkan dahi.
"Saya mengenalnya, tapi... dia sudah lama pindah."
"Maaf sebelumnya, apa ibu mengenal bapak Aji Santoso... makelar yang menjual rumah nenek Syakieb?."
"Saya tidak terlalu mengenal nak, tapi suami saya tau... sayangnya, suami saya tidak ada dirumah."
"Tidak apa-apa bu... bisa saya meminta nomor telepon beliau? saya sangat membutuhkan informasi tentang nenek Syakieb."
"Baiklah... saya akan memberikan kamu nomor suami saya... nanti kamu bisa tanyakan sendiri padanya."
"Terimakasih banyak ibu" ujarnya dengan senyuman lega.
Beberapa menit kemudian, gadis itu kembali dan membawa sebuah nampan yang berisi kopi. Dengan menampilkan wajah cantiknya dan senyum centilnya dia meletakkan kopi itu dihadapan Yasya.
__ADS_1
"Diminum mas kopinya" kata gadis itu dengan menunduk yang sengaja menampakkan dua gunung kembarnya pada Yasya
"Terimakasih..." Yasya yang tau keadaan itu dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah ibu RT. Dia tersenyum lembut pada wanita paruh baya yang menampilkan tubuh gemuknya.