
Yasya tengah mendorong kursi roda dengan Reyna yang duduk diatasnya.
Tak lupa ia membelikan ice cream sesuai yang Reyna minta agar memperbaiki hatinya yang sedang kesal.
Yasya melangkahkan kakinya menuju taman dibelakang rumah sakit yang cukup luas agar gadis ini bisa menghirup udara segar kembali.
Yasya duduk disebuah kursi dan menempatkan dia disisinya. Ahhh begitu nyaman hatinya saat aku berada disisi Reyna.
"Ini untuk bapak...." ucap Reyna dengan memberikan ice cream yang telah ia buka untuk pria itu.
"Terimakasih."
"Pak Yasya tau nggak.. dulu waktu bang rey nggak nepati janji atau datang terlambat pas saya ngajak jalan bareng, abang selalu beliin saya ice cream... haha, niatnya nyogok sih, tapi karena saya suka banget sama ice cream, saya nggak jadi marah deh."
Kata Reyna dengan penuh semangat, seolah tidak terjadi apa-apa pada keadaan keluarganya saat ini.
Yasya menatap sendu gadis cantik disebelahnya ini, dia bahkan tidak menampilkan kerut wajah sedih sedikitpun. Hanya senyuman, senyum yang terpancar indah dipipinya.
"Reyna... apa kamu sakit hati pada keluarga mu?" tanya Yasya dengan menatap serius wajahnya yang beralih menatap pria itu dengan kerutan di dahinya.
"Tidak... mengapa harus sakit hati? saya merasa bangga memiliki mereka" kata Reyna dengan penuh keyakinan.
"Tapi, mereka yang telah membuat kamu seperti ini... bukankah ini keterlaluan."
"Bagi saya tidak penting mereka melakukan apa, tidak ada yang berbeda dengan posisi mereka dihati saya... mereka tetap sama, bahkan jika saya bukan anak kandung papa, saya akan tetap menghormati beliau yang telah memberikan kehidupan bagi saya."
Reyna masih berahan dengan senyumnya yang indah, ia mulai menatap Yasya dengan rasa lega.
"Pak Yasya... cepat makan ice cream nya, nanti leleh lo hehe" ujar gadis sambil menjilat ice cream yang ia bawaml.
"Reyna... apa kamu tidak lelah seperti ini, hemmm bukan saya ingin mencampuri urusan pribadi kamu tapi ."
"Saya tau... terimakasih atas simpati bapak, tapi saya hanya butuh mama, cuma mama yang bisa menjelaskan semuanya... saya yakin mama tidak seperti itu" Reyna tampak memberikan jeda pada kalimatnya. Dia menghela nafas panjangnya, diantara lelah memikirkan dan lelah menjalani.
"pak Yasya..." kata Reyna dengan memegang punggung tangan pria yang duduk bersebelahan dengannya.
"Selama ini, pak Yasya sudah banyak membantu saya, dan juga menjaga rahasia saya. Pak Yasya masih punya keluarga yang utuh... tidak seperti saya, keluarga saya berantakan... kedepannya, jangan pernah mengecewakan mereka... sebisa mungkin membuat mereka bangga untuk apa yang telah kita lakukan, karena pada dasarnya kebanggaan mereka terhadap kita hanyalah balasan yang sangat kecil."
.
Yasya menatap intens gadis cantik dihadapannya itu, matanya berbinar-binar wajahnya yang pucat dengan beberapa luka lebam. Dia masih saja menampilkan senyuman itu. Sedang Yasya membalas senyumannya dan mengangguk patuh.
"Reyna..... apa maksud lo?" suara dari belakang punggung mereka membuat Reyna tersentak dan secara bersamaan menoleh ke belakang untuk memastikan suara yang tak asing itu.
Tampak gadis itu membisu, dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kanaya menatap mereka bergantian, dia dengan segera menghampiri Reyna yang tengah duduk di kursi rodanya. Dia berlutut dan menatap sendu wajah Reyna, matanya berkaca-kaca seolah ingin segera menumpahkan isinya.
__ADS_1
"Gue kesini lihat surat dari rumah sakit lo yang ada di absensi guru."
Reyna tampak menunduk, ia seperti takut untuk membalas tatapan mengintimidasi dari sahabatnya itu.
"Jelasin Rey, kenapa muka lo bisa lebam kaya gini, siapa yang mukul lo? apa kak Reyhan? apa papa lo? apa maksud pak Yasya tadi, tentang masalah keluarga lo... Reyna... jawab."
Ucap Naya dengan isakan tangisnya.
Reyna tetap menunduk, wajahnya terlihat memerah. Ia merasa takut, takut jika aib keluarganya terbuka, ia takut sahabatnya akan menjauhinya saat tau bahwa dirinya adalah anak haram hasil dari perselingkuhan.
"Naya... stop... ayo ikuti saya, biarkan Reyna sendiri dulu, akan saya ceritakan."
Yasya menginstruksikan Kanaya untuk mengikutinya ditengah tangisnya pada sahabatnya.
Naya terlihat menghapus jejak air matanya, dan mengangguk patuh mendengar penuturan dari Yasya.
"Reyna... jangan khawatir, gue akan jaga rahasia lo... gue harap lo nggak keberatan" kata Naya yang diberi anggukan pada sahabat dihadapannya itu.
Akhirnya mereka duduk disebuah gazebo, letaknya cukup jauh dari Reyna hingga memungkinkan percakapan mereka tak dapat didengar oleh gadis itu.
"Pak Yasya... " sahut Kanaya tidak sabaran.
"Tolong dengarkan saya dulu.... duduklah" Kanaya segera duduk dan menurut dengan apa yang dikatakan oleh Yasya.
"Saat ini, masalah yang dihadapi Reyna tidak mudah diatasi... begini."
Hati mana yang akan terima jika manusia diperlakukan seperti itu, meskipun Reyna adalah anak dari hasil hubungan gelap, tapi dia bukanlah pelaku utama penyebab kekacauan ini.
Hati Kanaya mendadak teriris, ribuan jarum seperti menghantam hatinya. Tak bisa dibayangkan jika posisi Reyna berada diposisinya. Mungkin ia lebih memilih untuk bunuh diri atau cara nekat yang lainnya.
Tuhan begitu menguatkan hati gadis itu hingga Reyna bisa setegar saat ini. Ia menjalani banyak hal didalam masa yang tidak seharusnya ia lalui.
"Reyna bilang, tante Tiya datang ketika dia hendak beranjak pulang dari rumah keluarganya, dia hanya ingin melihat keadaan kakaknya, tak disangka tante Tiya mengajak berdebat dengannya. Karena Reyna tidak ingin ada perdebatan yang panjang, dia akhirnya pergi, namun langkahnya dicegah oleh tante Tya. Reyna didorong hingga perban dilututnya terbuka. dan"
Yasya bercerita panjang lebar pada gadis ini, dia hanya diam mendengarkan. Tiada yang ia tutupi lagi dari Kanaya, mengingat persahabatan mereka yang begitu hebat. Seharusnya Kanaya mengerti, dan itu yang dilakukannya saat ini, berempati pada Reyna.
"Apa...?! kenapa kak Reyhan dan om Rey bersikap seperti itu pada gadis yang tidak berdosa? apa salah Reyna?!" ucap Kanaya dengan emosinya yang meluap-luap dan air mata yang berlinang dikedua sudut matanya.
"Kanaya tenangkan dirimu... Selama ini, saya sudah tau Reyna seperti apa, dia menanggung beban ini sendirian. Bahkan menangis, rasa sedih saja jarang dia tunjukkan. Reyna adalah gadis yang baik dan kuat bahkan tempo hari, dia mencari keberadaan ibunya sendiri hingga lututnya terluka cukup parah. Dalam kondisi itu dia juga bungkam."
"Tapi pak... hiks... Reyna... Reyna adalah sahabat baik saya, Reyna bahkan tidak bercerita sedikit pun tentang masalahnya, apa dia tidak percaya pada saya."
"Naya... ada banyak alasan untuk Reyna merahasiakan masalahnya, mungkin karena dia tidak ingin ada yang mengetahui kondisinya, bisa jadi juga karena dia tidak ingin aib dari keluarganya terumbar" jelas Yasya membuat Kanaya kini menarik nafasnya dalam-dalam.
"Reyna..." Naya terlihat mengepalkan tangannya, dia berlari meninggalkan Yasya dan segera menghampiri Reyna yang tengah duduk diposisi yang sama seperti sebelumnya.
"Reyna... hiks" isak Kanaya sembari memeluk sahabatnya dari belakang.
__ADS_1
"Nay... lo **** atau gimana sih... gue tuh lagi sakit, jangan meluk-meluk leher gue dong, bisa mati gue nanti... uhuk... uhuk..." Kanaya tak perduli, baginya memeluk gadis itu saat ini adalah nalurinya yang harus terpenuhi.
"Lo tuh kenapa sih disaat kaya gini bisa ngajak bercanda mulu... hiks... " Kanaya beralih berlutut dihadapan gadis cantik itu.
"Nay... lo kok nangis sih? jangan nangis, gue nggak apa-apa kok" kata Reyna mencoba untuk tegar.
Yasya memperhatikan dua sahabat itu, tatapannya beralih pada Reyna yang kini mulai bisa menerima keadaan, akhirnya Reyna bisa tersenyum tulus lagi. Biasanya senyumnya hanya menutupi kesedihannya.
"Maaf, gue nggak ada disaat lo ada masalah... lo udah kaya sodara gue sendiri Reyna, gue nggak bisa hidup tanpa lo, jangan selalu buat gue khawatir... lo nggak perlu nyembunyiin air mata yang seharusnya lo tumpahkan Rey, hiks hiks...." tangisan gadis itu semakin menjadi membuat Reyna tidak bisa membendung air matanya.
"Kanaya...." Reyna memeluk erat tubuh sahabatnya itu. Mungkin dengan air mata, dia akhirnya bisa merasa lega, meski tak menyelesaikan masalahnya.
***
Hari sudah mulai menjelang sore, Kanaya hendak berpamitan pulang.
"Reyna... cepat sembuh, jangan lama-lama tiduran mulu... inget, kertas ujian menanti... bentar lagi kita bakal naik kelas loh."
"Iya... gue inget kok.. lo hati-hati ya" Kanaya mengangguk, terlihat pria tampan yang mengamati mereka berdua tengah tersenyum dengan keberadaan Kanaya yang setidaknya bisa menghibur Reyna.
"Pak Yasya... tolong jaga sahabat saya ini ya."
"Iya... pasti bakal saya jaga."
"Yaudah gue pulang dulu ya Rey... mami gue nanti khawatir kalo gue nggak pulang pulang."
Reyna mengangguk, Kanaya lantas segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Jam telah berlalu, meninggalkan masa dimana Kanaya datang mengunjunginya.
Malam semakin larut, namun Reyna tak bergeming dari pandangannya kearah buku pelajaran ditangannya. Sebenarnya dia merasa bosan, karena Yasya tak berada disampingnya kala itu karena tengah ada urusan penting.
Malam yang dingin dan sepi, membuat Reyna lelah untuk melanjutkan belajarnya..
Ceklek....
Suara pintu terbuka, menampilkan wajah dokter dan satu perawat yang mengikutinya.
"Reyna... waktunya pemeriksaan terakhir, besok siang kamu sudah boleh pulang ke rumah."
Wajah cantik gadis itu terlihat berseri, dirinya merasa senang untuk keluar dari rumah sakit yang sangat membosankan baginya.
"Terimakasih dokter."
"Sama-sama... jangan lupa minum obat tepat waktu, istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaga, dan minum vitamin sekali sehari" ujar dokter itu menuturkan.
"Baik dokter..." jawab gadis itu dengan senyuman yang mengembang seolah ia akan keluar dari penjara.
__ADS_1