The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Bayangan itu seperti setahun lalu


__ADS_3

Ceklek...


Suara pintu yang terbuka membuat Yasya dan Rosella menatap sosok yang tengah berdiri disana, terlihat wajah cantik wanita setengah baya mendekat kearah mereka berdua.


"Bagaimana keadaan Syahbilla?" pertanyaan dari Dian dengan wajahnya yang semakin khawatir membuat Yasya bangkit.


Terlihat gadis lemah dengan perban membalut kepala gadis yang masih tak sadarkan diri, membuat Dian berlari kearah Syahbilla yang berbaring tak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit.


"Syahbilla, apa kata dokter?,"


"jeng tenang saja, dokter bilang dia cuma syok, tadi Bila sempat bangun tapi dia pingsan lagi."


Kata Rosella membuat Dian menghela nafasnya dengan lega.


"Mi, dimana Reyna?" Yasya tidak bisa membendung kekhawatirannya lagi, ditolehnya kebelakang menatap pintu tertutup rapat dibelakangnya. Yasya seperti mencari seseorang dibalik sana, namun kelihatannya tiada sosok yang mampu ia temukan.


"Reyna sudah pulang, mami menyuruhnya untuk pergi. Sya, sini mami beri tau"


Wajah tampan pria itu seperti menahan nafasnya, beban berat seperti telah menghantam hatinya. Ada rasa sakit yang menjalar saat Reyna tiada dalam jangkauannya. Perasaannya semakin tidak nyaman ketika Dian mengajaknya untuk berbicara empat mata menjauh dari Rosella yang kini mengangguk pelan dengan tatapan mengerti darinya.


Dian menarik lengan Yasya dan membawanya untuk keluar.


"Sya, kamu harus sadar, Reyna bukan untukmu, mami sudah berbicara baik-baik dengannya, dan dia mengerti."


"Apa yang mami bicarakan?" tatapan mata Yasya kosong, dengan amarah rasa gundah menjadi satu.


"Mami bilang untuk menjauh darimu, dan dia setuju, kamu tidak perlu khawatir lagi nak, kamu dan Syahbilla bisa bersama selamanya, jangan khawatirkan yang lain, kamu masih bisa memperbaiki kesalahan mu pada calon menantu mami."


Yasya mencari keberadaan Reyna dengan menatap seluruh ruangan yang ada disana. Tak dipedulikan kata-kata sang ibu yang memberikan pengertian untuknya.


Memang benar Reyna telah pergi dari sana, membuat hatinya semakin dirundung kesalahan yang mendalam. Seharusnya dia tidak meninggalkan Reyna sendirian, bahkan dirinya sudah berjanji untuk selalu bersama dengan gadis itu, namun apa yang dia lakukan disini?.


Hanya pria ***** dan bodoh yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang


dikatakan olehnya.


"Mami tidak mengerti, sampai kapanpun, aku tidak akan menikah jika itu bukan dengan Reyna!" ucapan Yasya tegas seraya berlari menuju pintu depan gedung rumah sakit, membuat Dian menatap punggung putera tunggalnya itu yang semakin menjauh, sakit dirasakan olehnya. Pria hangat dan tampan yang selalu penurut padanya kini telah berubah, dibutakan oleh cinta.


Teriakan dari sang ibu bahkan tidak bisa menghentikan langkah Yasya untuk terus berlari, yang hanya ia fikirkan kali ini hanyalah gadis itu, gadis yang entah berada dimana keberadaannya.


"Reyna!"


***


Gadis cantik itu masih tak bergeming ditempatnya, menenangkan hati nya untuk sementara.


drrttt drrtt...


Suara getar diponselnya membuat dirinya menghapus jejak air mata dan segera mengangkat panggilan itu.


"Hallo,"


"hallo Reyna, ini saya dokter Al" Reyna mengerutkan keningnya kala mendengar suara Alfian yang terdengar cemas.


"Ada apa dok? apa papa saya baik-baik saja" kata Reyna sambil sesekali menggigit bibir bawahnya, perasaannya berlalu begitu saja tatkala dirinya mendengar suara Al yang berbicara cukup tergesa-gesa, membuat Reyna merasakan hal buruk sedang terjadi disana.


"Reyna, dengarkan saya. Segera ke rumah sakit sekarang, papa mu sudah tidak bisa menunggu lama lagi, hari ini juga dia harus mendapatkan donor" ujar Alfian menenangkan Reyna yang kini tengah dilanda kegelisahan.


"Apa dok?!! ini kan belum ada lima hari, kenapa harus sekarang, sebenarnya apa yang terjadi pada papa saya?" tanya Reyna antusias.


"Sudah dua hari ini keadaan papa mu memburuk, cepat datang kemari, tidak ada waktu lagi."


Kepala Reyna seperti tersambar petir oleh perkataan Al disebrang sana, masalah apa lagi untuk hari ini yang telah kacau baginya. Dia tak lagi memikirkan hal lain, yang ada dibenaknya kali ini hanyalah keselamatan Reynaldi.


Dengan cepat, gadis itu menutup telfonnya dan segera berlari kearah jalan raya dan menghentikan taksi.


"REYNA!!"


Teriakan dari Yasya membuat gadis itu menoleh, namun sayangnya mobil yang ia naiki terlalu cepat untuk dapat melihat sosok yang seperti memanggilnya. Tampaknya gadis itu tak memperdulikan hal lain saat ini.


"Agak lebih cepat pak" ujarnya cemas pada sang supir.


Pria itu mengacak rambutnya frustasi, ketika dirinya berhasil menemukan gadis yang ia cari, tindakannya terlalu cepat untuknya.


Dengan langkah cepat Yasya mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan segera mengejar taksi yang dinaiki oleh gadis yang masih memakai seragam lengkap putih abu-abu jauh dari kemudinya.


Yasya merasa sedikit lega, meskipun dirinya harus menahan emosi sesaat . Fikirannya kalut, pria itu masih tak mengerti kemana gadis itu pergi.


Diraihnya ponsel yang berada di sakunya dan segera menelfon seseorang disebrang sana.


Tak dihiraukannya kegiatannya saat mengemudi kali ini, yang Yasya fikirkan hanyalah Reyna.


drttt drttt....


Tangan Reyna yang bergetar dengan wajah yang penuh kecemasan, membuat gadis itu tak sadar akan panggilan diponsel yang ia genggam.


Matanya mengerjap beberapa kali memohon pada Tuhan untuk menyelamatkan seorang ayah yang selama ini selalu menyia-nyiakan hidupnya.


drttt... drttt...

__ADS_1


Ponsel itu terus bergetar, membuat Reyna akhirnya sadar akan panggilan yang ia abaikan sebelumnya.


Dilihatnya layar ponsel itu yang menunjukkan panggilan dari Yasya, membuatnya membelalakkan mata tak percaya.


"Pak Yasya!" gumamnya sambil menggeleng. Baginya tiada yang lebih penting dari keselamatan Reynaldi.


Reyna segera menolak panggilan itu dan dengan satu ketukan mematikan ponselnya, menghindari komunikasi dari Yasya.


"Maafkan saya pak Yasya, seharusnya, saya menyadari, bahwa saya tidak layak untuk bapak. Mungkin sudah seharusnya kita tidak saling mengenal" gumam Reyna dengan pelan, matanya berkaca-kaca seolah ingin menumpahkan air mata yang ia tahan.


Namun dirinya harus terbiasa tanpa Yasya, perasaan hangat yang ia rasakan beberapa waktu lalu terpaksa harus ia lupakan selamanya.


"Damn!"


Yasya membanting ponselnya hingga jatuh kebawah setelah beberapa kali menelfon gadis itu yang sekarang telah mematikan ponselnya.


Meskipun begitu Yasya masih dirundung keberuntungan saat dirinya masih bisa mengikuti Reyna walau dari kejauhan.


Setelah beberapa lama mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Reyna, tiba-tiba saja taksi itu terlihat berbelok melawan arah menerjang ramainya kendaraan ibukota, Yasya baru sadar jika Reyna hendak kerumah sakit tempat dimana Reynaldi dirawat.


Posisi mereka yang begitu jauh dan bersebrangan membuat Yasya tak sabar san memarkirkan mobilnya disebrang jalan besar didepan rumah sakit itu.


Reyna tampak turun dari taksi, begitupun Yasya.


"REYNA!"


Teriakan dari pria itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya dan menatap Yasya yang hendak menyebrang jalan ditengah lalu lintas yang ramai.


Reyna yang melihat pemandangan itu melangkah maju, hendak menghentikan langkah Yasya yang tergesa-gesa agar berhati-hati.


"PAK YASYA, BERHENTI DI SANA!"


Yasya seperti tidak mendengar teriakan gadis itu, hatinya seperti dipenuhi ketakutan yang pernah ia rasakan saat kehilangan Reyna untuk kedua kalinya. Yang pria itu fikiran hanyalah Reyna yang saat ini hendak mau menyusulnya dari tempatnya berdiri.


Reyna menoleh ke kanan dan kiri, melihat lalu lalang kendaraan yang begitu ramai dan panas terik seperti membakar tubuhnya. Perhatiannya tak lepas dari Yasya yang hendak menyebrang kearahnya.


"Orang itu sudah gila ya?! jalannya rame kaya gini, masih aja nekat, udah nggak liat kanan kiri lagi."


Umpat Reyna dengan sedikit nada kesal, dari arah berlawanan melaju sebuah mobil yang hampir membuat pria itu terserempet namun untungnya Yasya bisa menghindar.


"PAK YASYA AWAS!"


Teriakan dari Reyna dengan khawatir membuat Yasya tersenyum kearahnya, ternyata dibalik ketidak perdulian gadis itu, dia masih sangat mengkhawatirkan dirinya.


Tanpa sengaja Reyna melihat kearah berlawanan sebuah mobil melaju kencang tak jauh dari tempat Yasya berdiri, membuat Reyna membulatkan matanya dan segera berlari mendekati Yasya.


"Pak Yasya!"


"REYNA!" teriak Yasya dan berlari kearah gadis itu. Ia bahkan mengabaikan luka yang terdapat di pelipisnya.


Reyna masih bisa menggeliat, tubuhnya yang tengkurap memperhatikan Yasya yang saat ini berlari kearahnya.


"Pak, pak Yasya" kata Reyna lemah sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


Yasya meraih tubuh Reyna, wajah pria itu memerah, air mata begitu deras menggenang di pipinya.


Kepala penuh darah akibat benturan itu dipangku oleh Yasya yang saat ini menangis meratapi gadis yang terbaring lemah dengan penuh darah membanjiri seragamnya.


"Reyna, kamu harus bertahan."


Ucap Yasya seraya memegang wajah gadis itu yang masih membuka matanya menatap pria yang kini berada di atasnya.


"Jangan menangis, saya mencintaimu pak" kata Reyna dengan tubuhnya yang bergetar dan suaranya yang menghilang bersamaan dengan hilangnya kesadarannya.


Terlihat semua orang mencoba mengerumuni Yasya dan Reyna yang baru saja mengalami tabrak lari.


"Rey, Reyna saya mohon, buka matamu, buka tolong jangan tinggalkan saya. Ini semua gara-gara saya Reyna."


Dengan segera, Yasya mengangkat tubuh gadis itu dan segera berlari membawa Reyna kerumah sakit yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


Wajah Reyna terlihat semakin pucat dengan darah yang semakin mengalir dikepala, punggung dan juga kakinya. Banyak sekali luka akibat kecelakaan yang baru ia alami membuat Yasya semakin bergetar.


"Tolong, tolong selamatkan dia" ucap Yasya sembari mengangkat tubuh Reyna, seorang suster segera mendorong sebuah bangsal dan dengan segera Yasya meletakkan tubuh Reyna dengan perlahan.


"Yasya, ada apa?" terlihat Al berlari kearah Yasya. Ia melirik kepala sahabatnya itu mengeluarkan darah, membuat Al sedikit khawatir.


Al mengalihkan pandangannya kearah gadis yang telah terbaring dengan darah yang sangat banyak membanjiri tubuhnya yang masih mengenakan seragam lengkap dengan sepatu dikakinya.


"REYNA!" ucap Al dengan raut wajah terkejut.


Al berhenti dari langkahnya, membuat Yasya memperhatikan sahabatnya yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi?!" tanya Al dengan tegas sambil mengernyitkan keningnya.


"Dokter, detak jantungnya melemah."


Ucap suster membuat Yasya dan Al beralih mendekati bangsal itu yang terdapat Reyna diatasnya.


"Segera pergi keruang ICU, kita tangani secara khusus" ujar Al dengan wajahnya yang serius.

__ADS_1


Suster itu mengangguk dan berlari mendorong bangsal. Membuat Yasya mengikuti langkah suster, namun Al menghalangi langkahnya.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Al pada sahabatnya yang kini menatap prihatin pada Yasya.


"Al, gue mohon selametin Reyna, apapun yang terjadi jangan biarin dia kenapa-napa" kata Yasya dengan air matanya yang terus mengalir.


Al masih tidak bisa berfikir lagi, Reynaldi sangat membutuhkan donor, namun melihat keadaan Reyna yang seperti sekarang sangat kecil kemungkinan Reyna akan selamat. Al sempat ragu, rasa sakit yang dialami oleh Reyna membuat dokter muda itu merasakan iba.


"Oke lo tunggu diluar, gue bakalan selamatin dia. Serahin semua ke gue" kata Al meyakinkan.


Satu jam telah berlalu namun sang sahabat belum keluar dari ruangan itu. Yasya bahkan tak sadar kini kepalanya yang terluka membuat sebelah pelipisnya terasa sakit.


"Reyna, kamu harus baik-baik saja."


Fikirannya melayang, mengingat kejadian setahun lalu yang dialami oleh Almira, kini dialami oleh putrinya sendiri. Yasya semakin khawatir, air matanya seperti tidak bisa ia tahan lagi, menangis dan meratapi kesedihannya terhadap gadis yang telah menyelamatkan nyawa nya.


Gadis yang ia cintai, yang selama ini dijanjikannya untuk menjaga dia, akhirnya gadis itu sendiri yang membahayakan hidupnya demi Yasya.


Sudah sangat lama Al membalut semua luka dan memasang gip dilengan kirinya dan juga kaki Reyna yang sempat patah dan Retak, ada pula tulang belakangnya yang terluka. Darah gadis itu sempat berkurang banyak, membuat Al mengernyitkan keningnya.


"Bangun Reyna" ucapnya pelan sambil memperhatikan gadis itu tanpa henti.


Terlihat suster menyuntikkan sebuah suntikan obat kedalam pembuluh darah ditangan gadis itu.


Reyna yang merasakan tubuhnya teramat sakit akhirnya bisa sadar dan membuka matanya perlahan.


"Dok, dokter" panggilan dari gadis itu dengan suara seraknya, membuat Al tersenyum lega.


Terlihat kepalanya yang melingkar perban dan selang oksigen menangkup hidung dan mulutnya.


"Reyna" ujar Al dengan senyuman lega.


Reyna merasakan sakit disemua tubuhnya, kali ini gadis itu menangis tanpa bersuara. Membuat Al menyentuh rambutnya mencoba untuk menenangkan gadis itu.


"Jangan menangis, tenang saja, kita tidak akan melangsungkan operasi ini. Keadaan kamu tidak memungkinkan Reyna."


Reyna mendongakkan kepalanya menatap Al.


"jangan, selamatkan papa dok" mohon Reyna dengan pelan dan mencoba untuk bangun, namun Al menghalanginya, membuat kepala Reyna menggeleng kekanan dan kiri.


"Reyna tenang! kami tidak bisa melakukan operasi ini, kamu kehilangan banyak darah, dan organ paru-paru mu ada yang rusak, kamu yang harus kami selamatkan sekarang."


Reyna tidak perduli lagi, wajahnya memelas, memohon pada Al untuk tidak menghentikan operasi ayahnya.


"Dokter, jika ada yang harus pergi itu bukan papa, tapi saya. Tolong, hiks hiks" kata Reyna dengan tangisannya yang menjadi. Diraihnya tangan dokter itu dengan tangannya yang masih bergetar, menggenggam tangan Al dengan kekuatannya yang tersisa.


"Reyna, jangan berkata seperti itu. Kamu masih bisa selamat, kita tidak bisa membahayakan hidupmu seperti ini."


"dokter, berjanjilah, lakukan operasi. Jika tidak, saya, saya tidak akan memaafkanmu" ucap Reyna dengan tangisannya yang masih tersisa, membuat Al masih menggeleng dengan tatapan khawatir.


ceklek....


Suara pintu yang terbuka membuat Yasya segera berdiri dan hendak memasuki ruangan itu.


"Reyna! bagaimana keadaannya?!" tanya Yasya sambil meraih pintu yang belum sempat terbuka karena dorongan dari Al pada tubuh pria itu.


"Reyna sekarang tidak bisa menemui siapapun, tolong jangan maksa Sya" kata Al sambil menepuk punggung sahabatnya. Membuat Yasya mengacak rambutnya frustasi, dan bersujud didepan sahabatnya itu.


"Al, katakan apa Reyna baik-baik saja?! DIA PASTI NGGAK APA-APA KAN?! JAWAB!" Yasya menahan amarahnya sambil berteriak, membuat Al mengangkat tubuh pria itu yang dirundung kesedihan yang mendalam.


"Tenang Sya, lo berdoa aja, semoga dia bisa selamat, dia kehilangan banyak darah, dan banyak tulangnya yang patah" kata Al memberikan informasi pada pria dihadapannya.


Yasya memaksakan dirinya untuk tetap masuk kedalam ruangan itu, membuat Al tidak bisa melakukan apa-apa selain membiarkan sahabatnya melakukan apapun yang ia mau.


"REYNA!" teriakan dari Yasya membuat ruangan itu menggema, terlihat suster yang tengah memeriksa keadaan Reyna terkejut dengan kehadiran Yasya.


"Tuan, anda tidak boleh masuk, pasien masih belum pulih, anda harus menunggunya di luar" ucapan dari sang suster tidak dihiraukan olehnya. Ditatapnya gadis yang saat ini terbaring dan masih tak sadarkan diri itu, dengan perban yang melingkar dikepalanya, selang oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, luka yang berada disekujur tubuhnya, serta tangan dan kaki yang dibalut dengan gip membuat Yasya semakin terluka melihat pemandangan didepannya.


"Sayang, aku disini" kata Yasya membuat perawat itu terpaksa pergi dari sana.


Perasaan pria itu seperti tak termaafkan oleh dirinya sendiri, digenggamnya tangan gadis itu dan dikecupnya punggung tangan Reyna dengan lembut. Yasya bersujud memandangi wajah cantik Reyna yang tertidur pulas di bangsal itu.


"Sayang, apa kamu ingat, aku akan segera melamar mu, dan tidak akan ada yang bisa menghalangi cinta kita. Kamu harus sembuh Reyna, atau aku tidak bisa hidup lagi tanpa mu."


Ucap Yasya dengan air matanya yang berlinang. Perlahan Reyna membuka matanya, dan tersenyum menatap pria yang selama ini menjadi sandaran untuknya.


Reyna tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi, air matanya menetes tanpa henti.


"Hiks," isaknya sambil mengerjap beberapa kali.


Yasya yang sadar akan isakan dari Reyna langsung menatap gadis itu dengan senyuman yang mengembang meski air matanya tak dapat ia hentikan.


"Reyna, akhirnya kamu bangun juga bagaimana keadaan mu sayang? mana yang sakit? kamu butuh apa?."


Pertanyaan dari Yasya yang bertubi-tubi, membuat gadis itu menggeleng, ditatapnya manik mata indah yang sangat ia rindukan itu.


"pak Yasya, saya mencintaimu"


Kata terakhir yang dapat Yasya dengar dari orang yang begitu ia cintai.

__ADS_1


.


__ADS_2