The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Setelah malam prom


__ADS_3

Para Audience terdiam mendengar penolakan dari Reyna, mereka seakan bertanya tentang apa yang difikirkan oleh Hengky, karena saat ini tatapannya masih penuh dengan harapan meski sedikit kecewa.


Hengky masih saja terdiam mematung dengan menatap Reyna seolah tak percaya dengan apa yang dia katakan, dia mengingat kembali memori dimana saat-saat pertama kali mengenal Reyna, kemudian mereka bersahabat dan saling mencintai namun tidak sempat mengutarakan perasaan satu sama lain. Dia mengingat kebersamaan yang masih terngingang indah didalam hati dan juga fikirannya.


Namun hal itu berbeda untuk hari ini, dimana waktu bisa mengubah segalanya, termasuk perasaan Reyna terhadapnya.


Andai saja Hengky dari awal mengungkapkan apa yang dia rasa, mungkin hari ini akan berbeda ceritanya.


Saat hari yang dia tunggu ketika menerima jabatan sebagai ketua OSIS dan menginginkan hadiah berupa harapannya terhadap gadis cantik didepannya ini kini harus pupus.


Hengky tersenyum lembut dengan menatap Reyna dan menangkup wajah Reyna dengan satu sisi menggunakan tangan kanannya.


"Aku akan selalu ada untuk kamu Rey... aku nggak akan pernah nyerah, aku akan membuat kamu sadar betapa besar perasaan ini ke kamu... sampe kamu juga merasakan hal yang sama, kalau pun suatu hari kamu tetap nolak aku, aku akan tetap jadi sahabat baik untuk kamu."


Reyna menghela nafasnya lega, sebelumnya dia khawatir tanpa sebab. Entah apa yang harus dia katakan lagi jika Hengky tidak mengatakan hal demikian.


Reyna tersenyum dan menganggukkan kepalanya, pertanda dia setuju dengan apa yang Hengky utarakan barusan.


Terlihat mimik wajah semua orang disana memperhatikan dua sahabat itu dengan antusias, walau sebelumnya mereka sedikit kecewa karena berharap mereka akan jadian namun jawaban Hengky bukan hanya membuat Reyna menjadi lega tapi juga merubah fikiran Audience.


Suara sorakan memenuhi ruangan membuat Hengky dan Reyna bernafas dengan lega.


***


"Rey....Aku sangat mencintaimu, kamu mau kan jadi pacar aku?" tanya Hengky dengan senyuman mengembang diwajahnya.


"Aku mau Ky... aku juga cinta sama kamu."


Hengky memeluk Reyna yang sedang berdiri dihadapannya. Sejenak mereka terdiam dan pria itu mulai menangkup wajah Reyna yang sangat cantik itu.


Hengky memajukan wajahnya mendekat kearah wajah Reyna, jarak mereka sangatlah dekat.


Gadis itu tersenyum sangat manis, bagai bidadari yang turun dari surga, seakan Tuhan menciptakan dia hanya untuk Hengky saja.


Hengky perlahan menyatukan wajah mereka, ia sejajarkan kening dan hidungnya dengan kening dan hidung gadis itu.


Perlahan dia menutup matanya dan Hengky mulai mengecup bibirnya perlahan, mereka menikmati ciuman itu cukup lama.


tok tok tok....


Hengky membuka matanya perlahan, mencoba mengingat kejadian itu kembali. Ia baru sadar yang ia alami barusan hanyalah mimpi semata.


"Kyky... bangun... udah siang ini lo" suara dari luar kamar pria itu menggema membuat Hengky menggeliat.


"Iya mi... udah bangun" suara mami menghentikan lamunannya, Ia bergegas menuju kamar mandi dengan nyawa yang masih setengah hilang.


'Cuma mimpi!' batinnya agak kesal.


Kedua orang tua Hengky sedang asyik menyantap sarapannya pagi ini, mereka berdua masih saja romantis walau umur sudah tidak muda lagi.


Hengky mendekat kearah mereka berdua yang tengah duduk bersama, ia menepuk pundak mereka, dan mereka menoleh kearah putranya itu, lalu dengan cepat Hengky mengecup pipi mereka bergantian.


"Morning" kata Hengky seraya cepat-cepat duduk diposisi sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah.


"Dasar anak ini..." perkataan sang ayah membuat Hengky terkekeh.


"Pagi-pagi gini masih aja kaya anak baru lahir kemaren... anaknya mami" kata mami sedikit menggoda, dengan tatapan malas Hengky kemudian menyantap nasi goreng spesial buatan maminya.


"Anaknya papi juga" balas papi tak kalah seru


"Mami yang ngelahirin kok" mami membalas dengan seringainya.


"Mami kok ngotot sih, kalo nggak ada papi kyky juga nggak akan lahir" kata papi sedikit emosi membuat Hengky kali ini menghela nafasnya.


"Udah lah, mami sama papi ini kebiasaan deh. Kiky mau berangkat dulu, mau jemput Reyna" kata Hengky kesel sembari bangkit.


"Kamu belum selesai sarapannya, ngga boleh pergi dulu, harus dihabiskan."


"Iya Ky, mami kamu udah buatin nasi goreng kesukaan kamu lo."


Hengky mengisyaratkan mereka agar menatap piring bekas sarapannya barusan.


Dan alangkah terkejutnya mereka melihat makanan Hengky habis tak tersisa.


***


Hengky dan Reyna sudah sampai gerbang sekolah, mereka berjalan beriringan seperti biasanya.


Mungkin banyak para siswa yang heran dengan dua sahabat itu. Pasalnya baru tadi malam mereka membuat kehebohan dengan tolakan dari Reyna yang membuat Hengky berlapang dada. Bahkan saat ini pria tertampan seantero sekolah itu masih mau mengantar jemput gadis pujaannya.


"Rey" suara tak asing menghampiri mereka berdua, tampak Tania yang kini menatap Reyna tajam dan hendak mengajak Reyna berbicara.


"Ada apa kak?" tanya Reyna dengan raut wajah kebingungan.


"Gu... gue mau minta maaf" ujarnya sembari mengubah ekspresi garangnya kini menjadi ekspresi rasa bersalah.


"Minta maaf? soal apa?" tanya Reyna yang membuat Hengky ikut tambah bingung, karena seingatnya Tania nggak kenal sama Reyna.


"Soal tadi malem, maaf gue udah ngelabrak elo, gue nggak tau kalo ternyata lo udah sama Hengky" terlihat reaksi Reyna yang agak terkejut dan mengernyitkan dahinya.


'Ternyata Tania ngelabrak Reyna tadi malem' batin Hengky yang masih menyimak obrolan mereka.


"Masalah itu, enggak apa-apa kok, lagian aku juga kebawa emosi sampek bentak-bentak kak Tania, tapi aku sama Hengky..." Reyna tampak ingin menjelaskan suatu hal yang telah terjadi tadi malam, kata-katanya menggantung seolah ragu untuk melanjutkannya.


"Kami nggak ada hubungan apa-apa kok" kata Hengky menyambar sebelum Reyna menjelaskan kata-katanya.


"Jadi kalian enggak jadian?" tanya Tania lagi, membuat Reyna semakin tidak nyaman, dia menggenggam tanganku, dan mencoba untuk menghindar dari Tania.

__ADS_1


"Maaf kak, kami buru-buru... duluan ya" Hengky melangkahkan kakinya dengan ditariknya tangannya oleh Reyna.


Pria itu tersenyum melihat genggaman tangan dari Reyna yang seolah ingin melindunginya dari pertanyaan yang menyudutkan orang lain terhadapnya.


Dia berhenti sejenak dan menatap pria itu, Hengky kemudian tersenyum membalas tatapannya.


Hengky masih saja tersenyum memandangi wajahnya saat ini, sungguh sangat cantik.


"Genit" ujar Reyna meledek dan mencubit perut Hengky pelan.


"Aw, kok dicubit sih, sakit tau" ujar Hengky menahan kesakitan yang sebenarnya tidak sakit.


"Rasain, salah sendiri genit" ujarnya menyilangkan tangannya di atas perut, dan memanyunkan bibirnya.


"Salah siapa terlalu cantik" kata Hengky dengan suaranya yang begitu pelan sembari mengendap-endap, menuju kelasnya tanpa permisi


"Apa kamu bilang...." kata Reyna dengan amarahnya, sedang Hengky mengintip dibalik jendela dan terlihat gadis itu menoleh kearah tempat dimana ia berdiri tadi. Terlihat mimik wajah Reyna sangat kesal melihat pria itu tidak berada di sana.


"Hengky! awas kamu ya... huh" Reyna lalu pergi dengan wajahnya yang sangat amat kesal.


***


kring.... kring.... kring.....


Suara bel sekolah SMA pelita bangsa telah berbunyi, tanda usainya kegiatan belajar mengajar disekolah.


Hengky meraih ranselnya dan memakainya dengan satu lengan. Ia berjalan pelan dengan membawa buku Sosiologi ditangannya.


Pandangannya mengarah pada Reyna yang sedang berdiri di ujung teras bangunan sekolah yang kini tengah menunggu Hengky. Dengan semangat pria itu bergegas dengan cepat menuju kearahnya.


Brakkk...


Dengan sedikit terkejut, dan tidak sadar Hengky menjatuhkan buku-buku yang ia bawa.


Seorang gadis didepannya terjatuh, mungkin ia yang buru-buru hingga menabrak tubuhnya.


Hengky mengulurkan tangannya, dan mencoba untuk menolong gadis itu.


"Maaf..." kata pria dengan memperhatikan penampilannya,ia bahkan baru sadar dia adalah anak SMP, karena terlihat dari seragamnya biru putih yang ia kenakan.


"Iya kak, enggak apa-apa."


Tanpa memperhatikannya Hengky segera bergegas dan memandangi Reyna yang terlihat mondar-mandir.


Tangan pria itu menutup mata Reyna dari belakang. Gadis itu terdiam sejenak dan menyilangkan tangannya diatas perut seolah menebak-nebak.


"Ky... udah deh" yangan Reyna meraih tangannya.


"Hhehe maaf maaf... pulang yuk" Hengky merangkul Reyna dan menarik lehernya menggunakan lengannya, dan dia terpaksa mengikuti langkah Hengky yang terkesan memaksa.


"Aduhhhh... lepasin ihhh" ucapnya kesal, sambil melepas lengan Hengky dari lehernya.


"Oh ya? dimana?" tanya Hengky antusias.


"D cafe deket taman."


"Makan gratis dong.... kalo gitu ayo" Hengky menarik tangan Reyna dan buru-buru pergi dari parkiran.


Di cafe Chocolatte.


Hengky dan Reyna menunggu Reyhan di tempat dimana pria itu mengajak mereka janjian. Namun sudah hampir setengah jam mereka menunggu di tempat itu.


"Tumben kak Rey ngajakin makan, ada acara apa?" tanya Hengky yang sekarang duduk disebelah Reyna mencoba memecah keheningan.


"Tau tuh... tungguin aja, mana orangnya telat lagi, kalo aku yang telat pasti diomelin" kata Reyna mengeluh dengan kesal.


Tak lama kemudian, Reyhan datang membawa bungkusan. Reyna hanya bisa melipat kedua tangannya diatas perut kakinya ia hentakkan beberapa kali. Wajahnya ditekuk sedemikian rupa.


"Maaf telat, soalnya dijalan macet banget tadi ucap Reyhan dengan raut wajah bersalah dan masih menampikkan cengengesannya, membuat Reyna tambah semakin kesal.


"Darimana aja sih bang, udah ditungguin juga. Kalo aku yang telat pasti abang marah-marah, alasan macet lagi, abang kan juga bisa naik ojol. Udah dikasih tau kalo mau ngajak janjian abang yang nunggu aku, tempatnya juga nggak jauh amat dari sekolah, bikin orang kesel aja" ujar Reyna panjang lebar memarahi kakaknya. Namun gadis itu menghentikan omelannya seketika kala Reyhan menaruh bungkusan es krim didepan meja Reyna.


"Nih...." katanya sembari menyengir kuda.


Reyna perlahan membuka bungkusan itu, dan tampak wajahnya yang berubah 180 derajat, yang awalnya kesal kini tersenyum lebar.


"Apaan sih isinya?" tanya Hengky dan mencoba mendekat dan mengintip dari balik bungkusan itu yang ternyata ada banyak sekali es krim disana.


"Wahhh... ini es krim limited edition loh" terdengar suara Reyna yang penuh semangat dengan senyuman andalannya.


"Cuma es krim doang" kata Hengky meremehkan.


"Lo tau nggak, ni es krim bisa tahan sampe sejam lo, nggak bakalan cair selama itu, dan rasanya klasik banget, aku suka."


"Ahh... masa sihhh minta satu" Hengky hendak meraih salah satu es krim yang ada didalam bungkusan itu, namun Reyna menghalangi tangannya.


"Eh, enak aja nggak boleh" katanya sembari memanyunkan bibirnya.


"Aku kan cuma minta satu, masa nggak boleh."


"Nggak!" sahut Reyna tegas membuat Hengky frustasi.


Sedang Reyhan yang sedari tadi diam hanya memperhatikan tingkah ABG dihadapannya.


"Kaya anak bocah aja kalian berdua" ucap Reyhan dengan serius dan tatapan dingin.


"Kenapa abang yang sewot... abang yang salah, kalo nggak ikhlas nggak usah beliinn" suara Reyna yang terlihat masih kesal membuat Reyhan pasrah dan langsung memesan makanan.

__ADS_1


Setelah mereka selesai makan siang, Hengky dan Reyna tidak langsung pulang. Namun Reyna mengajak sahabatnya itu ke taman dengan membawa gitar yang berada di bagasi mobil Reyhan tadi.


Sedang Reyhan, tentu saja dia kembali ke kantornya.


"Nih buat kamu" ujar Reyna menyodorkan es krim pemberian dari abangnya tadi.


"Katanya ngga boleh."


"Kalo nggak mau ya udah, aku makan sendiri" Reyna menarik es krim nya lagi, seolah tak terima, Hengky dengan sigap meraih es krim rasa cokelat itu.


"Enak aja, barang yang udah dikasih nggak boleh diminta lagi, pamali tau."


Reyna memutar bola matanya malas.


"Pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus ajarin aku gitar sampe aku bisa" kata Reyna tegas dengan tatapannya yang penuh keyakinan.


"Buat apa sih? kan aku bisa gitarin kamu, lagian belajar gitar itu susah-susah gampang, pasti kamu bakalan bosen nanti."


"Kiky dengar ya, aku pengen bisa gitaran sendiri, kalo kamu nggak mau ngajarin yaa udah bilang aja, aku bakal minta abang Rey buat ajarin" kata Reyna sewot dengan pandangannya yang malas.


"Apa kamu bilang? kyky?" pria itu melihat reaksi Reyna yang salah tingkah dengan pertanyaan Hengky barusan.


Buru-buru dia mengalihkan pembicaraan.


"Kiky? biar gak susah aja manggilnya, udah deh, nih nih... aku udah bawa buku panduan biar gampang belajarnya" Hengky hanya bisa terkekeh mendengarnya berbicara seperti itu.


"Ky... ini coba kamu liat deh, yg nada E."


"E minor" Hengky mengajari Reyna teknik main gitar bagian dasar, bahkan dia nggak nyangka ternyata Reyna bener-bener niat.


1 jam kemudian..


drttt drttt.....


Suara getar handphone menggugah Reyna dari kegiatannya saat ini, perlahan dia meletakkan gitar disampingnya dan mengangkat telfon yang kurasa tidak tertera nama pemiliknya.


"Halo...." Hengky masih memainkan gitarnya kala Reyna mendengungkan suaranya.


"Ini siapa?"


"Bentar ya Ky, aku angkat telfon dulu" kata re6yna dan menjauh dari tempatnya duduk.


Selang 2 menit kemudian, Reyna kembali dengan wajah lesunya, membuat pria itu semakin mengernyitkan dahi.


"Kenapa? siapa yang telfon?" Reyna semakin tampak gusar, dia hanya menunduk lesu.


"Bukan siapa-siapa, kita pulang aja yuk" kata Reyna membuat Hengky semakin khawatir dengan keadaannya saat ini, dia selalu pandai menyembunyikan sesuatu dari orang lain.


"Rey.... ada masalah apa? coba cerita.


Kalo aja aku bisa bantu permasalahan kamu" kata Hengky sambil berdiri dan memegang kedua punggung Reyna mencoba meyakinkan dirinya.


"Beneran nggak ada apa-apa kok, udah yuk pulang" setelah berkata begitu, Reyna langsung membalikkan badannya, dan mengambil peralatan gitar.


Flashback on......


drttt drttt.....


Suara getar handphone menggugah Reyna dari kegiatannya saat ini, perlahan dia meletakkan gitar disampingnya dan mengangkat telfon yang tidak tertera nama pemiliknya.


"Hallo...." kata pria disebrang sana membuat Reyna membulatkan matanya.


"Pa...." gumam Reyna menggantung.


Dia mencoba untuk menjauh dari Hengky untuk berbicara dengan orang diseberang sana.


"Ini....." belum sempat Reyna menyelesaikan perkataannya, orang misterius itu menyambar dengan suara sinis.


"Saya kira kamu lupa dengan suara saya" suara diseberang sana membuat Reyna tidak menyangka bahwa papa nya menelfon dia, semenjak papa nya pindah dengan Reyhan, Reyna tidak pernah berhubungan dengan papanya.


"Mana mungkin Reyna lupa sama papa, Reyna kangeeen banget sama papa, kata bang Rey, bulan depan papa pulang ya? Reyna seneng banget. Gimana keadaan papa disana selama ini? oh ya... oma gimana keadaannya disana?" celoteh Reyna bersemangat.


"CUKUP! jangan panggil aku papa... aku bukan ayah mu, dan jangan dekati anak ku Reyhan. Karena dia adalah satu-satunya pewaris keluarga" hati Reyna seolah pecah dan kini tinggallah sebuah serpihan. Apa yang di katakan papanya barusan membuat tubuh Reyna bergetar hebat, air matanya seolah tak bisa tertahan untuk menetes.


"Ma... maksud papa apa?" Reyna mencoba untuk tenang dan menyembunyikan perasaannya.


"SUDAH KU BILANG JANGAN PANGGIL AKU PAPA!" suara Reynaldi semakin meninggi, dan membuat Reyna tersentak. Nafasnya seperti terhenti seketika dan tenggorokan nya seolah tercekat.


"Tapi, aku masih ngga ngerti, tolong jelaskan ke aku" Reyna mencoba mencari celah untuk mengajukan pertanyaan yang selama ini menjadi tanda tanya di dalam benaknya tanpa memanggil papa, karena takut dibentak lagi.


"Sudahlah! aku telah membesarkan kamu dengan jerih payah ku sendiri, dan kamu tidak perlu mengembalikan materi yang selama ini aku berikan. Kamu cukup pergi dari dunia ku dan anakku Reyhan. Dua minggu lagi, aku akan kembali ke tanah air, kamu cukup bilang, berapa uang yang kamu minta, dan kamu segera pergi angkat kaki dari rumah ibu ku. Karena aku tidak ingin melihatmu lagi, dan aku akan anggap semua hutang mu padaku impas."


Reyna mencoba menghembuskan nafasnya, dan berfikir dengan jernih, dia diam sejenak. Reyna mencoba untuk menguatkan hatinya, tanpa dia sadari air mata menetes, mengalir dipipi cantiknya.


"Aku...." Reyna menggantung kata-katanya, seolah tidak kuat lagi untuk membendung kesedihan yang dia rasakan.


"Aku tidak mau tau! jika kamu tahu diri, mungkin aku tidak akan pernah mau mendengar suaramu, dan satu lagi, jangan pernah bilang apapun kepada Reyhan. Cepat bilang, kamu mau uang berapa? tapi ingat... setelah aku memberimu uang, kamu harus cepat pergi" Reyna menghapus air matanya yang semakin lama kian membengkak.


'Tidak... jika mata ku sembab, Hengky pasti bakal khawatir, aku harus tahan' batin Reyna mencoba untuk menghibur dirinya sendiri.


"Aku ngerti, tapi aku nggak butuh uang. Maaf.. aku akan segera pergi sebelum anda tiba disini".


"Bagus... kamu masih tau diri rupanya."


tut... tut... tut....


Reyna menutup telfonnya dengan segera.

__ADS_1


flashback off...


__ADS_2