The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Satya Mahendra


__ADS_3

Gemercik air mengguyur tubuh pria dibalik kamar mandi di dalam kamarnya yang cukup besar.


Langkahkan kakinya keluar dengan hanya memakai handuk dibagian pinggang sampai lutut, memperlihatkan perut sispax yang selama ini tersembunyi dibalik pakaian yang selalu ia kenakan setiap hari.


Setelah sebelumnya ia menemani kekasihnya pergi untuk shoping. Pria itu masih teringat pertemuannya dengan gadis yang sama sekali tak pernah terbesit dalam lingkaran kehidupannya.


Yasya duduk dan membuka ponsel yang berada di nakas sebelah kasur. Ia menggeser perlahan jemari diatas layar ponsel miliknya dan ia ketik akun Instagram milik Reyna.


Reyna... Aku sangat khawatir ketika tak sengaja melihatnya duduk di bangku panjang, tepatnya didepan taman kota, ku lihat ia memegangi dadanya, dan merintih kesakitan.


Hanya dengan bertemu dia sebentar saja, rasanya hatinya berdetak lebih kencang dari biasanya. Tak seperti ketika Yasya dekat dengan Syahbila, pria itu lebih nyaman ngobrol dan membicarakan banyak hal dengan Reyna. Senyumnya yang lembut dan menawan, membuat siapa saja pasti betah jika berteman atau memiliki hubungan spesial dengan dia.


Tok tok....


Suara ketukan pintu dari luar kamar membuyarkan lamunan pria itu.


"Irya... kamu kedatangan tamu spesial nih... cepetan keluar" suara Dian dari balik pintu membuat Yasya mengernyitkan dahi.


"Siapa yang bertamu jam segini? nggak biasanya" gumamnya pelan.


"Sebentar... Aku ganti baju dulu" teriak Yasya dengan lantang.


Pria itu segera mengambil jaket hoodie dan celana panjang untuk dikenakan.


Yasya bergegas keluar kamar dengan membawa ponsel ditangannya, ia melihat sekeliling ruangan, namun Yasya tak menemukan satu orang pun disana.


Pria itu keluar rumah dan mengedarkan pandangannya lagi, kali ini keseluruh penjuru halaman depan rumah, namun hasilnya tetap nihil.


Yasya menggerutu dengan nada kesal..


Ketika ia membalikkan badannya hendak menemui Dian, tiba-tiba seseorang bertubuh tegap menghalang tubuhnya. Pria itu mundur selangkah ketika melihat perawakannya yang sama dengan tubuhnya dan ia menyunggingkan senyum nakal saat memandangi nya.


"Hahaha..... bro... gimana kabar lo disini??? wahhh masih sama aja lo dari dulu" pria itu tertawa sambil merangkul pundak Yasya sembari mengajaknya untuk duduk diteras.


"Sialan lo... kapan sih lo berhenti buat nakal haaa?! kebiasaan tau nggak" Kata Yasya pada Satya Mahendra, sahabat pria itu sedari kecil. Lelaki berperawakan gagah, dengan tubuh tinggi tegap, serta badan yang sispax, serta wajahnya yang tampan, mempesona, dan menawan, membuatnya tidak pernah lepas dari permainan cinta para wanita. Perawakan mereka memang hampir sama, namun gaya rambut selalu jauh berbeda dari dulu.


Mereka berpisah sudah hampir 7 tahun lamanya, sejak dia pindah ke Inggris untuk melanjutkan studinya, Satya tidak pernah lagi mengunjungi Yasya. Mereka hanya sesekali mengirim surat.


Bisa dikatakan Satya dan Yasya adalah sahabat rasa saudara, mengenal apa yang disukai maupun tidak, dalam dan luar, kebaikan maupun aib, mereka tau satu sama lainnya dan masih banyak lagi. Meskipun mereka seperti saudara, namun sifat Yasya dan Satya sangat bertolak belakang. Sehingga kadang mereka masih sering bertengkar, namun pertengkaran itu membuat hubungan diantara mereka semakin dekat dan akrab.


"Kapan lo pulang? mana nggak ngabarin gue... hemmm posisi gue kayanya udah kegeser sama cewek Inggris" kata Yasya dengan nada sinis karena masih kesal.


"Sayang ku kamu cemburu ya? kamu nggak perlu khawatir sayang. Tujuh tahun nggak ketemu itu cuma sebentar, aku setia kok ya."


Ucap Satya dengan centil sambil mengedipkan sebelah matanya, tak hanya itu, tangannya juga melingkar di leher Yasya.


Sontak saja perilakunya yang satu ini membuat sahabatnya itu bergidik ngeri.


"Najis... kena virus apa lo? untung dulu gue nggak jadi ikutan sekolah sama lo, bisa-bisa gue juga ketularan virus homo!" kata Yasya seraya melepaskan kedua tangannya yang bergelayutan dileher miliknya.


plakk....


Tamparan ringan dipipi Yasya membuat pria itu tersentak sekaligus membuat wajahnya memerah. Yasya menoleh kearah Satya dengan ekspresi dingin, ekspresinya yang masih dengan cengengesan seperti tidak memiliki dosa sama sekali membuat Yasya naik pitam.


Ia layangkan tinjuannya kearah wajah Satya, namun sayang sekali, tinjuan Yasya kalah cepat dengan gerakannya.


"Nggak kena... nggak kena" kata Satya yang saat ini berdiri menghadap wajah Yasya, jaraknya sekitar setengah meter dari tubuh pria itu. Dia memeletkan lidahnya seolah meledek Yasya.


"Sialan lo ya... awas lo" Satya mencoba berlari darinya, dan menghindar beberapa kali dengan masih memeletkan lidahnya.


"Kejar aja kalo bisa" kata-kata Satya barusan membuat Yasya semakin geram, dan wajah merah padam membuat siapa saja yang berada disekelilingnya merasakan aura membunuh. Terkecuali orang didepannya itu , tengil, jail, sikapnya itu membuat Yasya selalu ingin menumbalkan jiwanya.


"Nah lo... kena" sekian detik kemudian Yasya berhasil mencengkram bajunya dari belakang, dia tampak memberontak ingin lari dari pria itu. Sebelum Satya lari, Yasya langsung saja mendorong tubuhnya hingga Satya jatuh tengkurap dilantai teras. Yasya menggunakan kesempatan itu untuk membalasnya.


Dengan segera Yasya menarik celana pendek pria itu hingga terlepas, terlihat Satya meronta-ronta, dan dengan cepat Yasya memfotonya menggunakan kamera ponsel.


"MAMI.... AKU DIPERKOSA IRYA!" teriakan Satya membuat Dian keluar dan melihat pemandangan ini, ( auto sensor).


"Aaaaaaaaa.... kalian ngapain disini?!" teriak Dian yang terkejut ketika melihat Satya memakai celananya.


Sedang Yasya masih tertawa dengan lantang, dan tiba-tiba saja Satya mengganjal mulut pria itu menggunakan tisu dimeja teras yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Hemmm... masih mau ketawa lagi, makan tuh tisu, enak kan?" kata Satya dengan ekspresi wajah nya yang masih geram.


"Uhuk uhuk... bangs*t lo" Yasya terbatuk-batuk dan segera membuang tisu itu dari mulutnya kesembarang tempat.


Yasya hendak melayangkan tinjuannya lagi, namun anehnya, Satya malah melipat tangannya sambil tersenyum kearah pria itu, berbeda dari sebelumnya ketika dia menghindar.


"Irya...." suara wanita paruh baya dibelakang pria itu membuat aksi Yasya terhenti seketika.


Tatapan Dian yang datar dan tajam membuat Yasya tersenyum kikuk dan tangannya yang semula mengepal kini membuat jari-jari lentik itu merenggang. Ia memeluk punggung Satya dengan lembut.


Seolah melupakan kejadian semula, mereka pun pun tertawa terbahak-bahak.


"Kalian sudah dewasa ya, mami nggak mau kalau sifat kalian masih kaya bocah TK. Baru ketemu sebentar udah berantem kaya gini!"


Yasya dan Satya mengangguk mengerti, mereka menampakkan wajah patuh dan ketakutan satu sama lain.


Setelah Dian pergi dari hadapan mereka, merekapun saling melirik, dan berakhir dengan tawa lepas.


"Hahahaha..... dasar *****" kata Satya menepuk pundak sahabatnya itu sambil tertawa.


"Elo juga ****, hahahaha" mereka berpelukan dan saling melepas rindu sebagai seorang sahabat.


Yasya dan Satya kini duduk dibangku teras kembali. Membicarakan masa kecil dan masa-masa remaja, serta yang terakhir berpisahnya mereka selama ini.


"Btw elo udah lulus kan? mau kemana habis ini?" tanya Yasya pada sahabatnya itu.


"Habis ini gue pulang lah, mau ngapain lagi" kata Satya dengan tampang polosnya.

__ADS_1


"Dasar pe'ak, maksud gue setelah lulus lo mau kerja atau gimana?, gemes deh gue, lama-lama gue kasih makan bulu ketek gue noh" kata Yasya dengan nada kesal sekaligus menjitak kepalanya pelan.


"Sbar kali bro, elo nanya atau ngancem? aelah, galak amat bambang" balas Satya tak kalah emosi.


"Ya elo, ditanyain malah becanda mulu, pengen rasanya gue sumpel pake ****** papi gue" kata Yasya dengan bola matanya yang memutar malas.


"Bacot lo" ujar Satya yang malas berdebat dengan sahabatnya. Pria itu beralih menyesap kopi yang baru saja diantar bi Ina. Satya menghela nafasnya untuk sejenak memberi jeda disela-sela obrolannya.


"Gue disuruh pegang resto punya nyokap, padahal gue pengen lah sedikit-sedikit managemen perusahaan, tapi kata bokap, gue malah harus belajar dulu, ngeselin kan?!" kata Satya sembari menghela nafasnya.


"Sabar, mungkin bokap lo pengen ngembangin bakat lo dulu, baru nanti kalo lo udah mampu buat nanganin restoran, lo pasti juga bakal ditaruh ke management perusahaan kok. Lagian lo kan baru lulus, nikmati dulu aja lah, daripada nanti elo megang perusahaan malah gak bisa santai-santai" kata Yasya menyarankan membuat Satya tersenyum sembari manggut-manggut.


"Bener juga ya kata lo, asik nih nanti gue bakal bilang sama papi kalo gue mau management restoran" ucapnya dengan senyuman merekah. Dan Yasya pun ikut menyunggingkan senyumnya.


"Kata mami, elo mau tunangan ya? sama Syahbila? cewek lo yang udah bertahun-tahun lo pacarin itu?" tanya Satya antusias, dan Yasya hanya mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Yasya mencoba untuk menyunggingkan senyumnya itu pada sahabatnya, namun ternyata Satya masih sama seperti dulu. Tatapan mengintimidasi itu membuat Yasya memalingkan muka.


"Come on boys, you love her right?" tanya Satya mengintimidasi.


"Of course... I always keep promises, I'm still loyal" kata Yasya meyakinkan sahabatnya itu.


"Ayolah Sya, bagi-bagi cerita, lo kaya nggak tau gue aja. Gue tau kok, perasaan itu jangan pendem mulu, lo bakal nyesel kalau lo nggak cerita ke gue" Yasya masih memandangi langit senja yang kini mulai gelap gulita, dengan perasaan yang bimbang dan perkataan Satya membuatnya akhirnya ingin terbuka pada sahabatnya itu.


Saat ini mungkin Yasya butuh orang yang mau mendengarkan gejolak dihatinya. Karena mungkin hanya Satya yang mampu menjaga rahasia sekaligus tempat yang tepat untuk berbagi.


Yasya meraih ponsel yang berada di meja sebelahnya, ia menggeser dan ia buka galeri.


Lalu memberikannya kepada Satya.


"Ini siapa? kok lo punya foto anak SMA? cantik lagi, kenalin dong" kata Satya mengagumi foto yang tertera di ponsel milikku. Sedang Yasya hanya bisa tersenyum kecut mendengar sahabatnya tengah berceloteh ria.


"Namanya Reyna" ujar pria itu dengan nada lembut seperti saat ia mengajak gadis yang berasa difoto itu berbicara.


"Maksud lo, dia selingkuhan lo ya?" tanya Satya dengan polos sembari membulatkan matanya pada Yasya


"Kalo ngomong jangan keras-keras, entar kedengaran mami, blo'on lo" ucap Yasya kesal sambil menggertakkan gigi, dan menjitak kepala anak sialan itu.


"hehehe Maaf, maafbcoba jelasin ke gue, anak siapa nih?" tanya Satya dengan nada yang lebih pelan.


"Anak siapa itu nggak penting, yang penting perasaan gue. Gue kayanya udah jatuh cinta sama dia Sat, awalnya dia cuma murid gue disekolah tempat gue magang. Tapi perasaan gue, bahkan perasaan ini nggak pernah gue rasain ke Syahbila Sat, gue ngerasa nyaman kalo deket sama dia" tutur Yasya dengan suaranya yang melemah.


"Sya, lo bener-bener jatuh cinta? terus dia? apa punya perasaan juga sama lo?" tanya Satya yang kini mulai menggali lebih dalam cerita yang ia simak dari Yasya.


"Itu dia masalahnya Sat, lo tau kan prinsip gue buat setia sama siapa aja yang udah gue seriusin, dan gue udah serius sama Bila, gue nggak mau nyakitin dia apalagi keluarganya. Ditambah lagi status gue sama Reyna itu seperti nggak mungkin, dia cuma anak SMA Sat, dan gue gurunya. Apalagi tanya soal perasaan dia ke gue, gue aja nggak pernah sedikitpun buat jujur ke dia."


"Ya.... nggak ada yang nggak mungkin didunia ini, lo tau kan" tutur Satya dengan menepuk pundak kanan sahabatnya itu.


"Dan lo juga tau kan betapa pentingnya keluarga buat gue, gue nggak pengen jadi egois Sat, yang mentingin perasaan gue sendiri. Sedangkan perasaan keluarga nggak ada yang bisa gue jaga" lanjut Yasya lagi.


"Lakuin apa yang menurut hati lo bener, kesempatan nggak datang dua kali Sya, coba lo ngobrol sama Reyna, telfon dia dan ditengah obrolan, lo yakinin diri lo buat melupakannya, gue cuma dukung apapun keputusan lo" Yasya menghembuskan nafas panjang dan akhirnya memutuskan untuk menerima saran dari Satya.


Pria itu melangkah ke depan saat bersiap untuk mendengar suaranya. Namun ketika ia mulai menyapa gadis itu, suara isakan membuat Yasya mengernyitkan dahi.


"Ha.. hallo" isakannya membuat hati Yasya berdegup kencang, bukan karena perasaannya, tapi karena ia selalu merasa cemas ketika dia mendapat masalah.


"Hallo, Reyna, kamu nangis? ada apa?" tanya Yasya dengan nada khawatir dan perasaannya yang begitu cemas akan keadaan gadis itu.


"Pak... pak Yasya" suara gadis itu begitu lemah, membuat kaki Yasya terasa lunglai dibuatnya.


'Tuhan.... hanya dengan mendengarkan dia menangis membuat aku semakin gila, apa yang terjadi padanya? apa dia sakit? atau dalam keadaan bahaya? Tuhan kumohon. Jangan biarkan dia dalam kesusahan' batinnya sembari menunggu jawaban dari sebrang sana.


Yasya tak bisa tenang mendengar gadis itu dilanda masalah, rasanya hatinya juga ikut tersakiti oleh setiap isakannya.


"Oke, tenang tenang, katakan saja pada saya, kamu ada dimana?" tanya Yasya dengan panik, namun sebelum menjawab tiba-tiba panggilan itu terputus begitu saja.


tut.....


Yasya mengacak rambutnya frustasi, tak ada respon darinya ketika pria itu menelfonnya berulang kali.


"Irya, ada apa?" Yasya berlari kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil, tanpa menggubris pertanyaan Satya.


Pria itu segera keluar lagi dan menatap sahabatnya sesaat dengan raut wajahnya yang frustasi dan rambut yang acak-acakan.


"Sorry Sat, gue cabut dulu" ujarnya sembari berlalu membuat sahabatnya itu mengangguk sembari tersenyum kearahnya.


"Cepetan cari dia, siapa tau dia butuh lo" ucap Satya dengan senyum menyetujui.


Sekilas Yasya menengok dan mengangguk, ia segera pergi meninggalkan kediamannya.


Berkali-kali pria itu menghubungi Reyna, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada jawaban dari dia.


Yasya berhenti sejenak dan mencari keberadaannya lewat GPS.


"Reyna, kamu dimana? jangan buat aku khawatir" Yasya menginjak gas dengan kecepatan tinggi saat ia melihat posisi Reyna berada dijalan Arjuna. Ia semakin khawatir karena hari sudah semakin gelap.


Setelah 10 menit berlalu, Yasya berhenti disebuah trotoar, dan segera saja ia parkirkan mobilnya.


Pria itu turun dari mobil, dan segera berlari mencari keberadaan gadis itu.


Yasya terus berlari, dan berhenti kala melihat seorang gadis berjalan jauh didepannya.


"Reyna!" pria itu berlari menghampirinya, dengan nafas yang tersengal-sengal, Yasya masih setia mengejarnya.


Ya, tidak salah lagi itu pasti Reyna, dengan rambut yang masih dikepang dan tas kecil dipunggungnya. Dia berjalan pelan dan sambil terus menunduk.


Yasya menarik tangannya ketika telah berada beberapa kaki dari tempatnya berdiri.


Ia menarik Reyns kedalam pelukannya. Betapa terkejutnya pria itu yang kini masih bisa mendengarkan isakannya yang begitu menyedihkan, seperti ada beban berat yang harus ia tanggung.

__ADS_1


"Pak... pak Yasya" ujarnya sembari terisak.


"Sudah jangan menangis, kan ada saya " Reyna membalas pelukan pria itu dengan erat, Yasya mengecup dan mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.


Setelah isakannya melemah Yasya menarik lengan gadis itu untuk mengikuti langkahnya.


Yasya mengajak Reyna untuk duduk dibangku trotoar, dan dia mulai sedikit tenang.


Pria itu mengusap sisa air mata yang menetes dipelupuk matanya.


"Reyna, kamu ada apa? coba jelasin ke saya apa kamu disakiti seseorang?" tanyanya yang membuat Reyna menggeleng.


"Reyna, saya mohon, katakanlah" mohon pria itu sambil mengecup punggung tangan Reyna, membuat Reyna menengadahkan wajahnya memandang wajah Yasya.


Pandangannya sayu dengan mata merah khas seorang usai menangis. Yasya terkejut lagi ketika melihat memar di sudut bibirnya, dan pipinya yang samar-samar memerah.


"Pak, sebenarnya, saya diusir dari rumah" ucapnya dengan suara yang melemah dan wajah yang tertunduk lesu.


"Apa?! bagaimana bisa? siapa yang ngusir kamu Rey?" tanya Yasya yang kini mulai terkejut dengan cerita Reyna yang belum lengkap sepenuhnya.


"Sebenernya ini adalah salah saya juga, saya, saya... adalah anak haram, memang pantas untuk saya diusir dari rumah yang seharusnya tidak saya tinggali" ujar gadis itu yang kini mulai menunduk lesu m


"Reyna, maksud kamu apa? kamu jangan bilang seperti itu, tidak ada anak haram didunia ini."


"Pak... saya adalah anak dari perselingkuhan yang dilakukan ibu saya!" ucapnya tegas seolah menghakimi dirinya sendiri. Yasya yang tak tahan melihat matanya yang berkaca-kaca.


Reyna yang ia kenal bukanlah Reyna yang seperti ini, biasanya dia sangat ceria dan ramah terhadap siapapun. Yasya bahkan tak menyangka diusianya yang masih belia, dia mendapatkan masalah yang begitu besar, sungguh tidak adil baginya.


"Ssstttt, tenang coba kamu tenangkan diri dulu, lalu ceritakan pelan-pelan pada saya" Yasya merengkuh tubuh gadis itu dan ia menyandarkan Reyna kedalam pelukannya.


Yasya bahkan tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan. Pria itu merasa ia harus menghibur Reyna dengan caranya


Merasa nyaman, Reyna pun akhirnya luluh dan dia mau untuk terbuka dengan pria itu. Gadis itu bercerita dari awal orang tuanya bercerai, dan papa nya yang mengajak Reyhan untuk pindah ke Singapura tanpa mengajaknya hingga dia kehilangan ibunya sampai saat ini. Semuanya Reyna ceritakan pada Yasya tanpa ada yang kurang sedikitpun.


"Pak, tolong bantu saya. Ini foto mama, kalau pak Yasya pernah lihat, tolong kasih tau saya" Reyna merengek sambil mengambil sebuah foto di saku celananya. Yasya ingat foto itu, ia mengingatnya kala menstalking akun Reyna.


'Aku seperti tidak asing dengan ibu ini, seperti pernah bertemu dengannya disuatu tempat' ujarnya dalam hati sembari mengernyit, mencoba untuk mengingat-ingat seseorang yang tak asing baginya.


"Pak, bagaimana?" tanya Reyna yang menunggu jawaban dari pria itu.


"Saya akan bantu kamu Rey, tapi kamu harus sabar oke."


"Iya" Reyna tersenyum senang mendengar penuturan dari Yasya seketika wajahnya yang murung berubah ceria.


"Oh ya, kamu akan tinggal dimana?" mendengar pertanyaan dari Yasya, Reyna tampak diam sesaat dan menundukkan wajahnya lagi, dia menggeleng pelan.


"Oke... kamu tinggal di apartemen saya aja ya. Kebetulan saya punya apartemen, tapi jarang saya tinggali" tawaran dari Yasya membuat Reyna membulatkan matanya. Bagaimana dia bisa tinggal ditempat seorang pria, apalagi itu adalah Yasya.


"Nggak pak, saya nggak mau, saya ngekos aja, saya nggak mau ngerepotin pak Yasya" kata Reyna sembari mengangkat pandangannya menatap Yasya yang kini mulai hendak membujuknya.


"Rey, ngekos itu nggak aman buat kamu, selama ini kamu belum pernah tinggal sendiri kan, kalau di apartemen saya, saya bisa jaga kamu" kata pria itu dengan suaranya yang begitu lembut.


"Tapi pak ..."


"Sudah, nggak apa-apa ayo," Yasya meraih tangan gadis itu dan mengajaknya pergi ke sebuah apartemen miliknya.


Pukul 20.45


Yasya dan Reyna telah sampai disebuah apartemen. Pria itu membuka pintu sambil terus memegangi tangan Reyna.


Yasya menunjukkan kamar dan beberapa ruangan lain seperti kamar mandi, dapur, dan lain-lain.


Setelah selesai, gadis itu segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Yasya menunggu diruang TV.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Reyna memakai gaun putih terusan sampai lutut yang ia bawa ditas kecil miliknya. Reyna menggerai rambutnya karena basah sehabis keramas, lalu dia perlahan menghampiri Yasya yang tengah duduk sambil menonton siaran TV didepannya.


"Pak Yasya" panggil Reyna dengan suara lembutnya.


"Reyna, kamu sudah selesai?" Reyna mengangguk, dan berjalan menghampiri Yasya. Yasya memandangi Reyna dari atas sampai bawah, Yasya selalu mengagumi kecantikan Reyna setiap saat. Namun perasaannya harus ia tepis sesegera mungkin.


"Terimakasih pak, saya nggak tau lagi harus minta bantuan siapa, tapi pak Yasya dengan senang hati mau bantu saya, saya nggak tau lagi harus membalas kebaikan pak Yasya seperti apa."


"Sini, duduk Rey" Reyna mengikuti instruksi Yasya untuk duduk bersebelahan dengannya disofa.


"Kamu nggak perlu membalas kebaikan apapun untuk saya, karena siapapun yang ada diposisi kamu saat ini, pasti saya akan bantu kok."


Reyna mengangguk, ia tersenyum kearah pria yang kini juga tersenyum padanya.


Yasya melirik jam yang berada diatas layar televisi, dia memandangi Reyna sekilas untuk bersiap pamit.


"Reyna... saya mau pamit pulang dulu, kalau kamu pengen makan, ada makanan di kulkas, nanti setiap hari saya bawakan kamu makanan. Terus dilemari ada beberapa baju saya, kamu pakai dulu. Ini kunci untuk kamu, satu kuncinya saya bawa kalau kamu lagi pergi saya bakal taruh makanan dimeja dapur. Oh iya... besok kamu jangan sekolah dulu ya, kita beli perlengkapan kamu."


"Pak, tapi... ini semua terlalu berlebihan, bagaimana saya bisa terima semua ini?" tanya Reyna dengan perasaannya yang sungkan.


"Reyna, jangan khawatir... saya kan udah janji bakal bantu kamu, anggap saya ini keluarga kamu sendiri, jangan sungkan-sungkan ya."


"Tapi... pak Yasya nggak perlu beliin perlengkapan saya, saya bawa kok, cuma ada ditempat temen saya."


"Ya sudah, besok kita kerumah teman kamu, kamu berani kan tinggal disini sendiri?" Reyna menatap Yasya dan mengangguk patuh. Wajahnya mulai tampak ceria lagi meski matanya masih sedikit membengkak.


"Bagus... kalau begitu, saya akan pulang, kamu istirahat ya, kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk hubungi saya" kata Yasya sembari tersenyum simpul pada gadis itu.


"Iya," Yasya mengelus puncak kepala Reyna dengan lembut. Dia kemudian berjalan melalui Reyna dan berhenti sejenak ketika telah ketika telah sampai di ambang pintu. Yasya mengarahkan senyumnya kepada gadis yang jaraknya sekitar 5 meter darinya, lalu gadis itu membalas senyumannya.


"Selamat malam Reyna."


.


"Malam pak..." balas Reyna dengan senyuman termanisnya.

__ADS_1


Yasya menutup pintu dan segera pergi.


__ADS_2