
Hari ini adalah hari pengumuman hasil ujian, Reyna sangat gugup mengenai nilainya.
Gadis itu tampak berjalan keluar dari apartemen, langkahnya perlahan mendekat kejalan raya jauh didepan matanya.
Mata pandanya terlihat jelas, wajahnya juga sedikit pucat. Semalaman dia tidak bisa tidur sama sekali, fikirannya tentang hasil ujian dan juga Hengky yang menjadi salah satu kekhawatirannya.
tin tin....
Sebuah mobil berwarna putih menghampiri gadis yang hendak berangkat sekolah itu.
Terlihat wajah lelaki tampan yang sudah berhari-hari tak menampikkan wajahnya pada gadis berambut panjang yang tergerai indah tepat dimuka kendaraan.
"Masuk...." uap pria itu dengan serius, membuat Reyna membulatkan matanya. Entah terkejut atau heran, namun tatapan Reyna mengandung makna pertanyaan dibenaknya.
"Kenapa diem aja... ayo masuk?" kata lelaki itu mengulangi perkataannya. Membuat Reyna segera memasuki mobil itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Mobil Yasya melesat dengan cepat meninggalkan bangunan apartemen yang berdiri kokoh disamping jalan raya yang tengah ramai pagi itu.
Tampak Reyna masih terdiam, memandangi jalanan didepannya. Yasya memandangi Reyna sesekali untuk menebak suasana hatinya saat ini.
Namun gadis itu tak kunjung berbicara. Pandangannya kaku pada jalanan lengang yang biasa mereka lewati pada jam-jam seperti ini.
"Kamu kenapa diam saja?" Reyna menoleh dan memandangi arah jalanan lagi.
"Nggak apa-apa..." ujarnya tanpa ekspresi membuat Yasya mengernyit bingung dibuatnya.
"Marah ya sama saya? karena beberapa hari ini nggak ada kabar."
"Enggak" kata Reyna lagi tanpa memandang pria yang duduk disampingnya.
"Kamu itu marah Reyna... saya tau" Reyna hanya berdiam, ya dirinya merasa tidak dianggap lagi oleh Yasya, bahkan Yasya tidak pernah menelfonnya. Mungkin hanya mengirim makanan ke apartemen tanpa sepengetahuan Reyna ataupun mengucapkan selamat malam dipesan chat.
Ditambah suasana hatinya yang saat ini sedang kacau.
"Reyna?" Reyna melihat jalanan disamping jendela mobilnya yang sedikit terbuka.
"Pak Yasya... gimana mama?" tanya Reyna dengan suaranya yang sedikit serak, tanpa mengalihkan pandangannya dan tetap menyembunyikan wajahnya terhadap pria yang tengah fokus dengan jalanan.
"Kamu nangis?" pertanyaan Yasya membuat Reyna menggeleng dengan cepat. Air matanya tak dapat tertahan lagi, merembes melalui celah-celah sudut mata dan membasahi pipi cantiknya. Ia bahkan enggan menatap Yasya yang kali ini fokus menyetir sembari sesekali melirik kearahnya. Mungkin Yasya juga belum menyadari tangisannya.
"Reyna... apa kamu benar-benar merindukan mama mu?" pertanyaan Yasya membuat Reyna merasa aneh, ada yang janggal terhadap pertanyaan pria ini barusan.
"Maksud bapak apa? jelas saya sangat merindukan mama" ucap Reyna kesal, seraya menyeka air matanya tanpa berani menatap pandangan pria disampingnya.
"Kamu tenang saja... mama kamu baik-baik saja" mendengar kata-kata dari Yasya, gadis itu terlihat mengulas senyum diwajahnya. Tanpa ragu lagi, dia menatap pria yang berada disebelahnya.
"Mama tinggal dimana? apa mama saya sehat? apa mama bertanya tentang saya? pak Yasya tenang aja, nanti setelah saya dapat hasil ujian, saya pasti akan ngasih tau bapak"
ujar gadis itu dengan penuh semangat dan keyakinan yang kuat.
Yasya hanya diam membisu, seketika sebuah pertanyaan muncul dibenak Reyna ketika melihat ekspresi Yasya yang seperti terlihat cemas tanpa mengulas senyum sama sekali.
"Pak Yasya?!" Yasya terkejut dengan suara nyaring dari Reyna.
"Saya sudah berjanji kan... tinggal kamu yang harus menepati janji mu" ucap Yasya dengan senyumnya, membuat Reyna lega dibuatnya.
***
Reyna, Kanaya dan Hengky, mereka berjalan beriringan. Reyna yang awalnya tampak tidak tenang oleh kehadiran Hengky disekitarnya kini dirinya merasa bisa bernafas lega karena kabar Almira.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan menuju papan pengumuman kenaikan kelas diujung lorong yang tengah dikerumuni murid-murid seangkatan mereka.
Pandangan Hengky yang yak lepas dari Reyna membuat dirinya tidak percaya diri. Hingga Reyna memilih untuk menatap kearah bawah lantai tepat dia berjalan santai.
"Guys... kayanya udah rame banget tuh... kita cepetan liat yuk" ucap Kanaya memecah keheningan, membuat Hengky menaikkan sebelah alisnya.
"Ayukkk..." sahut Reyna dengan semangat membuat mereka kini beralih berjalan menuju kerumunan siswa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Gue udah penasaran juga nih sama hasil ujian kemaren... kira-kira naik nggak ya gue" kata Hengky merendah, membuat dua gadis disampingnya menggeleng.
Pasalnya bukan rahasia umum lagi jika anak itu selalu mendapat peringkat di kelasnya. Bahkan ia tak harus berusaha terlalu keras untuk belajar mengingat otaknya yang dipenuhi IQ yang tiada tandingannya.
"Nggak usah sombong deh, mau lo nggak belajar setahun, lo pasti bakal naik, tau deh yang juara kompetisi sains tingkat provinsi" ucap Kanaya sewot, membuat Reyna terkekeh.
Setelah berjalan beberapa detik, akhirnya mereka telah sampai dikerumunan siswa yang berada didepan papan pengumuman. Terlihat beberapa dari mereka menunjuk kertas yang terpampang didepan mata.
Reyna melesat memasuki kerumunan yang amat tidak ia sukai, namun demi apa dia harus menahannya kali ini. Sesak menghimpit tubuhnya, membuat dirinya menyeimbangkan tubuhnya dengan ekstra.
Dilihatnya daftar nama dari kelas X IPA I sampai X IPA III.
Namun pandangannya tak menemukan namanya dipapan itu, diulanginya sekali lagi, namun tetap saja hasilnya sama.
Deg....
Seketika jantungnya terasa diremas dengan sangat kuat, matanya berkaca-kaca, kakinya lemas tak berdaya. Membuat dia melangkah mundur untuk membiarkan ramainya murid-murid mengerubungi papan itu semakin dalam.
"Rey... gue dapet 30 besar dari angkat kita, yahhh kayanya gue harus lebih rajin lagi deh belajarnya... lo gimana?" Reyna masih membisu, dia bahkan seperti tak mendengar suara disekelilingnya.
"Guys..." teriak Hengky membuat Kanaya tersentak.
"Gue tau, gue tau nih... nggak usah sombong lo" kata Kanaya sebal, membuat Hengky terkekeh.
"Sayangnya iya... hahahaha."
"Rey... lo kenapa? gimana hasil ujian lo?" tanya Naya dengan mimik wajahnya yang terlihat cemas memandangi wajah Reyna yang hanya diam membisu.
"Gu... gue mau pulang aja... maaf" ucap Reyna dengan melangkah menjauh dari dua sahabatnya itu.
"Reyna lo kenapa?" pertanyaan Naya tak digubris oleh gadis yang tengah berjalan menjauh darinya. Terlihat Reyna yang berjalan dengan cepat, lama-kelamaan langkahnya berlari menjauh.
Rasanya tak dapat terbendung lagi, matanya yang berkaca-kaca kini menjadi merah dengan linangan deras di pipi mulusnya. Reyna terus berlari dengan tangannya yang terus menyeka air matanya.
Isak Reyna dalam pelariannya. membuat hiruk pikuk kehidupan sekolah yang ramai memergokinya yang tengah menangis. Sebagian dari mereka ada yang tak perduli, ada juga yang menatap heran padanya. Gadis itu bahkan masa bodoh dengan pandangan murid-murid yang berlalu lalang menatapnya.
Reyna duduk di halte, tengah menunggu bus yang datang menghampirinya.
.
"AKU GAGAL....!" geramnya sembari meremas ujung seragamnya yang berwarna putih dengan rok span berwarna abu-abu tersebut.
"Reynaaaaaa!" teriak Kanaya yang disusul oleh Hengky dibelakangnya. Membuat Reyna menghentikan tangisnya dan segera menghapus seluruh jejak air matanya.
"Ada apa nay?" tanyanya dengan senyuman yang coba ia buat sedemikian rupa untuk menghilangkan kekhawatiran dari para sahabatnya.
"Hosh... hosh... hosh... cepet banget sih lari lo... gue sampek capek tau" kata Kanaya kesal sembari memegangi lututnya dan terlihat keringat sebesar biji jagung diantara keningnya.
"Rey kamu kenapa?" tanya Hengky yang berlari menyusul Kanaya.
Ditatapnya sahabatnya itu yang masih tak bergeming.
__ADS_1
"Makanya jadi orang jangan pendek-pendek... nih" ucap Kanaya dengan menyerahkan lembaran kertas yang ia sobek dari papan pengumuman.
Reyna mengambil kertas itu, dilihatnya daftar nama siswa. Matanya membelalak, terlihat namanya terpampang jelas diurutan pertama dari seluruh murid IPA seangkatannya.
Gejolak bahagia yang ia rasakan tidak dapat terbendung lagi, matanya semakin berkaca-kaca. Bukan rasa sedih lagi, melainkan rasa haru bahagia dengan segala aspek yang ia capai.
Reyna masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, air matanya merembes melalui sudut indera penglihatannya.
Pandangan Reyna beralih di kedua sahabatnya itu yang tengah tersenyum memandangi wajahnya.
Reyna tersenyum puas. Puas dengan usahanya yang keras dan mati-matian. Ini semua demi Almira. Nilai yang sempurna adalah harga mahal untuk bertemu sang ibu yang begitu ia rindukan.
"Selamat ya Rey... kamu udah bikin aku bangga" ucap Hengky dengan senyumannya.
"Nayaaaaa, gue berhasil nay... gue berhasil" tangis Reyna dengan memeluk tubuh mungil Kanaya.
"Udah gue bilang kan... lo pasti berhasil... selamat ya sayang kuu, akhirnya lo matahin mitos dari fans fanatik orang ini yang katanya nggak bisa dikalahin sama murid seangkatan kita" ucap Kanaya seraya melirik Hengky yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
**"
Tiga bersahabat itu memasuki sebuah cafe yang terletak tak jauh dari gedung sekolah bertingkat SMA Pelita Bangsa.
Mereka tengah asyik menikmati minuman masing-masing.
"Aku salut sama kamu Rey... pertahankan terus ya posisi kamu" kata pria rupawan yang tengah duduk dihadapan Reyna.
"Iya... nanti gue nggak mau tau, lo juga harus ngajarin gue, gue nggak mau dapet 30 besar lagi semester depan."
"Iya iya Nay... gue ajarin kok... apasih yang nggak buat lo."
"Rey... Nay... sebenernya gue mau tanya sesuatu" ucap Hengky dengan serius, membuat mimik wajah Reyna yang awalnya ceria kini menjadi rasa penasaran. Berbeda dengan Naya yang terlihat heran.
"Ngomong aja kali Ky... pasti juga mau nraktir kita-kita... iya nggak Rey" ucap Naya dengan candaannya.
"Ini soal Reyna" perkataan Hengky terpotong kala mereka mendengar suara getar ponsel Reyna.
Drttt drttt drttt...
"Gue angkat telfon dulu" ucap Reyna langsung pergi membuat Hengky mendengus kesal.
Kini setelah Reyna menjauh, Kanaya memberanikan diri untuk bertanya pada pria itu yang membuatnya sedikit penasaran dengan apa yang akan dikatakan Hengky pada sahabatnya.
"Lo mau ngomong apa sih Ky? kok harus ada gue segala?" tanya Kanaya penasaran saat Reyna tengah menjauh dari hadapan mereka.
"Gue mau tanya satu hal ke elo... apa Reyna pernah cerita masalah keluarganya ke elo?" mendengar pertanyaan Hengky membuat Kanaya membulatkan matanya, wajahnya menjadi pucat pasi.
"Ma.. maksud lo apa? emang Re.. Reyna ada masalah apa sama keluarganya?" tanya gadis itu dengan suaranya yang terbata.
"Gue udah tau, tentang kak Reyhan... tempo hari gue liat dia lagi daftarin adek angkatnya buat sekolah di sekolah kita, dan gue ngelabrak kak Rey."
Kanaya membelalak matanya, dia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Jadi selama ini Hengky sudah tau semuanya. Naya mencoba berfikir keras untuk memecahkan masalah ini, walau bagaimanapun dia sudah berjanji pada sahabatnya itu untuk merahasiakan semuanya.
"Kak Rey? terus dia ngomong apa aja ke elo? siapa adek angkatnya?" tanya Kanaya seolah mengintrogasi.
"Namanya Keyla... kak Rey bilang, dia udah ngusir Reyna dari rumah, tapi sampai saat ini gue nunggu Reyna buat cerita, tapi dia masih diam, gue bahkan nggak tau sekarang dia tinggal dimana? sama siapa? makan pake apa?."
Kanaya mencoba bersikap biasa, dan menyembunyikan ekspresi gugupnya.
"Emm... gue nggak tau Ky, tapi yang penting Reyna baik-baik aja kan sekarang."
__ADS_1
"lo kok santai gitu sih Nay... gue heran deh nggak ada simpati-simpatinya lo ke Reyna? apa jangan-jangan lo udah tau ya masalah dia... makanya lo biasa aja pas denger dari gue kalo Reyna ada masalah."
"Ma... mana ada... gue khawatir kok sama dia... tapi karena ini adalah hari yang baik buat dia, makanya untuk sementara gue nggak mau nambahin beban dia tentang masalah keluarganya" kata Kanaya menjelaskan sesantai mungkin.