
"Pak, Yasya saya.... mencintaimu" ucapan lemah dari Reyna dibalas anggukan oleh Yasya. Pria itu menggenggam lembut tangan Reyna dan menciumnya dengan sepenuh hati, lalu ciumannya beralih kearah keningnya yang saat ini tengah ada beberapa bercak darah yang masih tersisa disana.
Yasya tersenyum lembut meski dia tak bisa menghentikan tangisannya.
"Maafkan saya Reyna, saya tidak bisa menjagamu, seharusnya saya yang berada ditempat ini sekarang, bukan kamu."
Diraihnya puncak kepala gadis itu, membuat gadis itu tersenyum meskipun air mata terus berlinang dipipinya.
"Yasya" panggilan dari Al membuat pria itu tak bergeming, masih berada diposisi nya.
"Lo juga terluka, kita obatin dulu ya luka lo" Reyna mengangguk, memberikan isyarat pada pria yang masih menatapnya itu.
"Gue nggak mau Al,"
"Sya, jangan keras kepala. Lo fikir Reyna mau ngeliat lo kaya gini ha?"
Tanpa basa-basi lagi, Al menarik lengan sahabatnya itu lalu kemudian menyerahkan pada suster untuk mengobati luka di kepalanya.
"Lo apaan sih Al, gue nggak mau!"
"suster, bawa dia keluar!"
Ucapan tegas dari Al membuat Yasya akhirnya menyerah dan keluar.
"Reyna" panggilan dari Al hanya dibalas anggukan oleh gadis itu yang tengah terbaring lemah diatas bangsal. Membuat dokter muda itu mengacak rambutnya, dan menatap bingung kearah Reyna.
Tidak ada waktu lagi untuk menyelamatkan Reynaldi yang kini sudah terbaring lemah kritis ditempatnya. Pria itu tampak mendengus, dan menyerah dengan keputusan akhirnya.
"Reyna, pegang kata-kata saya, saya akan menyelamatkan mu selama itu kecil kemungkinannya, kamu harus kuat. Baiklah... satu jam lagi, kita akan melakukan operasi. Apa ada yang ingin kamu sampaikan?"
Reyna tampak mengangguk, tampaknya gadis itu telah siap untuk menerima konsekuensinya. Reyna seperti tidak memiliki siapapun didunia ini, masalah yang terjadi hari ini membuat hatinya terluka berkali-kali lipat.
Membuatnya teringat akan Almira yang memiliki nasib yang sama dengannya.
'ma, apakah aku akan menyusul mama kali ini, aku sudah lelah Tuhan. Jika takdir yang menginginkan untukku seperti ini, maka aku akan menerimanya dengan senang dan hati yang lapang.'
Ucap Reyna dalam batinnya. Tanpa sadar air matanya kembali menetes, membuat Al semakin iba dan ikut merasakan sakit yang diderita oleh pasiennya.
"Dokter, tolong ambilkan saya kertas dan pulpen" pinta Reyna dengan bibirnya yang bergetar.
Yasya keluar dari ruangan ICU, entah mengapa sepeninggal dirinya dari ruangan itu perasaannya semakin tidak enak. Ada rasa mengganjal yang mendesaknya.
Disamping itu rasa pening menyelimuti kepalanya yang sedari tadi menetes sebuah darah. Dengan langkah yang semakin gontai, pria itu mengikuti seorang perawat yang membelakanginya untuk masuk kedalam ruangan. Namun sesaat setelah sampai di ambang pintu, Yasya tiba-tiba saja ambruk dan tidak sadarkan diri.
"Ah," suster itu membalikkan tubuhnya, dan mendapati Yasya yang kini pingsan tepat dibelakangnya, membuatnya membelalak mata dan segera membawanya masuk keruangan itu.
"Tuan, tuan Iryasya kenapa malah pingsan?"
Dipapahnya tubuh besar pria itu membuat sang suster sedikit kesulitan.
Reyna menatap Al yang saat ini tengah berada disampingnya. Tersenyum mengembang seolah menikmati sesuatu, setelah sekian waktu dirinya dirundung kesedihan yang mendalam, namun kini dirinya telah rela jika harus kehilangan hidupnya, karena seluruh hidupnya kini telah banyak kehilangan.
Beberapa dokter dan kerumunan suster membawa seorang lelaki paruh baya yang tengah tak sadarkan diri diatas bangsal untuk mendorongnya kearah ruang operasi.
Disusul dokter Al dengan beberapa rekannya membawa Reyna yang masih dalam keadaan sadar meskipun banyak luka ditubuhnya yang memungkinkan hanya ada satu orang yang dapat selamat setelah keluar dari ruang itu.
Reyna menoleh, menatap sang ayah yang kali ini terlihat sangat pucat dengan matanya yang terpejam. Diraihnya tangan sang ayah yang kali ini begitu dekat dengannya, meski berjarak beberapa senti darinya.
"Papa" kata Reyna lemah sambil menatap Reynaldi.
'Pa, setelah ini papa harus sembuh, jangan kecewakan pengorbanan ku. Selama ini papa adalah superman yang selalu menjaga peri kecil, kini biarlah peri kecil yang membantu papa untuk bisa bertahan. Pa peri kecil sayang papa, Selamanya'
__ADS_1
Batin Reyna dalam hatinya sembari menutup matanya tatkala secara bersamaan sebuah suntikan membuatnya perlahan tak sadarkan diri.
Seorang pria blasteran berlari kala perawat memberikan arahan padanya ruangan operasi yang dilakukan oleh Reyna dan papanya.
Zayn begitu panik, hingga dirinya tak sengaja meninggalkan Ajeng yang masih memarkirkan mobilnya.
Matanya memerah, dan tampak wajahnya yang begitu panik diliputi kegelisahan yang begitu mendalam.
"hosh hosh Reyna"
Nafasnya terengah-engah tatkala telah sampai didepan ruangan operasi yang masih menyala lampu merah diatasnya, menunjukkan operasi sedang dimulai.
Zayn mengacak rambutnya frustasi dan bersujud didepan pintu itu.
"Nak, jangan seperti ini, berdirilah. Kita harus yakin Reyna pasti akan selamat."
Kata Ajeng bersamaan dengan air matanya yang berlinang, wanita itu mencoba menarik tubuh Zayn, membuat pria itu menunduk tatkala berdiri dihadapan ibunya. Matanya memerah dengan air mata disudut matanya. Dipeluknya tubuh sang ibu yang membuat Ajeng mengelus pundak anak bungsunya itu.
"Mom, bagaimana Reyna tidak memikirkan hidupnya sendiri, dia bahkan baru saja mengalami kecelakaan, dan memaksa untuk melakukan operasi."
"Sayang, mommy juga khawatir tapi apa yang harus kita lakukan sekarang? jangan sedih nak, kita pasrahkan semuanya pada Tuhan hiks hiks"
Tangis Ajeng pecah melihat putranya yang merasa lemah, meski wanita itu hanya sekali bertemu dengan Reyna, namun rasanya ada hasrat yang begitu mendalam untuk selalu melindunginya.
Ajeng telah jatuh cinta pada gadis itu, gadis yang selalu diperlakukan tidak adil oleh keluarganya sendiri. Melihat operasi didalam dalam keadaan Reyna yang baru saja kecelakaan dan harus memberikan sebagian dari jaringan hati untuk sang ayah akan sangat beresiko bagi kelangsungan hidupnya.
Plakkkkk
Sebuah tamparan mendarat dipipi gadis yang tengah berdiri dihadapan sang ibu, Cintya menatap putri semata wayangnya itu dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu itu gila atau bagaimana Key, kamu sadar yang kamu tabrak itu siapa?" Tegas Cintya membentak Keyla.
"Ma, aku tidak sengaja, aku tadi hanya mau menyerempet Iryasya, bukan mencelakakan sialan itu."
"Ma, tolong aku hiks, aku tidak mau ditangkap polisi" ucapan panik dari Keyla membuat Cintya mengacak rambutnya sendiri.
"DIAM!"
Teriaknya dengan lantang, membuat Keyla tersentak dan menghapus air matanya.
ting tong...
Suara bel pintu, membuat ibu dan anak itu dirundung kecemasan yang mendalam. Wajah Keyla terlihat pucat pasi dengan tubuhnya bergetar ketakutan atas perbuatan yang ia lakukan.
"Kamu tunggu disini, ck awas jika kamu berbuat keteledoran lagi"
ceklek...
Cintya membuka pintu rumahnya, terlihat pemuda yang ia kenal itu tersenyum kearahnya.
"Tante, Keyla disini?"
"Ah Reyhan, iya dia ada didalam katanya kangen sama tante, jadi pulang sekolah dia langsung kemari"
Kata Cintya setenang mungkin untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Tante, aku mau ambil mobil" kata-kata dari Reyhan membuat Cintya membelalakkan matanya, jantungnya terasa berdebar, takut jika Reyhan tau tentang keadaan mobilnya yang kali ini penuh dengan noda darah.
"Reyhan, masuk dulu nak."
Ucapan dari Cintya membuat Reyhan mengikuti langkah wanita itu untuk masuk dan duduk didalam ruang tamu dengan sofa dan dinding serba merah.
__ADS_1
"Kak Reyhan," suara kecil seorang gadis membuat Reyhan dan Cintya menoleh kearah Keyla yang saat ini berlari dan memeluk tubuh sang kakak.
"Keyla, kamu kalau bawa mobil jangan bikin orang khawatir, kan sudah kakak bilang jangan mengendarai mobil jika belum punya SIM" kata Reyhan menegaskan.
"Maaf, janji Keyla nggak bakalan naik mobil lagi deh, soalnya tadi aku kangen banget sama mama" ucap Keyla seraya memeluk tubuh Reyhan dengan manja, membuat Reyhan membalas pelukan hangat sang adik.
"Kita jenguk papa yuk?" ajak Reyhan membuat Cintya dan Keyla geragapan.
"Reyhan, sebenarnya mobil kamu ada masalah, bagaimana jika kita bawa mobil tante saja?" ucapan tegang dari Cintya membuat Reyhan mengernyitkan keningnya.
"Masalah apa tante? perasaan mobil Reyhan masih satu Minggu lalu deh di servis" kata Reyhan meluruskan sambil menatap Keyla yang kini tersenyum kearahnya.
"Tadi kata Keyla mobil kamu sempat mogok dijalan, tenang saja, tante sudah memanggil montir kesini untuk ngambil mobil mu" ujar Cintya meyakinkan.
"Oke, kalau begitu, kita berangkat sekarang bagaimana?" pertanyaan dari Reyhan membuat Cintya dan Keyla tersenyum lega dan mengiyakan ajakannya.
***
Empat jam telah berlalu, namun lampu diatas pintu ruang operasi belum juga berubah. Menunjukkan operasi masih berlangsung, terlihat wajah gusar Zayn yang berkali-kali mondar-mandir didepan pintu itu dengan tatapannya sesekali mengarah ke dalam ruangan.
"Nak, tenanglah" ucapan dari sang ibu tak dapat didengar olehnya, fikirannya terasa melayang, membuat semangat dan juga fikiran negatifnya bersatu.
"Mom, aku takut" kata Zayn sambil mengeratkan jemarinya.
tak tak tak tak...
Suara langkah berlari dari arah berlawanan membuat Zayn menoleh, memandangi dua sahabat Reyna yang sebelumnya ia telfon sejak beberapa jam lalu.
"Reyna hiks hiks" gadis itu meraih pintu didepannya, diintipnya didalam banyak dokter dan para perawat mengerumuni sosok berpakaian hijau disana.
"Kak, makasih udah ngabarin aku, gimana keadaan Reyna?" pertanyaan dari Hengky membuat Zayn menggeleng.
"Kalian mestinya sudah tau keadaan dia, Reyna adalah gadis yang sangat keras kepala" ucap Zayn yang membuat air mata Kanaya tidak bisa tertahan lagi.
Wajahnya menunduk dengan pasrah, ada rasa penyesalan dihatinya ketika melihat keadaan gadis itu yang saat ini seperti sengaja ingin membunuh dirinya sendiri.
Pun begitu dengan Hengky, Wajahnya memerah dengan tangkupan kedua tangannya yang mengacak rambutnya sendiri, merasa sedih atas peristiwa yang dialami oleh Reyna.
"Reyna hiks hiks maafin gue, bagaimanapun juga lo harus kuat Rey, gue nggak mau kehilangan lo. Lo sahabat terbaik gue, hiks hiks hiks" tangisan Kanaya pecah sambil berlutut dengan penyesalannya yang tersisa, sambil menatap ruang operasi itu dengan tubuhnya yang bergetar.
Didalam ruang operasi.
Al akhirnya bisa bernafas dengan lega tatkala dirinya telah selesai menjahit sebagian dada pria paruh baya yang terbaring dibawahnya oleh obat bius yang masih bekerja. akhirnya operasi berhasil dengan sempurna, melihat keadaan Reynaldi yang kini kondisinya kian membaik.
"Dokter, sepertinya pendarahan terjadi pada pendonor" ucapan dari suster membuat tubuh Al bergetar.
"Dokter Hadi, tolong periksa detak jantungnya, suster, bawa pasien keruangannya, kecuali Reyna. Dokter Irfan, persiapkan lima kantong darah secepatnya"
Ucapan dari Al membuat suster itu dengan segera mendorong bangsal Reynaldi keluar dari ruangan operasi.
"Dokter Al, denyut jantungnya melemah,kita tidak akan sempat"
tit....... tit..... tit......tit
Terdengar suara mesin dari layar itu menunjukkan betapa lemahnya denyutan jantung Reyna saat ini.
"TIDAK BISA! saya sudah berjanji padanya, dia harus keluar dengan selamat" ucapan tegas dari Al membuat beberapa dari mereka bergerak cepat.
"Dokter jika kita tetap memaksakan untuk melakukan transfusi, akan sangat membahayakan nyawanya, meskipun kita berusaha, tidak akan menjamin kehidupan dia."
Ucapan dari dokter Irfan membuat Al seperti serba salah, ditatapnya wajah gadis itu yang saat ini tengah tak sadarkan diri, membuat perasaan bersalah pada dirinya begitu besar.
__ADS_1
"Kita harus mencobanya, apapun yang terjadi jangan biarkan dia meninggal" kata Alfian penuh keyakinan.