The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Semangat untuk Reyna


__ADS_3

Reyna dan Iryasya




drttt... drtt....


Suara getar ponsel dari saku Reyna membuat mereka berdua tersentak.


Reyna buru-buru mengambil ponsel dan melihat sekilas panggilan telfon itu.


"Siapa?" tanya Yasya dengan nada ketus dengan pandangannya yang datar.


Reyna tampak terdiam sesaat. Ia melirik Yasya sekilas.


"Kenapa nggak diangkat?."


"Iya pak... sebentar" Reyna bangkit dan melangkahkan kakinya untuk menjauh dari tempatnya duduk meninggalkan Yasya yang tengah menatapnya kali ini.


"Hallo..." ujar gadis itu sembari menggigit bibir bawahnya.


"Hallo Rey... kamu ada dirumah nggak? ke Dufan yuk, pumpung hari minggu nih aku juga nggak ada kegiatan dirumah."


Mata gadis itu membelalak tatkala Hengky hendak ingin kerumahnya. Reyna semakin gugup, dirinya tampak mencari-cari alasan agar Hengky tidak datang kerumahnya. Bagaimanapun tidak ada yang boleh tau tentang masalah keluarganya kali ini.


"Aku nggak bisa Ky" kata Reyna dengan keringat dingin membanjiri keningnya.


"Kenapa Rey? ada masalah?."


"Emmm bukan itu Ky, tapi besok ujian... aku disuruh bang Rey buat belajar dirumah, maaf ya" ujar gadis itu dengan lembut takut menyinggung seseorang disebrang sana.


"Yaudah kita belajar sama-sama aja... aku kerumah kamu ya?."


"Ja... jangan... Ky" kata Reyna panik.


"Kenapa Rey?"


"Soalnya... nanti pasti bang Rey bakal marah kalau kamu ada dirumah, dikira kita maen aja, aku kerumah kamu aja gimana?."


"Oke, aku tunggu, tapi jangan sore-sore ya."


Reyna menghembuskan nafasnya lega. Dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ketempat ia duduk, namun tubuh besar dihadapannya membuat ia tersentak dan kehilangan keseimbangan. Reyna nyaris terjatuh, namun untungnya tangan kekar Yasya menopang tubuhnya yang ramping.


Reyna yang semula menutup mata, kini perlahan membuka matanya, dan dipandangi wajah tampan dihadapannya itu dengan wajahnya yang merona. Sedangkan Yasya menatap Reyna dengan tatapan cool nya.


Mereka saling berpandangan cukup lama, menikmati perasaan yang sama-sama nyaman dibenak dan hati mereka masing-masing.


"Lain kali hati-hati..." kata Yasya yang kemudian mengangkat tubuh Reyna hingga dirinya berdiri kembali.


"Terimakasih" kata Reyna sambil tersenyum lembut.


"Itu tadi Hengky?" tanya Yasya dengan suara datarnya.


"Iya... katanya dia mau ngajak belajar bareng."


"Bukannya dia anak IPS?" terlihat Yasya menatap gadis itu dengan pandangan tidak suka.


"Iya... tapi dia anak yang pandai pak, biasanya dia yang selalu bantu saya."


"Iya, pandai dan tampan... dia cocok bersama kamu."


Reyna menatap tajam kearah Yasya. Sekian detik kemudian, Reyna menundukkan kepalanya, wajahnya berubah menjadi sendu.


Fikirannya melayang, membuat hatinya kian bimbang dilanda kecemasan pada perasaannya sendiri. Mungkin memang benar, perasaan Yasya hanyalah sebatas simpati.


"Pak Yasya... mendukung saya dan Hengky?" tanya Reyna dengan masih menundukkan kepalanya tanpa memandang kearah pria tampan itu.


"Iya... tentu saja... tempo hari, dia menyelamatkan nyawa kamu dari bullying, dan merawat kamu selama berada dirumah sakit... dia pasti sangat mencintaimu."


Tutur Yasya dengan pandangannya yang lurus kedepan, menatap beberapa angsa putih yang berenang di kolam kecil.


Reyna semakin sedih dibuatnya. Entah mengapa, rasanya sangat hancur ketika Yasya berkata seperti itu. Memang benar bahwa Hengky mencintai dia, tapi perasaannya bukan untuk sahabatnya itu.


'Mungkin pak Yasya hanya bersimpati pada ku, Mana mungkin dia memiliki perasaan yang sama dengan yang kurasakan, bodoh kamu Rey!' gerutu Reyna pada hati kecilnya. Matanya berkaca-kaca seolah menahan kesedihan, rasanya ingin dia berteriak kencang. Menunjukkan pada dunia betapa dia sangat mencintai Yasya. Namun haruskah itu dilakukan kalau cintanya saja bertepuk sebelah tangan.

__ADS_1


Sementara jauh diseberang sana, Hengky menatap sendu pada foto di nakas. Memperhatikan dirinya dan Reyna tengah berjalan menuntun sebuah sepeda bersama.


"Dampai kapan kamu akan berbohong seperti ini Reyna" ucapnya dengan nada pilu.


***


"Reyna... kita pulang?" ajak Yasya dengan senyumnya.


Reyna mengangguk dan tersenyum tipis.


Mereka berjalan memasuki mobil, tiada percakapan antara mereka. Hal itu membuat gadis cantik itu merasa canggung. Dia mengalihkan pandangannya kearah jalanan yang ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Sesekali ia menatap pria yang fokus dengan jalanan didepannya.


Sesampainya di apartemen, Reyna bergegas untuk mengambil beberapa buku dan juga gitarnya. Tampak sedari tadi, dia membisu tanpa berucap apapun pada Yasya.


Yasya masuk kedalam kamar, dia juga tampak tak memperdulikan Reyna.


"Pak Yasya... saya keluar dulu" Yasya menghentikan gerakannya yang hendak menutup pintu.


"Hati-hati...." ucap pria itu dingin dan segera menutup pintu kamar. Tatapannya seolah tak seperti biasanya, yang tersenyum ketika Reyna mengajaknya untuk bicara.


Reyna mendengus kesal, baru kali ini Yasya cuek padanya. Biasanya dia sangat peduli, namun entah mengapa setelah Reyna menerima panggilan dari Hengky perilakunya tampak berbeda.


"Arrhhhhhgggggggt.... ada apa dengan ku ini?!" teriak pria itu frustasi, fikirannya menerawang.


Yasya tengah bersandar dan menikmati malam prom, perasaannya jadi semakin tenang ketika terakhir kali ia bisa menjabat tangan gadis itu dan berdansa dengannya. Yasya membawa sebuah bunga, dan ia berniat untuk memberikannya pada Reyna, gadis pujaan hatinya selama ini.


Mungkin ia sudah gila, tapi pria itu tak bisa menahan perasaannya sendiri. Ia sendiripun tidak tau sejak kapan cinta ini mulai tumbuh dan bersemi. Tapi hati Yasya bergejolak dan ingin ia ungkapkan hari itu juga.


Tiba-tiba ia mendengar salah satu siswa naik keatas panggung, dan memberikan sebuah lagu.


"Hengky?" ujar Yasya bertanya-tanya, tatapannya menjurus pada pandangan Hengky yang fokus pada Reyna.


Ia melihat Reyna yang berdiri didepan panggung, dan selesai bernyanyi, Hengky kemudian tersenyum. dengan lantang ia menyuarakan nama Reyna.


"REYNA... MAUKAH KAMU MENJADI PACAR KU?."


Yasya tertegun ketika Hengky menembak Reyna didepan semua siswa dengan sebuket bunga, seketika raut wajah pria itu kaku seketika. Segera ia melangkahkan kakinya keluar dari gedung sekolah itu.


Yasya duduk di bangku halaman depan sekolah. Bunga setangkai dan harapannya mungkin tidaklah berarti apa-apa, daripada sebuket mawar dan seluruh perhatian dari Hengky selama ini padanya.


Yasya melihat Reyna tengah memegang bunga yang diberikan oleh Hengky, dan betapa serasinya mereka saat berpelukan. Pria itu tidak dapat mendengar suara mereka dari balik jendela namun suara sorakan dari para siswa membuat Yasya yakin bahwa Reyna telah menerima Hengky sebagai kekasihnya.


Yasya tersenyum nanar melihat pemandangan itu. Ia melangkahkan kakinya dan segera meninggalkan gedung sekolah.


Saat itu juga ia baru menyadari, bahwa Reyna bukanlah pilihan Tuhan untuk bersanding dengan Yasya. Ia bahkan melupakan Syahbila dan Hengky. Mereka berhak mendapatkan cinta, terutama Syahbila kekasihnya sendiri.


Ia mulai menerima Syahbila kembali dan berencana untuk melamar dirinya. Dan alhasil keluarga mereka saling bertemu. Namun pria itu tak bisa mengelak ketika perasaan cinta itu selalu datang lagi dan lagi.


Flashback off


"Come on Irya, kamu dan Bila akan segera bertunangan, sedangkan dia adalah milik Hengky. Ini hanyalah sebuah simpati, jangan terbawa perasaan. Lagi pula, kamu harus ingat status mu dan dia" ucap Yasya frustasi.


***


tak tak tak....


Suara langkah Reyna memenuhi ruangan toko kecil milik pria tampan blasteran yang tengah duduk di bangku panjang halamannya.


"Kakak Zayn...." sapa Reyna dengan menepuk pundak Zayn dari belakang.


"Reyna kecil, tumben kesini? udah lama nggak kesini baru inget sama kakak mu ini ya."


Reyna segera duduk bersebelahan dengan Zayn, wajahnya tampak muram dengan bibirnya yang mengerucut sebal.


"Siapa bilang Reyna lupa, aku cuma sibuk aja."


Zayn terkekeh melihat tingkah gadis cantik disebelahnya ini. Tangannya mencubit pipi imut Reyna.


"Aw... sakit... sakit" rintih gadis itu dengan manja.


"Makanya jangan gitu, kan jadi gemes liatnya."


Zayn memperhatikan bagian lutut Reyna yang tengah diperban.


"Reyna... lutut kamu kenapa?" tanyanya dengan nada cemas.

__ADS_1


"Cuma kecelakaan kecil, aku nggak sengaja kesandung... jatuh deh" kata Reyna dengan santai.


"Kamu ini... lain kali kalau jalan hati-hati... jangan ceroboh" ujar Zayn dengan senyum dan mengacak rambut Reyna yang tengah tergerai indah.


Zayn masih sibuk dengan gitar yang ia pegang untuk memperbaiki beberapa nada. Reyna tampak antusias memperhatikan Zayn yang kala itu serius dengan kegiatannya. Terlihat Zayn yang terus tersenyum, bahkan Reyna selama ini tidak pernah melihat wajah pria ini sedih sedikitpun.


"Kakak sebenarnya pernah sedih nggak sih?" tanya gadis itu penasaran.


"Kenapa kamu tanya begitu?" pria itu menaikkan sebelah alisnya dan masih tak bergeming dari pekerjaannya.


"Doalnya, kak Zayn selalu senyum, aku heran deh... apa kakak nggak punya ekspresi lain gitu?."


"Haha... memang kalo senyum terus nggak boleh ya."


"Ya... boleh sih cuma katanya abang ku, senyum itu ibadah, tapi kalo senyum-senyum sendiri itu namanya musibah" Zayn menaikkan sebelah alisnya, menatap Reyna dengan tawa yang sedikit ia tahan.


"Hahahaha... musibah buat siapa?"


"Musibah buat keluarga dari orang yang suka senyum-senyum sendiri."


"HAhaha... Reyna, tau nggak, obat yang paling manjur didunia ini apa?"


"Apa?" tanya Reyna penasaran.


"Senyum dong.... karena dengan senyum, sakit apapun yang kita rasakan akan menjadi doa dari kesembuhan kita sendiri... Orang yang tersenyum biasanya fikirannya selalu positif."


"Aku nggak faham" kata gadis itu dengan ucapannya yang begitu polos.


"Ya sudah kalo nggak faham... kamu fahami dulu tangga nada yang ada di gitar ini" Zayn memberikan gitar yang baru ia utak-atik untuk dimainkan oleh Reyna.


Reyna memainkan gitar itu perlahan, permainannya semakin mahir selama hari-hari terakhir ini. Membuat Zayn bangga dengan gadis yang ia anggap sebagai adiknya itu. Selain ilmu yang diajarkan olehnya, namun berkat keinginan Reyna, akhirnya dia bisa memainkan gitar itu dengan indah.


"Wow... bagus... bahkan permainan kamu sudah seperti ahlinya" kata Zayn kagum pada gadis satu ini. Bahkan hanya seminggu ia belajar tapi niat didalam hatinya serta bakat yang ia miliki membuat pria itu tak bisa mengelak kehebatan gadis itu.


"Ini kan berkat kak Zayn juga, emmm oh ya, aku ada janji mau kerumah teman... besok ada ujian, jadi kakak do'ain aku ya" Zayn tersenyum simpul dan mengangguk.


"Semangat ya" kata pria blasteran itu menyemangati. Membuat senyum mengembang terpancar di wajah cantik Reyna.


***


ting tong... ting tong...


Suara bel pintu berbunyi, membuat pria tinggi itu menoleh dan segera membukakan pintu.


ceklek....


"Hay" sapa Reyna dengan senyuman dan mata yang berbinar-binar. Tampak dirinya membawa beberapa buku yang ada ditangan dan ransel kecil dipunggungnya.


'Memang Reyna... selalu pandai menyembunyikan sesuatu' batin Hengky yang tengah berdiri dihadapan gadis cantik itu.


"Silahkan masuk..." kata Hengky mempersilahkan, membuat Reyna mengangguk dan mengikuti langkah pria itu dari belakang.


"Kita masuk keruangan khusus belajar yuk" ajak pria itu pada Reyna, membuat gadis itu mengangguk patuh.


Reyna mengikuti langkah kaki Hengky memasuki ruangan besar dengan beberapa rak buku disana. Hampir semua buku disini lengkap, meskipun tidak sebesar perpustakaan sekolah, tapi lumayan untuk belajar.


"Reyna, kamu duduk disini dulu ya, aku ambilkan camilan."


"Ky... nggak usah repot-repot... nanti aja nyemil nya."


"Oke... kita mulai belajar..." Reyna mengangguk patuh, dirinya mengambil buku yang ia bawa, sedangkan Hengky mengambil beberapa buku dirak. Setelah menemukan buku yang ia cari, Hengky segera mengambil posisi duduk disebelah Reyna.


Mereka terlihat serius untuk belajar, terkecuali Hengky. Tampak dirinya yang sesekali mencuri pandang ke arah Reyna.


'Apa dia benar-benar tidak sedih sedikitpun, atau dia pura-pura? apa aku tanya langsung saja ya' batin Hengky, dengan fikirannya yang penuh dengan masalah gadis itu. Dia mempersiapkan diri untuk bertanya langsung perihal masalah keluarganya. Hengky menarik nafasnya dalam-dalam.


"Rey...."


"Ky... ini maksud soalnya gimana??? aku nggak faham" Hengky menghembuskan nafasnya tatkala Reyna terlebih dahulu bertanya perihal soal pelajaran. Diurungkannya rasa penasaran dalam benaknya, dan mencoba untuk bersikap biasa.


"Mana coba ku lihat...." Hengky mulai menelaah soal itu, dia kemudian memberikan penjelasan kepada Reyna.


Tutur Hengky menjelaskan, membuat Reyna mengangguk paham.


"Ohhh gitu... makasih ya Ky" Hengky masih menatap Reyna yang masih serius dengan pelajarannya. Dia tampak ragu untuk menanyakan hal itu. Dia takut masa belajar Reyna terganggu, apalagi besok hari pertama ujian.

__ADS_1


__ADS_2