The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Konspirasi


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya tengah mengemudikan mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang ditengah jalanan ibu kota.


Terlihat dia tersenyum puas, dan dilepaskannya kaca mata hitam yang ia kenakan, ditatapnya sang gadis yang memakai seragam biru putih lengkap disamping kemudiannya.


"Ma... aku nggak nyangka deh, keluarga Rey gampang banget buat kita kibulin, hahahaha" ucap gadis itu dengan tawanya yang keras.


"Sssttt jangan keras-keras, nanti terdengar."


"Pftttt.... hahahaha, ternyata selera humor mama masih tinggi juga."


"Mau bagaimana lagi Key... kita harusnya lebih banyak tertawa, tapi bukan sekarang nak, namun setelah dendam papamu terbalaskan!" ucap wanita itu penuh penekanan dan sorot mata yang tajam.


"Ma... apa mama nggak salah menargetkan ****** itu, kenapa kita nggak buat Reyhan menjauh juga dari keluarganya" tanya Keyla dengan penasaran.


Matanya berputar sebal oleh sang ibu.


"Ck.. ck.. ck... dua orang musuh akan menjadi sangat sulit untuk kita kalahkan, apalagi dia adalah Reyhan, pemikirannya sudah dewasa, tapi Reyna? dia masih belum mengerti apa-apa, tenanglah sayang, ini baru permulaan, sebentar lagi kita akan menembak dua burung dengan satu lemparan batu" kata Cintiya dengan kepercayaan dirinya.


"Cih... mama terlalu percaya diri" kata Keyla meremehkan.


Pandangannya masih setia menatap jalanan sembari melipat kedua tangannya.


"Ow kamu meremehkan orang tua tunggal mu ini nak, baiklah... cari sesuatu yang ada dibawahmu" perintah Cintya membuat Keyla mengerucut sebal. Pandangannya beralih menatap Cintya malas.


"Mama... kenapa harus ditaruh dibawah, repot tau" Keyla meraba-raba kolong tempat ia duduk, dia tampak kesulitan mencari tas yang dimaksudkan mamanya itu. Tak lama kemudian, dia menemukan botol obat dan diangkatnya botol itu.


"Ini apa ma?" tanya Keyla penasaran. Memang sudah diakui olehnya jika mamanya sedikit gila akibat meninggalnya ayah Keyla. Begitu bencinya ia pada keluarga Malik pasti dulunya keluarga itu sangat membuat Cintya saki hati hingga berjanji untuk membalaskan dendamnya pada sang suami.


"Itu adalah obat untuk membuat si tua bangka Reynaldi mati dengan perlahan" ujar wanita itu dengan tatapan tajam mengarah ke depan. Ia menyunggingkan senyum miring seolah semuanya akan berjalan dengan apa yang ia rencanakan.


"Setiap detik, setiap menit bahkan jam, kita akan melihat sendiri betapa menderitanya dia menjelang kematiannya" lanjutnya lagi.


Segera dia menghentikan mobilnya tatkala tengah sampai di sekolah Keyla.


"Wahhh ide mama bagus juga, kalo gituaku berangkat dulu ya, ini udah nyampe sekolah."


"Eeiiii... kamu belum kuberitahu apa tugas mu Key. Inget ya pesan mama, buang isi dari vitamin Reynaldi dikamarnya, dan tukar dengan obat ini. Dan kamu tenang aja, isi vitamin dan obat ini sama, jadi kamu nggak perlu khawatir kita bakal ketauan. Maka selama sepekan ini, dia pasti akan merasakan apa yang dirasakan papamu."


"Maksud mama apa? aku nggak ngerti" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Bodoh... lakuin aja apa yang mama perintahin ke kamu, kamu akan segera tau jika sudah waktunya."


"Iya iya ma, cerewet banget sih, mama pulang aja, aku bawa ini... serahin semuanya ke aku" ucap Keyla dan segera keluar dar dalam mobil.


Terlihat wanita itu mengenakan kacamatanya lagi, dan tersenyum jahat.


***


Flashback on.


"Roy... gue punya tugas buat lo, harus berhasil malam ini juga. Masalah bayaran gampang."


Suara seorang wanita tengah duduk disebuah kursi mewah, dilemparnya segepok uang kepada seorang pria bertubuh besar dihadapannya. Wanita itu mengintruksikan agar Roy mendekat untuk ia bisikkan sesuatu.


"Oke tapi apa lo bisa jamin kalo Reynaldi bakal ngampunin gue, kalo dia tau gue main sama wanitanya."


"Tugas itu cuma pura-pura dan yang lainnya biar gue yang urus" ucap Cintya dengan senyum yang tersungging dipipinya.


"Berapa kompensasi yang berani lo kasih buat gue kalau gue kena imbasnya nanti. Gue nggak mau ya kalo gue jadi korban... gini aja, kalau lo mau ngasih gue 5 kali lipat dari ini gue bakal pastiin kalau rencana lo bisa berjalan memuaskan, atau kalau nggak rencana lo bakal sia-sia."


"Besar juga nyali lo, oke gue turutin kali ini aja kalau lo sampai merasa gue, lo bakal tau akibatnya... gimana deal?"


"Oke, gue jamin gue nggak bakal macem-macem, pegang omongan gue... deal."

__ADS_1


Mereka saling berjabat tangan, dan Roy segera pergi dari hadapan wanita paruh baya itu sembari mengambil uang yang diberikan olehnya tadi dengan senyum miringnya.


***


Malam pun tiba, sebuah pesta diselenggarakan di gedung megah nan mewah. Pesta untuk kesuksesan dari perusahaan milik Frangky group, dihadiri oleh banyak rekan-rekan bisnis yang berpengaruh termasuk keluarga Malik.


Terlihat wanita paruh baya yang masih menampilkan wajah cantiknya bersama sang suami tengah berbincang-bincang dengan beberapa orang.


"Selamat malam Almira."


Almira menoleh dengan senyuman anggun seperti biasanya. Ia mendapati sahabatnya yang kini tengah tersenyum kearahnya dan memberikan senyuman.


"Malam Cintiya, nggak nyangka ya, kamu datang juga" balas Almira yang kini membalas senyuman dari wanita itu.


"Iya dong, keluarga Frangky kan keluarga ternama, siapa yang nggak kenal mereka" kata Cintya memulai pembicaraan.


"Ngomong-ngomong, kita udah temenan lama, apa kamu nggak pengen main ke rumah kita" kata Almira menawarkan. Wanita dihadapannya mengangguk dan tersenyum seseorang pelayan yang lewat membawa dubbuah minuman dan kini dengan cekatan Cintya mengambil dua gelas itu.


"Boleh, tapi kapan-kapan aja ya soalnya masih sibuk urusan kerjaan, hemmm gimana kalo kita bersulang" kata Cintya dengan senyum yang penuh tanda tanya dan memberikan segelas jus untuk sahabatnya.


"Maaf, aku nggak bisa minum" Almira menggeleng dan menolak tawaran Cintya. Ia selama ini memang tidak pernah menyentuh minuman beralkohol karena tidak baik bagi kesehatan.


"Ini bukan sampanye, ini jus biasa... kalo nggak percaya, coba cium aromanya" kata Cintya meyakinkan membuat Almira tersenyum sembari melirik jus tersebut.


"Oh, Nggak perlulah aku percaya kok sama kamu" Cintya tersenyum, ia mengangkat gelasnya dan dengan segera Almira membalas.


Ting...


Almira dan Cintya perlahan meminum minuman mereka masing-masing.


'minumlah Mira... minum yang banyak, setelah itu... kehancuran akan menjadi bagian dari hidupmu' batin Cintya dengan senyum jahatnya sambil terus meminum sampanye yang berada di tangannya.


Beberapa menit kemudian Almira merasa pening dikepalanya. Badannya terasa panas.


"Mira, kamu kenapa?" tanya Reynaldi sambil menopang tubuhnya.


"Ada apa Mira? kamu kayaknya lagi nggak enak badan" tanya Cintya dengan tatapan penuh empati.


"Nggak apa-apa aku cuma mau ke kamar mandi bentar" katanya sembari tersenyum dan mengalihkan suasana agar orang-orang disekitarnya tidak akan khawatir padanya.


"Mau aku antar?" ucap Reynaldi menawarkan, Almira menggeleng pelan. Dirinya menguatkan tubuhnya untuk tetap berjalan seperti biasa.


"Nggak apa-apa mas, aku bisa sendiri kok, aku baik-baik aja, lagian aku cuma pengen cuci muka kok."


" Kalo gitu ati-ati ya, cepetan balik dan jangan lama-lama" kata Reynaldi dengan tatapannya yang sedikit cemas.


Setengah jam kemudian, Almira belum juga kembali dari kamar mandi, hal itu membuat Reynaldi merasa khawatir.


"Cintya... kamu tadi lihat Almira udah nyampe di sini belum?" tanya pria itu dengan nada yang penuh dengan kecemasan.


"Aku belum lihat tuh, kamu tenang dulu kita cari aja gimana?" ucap Cintya menawarkan. Pria itu menuruti tawaran Cintya yang yang membuat pikirannya sedikit lega.


"Iya bantu aku cek dia di toilet ya" Cintya mengangguk, dengan segera lelaki itu melangkah menuju arah toilet.


Cintya menyunggingkan senyumnya, dirinya merasa tak sabar ingin melihat pertunjukan setelah ini.


drtt... drtt...


Cintya menghentikan langkahnya, dia menatap layar ponsel dan mendapat notifikasi pesan dari Roy.


'Rencana sudah beres, ajak Reynaldi kekamar VIP.'


Isi pesan dari Roy membuat wanita itu bergegas.

__ADS_1


"Rey... aku enggak nemuin dia di sini, dari tadi aku coba tanya tanya ke orang-orang tapi mereka juga nggak tahu" kata Cintya dengan wajahnya yang berpura-pura khawatir.


"D sana juga nggak ada? telfonnya juga nggak diangkat" kata Reynaldi menimpali dengan wajahnya yang semakin cemas.


"Coba aku yang telfon dulu, kamu tenang aja ya"


Cintya mencoba menghubungi nomor telepon Almira. Setelah beberapa detik kemudian.


"Ah, Rey telfonnya diangkat, akan aku keraskan suaranya."


Reynaldi mengangguk. Dengan segera tangannya meraih ponsel yang kini disodorkan oleh Cintya padanya.


"Halo, Almira... kamu ada dimana ?" suara Reynaldi tampak semakin khawatir. Ia menunggu jawaban dari sebrang sana yang tak terdengar berisik seperti teriakan seorang lelaki. Sontak mata pria itu membelalak.


"Mira... beri aku anak lagi, ah... kamu telah melahirkan putri cantik seperti Reyna... kali ini aku juga ingin seorang putra" suara desahan keras dari balik ponsel membuat rahang Reynaldi mengeras. Wajahnya merah padam, dirinya terkejut bukan main. Segera dilemparnya ponsel milik Cintya.


"Reynaldi?!" teriak Cintya histeris, dengan kerutan didahinya. Ia terkejut Reynaldi membanting ponsel miliknya.


"Apa-apaan ini.... dimana dia?!" teriaknya lagi dengan amarahnya yang tak tertahankan.


"Tenangkan dirimu, ada sebuah kamar VIP dilantai dua... dan..." kata Cintya terpotong oleh kata-kata Reynaldi yang kini termakan amarah.


"AKU TIDAK PERDULI!" Reynaldi berjalan cepat dengan wajah yang penuh dengan amarah, rahangnya mengeras, matanya menatap tajam meninggalkan Cintya yang masih berdiri jauh dibelakangnya. Wanita itu tersenyum puas, pandangannya seolah menikmati suasana yang mencengangkan malam ini.


BRAAAAKKKKKK


Suara dobrakan dari pintu, membuat engsel pintu rusak pada saat itu juga. Terlihat Almira dan seorang pria tengah tidur telanjang di ranjang berukuran king size. Mereka terlihat tertidur pulas hingga tak menyadari keberadaan seseorang disana. Terlihat pakaian mereka yang berantakan dilantai, membuat pandangan Reynaldi yakin bahwa mereka baru saja melakukan hubungan intim.


Reynaldi naik pitam, wajahnya semakin panas melihat pemandangan dihadapannya. Ditariknya lelaki itu yang tengah memakai boxer, dan dengan cepat pria itu tersadar dalam tidurnya.


"BERANI-BERANINYA KAMU BERBUAT SEPERTI INI DENGAN ISTRI KU!" teriak Reynaldi, membuat Cintya muncul di balik puntu, dan membuatnya mengulas senyum.


BUUKKKKK


sebuah tinjuan mendarat dipipi pria yang tengah tersungkur dihadapan Reynaldi.


"BANGUN!!" teriakan pria itu membangunkan Almira. Wanita itu tersentak dan segera bangun dari tidurnya yang begitu pulas. Ditatapnya suami yang tengah menampakkan wajah amarah pada dirinya.


"Apa yang terjadi suamiku?" tanya Almira bingung, dirinya memegang sebelah pelipisnya yang terasa pusing.


"Jangan panggil aku sebagai suamimu! lihat keadaan mu Mira! kamu tega Mira, mengkhianati pernikahan kita yang terjalin bertahun-tahun! Bahkan .. Reyna yang selama ini kukira adalah anakku, ternyata dia adalah anak dari siluman ini... anak Haram dari perselingkuhan mu" Almira menatap tubuhnya yang dibalut oleh selimut tebal yang membungkus tubuh polosnya. Almira menatap pria yang tengah berada diatas lantai, tersungkur dengan beberapa bekas tinjuan dari Reynaldi.


"Apa yang kamu maksud... Reyna adalah anak kita... dia anak kandung mu... aku tidak..." Plakkkkk...


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Almira, belum sempat ia menjelaskan, namun dia harus pasrah dengan tuduhan yang dilayangkan padanya. Hal hina yang tidak mungkin dan tidak akan ia lakukan, terlihat matanya yang berkaca-kaca.


"Aku nggak butuh penjelasan lagi, kita cerai!" teriak Reynaldi dengan tatapan tajamnya, penuh kecewa, dan luka serta matanya yang kini berkaca-kaca.


"Tunggu, Rey... Reynaldi, aku tidak pernah mengkhianati kamu, sumpah!."


"SUDAH CUKUP! jangan pernah bersumpah untuk hal menjijikkan seperti ini" dengan cepat langkah Reynaldi meninggalkan kamar itu meninggalkan Almira yang terdiam dengan air mata yang semakin bercucuran.


"Reynal... tenangkan dirimu... jangan bertindak gegabah" ucap Cintya dari balik pintu, tangannya mencoba meraih pundak pria itu, namun gerakannya ditepis. Reynaldi meninggalkan tempat itu dengan rasa kecewa.


Cintya tersenyum puas, dirinya menikmati pertunjukan yang ingin ia saksikan selama bertahun-tahun lamanya. Namun tujuannya baru akan segera terwujud satu persatu.


Flashback off.


Cintya tersenyum puas mengingat kejadian 2 tahun lalu, tepat dimana drama ini baru dimulai. Saat itulah dirinya merasa mulai membuka hal yang baru, dengan dendamnya yang membara.


"Keluarga yang begitu bodoh... hahahaha aku beruntung sekali semua berjalan dengan sempurna... dan sebentar lagi" Cintya mengeluarkan foto dari balik sakunya. Memperlihatkan foto keluarga Malik, dimana Almira dan Reyna telah tercoret oleh bolpoin berwarna merah. Senyum liciknya membuat dirinya menjadi iblis yang bertujuan menghancurkan kebahagiaan dari keluarga yang sangat ia benci.


"Ck... ck... ck... Reynaldi.. kamu akan membayar... membayar semua yang telah kamu perbuat, mungkin suamiku mati mengenaskan begitu saja, tapi kamu hahahaha... kamu akan mati perlahan, sehingga aku akan menikmatinya, dan tinggallah anakmu yang tampan ini akan menjadi maskot ku pada akhirnya."

__ADS_1


Cintya tertawa dengan keras, membuat bulu kuduk berdiri terhadap setiap orang yang mendengarnya.


__ADS_2