
Seorang gadis terlihat menunggu dokter yang telah lama masuk keruangan laboratorium. Pria disampingnya menatap lekat wajah yang selama ini ia kenali.
"Ikut aku," ucap Satya menarik lengan Reyna yang sedang duduk diruang tunggu.
"Kak mau kemana? dokter sebentar lagi akan keluar."
Pria itu menatap Reyna dengan tatapan tajam. Membuat Reyna menurut dengan cepat.
"Oke, oke aku ikut" kata Reyna yang saat ini memperlihatkan perban jahitan yang ada di sudut bibirnya.
Satya mengajak Reyna berjalan kearah ruangan dimana Reynaldi dirawat, membuat gadis cantik itu mengerutkan dahinya.
"Kak, kita mau keruangan itu?" tanya Reyna pada pria yang baru saja ia kenal itu.
"Kenapa? kamu tidak mau menjenguk penyelamat mu?" sahut Satya dengan pandangannya yang begitu tajam.
"Bu, bukan seperti itu, kita jangan masuk begitu saja, kita mengintip dibalik pintu bagaimana?" perkataan Reyna membuat langkah kaki Satya terhenti. Hati Satya tidak bisa dibohongi, rasanya ada yang tidak beres dengan perilaku gadis dihadapannya. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh Reyna, membuat fikiran penasarannya meronta.
"Baiklah, ayo kalau begitu."
Satya membiarkan Reyna untuk melihat keadaan sosok tubuh pria paruh baya yang tengah terbaring disana. Duduk diruang tunggu mengawasi kegiatan Reyna yang tampak antusias dan matanya yang menyiratkan sebuah kesedihan.
Dering ponsel pria itu membuat pandangannya teralihkan, mengangkat sebuah panggilan dari sahabatnya yang telah selesai melakukan ujian skripsi.
"Halo," ujar Satya santai.
"Bro, gue lulus ujian skripsi!" kata Yasya dengan suaranya yang terdengar senang.
"Serius lo?! semangat ya bro, gue ikut seneng dengernya, gue nungguin traktiran nih" ujarnya dengan semangat.
"Iya iya, itu gampang." Kata Yasya dengan bangga.
"Btw, gue lagi sama cewek lo nih" kata Satya dengan nada menggoda.
"Cewek gue? maksud lo? Syahbilla?" tanya Yasya dengan fikirannya yang menerawang mengingat apa yang berada difikirkannya.
"Reyna" kata Satya berbisik.
"Ke, kenapa dia bisa sama lo?" tanya Yasya dengan nada sedikit sinis, membuat sahabatnya yang jauh disebrang sana terkekeh.
"Etdahhhh, gue nggak sengaja ketemu sama dia, pas waktu dia habis dihajar orang. Nggak usah cemburu gitu" kata Satya menggoda.
"Re, Reyna?!" suara lemah dari Yasya membuat Satya merasa tak enak hati.
"Bro, dia udah baik-baik aja kok" kata Satya meyakinkan sang sahabat yang kini tengah jauh darinya.
"Kak Satya" suara Reyna membuat Satya mengalihkan pandangannya kearah Reyna yang telah menatapnya.
__ADS_1
"Bro, bentar ya, nanti gue telfon lagi."
"Tapi sat" segera ia menutup panggilan itu.
tut... tut....
Suara panggilan telfon yang terputus membuat pria disebrang sana mendengus kesal.
Sementara itu Satya tak sengaja menatap arah lantai yang berceceran beberapa tetes darah. Dia tampak mengerutkan keningnya, berfikir rasional tentang apa yang tengah ia lihat.
"Kak" kata Reyna yang tengah melambaikan tangannya tepat didepan mata pria itu, membuat Satya tersentak dan melihat tajam kearah gadis yang telah berdiri disampingnya duduk.
"Ada apa?" tanya Satya datar.
"Aku mau lihat rekaman medis dari dokter Al" pintanya membuat Satya dengan terpaksa menuruti apa yang diminta oleh Reyna padanya.
"Oke," ucapnya sambil bangkit dan berjalan mendahului Reyna.
***
"Reyna, dilihat dari golongan darah kamu, dan data kesehatan kamu, kamu cocok dengan kriteria resipien untuk mendonorkan jaringan hati."
Kata dokter yang sedang mengamati sebuah berkas di tangannya.
Wajah bahagia terlukis indah diwajah cantiknya ketika mendengar uji laboratorium yang mengatakan bahwa dia dapat menyumbangkan sebagian hatinya untuk sang ayah.
"Reyna, usia kamu baru menginjak umur 16 tahun, meskipun hati dapat beregenerasi dengan sendirinya dan kemungkinan resiko yang terjadi sangat jarang terjadi, tapi kami takut tubuh kamu tidak mampu mengatasinya, kamu masih terlalu muda" kata dokter menjelaskan.
"Dokter, saya mohon, biarkan saya mendonorkan hati saya untuk beliau" pinta Reyna penuh harap dan juga kesungguhan yang mendalam.
"Reyna, jangan mengambil resiko yang berat, pihak rumah sakit tidak dapat menanggungnya."
"Dokter, saya mohon, apapun solusinya, biarkan saya melakukannya. Bahkan pihak rumah sakit tidak perlu menanggung apapun, kalaupun risiko itu akan terjadi, saya tidak keberatan" ucap Reyna dengan menundukkan wajahnya.
Satya tertegun dengan ucapan Reyna barusan, membuat wajahnya menatap gadis itu dengan pandangan yang serius.
"Heh gadis kecil, memangnya penyelamat mu itu memintamu untuk mendonorkan hati nya? jangan terlalu sombong, kalau keadaan mu tidak bisa ditangani, kamu yang akan menyesal" Ujar Satya dengan kesal.
"Kak, ini adalah keputusan ku" kata Reyna penuh dengan keseriusan dalam matanya.
"Apa kamu yakin Reyna?" tanya dokter Al, kembali meyakinkan keputusan Reyna.
"Saya benar-benar yakin" ujar gadis itu penuh keyakinan yang membara dalam hatinya.
"Baiklah, Kamu tidak perlu terburu-buru untuk melakukan operasi. Tapi demi mengurangi resiko yang ada, ingat untuk selalu menjaga kesehatan kamu, makan-makanan yang bergizi agar kamu tidak terkena anemi, karena kalau tidak, kamu akan mengalami pendarahan yang sangat fatal, istirahat yang cukup agar kamu kekebalan tubuh mu semakin meningkat, mengerti?" kata dokter Al panjang lebar, menasehati Reyna yang kini mulai faham dengan alurnya.
Reyna tampak menimbang-nimbang syarat dari dokter Al, untuk kemudian tanpa ragu dia mengangguk setuju.
__ADS_1
"Baik dok, " ujarnya dengan keputusan yang mantap.
"Bagus, seminggu lagi datanglah kemari, jika dari tes kesehatan kamu lulus untuk melaksanakan operasi, maka kita akan lakukan saat itu juga."
***
"Reyna! Reyna, kamu dimana?!" teriakan Yasya di apartemennya menggema, membuat gadis yang tengah memasak makan malam itu mematikan kompor dan meninggalkannya begitu saja.
"pak Yasya, saya disini, ada apa?" kata Reyna mendekati pria yang tengah berdiri diambang pintu dengan tatapannya yang sayu dan dipenuhi kecemasan.
Pria itu melirik kearah perban di sudut bibirnya.
Yasya berlari dan memeluk tubuh ramping Reyna.
"Reyna, siapa yang memukulmu ha? kenapa bisa seperti ini? siapa orang yang melukaimu, katakan!" Tubuh gadis itu menegang, disela-sela pelukan hangat dari Yasya tersalurkan lewat tubuhnya.
"Pak, tenang, saya sudah tidak apa-apa kok" kata Reyna dengan suaranya yang pelan, mengisyaratkan agar tidak khawatir.
Yasya melepaskan pelukannya dan beralih menarik dagu gadis itu dengan lembut.
"Maaf, saya tidak bisa melindungi mu."
Reyna menggeleng pelan, diraihnya lengan Yasya dan mengajaknya untuk duduk disofa.
"Bapak duduk dulu, mau saya buatkan kopi?" tawar gadis itu pada Yasya yang kini mulai menatapnya datar.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Reyna?!" kata Yasya tegas.
Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bahkan pria dihadapannya dibuat heran dengan sikapnya yang begitu santai.
"Baiklah, saya akan ceritakan, tapi pak Yasya tenang dulu ya."
Yasya mengangguk dan mulai mendengarkan penjelasan Reyna.
"Kakak kamu yang melakukan semua ini?! Reyna, apa kamu tidak mengatakannya? ini semua adalah kesalahpahaman besar, kamu tidak bisa menanggungnya sendiri. Jika Reyhan dan papa mu tau, saya yakin, kamu tidak akan pernah disakiti seperti ini lagi."
Reyna menunduk, merenungi perkataan Yasya.
Mungkin bagi Yasya berkata begitu sangat mudah, namun dihati Reyna masih ada yang mengganjal. Sebenarnya sudah sangat lama dirinya mencurigai Keyla dan Cintya, awalnya hanya firasat, namun lama-kelamaan, mereka menunjukkan sifat aslinya.
Dibalik pengakuannya, mana mungkin Reynaldi dan Reyhan akan percaya, apalagi mereka berdua pasti akan menghalangi gadis itu.
"Pak Yasya, saya sudah tidak apa-apa, ini hanya luka kecil, beberapa hari pasti juga akan sembuh" ujar gadis itu membuat Yasya menatapnya dengan pandangan serius.
"Itu luka jahitan, memang kamu kira saya tidak tau" kata Yasya dengan emosinya yang hendak meledak.
"Maaf, saya tidak ingin membuat pak Yasya khawatir" kata Reyna lagi dengan suaranya yang melemah, mencoba menenangkan kegundahan Yasya.
__ADS_1
Yasya masih enggan untuk menatap wajah Reyna, baginya melihat dirinya terluka adalah pukulan terbesar untuknya. Wajahnya masih menampakkan mimik kekesalan.