
Seorang gadis tengah duduk dan menyetir mobil dengan wajah yang berseri dan ceria.
Peristiwa tadi malam seperti mimpi baginya. Selama ini dia menunggu pertunangannya dengan kekasih hati yang selama ini ia cinta, dan akhirnya itu semua terjadi begitu saja.
Pandangannya beralih kearah jemarinya yang kini melingkar indah sebuah cincin pertunangannya dengan Iryasya.
"Aku nggak nyangka bisa secepat ini, akhirnya, akhirnya... aku sah menjadi tunangan Yasya ucapnya dengan nada bahagia dan wajah yang merona.
Sementara itu, Yasya tengah bersiap untuk berangkat kuliah, bahkan dia hampir lupa untuk berangkat bersama Syahbilla.
Pria itu tengah siap dengan kemeja dan almamater kampusnya, serta celana jeans melengkapi pakaiannya kali ini.
Dilangkahkan kakinya menuju teras dan bersiap untuk menunggu kekasihnya itu.
"Yasya," suara familiar terdengar ditelinganya membuat tubuhnya berbalik menatap sosok sahabatnya. Yasya tersenyum ke arah Satya yang kini mendekat ke arahnya.
"Satya, udah disini aja lo pagi-pagi" kata Yasya pada sahabatnya
"Gue cuma mau mastiin kalau lo udah pulang, ya meskipun mami nggak khawatir, tapi gue yang lebih tau perasaan lo."
"Gue baik-baik aja kok" ucap Yasya dengan penuh keyakinan. Membuat sahabatnya tersenyum membalas.
"Tapi kenapa gue nggak yakin ya, masalah Reyna" tiba-tiba saja perkataan dari Satya dipotong sepihak oleh Yasya yang kini tak ingin mengungkit masalah gadis itu.
"Sat... stop! gue nggak mau bahas itu lagi" kata ya sambil membuang muka.
"Damn! lo jangan bersikap egois kaya gini Sya, gue sahabat lo, kita udah kaya saudara kan? gue yang lebih peka sama perasaan lo" kata Satya sedikit memaksa.
"Gue udah janji, gue nggak bakal ngecewain mami Sat, dan sekarang, saatnya gue menyerah. Mungkin Reyna memang bukan takdir gue" kata pria itu pasrah.
"Sya, lo boleh ngelupain dia semau lo., tapi dengan perhatian dan kasih sayang dari lo selama ini, apa lo fikir dia nggak baper? gimana kalo selama lo suka sama dia dan ternyata dia juga ngerasain hal yang sama.. apa lo nggak mikir haaa?!" jelas Satya panjang lebar.
Yasya hanya diam tanpa kata, dia mulai mencerna kata-kata Satya satu persatu. Namun keadaannya tidak semudah yang dibayangkan, perasaannya tidak mudah untuk melukai hati keluarganya. Terlebih ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.
"Satya, gue tau apa maksud dari kata-kata lo, tapi gue udah nggak bisa."
"Gue kecewa sama lo, tega-teganya lo ninggalin gadis polos yang selama ini pura-pura kuat, meski gue nggak pernah ketemu sama dia, tapi gue lebih ngerti masalah ini Sya, dan disaat-saat kayak gini seharusnya lo ada di samping dia."
Satya hendak pergi dengan wajahnya yang memerah menahan amarah, namun lengannya ditahan oleh Yasya.
"Sat " panggilan dari Yasya bahkan tidak digubris oleh Satya.
"Jangan sampe lo nyesel Sya, dan jangan bilang gue gak peringatin ke lo" ucapan Satya dengan wajahnya yang kecewa, tangan Yasya dihempaskan olehnya dan segera keluar dari kediaman keluarga Ferdiansyah.
Yasya masih diam mematung, merasakan kata-kata Satya yang menohok hatinya. Meskipun dia tau apa yang dikatakan Satya memang benar, tapi pendiriannya masih kukuh.
"Sayang...." suara seorang gadis yang tengah berdiri diambang pintu, membuat Yasya menoleh dan menatap wajah cantik kekasihnya.
"Kita berangkat?" tanya Yasya dan segera mendekat ke arah Syahbilla.
"Yuk" balasnya dengan memeluk lengan pria itu.
Sementara itu di dalam mobil Yasya masih termenung, ia terdiam seolah merenungkan apa yang dikatakan Satya padanya pagi tadi.
"Sayang, tau nggak, mama udah siapin gaun pernikahan kita dari sekarang lo! kira-kira kamu gimana?" uapan Syahbilla bahkan tidak digubris oleh Yasya yang tengah fokus menatap jalanan didepannya. Wajahnya memang terlihat fokus, namun tatapannya seolah menyiratkan kehampaan dan kegelisahan.
"Sayang, kamu kenapa? kok melamun?" tanya Syahbilla sambil menyentuh lembut pundak Yasya dan bersandar disana, membuat Yasya terbangun dari lamunannya.
"Ah, nggak apa-apa kok" ujar yang kini mulai menampakan senyumnya.
"Kamu lagi ada masalah ya sama Satya? aku lihat dia tadi keluar dari rumah kaya kesel gitu?" pertanyaan dari Syahbilla dibalas gelengan dari pria itu.
"cuma salah paham aja kok... kamu nggak perlu khawatir..."
Ujar Yasya yang masih fokus menyetir.
Ckiiiiittttt.....
Tiba-tiba saja Yasya mengerem laju mobilnya dengan mendadak, membuat mereka berdua terdorong ke depan.
"Yasya.... kamu apa-apaan sih...!!!!"
Ucap Syahbilla dengan nada tinggi. Namun pandangan pria itu melihat kearah sudut jalan dimana menampakkan dua sosok yang sangat ia kenal bermain gitar bersama.
__ADS_1
'Reyna... Hengky??? mereka berdua kenapa disini??? ah aku lupa, hari ini mereka libur panjang.. kenapa... kenapa dadaku terasa sangat sakit??? seperti ada batu yang sangat besar menghantam hatiku'
Batin Yasya.
"Sayang... kamu lagi lihat apa sih???"
"maaf, tadi sepertinya aku melihat orang yang aku kenal, ternyata bukan..."
"aku kira apa..."
Yasya mulai mengalihkan pandangannya, dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
'aku harus bertemu dengan Reyna... dia sudah punya Hengky dan juga Zayn yang selalu menjaganya... walaupun aku ingin, tapi cepat atau lambat, aku harus melupakan gadis itu... Reyna... andai kamu tahu betapa aku sangat mencintaimu... aku menderita dengan semua ini... tapi, aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah mengecewakan orang tua ku'
Batin pria itu dengan masih fokus pada jalanan didepannya.
.
.
.
.
.
.
"kyky..."
"hemmm???"
Entah mengapa perasaan Reyna tidak bisa dibohongi lagi, setiap saat setiap waktu, hatinya selalu merindukan Yasya. Apalagi pagi ini, Reyna merasa ada yang salah dengan sikap Yasya terhadapnya.
"Rey... ada apa???"
"aku... aku harus pulang dulu... aku ada urusan sebentar..."
"lah... kita belum ada sejam disini ..masa kamu mau pergi gitu aja..."
"Rey... Reyna..."
Reyna segera meraih ransel gitar yang berada dibelakangnya. Tanpa menggubris perkataan dari sahabatnya itu dia langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
.
.
.
_____________________________________________
.
.
.
"Tiba-tiba aku kangen sama papa dan bang rey... gimana keadaan mereka ya???"
Gumam Reyna dan berjalan perlahan disebuah jalanan yang sepi.
Ada rasa rindu menyelimuti dirinya, bahkan cita-citanya yang ingin menyatukan keluarganya kembali kini hanya seperti sebuah angan-angan saja. Almira telah pergi dari hidupnya, dan kini tinggallah Reynaldi dan Reyhan yang bahkan tidak mempercayainya.
drrtt.. drttt...
Reyna meraih ponsel yang berada di tasnya.
"Ha...."
"Halloooo Reynaaaaaaaaa....!!!!!!"
Bisa ditebak suara cempreng itu mengarah ke sahabat gila nya, siapa lagi kalau bukan Kanaya.
__ADS_1
"brisik....!!!!"
Reyna mengalihkan pandangannya kearah pohon besar dan bangku panjang dibawahnya. Dia kemudian duduk disana untuk mengobrol dengan Kanaya lewat telfon.
"rey... gue bosen nih... hari libur nggak ada kegiatan sama sekali... kesini kek..."
"gue sibuk..."
"sibuk apaan lo??? palingan sibuk kencan sama pak Yasya kan..."
"nggak kok... udah lama gue nggak ketemu sama bang rey dan papa... gue mau nemuin mereka dulu..."
"Whatttt????!!!! hey... lo mau ditonjokin sama mereka lagi... lo nggak kapok haa???"
"huhhh... gue lupa mau ngasih tau lo kabar..."
"kabar apa???"
"kabarnya ada dua sih baik baik dan buruk... lo mau yang mana dulu nih???"
"gue nggak suka kabar buruk, jadi kabar yang baik aja dulu dehhh..."
"oke satu kabar... dua juta..."
"ehhh busyeettt nih anak, habis makan kadal ya lo... tiba-tiba matre gini..."
"hehehe... becanda gue... oke... kabar baiknya adalah, ternyata gue adalah anak kandung papa gue... ternyata semuanya cuma salah paham aja nay..."
"What????!!! eh serius lo??? nggak bo'ong kan??? gue nggak salah denger nih???"
"iya... masa sih gue mau bohong sama lo masalah kaya gini..."
"wahh... gue ikut seneng Rey dengernya... eh btw lo tau darimana kalo papa lo cuma salah paham??? lo nggak asal nebak aja kan???"
"gila lo....!!!! ya nggak lah... nah ini dia, gue tau soal ini ada hubungannya sama kabar buruk dari gue..."
"kabar buruknya apa???"
"tapi janji ya jangan kasih tau siapa-siapa..."
"aelah nyet... kaya nggak tau gue aja lo..."
"nay... nyokap gue nay..."
"kenapa??? nyokap lo udah ketemu???"
"iya... tapi... meninggal..."
Ucap Reyna dengan nada yang semakin lemah. Membuat gadis disebrang sana membelalakkan matanya, dan terkejut bukan main.
"Reyna... lo jangan bercanda dong..."
"gue nggak bercanda... gue serius..."
"Rey... gue turut berduka... maaf, gue nggak ada disamping lo waktu itu"
Ucapan Kanaya begitu lemah, air matanya tanpa sadar menetes.
"nggak apa-apa kok... santai aja... gue udah biasa kaya gini..."
"lo sekarang dimana??? gue jemput ya..."
"nggak perlu... gue mau kerumah papa aja"
"apa keluarga lo udah tau..."
"belum nay... mungkin kalo gue dateng dan tiba-tiba ngasih tau yang sebenernya, bisa jadi mereka nggak akan percaya gitu aja... gue cuma bisa liat mereka dari jauh"
"Reyna... gue ikut lo... tungguin gue, jangan kemana-mana okay... lo dimana sekarang..."
"gue... gue dijalan Melati.."
.
__ADS_1
.
Kanaya dengan cepat menutup telfonnya dan segera bergegas untuk menjemput sahabatnya itu.