
Malam menunjukkan pukul 01.25
Memperlihatkan seorang gadis cantik telah tertidur pulas di ranjang berukuran king size tepat didalam apartemen Yasya.
Brakkkk....
Suara terbuka pintu apartemen yang sangat keras, membuat jiwanya tersadar. Mata yang semula terpejam kini terbuka dengan lebar.
Reyna mulai menyalakan lampu kamarnya, dirinya bangkit dan mulai melangkah ke arah pintu kamar, membukanya dengan perlahan.
"Si.. siapa itu?" ucapnya dengan pelan dan nada ketakutan.
Reyna tak dapat melihat dengan jelas sosok yang telah masuk kedalam apartemen, matanya masih merasakan kantuk walau jantungnya terkejut dengan hebat.
Gadis itu kemudian menyalakan lampu yang sebelumnya mati.
Dia mengedarkan pandangannya kesegala penjuru apartemen untuk melihat sosok itu.
"Pak, pak Yasya" Reyna terkejut tatkala melihat Yasya yang tergeletak diatas lantai. Dengan segera gadis itu menghampiri Yasya, dia menutup pintu dan mencoba membopong tubuh besar pria disampingnya.
Bau alkohol menyeruak, membuat indera penciumannya peka.
"Pak Yasya... bangun" ujarnya ditengah membopong tubuh pria itu.
"Ughht... berat sekali," Reyna mencoba sekuat tenaga untuk membawa Yasya kearah kamar dan dilemparnya tubuh kekar itu diatas kasur.
"Pak Yasya, kenapa bisa mabuk seperti ini? apa yang terjadi?" gumamnya dengan pelan.
Yasya masih menutup matanya, gadis itu melepaskan sepatu yang masih dikenakan oleh pria yang telah terbaring lemah itu.
Setelah selesai melepaskan sepatunya, kini dia beralih melepaskan blazer yang masih dikenakan oleh Yasya.
"Pak Yasya, maaf" ujarnya pelan, sambil perlahan tangannya mulai menuju kancing blazer berwarna coklat itu dan melepaskannya.
Hal itu membuat Yasya menggeliat, dan membuka matanya. Mata mereka saling bertemu, namun Reyna masih diam membisu.
"Reyna" panggil Yasya dengan suara seraknya.
"Pak Yasya, saya mau melepas balzer bapak, sebentar, habis ini bapak bisa tidur dengan tenang," ujarnya menjelaskan.
Yasya masih bermain dalam halusinasinya. Dia tak bisa berfikir sama sekali. Diraihnya tangan mungil Reyna dan dengan spontan tubuh mereka berhimpitan membuat Reyna menarik tubuhnya kembali. Namun kekuatannya tidak sebanding dengan cengkraman Yasya dipinggangnya.
"Pak Yasya, bapak sedang mabuk, tolong jangan seperti ini" rengek Reyna dengan suaranya yang memohon.
"Reyna, jangan pergi" ucapan Yasya membuat Reyna mengerutkan keningnya. Yasya membalikkan tubuh gadis itu hingga posisinya berada dibawah pria tampan dengan matanya yang memerah.
"apak Yasya... sadar!" teriak gadis itu dengan mencengkeram kedua lengan Yasya. Namun Yasya tidak bisa mengontrol fikirannya yang kini telah dipengaruhi alkohol sepenuhnya.
"Pak, kenapa bapak seperti ini?" dengan gerakan agresif pria itu mencium bibir Reyna dengan kasar. Reyna kehabisan nafas dan mendorong pundak Yasya dengan kasar.
Yasya mencoba meminta lebih, ia bahkan mencium bagian sensitif Reyna yang masih tertutup piyama miliknya membuat gadis itu menggeliat.
"Pak Yasya... jangan!" Reyna mencoba memberontak, namun tenaganya tak kuasa menahan tubuh panas Yasya saat ini.
Yasya merobek piyama gadis itu, membuat dirinya ketakutan melihat tingkah Yasya yang begitu brutal. Dilepaskannya blazer dan juga kemejanya, dan dibuang kesembarang tempat. Membuat dada bidangnya terlihat dengan jelas.
"Tolong, jangan pak" Reyna memberontak ia memukul kedua dada bidang Yasya tatkala pria itu meminta lebih.
Matanya membelalak ketakutan. Ia merasakan bulir air mata menggenang dipipinya, hingga tak sadar membuat air matanya menetes dengan sempurna.
"Pak Yasya, jangan... hiks" Air mata Reyna mengalir, namun Yasya tetap tak bergeming ia masih melanjutkan aktivitasnya.
__ADS_1
"PAK YASYA!" teriaknya dengan kencang dan memukuli puncak kepala Yasya. Membuat Yasya mendongak, menatap gadis cantik itu yang menangis dibuatnya.
"Jangan menangis Reyna," ujar Yasya yang kini mulai bisa mengontrol emosinya.
"Pak Yasya, saya takut" Reyna mencoba menghapus jejak air matanya, dia menatap lekat pria tampan yang tengah memeluknya saat ini. Matanya memerah terlihat tak berdaya, entah mengapa tatapannya seperti ada beban berat menimpa dirinya.
"Saya mencintai mu Reyna, sangat mencintaimu" kata Yasya dengan suaranya yang begitu pelan namun sangat jelas dipendengaran gadis itu.
Reyna membelalak matanya, dia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Rasa gembira dan bahagia dirasakan dalam hatinya yang paling dalam. Membuat perasaanya yang semula ketakutan kini jantungnya berdegup lebih kencang.
Yasya kembali mencium bibir tipis Reyna, kali ini dengan kelembutan, membuat Reyna terlena sesaat. Dikalungkan tangannya ke leher pria itu.
"Saya mencintai mu Reyna" ucap Yasya yang mulai melemah, pria itu ambruk dipelukan gadis yang sangat ia cintai itu. Dan kesadarannya mulai hilang, digantikan dengan mimpi yang sangat panjang.
Kini Reyna bisa bernafas lega, akhirnya apa yang dilakukan Yasya tidak melampaui larangan. Atau kalau tidak, semuanya akan kacau, meskipun piyama miliknya sempat robek oleh ulah pria yang kini menindihnya namun ia lega karena kesuciannya masih bisa ia jaga.
"Uhhh aku, ti.. tidak bisa bernafas" Reyna masih mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah, tatkala merasakan tubuh Yasya yang menghimpit tubuhnya saat ini.
Nafasnya mulai beraturan, dipeluknya tubuh Yasya yang setengah telanjang.
"Aku juga sangat mencintaimu pak Yasya" kata Reyna pelan, takut membangunkan pria yang kini tertidur pulas diatasnya.
Dikecupnya puncak kepala Yasya yang tepat berada dibawahnya.
Perlahan matanya mulai terpejam, menikmati kehangatan tubuh pria yang sangat ia cintai.
***
Mentari pagi menyeruak, memperdengarkan suara burung-burung kecil bersiulan dipagi hari.
Tepat dihari libur panjang Reyna. Mata terbuka seorang pria yang tengah tertidur dengan setengah telanjang menghimpit tubuh mungil dibawahnya, membuat kepalanya pening.
"Ahhh kepala ku pusing" kata Yasya seraya bangkit dan memijit pelipisnya.
"Pak Yasya... sudah bangun?" pertanyaan itu bahkan seperti tak dapat didengar oleh Yasya. Gelengan kasar dari pria yang kini masih merasakan pusing yang amat samat dikepalanya itu bahkan membuat Reyna tertegun untuk sesaat.
"Apa yang terjadi? kenapa saya tidur disini dan, kamu?" pertanyaan Yasya begitu panik melihat keadaannya kali ini, rambut yang acak-acakan, dan dada bidangnya terpampang jelas terekspos. apalagi ditambah baju tidur Reyna yang tampak robek memperlihatkan bra-nya.
Membuat naluri Yasya sebagai lelaki tergugah di pagi hari.
Glekk ..
Ditelannya saliva dengan kesar dan dengan kesadarannya ia mulai bisa mencerna semuanya. Pria itu buru-buru bangkit dari ranjang dan menjauh dari tubuh Reyna.
"Reyna, kita, kita..." ujar Yasya yang kini mulai ketakutan dengan nada bicaranya yang terbata.
Dengan gerakan cepat, Reyna menutup dadanya dengan kedua tangannya. Gadis itu tersenyum kepada Yasya yang tengah panik.
"Ki... kita tidak melakukannya kok pak, pak Yasya tenang saja" kata Reyna dengan gugup.
"Reyna, apa saya ingin berbuat sesuatu padamu?" Reyna melirik kearah Yasya, dan kembali menunduk.
"Hampir... apa pak Yasya tidak ingat semuanya?" Yasya menggeleng, dirinya bingung dan tak sadar apa yang dilakukannya semalaman.
"Maaf, saya tidak sadar" kata pria itu dengan menunduk bersama dengan wajahnya yang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa" lanjut Reyna yang kini mulai merona, mengingat apa yang dikatakan Yasya semalam.
Yasya mengalihkan pandangannya, dan memungut kemejanya yang berada diatas lantai dan segera memakainya.
Tidak ada ekspresi yang dilontarkan pada pria itu semenjak dirinya bangun tadi. Hanya wajah bingung dan ekspresi tertegun. Membuat Reyna masih diam mematung dan terlihat murung.
__ADS_1
"Pak Yasya" panggilnya membuat Yasya tak bergeming, ia enggan untuk menatap Reyna dan kini posisinya masih bertahan membelakangi gadis itu.
"Hemmm?" jawabnya datar membuat Reyna sedikit kecewa.
"Kenapa pak Yasya bisa mabuk? apa ada masalah?" pertanyaan dari Reyna membuat Yasya terdiam sesaat. Dia tak ingin menatap wajah cantik gadis yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Tidak ada, hanya ingin" ujarnya ketus tanpa ekspresi dalam ucapannya sedikitpun.
"Oh" jawab Reyna yang kini tatapannya mulai berubah.
"Saya harus pergi sekarang, lupakan saja yang terjadi semalam, saya minta maaf" kata pria itu dingin.
Reyna menatap tajam pria yang tengah membelakanginya saat ini. Kenapa pria yang dulunya hangat, kini menjadi sedingin es. Bahkan dia seolah tidak sudi melihat wajah Reyna sama sekali. Senyumnya juga tidak dibalas oleh Yasya.
Seketika hati Reyna terasa sakit. Tubuhnya bergetar menahan air mata yang kini terlihat berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa," jawabnya singkat sambil menunduk kecewa.
Setelah selesai menautkan kancing terakhir, Yasya segera keluar dari apartemen tanpa mengatakan apapun.
Meninggalkan Reyna yang kini terduduk mematung dengan perasaannya yang begitu sakit atas perlakuan Yasya padanya.
"Maafkan saya Reyna" gumam Yasya yang berada diambang pintu bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
Reyna masih terdiam, wajahnya memerah, air matanya mengalir deras dipipi mulusnya.
Hatinya terasa sangat sakit melihat perubahan Yasya yang tiba-tiba tidak seperti dulu. Bahkan bayang-bayang perkataan Yasya masih terngiang di telinganya. Seolah semuanya memang nyata dan bukan hanya khayalannya.
"Padahal, jelas-jelas tadi malam kamu sendiri yang bilang bahwa kamu mencintai ku hiks... tapi ternyata, aku salah."
Tangisan Reyna menjadi setelah apartemen besar itu ditinggalkan oleh sang pemiliknya. Gadis itu merasa bodoh kala berharap sesuatu yang seharusnya tidak ia impikan sebelumnya.
Perlakuan Yasya padanya sungguh membuat hatinya begitu terluka. Pria hangat yang mendadak dingin sepulang dirinya mabuk. Bahkan ia hampir kehilangan kesuciannya dalam ketidaksadaran Yasya.
Gadis itu memeluk lututnya, fikirannya menerawang jauh dimana kehangatan yang ia rasakan saat dulu Yasya memeluknya.
***
Hari ini adalah hari libur panjang, membuat Reyna bosan diapartemen.
drttt... drtt....
Suara getar dari ponsel Reyna berbunyi tatkala dirinya tengah memainkan sebuah gitar yang ia pegang. Membuat permainannya berhenti seketika, dan beralih mengangkat telfon itu.
"Hallo," suara serak Reyna masih terdengar meski samar.
"Hallo tuan putri" ujar suara familiar itu membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Kyky, kamu" kata Reyna yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya namun segera disanggah oleh godaan Hengky.
"Kenapa? kamu kangen ya sama aku" kata Hengky genit membuat Reyna mengerucutkan bibirnya.
"Sembarangan, aku kira siapa, mana pake nomor yang lain"
"Hehehe... maaf maaf, eh kita main yuk" ajak Hengky yang kini mulai membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya. Pasalnya sejak kemarin ia bahkan belum sempat keluar sama sekali dari apartemen yang menyesakkan baginya.
"Kemana?" tanya Reyna penasaran.
"Ke taman aja gimana? bawa gitar ya."
"Oke... ayuk" tanpa basa-basi lagi, Reyna segera menyetujui permintaan dari sahabatnya itu. Membuat bosan yang melanda menjadi semangat kembali. Bahkan sejenak ia melupakan masalahnya dengan Yasya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Reyna sudah bersiap dengan memakai baju dress berwarna peach dengan rambutnya yang tergerai indah dan tak lupa gitar yang lengkap dengan ranselnya.