
Seminggu kemudian.
Setiap hari Reyna sangat giat dengan hobi barunya, saat waktu senggang dia selalu menghabiskan waktu bersama Hengky untuk mengajarinya main Gitar.
Kadang jika Hengky sibuk dengan urusan organisasi nya, dia menyempatkan diri untuk mengunjungi Zayn sepulang sekolah.
Tak hanya itu, selama seminggu ini juga Reyna menampakkan perhatiannya pada kakak satu-satunya serta diam-diam mencari keberadaan Almira.
"Seminggu lagi, waktu ku hanya seminggu untuk bersama bang Rey... setelah itu, aku harus pergi dari kehidupannya."
Reyna duduk disebuah kursi panjang didepan taman yang rindang sambil sesekali memetik gitarnya. Membayangkan betapa pedih kehidupannya saja membuat matanya lelah untuk menangis.
"Ma... mama kemana aja, tolong bantu Reyna. Jika hubungan batin antara ibu dan anak itu memang ada, tolong beri tau Reyna."
Reyna masih saja bergumam. Dia terdiam memikirkan nasibnya, nasib yang harus ia jalani setelah ini.
Tiba-tiba dadanya berdenyut, seolah sesuatu mencekat jantungnya.
"Agggghhhrrr...." teriak gadis, untungnya tiada seorang pun disana.
Reyna memegang dadanya kuat-kuat. Detak jantungnya berdenyut denyut kencang.
"Reyna.... kamu kenapa?" suara pria mengejutkannya, dan bertambah terkejutnya Reyna kala melihat Yasya yang kini tengah berlutut dihadapannya.
"Pak... pak Yasya?" entah mengapa, rasa tenang menyelimuti hatinya yang kini mulai bergemuruh tak karuan.
"Iya, ini saya... kamu minum dulu" kata Yasya sembari membukakan air mineral yang kebetulan dia bawa, dan menyodorkan kepada Reyna.
Reyna langsung meneguknya dengan sekali teguk.
hosh... hosh...
Suara nafas Reyna menderu.
"Makasih pak" ujarnya dengan senyum canggung.
"Iya... sama-sama..." balas Yasya yang kini tengah duduk bersebelahan dengan Reyna.
"Kamu sakit apa Rey? kelihatannya kamu lagi nggak enak badan... mau saya antar ke rumah sakit?" tawar pria itu membuat Reyna menggeleng dengan cepat.
"Eng... enggak perlu kok pak, saya nggak apa-apa" katanya sembari menahan gejolak yang ia rasa.
'Aneh... kenapa rasanya jantungku sangat sakit, seperti ingin copot saja' batin Reyna yang masih mengganjal di fikirannya.
"Kamu belum pulang dari sekolah ya? kok masih pakai seragam? kamu nggak lagi bolos kan?" tanya Yasya mengintimidasi sambil memandangi Reyna dari atas sampai bawah, karena dirinya masih mengenakan seragam sekolah lengkap.
"Ya nggak lah pak... saya baru aja pulang kok, kebetulan enggak ada yang jemput, jadi saya kesini sebentar" kata Reyna menjelaskan.
"Pak Yasya apa kabar?" tanya Reyna dengan senyum diwajahnya sekaligus menghilangkan kecanggungan diantara mereka.
'Perasaan ini masih sama, jantungku berdegup lebih kencang ketika bersama dengannya oh' batin Reyna dengan hati yang berbunga bunga, seolah ada kuncup kecil yang bermekaran didalam hatinya yang paling dalam.
"Baik... kamu sendiri?" tanya Yasya balik, membuat hati Reyna kian berdebar.
"Baik juga...." balasnya menahan kegugupan yang ia rasakan saat ini.
"Gimana sekolah kamu? lancar kan?" tanya Yasya lagi membuat Reyna tersenyum menimpali.
"Alhamdulillah lancar kok pak."
Suasana canggung mulai menyelimuti mereka berdua.
Yasya hanya diam saja tanpa ekspresi, sedangkan Reyna menunduk dengan senyuman yang terpancar sedari bertemu dengan Yasya.
Pertemuannya dengan Yasya kali ini membuat Reyna lupa akan perasaan bimbang yang dia rasakan sebelumnya.
"Kamu kenapa Rey? kok senyum senyum sendiri?" wajah Reyna merah padam dengan pertanyaan Yasya yang barusan, betapa malunya dia ketika Yasya melihat wajahnya saat ini.
"Nggak apa-apa kok pak" katanya mengelak sembari mengedarkan pandangannya kesegala arah.
"Kamu bisa main gitar?" tanya Yasya dengan mengedarkan pandangannya ke arah gitar yang dibawa Reyna. Gadis itu menggeleng sembari tersenyum tipis.
"Masih belajar" Yasya mengangkat sebelah alisnya. Ia tak menyangka jika gadis seperti Reyna ternyata punya hobi yang sama dengannya semasa SMA.
"Hebat dong, dulu waktu masih sekolah saya juga punya band, kebetulan megang gitar" kata Yasya menceritakan.
Reyna hanya mengangguk sambil menatap kagum pada pria dihadapannya. Ia pun sama tak menyangkanya jika Yasya ternyata bukan hanya tampan dan pandai, namun ia sangat berbakat.
"Pak Yasya jago dong... wihhh hebat" kini tiada alasan lagi bagi Reyna untuk terus tersenyum, dia merasa aman dan nyaman ketika berada didekat pria ini.
Memang Reyna selalu dikelilingi oleh pria tampan, tapi ketampanan mereka dirasa masih kalah jika bersaing dengan Yasya.
Sejak saat Yasya keluar dari kehidupannya, entah mengapa selalu ada yang kurang, seperti sebagian dari jiwanya hilang.
"Boleh pinjam gitarnya?" tanya Yasya yang kini hendak memainkan gitar tersebut membuat gadis itu mengangguk.
"Boleh... coba aja..." Reyna memberikan gitarnya dengan suka cita, tidak seperti detik yang lalu, Reyna kini bisa mengatur perasaannya.
Ia menunggu momen-momen dimana pria dihadapannya akan menyanyikan sebuah lagu untuknya.
"Pak Yasya mau nyanyi apa?" tanya Reyna penasaran sembari menahan dagunya menggunakan satu tangan yang ia tahan.
"Nyanyi apa ya? coba Reyna tebak?" tanya Yasya balik sembari tersenyum kearah gadis itu.
"Aku pengen denger gitaris maen nih, ayolah" Reyna merengek dengan nada yang sedikit jail.
"Reff nya aja ya, soalnya suara saya masih suka fals" katanya.
Yasya memulai permainan gitarnya, dan memetik senar gitar itu secara perlahan.
Reyna perlahan menikmati nada yang dicipta oleh Yasya. Tampak pipinya memerah melihat bagaimana tampannya Yasya saat ia bermain gitar seperti itu.
"Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan ku balas seisi jiwa
tiada lagi... tiada lagi yang ganggu kita
ini kesungguhan....
sungguh aku sayang kamu...."
Kahitna ~ Cantik*
"Sungguh aku sayang kamu...." Yasya menoleh dan menatap mata Reyna ketika menyanyikan lirik terakhir dari lagu itu.
Seketika wajah Reyna berubah merona, dan panas seperti membakar wajahnya.
Reyna mencoba mengontrol emosinya, dia memalingkan wajahnya yang sedang malu akan lagu yang dinyanyikan Yasya.
'Sadar Rey... siapa lo? siapa dia? elo nggak boleh balik kaya dulu lagi. Reyna lo harus kuat... lupakan dia Rey, sudah cukup berfikir jika dia juga ngerasain apa yang lo rasa, karena sesungguhnya semua itu cuma khayalan lo yang nggak mungkin jadi kenyataan' batin reyna seolah menyemangati hatinya agar tidak luluh lagi oleh Yasya.
prok prok prok....
Reyna bertepuk tangan dan tersenyum lebar, memberi sebuah apresiasi kepada Yasya sekaligus mengalihkan perasaannya yang kian lama kian menyiksa hatinya.
"Bagus banget.... aku nggak nyangka, ternyata selain pak Yasya jago main gitar ternyata pak Yasya suaranya bagus" Yasya menyunggingkan sejujurnya lagu yang ia nyanyikan mewakili sesuatu apa yang ia rasakan saat ini.
"Enggak ah, kamu berlebihan Rey."
__ADS_1
"Enggak kok, saya berkata jujur... suara pak Yasya memang merdu" puji Reyna dengan kesungguhan hatinya.
"Ini cuma hobi Rey, kalau pun bercita-cita rasanya kurang pas untuk saya, kadang kita juga harus punya hobi kan untuk sedikit melupakan beban yang ada" Reyna menunduk, dia mulai mengerti apa yang dikatakan oleh Yasya padanya.
"Iya...." balas Reyna pelan dengan menunduk lesu. Melihat Reyna seperti tidak mood, Yasya langsung mengalihkan pembicaraan.
"Kalo kamu udah besar, kamu pengen jadi apa?," tanya Yasya mengalihkan pembicaraan membuat Reyna mengangkat pandangannya lagi
"Saya pengen jadi dokter pak... emmm tapi, wanita harus menikah kan ketika dia dewasa?" tanya Reyna lagi.
"Lalu?" Yasya menaikkan sebelah alisnya dengan sedikit melirik ke arah Reyna.
"Jika menjadi dokter bisa menghalangi seorang istri untuk berbakti kepada suami, maka saya memilih untuk tidak menjadi dokter."
"Kenapa begitu...?" tanya Yasya lagi yang semakin tidak mengerti dengan arah perkataan Reyna padanya.
"Karena berbakti kepada suami pahalanya akan lebih besar daripada menyelematkan 1000 orang sekalipun" jelas Reyna membuat pria dihadapannya mengangguk.
Yasya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Reyna. Sebuah cita-cita yang begitu mulia hingga seorang Yasya bisa terkagum-kagum pada muridnya sendiri.
"Apa boleh saya minta nomor ponsel kamu?" pertanyaan Yasya membuat Reyna membelalakkan matanya tak percaya. Ia mengangguk sembari memberikan nomor ponselnya.
***
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepan kediaman Reyna.
"Makasih ya pak" kata gadis itu sembari tersenyum ramah atas tumpangan dari Yasya.
"Iya sama-sama, kalau ada masalah jangan ragu-ragu untuk cari saya" kata Yasya membalas Reyna dengan senyum.
Reyna hanya mengangguk dan beralih membuka pintu mobil dan segera keluar. Dia menunggu mobil Yasya menghilang dari pandangannya, baru dia membalikkan badannya dan segera masuk rumah.
ceklek....
tap... tap... tap...
Derap langkah kaki Reyna, memenuhi ruang keluarga.
"Kamu sudah pulang" duara dingin yang tak biasa ia dengar dari belakang tubuhnya, dia memutar tubuhnya untuk melihat sosok Reyhan yang tengah duduk disofa dengan masih memakai pakaian kantoran lengkap ditubuhnya.
"Bang Rey.. tumben udah pulang" Reyhan tersenyum sinis, tak seperti biasanya, dia bahkan tidak menampakkan senyum sedikitpun, yang ada hanyalah aura kebencian diwajahnya.
"Abang kenapa?" Reyna mencoba mendekat kearah Reyhan yang saat ini berdiri mendekatinya.
plakkkkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulus Reyna, membuatnya tersungkur ke lantai.
Reyna sontak memegang pipinya yang memerah, dengan darah segar yang mengalir disudut bibirnya.
"Abang...?! kalo ada masalah bilang, jangan main pukul... kita masih bisa bicarakan baik-baik" ucap Reyna masih dengan kelembutan dan memandangi Reyhan dengan mata berkaca-kaca.
"CUKUP.! KAMU NGGAK PERLU LAGI PURA-PURA DIHADAPAN KU! apa kamu fikir bersikap lembut dihadapan ku akan membuat ku iba kepadamu, kamu fikir aku akan membujuk papa untuk tidak mengusirmu dari rumah ini! hahaha kamu salah Reyna! oh... salah... aku bahkan merasa jijik memanggil namamu! karena kamu tau... kamu bukanlah adikku!" hati Reyna seakan hancur oleh perkataan Reyhan, petir serasa menyambar jiwanya.
Disaat seperti ini, dia masih akan terus menahan tangisnya. Ia bahkan tak menyangka akan seperti ini jadinya.
"Papa?" tanya Reyna membuat Reyhan melotot.
"Jangan pernah sebut dia sebagai papa, karena kamu tidak berhak memiliki seorang ayah!. Aku bodoh... bodoh sekali... bisa percaya dengan gadis munafik seperti kamu .. aku sudah tau, bahwa wanita yang melahirkan ku, bukanlah ibu yang baik! kamu tahu alasannya?" Reyhan menghentikan kalimatnya sejenak, memberi sebuah ruang untuknya bernafas.
"Alasannya adalah... kamu adalah anak haram yang dia lahirkan... kamu adalah anak dari perselingkuhan!" teriak Reyhan dengan lantang membuat hati Reyna bertambah sakit.
"CUKUP!" Reyna berteriak dan tak bisa membendung air matanya, dia meneteskan air mata tanpa adanya isakan, rahangnya seolah mengeras, tenggorokannya seperti tercekat, dan hatinya seolah ditusuk oleh pisau yang begitu tajam.
"Kamu berani membentak ku! Aku nyesel udah percaya sama anak haram seperti kamu Reyna... seharusnya kamu tidak dilahirka! sekarang ambil barang-barang mu dan pergi dari rumah ku, dan ingat! jangan sampai kamu kembali dan menginjakkan kaki ditempat ini lagi!" Reyna masih terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, apa yang Reyhan katakan membuat hatinya terguncang.
Namun sekian detik kemudian dia mulai bangkit, dan naik ke kamarnya.
Tak lupa foto keluarga serta foto Almira yang berada dibawah bantal miliknya.
Reyna turun kebawah dengan membawa kopernya sendirian, dia meraih gitar yang tadi ikut terlempar karena pukulan dari Reyhan... untung saja tidak ada kerusakan sama sekali.
Sedangkan Reyhan membuang muka, seolah enggan untuk menatap wajah Reyna.
***
Air mata Reyna tidak bisa terbendung lagi, dia mulai terisak dan memperlihatkan kelemahan yang selama ini ia sembunyikan.
Dia berjalan perlahan menuju jalan besar.
"Taksi...." Reyna memasuki taksi itu yang berhenti tepat dihadapannya.
"Mau kemana non?" tanya pria paruh baya itu yang kini menatap heran pada Reyna yang telah berlinang air mata.
"Boleh tau pak, ada nggak ya kos-kosan putri disekitar sini?" tanya Reyna dengan hatinya yang masih terasa sakit.
"Wahhhh kalau disekitar sini nggak ada non, tapi saya tau dimana tempat kos putri."
"Dimana pak?" tanya Reyna dengan antusias.
"Jalan Kenanga dan Jalan Sudirman non, disana banyak kos-kosan, kalau mau saya antar" kata sang supir menjelaskan.
"Yang dijalan Sudirman aja pak, kayanya lebih deket kalo dari SMA pelita" kata Reyna sembari menghapus jejak air matanya yang tersisa.
"Non sekolah disana?" tanya sang supir memecah keheningan, sedang Reyna hanya mengangguk sembari tersenyum lewat spion.
"Non cantik ya .. anak saya juga perempuan, seumuran juga kaya non, tapi kok pipi yang sebelah kiri merah... bibirnya berdarah juga" Reyna segera mengusap pipinya dan membersihkan darah di sudut bibirnya.
Dia mengingat kembali kejadian dirumah yang kesekian menit lalu, hatinya masih hancur oleh perkataan Reyhan.
"Pak... berhenti di depan aja pak" Reyna terkesiap melihat toko klasik yang memperlihatkan alat musik didalam nya. Tiba-tiba fikirannya menjurus pada pemilik toko yang ia yakini berada didalam sana.
"Nggak jadi ke jalan Sudirman non?" tanya sang supir mendapat gelengan dari Reyna.
"Enggak pak, saya mau nemuin teman saya" setelah berhenti, Reyna membayar dan segera turun dari taksi itu.
Reyna menghembuskan nafasnya pelan.
Dia mulai melangkahkan kakinya dan memasuki toko tersebut..
"Kak Zayn..." Reyna berjalan sambil membawa koper yang dia seret, dan gitar yang dia bawa dipunggungnya.
"Reyna...." Zayn keluar dari sebuah ruangan dan mendekat ke arah Reyna, dia sempat heran dengan apa yang dialami oleh gadis cantik didepannya ini, apalagi sisi kiri dari wajahnya memerah seperti bekas tamparan.
"Kamu kenapa Rey? sini... duduk dulu" Zayn menarik tangan Reyna untuk duduk dibangku panjang yang berada disamping piano.
"Aku nggak apa-apa kok kak, hemmm abang ku lagi keluar negeri, terus dirumah juga nggak ada siapapun... Aku takut tinggal di rumah sendirian, jadi aku putuskan buat tinggal di luar" kata Reyna dengan penjelasan yang tentunya berbohong pada Zayn. Zayn masih mengerutkan dahinya, seolah tak percaya akan apa yang Reyna katakan. Penjelasannya memang cukup logis, tapi dari ekspresi wajah nya berbeda.
'Dia pasti bohong...' batin Zayn gusar.
"Kamu enggak bohong kan? aku paling benci lo sama orang bohong, sekali dia bohong... dia nggak akan pernah jujur untuk seterusnya" mendengar pertanyaan Zayn membuat hati Reyna tampak semakin tak tenang.
'Apa yang harus aku katakan padamu kak, apa aku harus bilang, bahwa abang ku sendiri mengusirku dari rumah, apa aku harus bilang alasannya juga? karena aku adalah anak haram yang dilahirkan mama ku??? anak dari perselingkuhan hingga membuat keluarga mereka hancur?' batin Reyna menuduk dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Rey ..." Zayn menepuk pundak gadis itu, dan sontak saja membuat Reyna tersentak dan bangun dari fikirannya yang kelam.
"Iya... emmm maaf kak, aku kefikiran abang ku... aku nggak bohong kok, aku ngomong apa adanya" kata Reyna dengan senyumnya yang manis, dia mencoba menyembunyikan keadaannya saat ini, sampai dia bertemu dengan Almira dan menemukan jawabannya dia tidak akan bercerita apapun kepada Zayn.
"Oke... aku percaya sama kamu, tapi... kenapa pipi kamu merah, sudut bibir kamu juga lebam? kamu habis dipukul ya? siapa yang berani mukul kamu?" tanya Zayn khawatir oleh bekas luka Reyna yang terlihat membiru.
__ADS_1
"Aku nggak dipukul kok kak, aku tadi buru-buru ngemas barang di koper, nggak sengaja jatoh dari kasur, hehe..." kata Reyna sambil memegang pipinya yang semakin memerah kala itu. Zayn semakin tidak percaya dengan perkataan Reyna, pipinya itu bukan karena jatuh, jika jatuh tidak mungkin separah itu.
'Berapa lama lagi kamu akan bohong terus Rey.. aku tau kamu ada masalah, siapa yang mukul kamu sampai seperti itu?' batin Zayn sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Sini... ikut aku" Zayn menarik lengan Reyna menuju halaman samping.
"Kak mau ngapain?" tanya Reyna yang kini menatap heran pada pria yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri.
"Kamu duduk disini dulu" Zayn mendudukkan Reyna di teras halaman samping, tempat dimana biasanya dirinya melatih Reyna bermain gitar.
Zayn mengambil sesuatu kebelakang, dan meninggalkan Reyna terduduk disana sendirian.
Pikiran Reyna kalut, apa yang harus dilakukannya saat ini? tiada tempat untuk berlindung, bahkan takdir tidak menginginkan Reyna untuk menghabiskan waktu bersama reyhan untuk yang terakhir kalinya.
Reyna memeluk lututnya, matanya mulai berkaca-kaca. Bayangan Almira tiba-tiba terlintas dipikirannya.
"Mama" Reyna tanpa sadar menitikkan air matanya.
Dia ingat tentang mimpi itu, mimpi ketika mamanya berada dipelukannya, dan menyesal karena telah meninggalkan dirinya.
Saat itu juga Almira meminta Reyna untuk menjaga Papa dan abangnya.
Mimpi hanyalah bunga tidur, yang mungkin terbesit dalam ingatan bawah sadar seseorang.
tap tap tap....
Reyna menghapus sisa air matanya ketika mendengar langkah kaki seseorang mendekat.
Zayn duduk disebelah Reyna dengan membawa kompres beserta air dingin.
Reyna menoleh dengan senyumnya, seolah menutupi apa yang terjadi.
"Kak...." kata Reyna sempat terhenti kala Zayn mengusap wajah gadis itu menggunakan lap yang ia celupkan kedalam es batu.
"Luka memar kalo nggak segera dikompres bakal bengkak terus, daripada nanti malem malah kamu nggak bisa tidur" kata Zayn berceramah.
'Meskipun dikompres, tapi rasanya aku nggak akan bisa tidur malam ini kak' pikir Reyna.
Reyna mengangguk, dengan tatapannya yang sayu,m namun senyuman manis tidak pernah dia lepaskan dari wajah cantiknya.
Zayn mengompres bibir Reyna yang lebam dan mengarahkan kompresnya ke pipi yang memerah secara perlahan.
"Aw...." Reyna berteriak kecil, ia meringis kesakitan kala lukanya mulai terasa sakit.
"Sakit ya?" tanya Zayn dengan khawatir.
"Makasih ya kak" kata Reyna sembari tersenyum.
"Sama-sama...." Zayn masih setia mengobati wajah Reyna dengan lembut, seolah tidak ingin membuatnya tambah sakit lagi.
"Kapan abangmu pulang dari luar negeri? apa dia tau kalau kamu tinggal diluar?" Reyna masih saja diam, dia berfikir keras untuk membuat alasan agar Zayn tidak curiga.
"Aku juga nggak tau kak, tapi mungkin agak lama soalnya ada urusan bisnis, masalah itu, abang ku tau kok, sebenernya dia nggak ngizinin sih, tapi aku maksa... hehehe."
"Dasar anak ini, kamu itu ya, keras kepala banget" kata Zayn dengan senyumnya dan mengusap puncak kepala Reyna.
"Oh ya, kamu mau tinggal dimana? kok kamu bisa langsung kesini tadi? aku kira kamu diusir hehehe."
Pertanyaan Zayn membuat Reyna semakin gugup, dia menengadahkan kepalanya keatas menatap langit yang masih biru, pertanda kehidupannya masih berlanjut dan harus memecahkan teka-teki ini. Reyna mencoba membuat dirinya tegar seolah tidak ingin ada yang mengetahui kondisinya saat ini.
"Aku kangen mama" ujar Reyna dengan matanya yang berkaca-kaca, dia masih memandangi langit tanpa mengalihkan pandangannya, karena takut Zayn akan mengetahui kebenaran dibalik pandangannya yang menyedihkan.
"Aku tau kok perasaan kamu, kamu yang sabar ya. Sebentar lagi kamu pasti bisa menemukan mama mu... kamu adalah gadis yang kuat, pasti mama mu lebih kuat lagi" kata Zayn sambil menepuk pundak gadis disampingnya itu dengan lembut.
"Sebenernya kesempatan ini akan aku gunakan untuk mencari mama ku, aku nggak ada waktu untuk keluar lama-lama kalau ada bang Rey yang selalu mengawasi aku" Reyna menoleh dan menatap Zayn dengan tatapan sayu dan penuh keyakinan.
"Aku akan bantu kamu Rey."
Reyna mencoba menghapus jejak air matanya yang tak dapat dibendung.
"Kak, untuk sementara, aku titip barang ku disini dulu ya, aku akan cari mama... aku akan ikut mama setelah ini."
"Rey... kenapa kamu nggak tinggal di hotel atau apartemen keluarga kamu aja... kalo kamu mau cari mama mu, bagaimana dengan sekolah dan keamanan kamu sendiri."
Reyna seketika terdiam, dia menunduk dan mencoba berfikir keras.
'Bagaimana mungkin kak, aku bahkan tidak punya uang cukup untuk membiayai hidup ku, bahkan apartemen... untuk makan dihari esok saja aku harus berfikir keras agar tabungan ku cukup untuk kehidupan ku seterusnya' batin Reyna.
"Aku nggak mau... aku ingin cari mama ku saat ini, untuk tempat tinggal, kak Zayn nggak perlu khawatir."
"Tapi Rey?" Reyna berdiri dari duduknya, dia mencoba untuk memantapkan hatinya.
"Aku nitip barang ku dulu ya kak" Reyna mengambil tas kecil berisikan dompet dan sebuah baju, dia kemudian berlari keluar dari toko kecil milik pria tampan blasteran itu.
"Rey?" Zayn memanggil Reyna, namun gadis itu sangatlah keras kepala. Wajah khawatir dan tatapan sendu dari mata abu-abu nya membuat wajah tampannya semakin dilanda kecemasan.
***
"Aku harus cari mama kemana? nenek juga udah nggak tinggal di rumah yang lama" Reyna terus berjalan, sambil terus berfikir untuk menemukan ibu kandungnya itu.
Dia melihat kursi panjang di belakang sebuah trotoar, dan duduk sejenak disana.
"Tabungan ku tinggal 2 juta, mana cukup buat nyewa apartemen apalagi hotel. Membayar sewa kost saja masih belum cukup."
Hari mulai semakin gelap, dan jalan semakin sepi namun Reyna masih tak beranjak dari tempatnya.
Reyna menangis pelan, pandangannya lurus kebawah melihat sepasang kakinya yang kini tengah lelah karena seharian ini ia habiskan untuk berjalan.
Dia mengingat tamparan dari Reyhan yang masih sakit sampai saat ini, tamparan yang bukan hanya melukai wajahnya, namun juga sekaligus hatinya yang penuh kerapuhan.
Bahkan Reyna tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya itu. Dia belum menjelaskan apapun pada Reyhan, tapi tetap saja Reyhan bersikeras untuk mengusir nya dari rumah.
"Papa memang pantas membenciku, aku yang seharusnya nggak pernah dilahirkan ini nggak seharusnya mendapat kasih sayang dan perhatian dari mereka."
drttt... drtttt...
Suara getar ponsel Reyna membangunkan kesedihannya sesaat.
Dia langsung saja mengangkat telfon itu tanpa memperhatikan layar hp nya.
"Hallo .."
"hallo Reyna... kamu nangis? ada apa?" duara diseberang membuat Reyna tersentak dan dia melihat layar ponselnya sekilas.
"Pak, oak Yasya" Reyna tak bisa membendung air matanya lagi, matanya semakin memerah, dan dia melepaskan perasaan itu begitu saja.
Reyna masih terdiam, sambil menangis dia menggenggam ponsel yang berada ditelinganya semakin kuat.
Dia tidak ingin ada yang mendengar bahwa dia selemah itu.
tut...
Reyna mematikan ponselnya, dan mengubah nada di hpnya dengan mode hening.
Reyna terus menangis dan menangis, untung saja tidak ada orang yang lewat jalan itu saat ini.
Dia mengingat saat dimana keluarganya berkumpul, saat Reyhan berada disisinya, saat minggu-minggu terakhir yang dia nikmati bersama kakak satu-satunya itu. Niat Reyna hanya ingin membuat satu kenangan di hati kecilnya, karena dia tau Reynaldi tidak akan membiarkan dia tinggal untuk selamanya bersama Reyhan.
"Aku bahkan baru sadar, aku baru tau kalau aku bukanlah anak kandung papa ketika bang Rey mengusir ku, seharusnya aku tahu alasan papa benci banget sama aku."
__ADS_1
Reyna bernafas sejenak dan masih membiarkan air matanya jatuh di pipinya.