
Suasana malam yang semakin dingin, ditemani jutaan bintang di langit yang gelap gulita dan hanya ditemani satu bulan purnama membulat di angkasa.
Langkah gadis itu melemah, mengingat kejutan besar yang baru saja ia terima barusan. Entah dirinya harus bahagia ataukah harus bagaimana, rasanya pertanyaan itu seperti melayang di ubun-ubun Reyna.
Flashback on.
"Reyna, ini kenalin ini mommy ku, namanya ibu Ajeng Rachmawati" kata Zayn memperkenalkan diri pada wanita paruh baya yang duduk dihadapannya. Wanita itu tampak tersenyum dengan hangat seolah menyambut kehadiran Reyna sore itu.
"Hallo tante, nama saya Reyna, Reyna Malik" jelasnya sambil ikut tersenyum membalas.
"Tante sudah tau, sudah banyak yang Zayn ceritakan tentang kamu, ternyata kamu gadis yang sangat cantik dan juga baik hati" kata Ajeng memuji membuat Reyna tersenyum malu.
"Tante bisa aja, tante yang lebih cantik daripada saya" kata Reyna kembali memuji.
"Reyna, kamu sangat rendah hati, kami sebagai orang Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tata krama dan moral."
"Dilihat dari wajah tante, Tante memang sangat anggun dan lembut, kak Zayn pasti beruntung punya ibu seperti tante, aku jadi iri nih" ujar Reyna sambil menyeggol lengan Zayn yang kini dudu disampingnya.
"Hahahaha Reyna, kamu nggak tau aja gimana galaknya mom" tiba-tiba saja Zayn menghentikan gelak tawanya kala ia mendapat tatapan tajam dari Ajeng.
"Iya deh iya, mommy itu paling perhatian paling baik banget" seru Zayn melirik Ajeng dengan tatapan jahil.
Reyna hanya terkekeh dengan sikap Zayn yang tiba-tiba saja berubah. Ia merasa hangat jika dekat dengan mereka. Meskipun mereka hanyalah orang asing namun mereka lebih menyatu daripada keluarganya sendiri.
"Reyna, boleh tante bicara berdua dengan kamu? ada hal penting yang ingin tante bicarakan."
Kata Ajeng dengan serius membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Ehemmm, kayanya aku harus ngecek beberapa alat musik ku dulu dibelakang, kalian lanjutin aja."
Zayn yang peka terhadap situasi langsung menjauh dari mereka.
Meskipun ia tau apa yang ingin dikatakan Ajeng, namun ini adalah privasi yang harus diketahui dan dibicarakan oleh Ajeng dan Reyna sendiri.
Harapan pria itu hanya satu, bisa melindungi dan terus menyayangi Reyna, mengingat betapa menderitanya ia dalam kehidupan ini.
Reyna mengernyit bingung, membuat wanita setengah baya dihadapannya terkekeh.
"Reyna, kamu jangan terlalu tegang begitu, tante nggak mau makan daging mu kok" kata Ajeng memberi candaan agar Reyna tidak terlalu kaku padanya.
"Jadi tante mau membicarakan soal apa ?" tanya gadis itu dengan sungguh-sungguh membuat wanita paruh baya dihadapannya menghela nafas.
"Tante sudah mendengar semua masalah kamu dari Zayn, kamu mempunyai masalah keluarga yang begitu rumit, tante turut prihatin dengan mu nak, walau bagaimanapun tante juga adalah seorang ibu, tante bisa merasakan bagaimana menderitanya ibumu dan dirimu saat kamu dituduh melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan."
Suara Ajeng tiba-tiba melemah, wajahnya masih tetap tersenyum, namun matanya kini telah meneteskan beberapa air mata mengingat peristiwa yang dialami oleh remaja seperti Reyna.
Hatinya seperti ikut terbawa, membayangkan betapa pedihnya diabaikan oleh keluarga sendiri. Bagaimana Reyna menyambung hidupnya oleh belas kasih orang lain yang berbaik hati menampungnya.
Gadis itu terlihat menunduk dan sesekali memandangi wajah cantik wanita dihadapannya. Reyna ingin sekali memeluk seseorang saat ini. Tak di pungkiri gadis dengan rambut bergelombang itu selalu mendambakan kehangatan jika hatinya merasa tidak nyaman. Entah mengapa matanya juga ikut berkaca-kaca mendengar kata-kata yang menggantung dari Ajeng.
"Tudak apa-apa tante, saya baik-baik saja kok" kata Reyna menegarkan hatinya yang sempat rapuh.
Ajeng bangkit dari duduknya, diambil posisi untuk duduk berdampingan dengan Reyna dan segera memeluk tubuh gadis itu dari samping, membuat Reyna merasa nyaman.
"Hiks, Reyna, kamu adalah gadis yang sangat kuat sayang, tante bangga dengan mu nak" ucap Ajeng dengan penuh kasih sayang.
Reyna merasa terbawa, kini kedua tangannya telah melingkar ditubuh Ajeng dan membalas pelukan itu dengan hangat seperti ibu dan anak.
"Hiks, hiks" isakan Reyna terdengar ditelinga Ajeng membuat wanita itu merenggangkan pelukannya dan segera menghapus air mata gadis itu.
"Reyna?" Ajeng baru sadar jika disudut bibir gadis itu terdapat bekas luka lebih tepatnya luka jahitan.
"Ini bekas luka?" tanya Ajeng terkejut.
Reyna menarik kepalanya dan menjauhkannya dari Ajeng.
__ADS_1
"Emm, ini bukan apa-apa kok tante" ucap Reyna dengan gugup.
"Baiklah kalau kamu tidak ingin cerita, yang penting lukamu sudah sembuh, tante sudah seneng."
"Iya tante" Reyna kembali tersenyum. Tampak guratan indah dipipinya terpancar manis senyuman yang indah dari gadis cantik itu.
"Reyna, ada sesuatu hal yang ingin tante katakan, ini menyangkut masa depan mu" kata Ajeng dengan kesungguhannya membuat Reyna tambah penasaran dengan apa yang hendak Ajeng katakan padanya.
"Kenapa tante?" Reyna menoleh kearah wanita itu yang tampak menggantungkan kata-katanya.
"Reyna, tante sudah memutuskan, tante ingin kehidupan kamu menjadi baik dan penuh kasih sayang, jadi bisakah kamu menjadi anak angkat tante?" pertanyaan itu sontak membuat Reyna semakin tak mengerti.
Reyna mengernyit, matanya membulat dengan wajah yang dipenuhi keraguan. Dia seperti baru saja mengenal wanita dihadapannya itu dan langsung ingin diangkat sebagai anak. Baginya itu sebuah kejutan yang tidak bisa langsung ia terima dengan naluri.
"Tante, tapi saya masih punya orang tua dan keluarga" kata Reyna dengan nada yang melemah.
"Tenang Reyna, tante tau perasaan kamu, mungkin kamu tidak terbiasa, tapi tante benar-benar tulus ingin mengadopsi mu, selain keinginan tante untuk mempunyai anak perempuan, tante juga sayang sama kamu nak, sama dengan Zayn yang menyayangi kamu sebagai kakak. Meskipun tidak ada hubungan darah diantara kita, tapi tante benar-benar tulus menyayangi mu" Penuturan dari Ajeng membuat Reyna tambah tak percaya. Dinginnya malam itu seperti menjadi saksi bisu perasaannya yang begitu bimbang oleh keputusan apa yang harusnya ia ambil.
"Tante, bagaimana dengan nenek?" tanya Reyna lagi yang semata-mata tak hanya memikirkan dirinya saja. Namun juga Kumala yang tiap hari selalu ada untuknya.
"Nenekmu adalah satu-satunya keluarga yang kamu miliki dan sangat percaya padamu, jadi kita akan merawat nenek bersama-sama. Dalam hal ini, tante tidak akan hanya mengadopsi kamu Reyna, tapi juga nenek" jelasnya membuat gadis dihadapannya menelan salivanya.
"Tante" Reyna sempat berfikir keras. Ia masih membisu dengan fikirannya yang melayang menjauh.
"Tidak perlu buru-buru, kamu fikirkan saja dulu, tante tidak ingin menekan kamu, semua keputusan ada ditangan kamu Reyna."
Reyna tampak berfikir, meski ada keraguan dimatanya, namun hatinya seperti ingin menerima permintaan Ajeng.
Bukan, bukan untuk pergi dari keluarga Rey Malik, tapi yang dia butuhkan hanyalah kasih sayang dan juga perhatian dari orang-orang yang menyayangi nya.
Flashback off
***
Gadis itu duduk disebelah pintu kaca yang mengarah ke jalanan, membuat pandangannya begitu sejuk dan menghangatkan.
"Mbak mau pesan apa?" tanya salah satu seorang pelayan yang membuat Reyna mengalihkan pandangannya kearah pria dihadapannya.
"Saya minta vanilla latte late aja mas."
"Baik, ada promo cheesecake dari cafe kami, untuk pembeli 20 orang pertama akan dapat potongan 50%, dan beli 2 gratis satu barangkali mbak tertarik untuk mencoba produk baru kami?" kata pelayan itu menawarkan.
Reyna tampak menimbang-nimbang, dirinya sebenarnya enggan untuk membeli, meskipun cheesecake adalah desert favoritnya, namun sepotong kue itu begitu mengingatkan dia dua orang sekaligus.
"Tidak perlu, aku nggak suka chess mas" kata Reyna.
"Baiklah, pesanan akan segera sampai, mohon tunggu sebentar."
Reyna mengangguk patuh.
"Huffft...."
Gadis itu memeluk tubuhnya yang mengenakan pakaian tebal malam ini. Meskipun pakaiannya sangat hangat, namun hawa dingin masih saja menembus kulitnya.
Tiba-tiba bayangan Yasya seperti terngiang didalam fikirannya.
"Pak Yasya..." gumamnya sambil mengusap wajahnya yang penuh dengan ekspresi gusar.
Pandangannya sayu, diraihnya kalung berinisial F itu dari lehernya. Mata gadis itu mengerjap beberapa kali, entah mengapa, mengingat kebersamaannya dengan pria itu membuat hati Reyna semakin dirundung kesakitan.
'Aku mencintai mu Reyna, aku sangat mencintaimu.'
'Saya tidak akan pernah meninggalkanmu Reyna.'
Suara-suara merdu itu masih sangat terdengar jelas di fikirannya membuat matanya kembali berkaca-kaca.
__ADS_1
"Silahkan nona" ucap pelayan itu membuat Reyna tersentak dan menggeleng, menghapuskan ingatan yang baru saja ia buat.
"Ah, terimakasih" katanya dengan senyuman ramah.
"Sama-sama" jawab sang pelayan.
Reyna meraih cangkir itu, meniupnya perlahan dan menyesapnya. Membuat hawa yang sebelumnya dingin kini menjadi hangat kembali.
***
Yasya melangkah menuju kamarnya, dibantingnya pintu itu sangat keras, membuat suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan.
Bammmm!
tok tok tok...
"Irya, kamu kenapa sayang?" teriakan Dian dengan wajahnya yang penuh dengan kekhawatiran. Sikap putranya yang dingin dan tidak seperti biasanya membuat wanita itu sedikit merasa bersalah.
"AKU NGGAK APA-APA MI...." balas Yasya dengan teriakan dari dalam kamar membuat Dian mengalihkan pandangannya dan segera pergi diliputi rasa sedih.
Pria itu merebahkan tubuhnya dikasur king size didalam kamarnya yang begitu besar. Diraihnya ponsel yang baru ia banting disampingnya dan menekan layarnya beberapakali untuk melihat isi galery foto dirinya bersama Reyna.
Ingatannya tiba-tiba muncul, mengingat pelukannya dan ciuman yang bertubi-tubi saat bersama gadis itu.
Hanya mengingatnya saja rasanya sangat nyaman untuknya.
Yang membuat Yasya kian bahagia adalah kala Reyna mengatakan cintanya.
Ternyata selama ini cinta Yasya tidak bertepuk sebelah tangan, namun sangat tepat sasaran.
Tapi sayangnya, sebelum kebahagiaan itu datang, rasa gundah dan rasa bimbang datang diwaktu yang bersamaan.
Mata lelaki itu terpejam, tubuhnya melemah merasakan kenyamanan, fikirannya telah lenyap menuju alam bawah sadar.
Diwaktu yang bersamaan.
Reyna membuka pintu rumahnya, dengan hati-hati dirinya mengendap-endap untuk memasuki rumah yang baru saja ia singgahi hari itu.
ceklek...
Dikuncinya pintu yang baru saja ia buka. Seluruh ruangan terlihat gelap gulita tanpa adanya penerangan yang memadai penglihatannya.
Reyna melangkah maju, sambil meraba-raba benda-benda disekitarnya takut jika dirinya terjauh.
Dan tiba-tiba saja.
Takkk....
Seluruh lampu dalam ruang tamu itu menyala bersamaan, membuat matanya terpejam tiba-tiba dan berteriak.
"Aaaaaa..." teriaknya lantang dan terkejut dengan hebat.
"Kemana saja kamu!" kata Kumala yang tengah menatap tajam cucunya yang baru saja pulang.
Reyna membuka matanya dan menunduk untuk menghindari tatapan garang dari sang nenek.
"Ne.. nek, tadi Reyna, kerumah kakak Zayn" kata Reyna tergagap.
"Zayn? siapa?" tanya Kumala dengan pandangannya yang intens.
Reyna tersenyum dan menatap neneknya, gadis itu mendekati Kumala dan menariknya untuk duduk disofa.
"Sini, sini nek, Reyna kasih tau."
Kumala menuruti instruksi dari Reyna dan menyimak cerita yang ia dengar hingga selesai.
__ADS_1