
Reyna melangkah menuju kasur berukuran king size dia merebahkan tubuhnya, dan mengingat kejadian yang dia alami seharian ini.
"Reyna... kamu harus kuat... demi mama... jangan biarkan air mata melemahkan mu" Reyna menarik selimutnya perlahan, matanya mulai terpejam dan perlahan ingatannya hilang untuk semalaman.
Drttt... drttt....
Matahari menyeruak memasuki apartemen Yasya, ditambah lagi suara getaran dari ponsel gadis itu yang bergetar sedari tadi, membuat Reyna menggeliat, dan membuka matanya perlahan.
Suasana langit-langit dan tembok dengan aksen putih dan biru tua membuatnya kembali sadar akan keberadaannya saat ini.
"Hoammmhhp....." Reyna menguap dan menutupi sebagian mulutnya, dia mengucek matanya sesekali. Dan membuka ponsel yang berada diatas nakas.
"Reyna.... kamu kemana aja sih... dari kemaren aku hubungi kok nggak bisa? sengaja ya nggak angkat telfon dariku... oke emang aku yang salah, aku selalu sibuk sama urusan organisasi ku, tapi aku selalu nggak lupa buat ngabarin kamu kok" suara gerutu dari Hengky membuat Reyna membelalak matanya, dan sekaligus membuat jiwa yang sebelumnya belum terkumpul kini menyatu kembali.
"Sorry... aku kemaren juga sibuk, terus tadi malem aku capek banget makanya nggak denger getar."
"Ya udah, aku bentar lagi otw kerumah kamu. Mau dibawain sarapan nggak?."
"Eh nggak perlu kerumah..."
"Kenapa?"
"Aku nggak masuk sekolah hari ini, tolong izinin aku ya, kasih tau Naya suruh bilang ke bu Ema"
"Kamu sakit Rey....?"
"Iya... sedikit nggak enak badan."
"Oke bakal aku izinin... tapi aku tetep mampir buat liat keadaan kamu."
"Nggak usah... nanti malah terlambat lo... kamu langsung berangkat aja ya."
"Aku cuma sebentar kok, lagian rumah kamu kan juga searah sama sekolah."
Reyna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus membuat alasan apalagi agar Hengky tidak mengunjunginya.
"Ky... habis ini aku mau kerumah sakit dulu, abang ku juga buru-buru banget, kalo kamu perjalanan kesini aku pasti juga lagi ada dijalan."
"Gitu ya? yaudah, kalo gitu aku berangkat dulu ya Rey... jaga dirimu baik-baik ya tuan putri."
"Iya Ky, makasih...." Reyna akhirnya bisa bernafas lega setelah Hengky mengurungkan niatnya untuk mengunjunginya, entah apa yang akan dikatakan oleh kakaknya jika Hengky tiba-tiba datang dan menanyakan perihal dirinya.
Reyna telah bersiap untuk pergi ke toko milik Zayn, dia menuliskan nota kecil bertuliskan pesan untuk Yasya.
*P*ak Yasya, maaf... saya keluar dulu...
saya nggak lama kok, cuma ambil barang kerumah teman.... maaf nggak ngabari dulu, soalnya saya nggak mau ngerepotin bapak.
Reyna segera keluar dari apartemen dan menempelkannya didepan pintu.
Reyna tersenyum manis dan berjalan dengan langkah kaki yang ceria. Entah mengapa ketika dirinya berada didekat Yasya perasaannya jadi lebih tenang, apalagi disaat seperti ini, Reyna sangat butuh genggaman tangan dan sandaran pundak dari seseorang yang benar-benar dia percaya. Tak disangka orang itu adalah Yasya.
***
Langkah kaki dan gerakan cekatan seorang gadis itu membuat kamar berukuran besar miliknya menggema. Kamar beraksen Roma Italia dengan nuansa klasik membuat siapa saja akan betah jika harus seharian tiduran disana.
Gadis itu dengan sigap membereskan semua barang-barang nya yang berada dilemari untuk dikemasi kedalam koper besar miliknya. Dengan langkah cepat dia menyuruh asistennya untuk membawa barang-barangnya keluar.
"Megi...."
"Iya non...."
"Cepetan bawa koper ku ke mobil, jangan lupa kasih tau supir kalau aku mau ke bandara."
"Non sendirian? nggak mau saya temani?"
"Nggak... lain kali aja, aku lagi pengen sendiri gi... ayo cepetan bawa kebawah, aku check in satu jam lagi... aku mau telfon Irya dulu."
"Baik non...."
Syahbila meraih ponselnya dari tas yang ia pegang, segera dia ketik nama kontak Yasya dan menelfon untuk berpamitan.
"Pagi sayang...." duara Yasya menggema dari seberang sana.
"Sayang... maaf sebelumnya aku nggak ngabari kamu, soalnya aku harus buru-buru ke Paris buat proyek papa, aku berangkat hari ini."
"APA?! tapi sebulan lagi kita kan mau tunangan."
"Iya maaf sayang... kayanya harus ditunda dulu deh, maaf banget."
"Kamu nih gimana sih bil... kamu serius nggak sih sama hubungan kita?!"
"Sayang, ayolah... ini penting, lagian kan ini cuma tunangan belum acara nikahan, kamu sabar kan nunggu aku."
"Ya udah... biar aku antar, aku pengen ketemu sama kamu dulu, kamu berangkat jam berapa?"
"Nggak perlu, aku check in satu jam lagi, lagian aku udah mau perjalanan. Irya inget ya, selama nggak ada aku kamu harus makan tepat waktu... jangan sampai kita lost kontak okay."
"Iya.... kamu hati-hati ya, kabari aku kalo kamu udah sampai, dan jangan lupa sampaikan salam ku sama om Hamid."
"Iya sayang ku..." Syahbila dengan cepat menutup telfonnya dan dengan segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri mobilnya.
tak tak tak...
"Pak... ayo jalan" kata Syahbila saat tengah masuk kedalam mobil Avanza miliknya.
***
__ADS_1
"Kak Zayn...." panggil Reyna yang sudah tiba di toko klasik milik Zayn. Tak lama kemudian Zayn berdiri dari duduknya yang berada di kasir.
"Reyna... ayo masuk"
"Aaahh... kakak bikin aku kaget aja."
Teriak Reyna pelan dan menyentuh dadanya yang baru dibuat kaget oleh Zayn.
"Maaf maaf... hehehe"
Zayn membawakan dua buah gelas berisikan jus jeruk diatas nampan, dia tampak berjalan dan menghampiri Reyna yang sedang duduk diteras halaman samping rumah.
Halaman yang hijau dengan bunga-bunga cantik dan rumput lebat dibawahnya. Tempat dimana mereka berdua bermain gitar atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol ringan.
Zayn duduk disebelah Reyna dan menawarkan jus yang ia bawa, Reyna menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih" ucap Reyna dengan senyumnya.
"Kamu kayanya lagi seneng banget.. dapet lotre dua ratus juta ya" kata Zayn dengan nada meledek.
"Kak Zayn sotoy banget sih."
"Habisnya kamu dari tadi senyum-senyum mulu... kaya manusia yang baru lulus magang dari rumah sakit jiwa" Reyna menatap Zayn tajam dan ekspresi dingin.
"Hehehe... maaf maaf."
"Terserah deh kak Zayn mau bilang apa, tapi boleh nggak kalo aku curhat" ujar gadis itu dengan senyumnya yang kembali merekah.
"Curhat soal apa? emmm jangan-jangan soal cowok ya?" Reyna hanya senyum-senyum ketika mendengar tebakan dari Zayn.
Reyna menceritakan perihal perasaannya terhadap Yasya, terlihat mimik wajahnya yang gembira ketika berceloteh tentang bagaimana Yasya mulai masuk dalam hatinya hingga saat ini.
"Kamu jatuh cinta sama guru kamu sendiri?"
"Dulu pak Yasya juga yang bantu aku pas aku dibully, kemaren juga pas aku kesakitan dia juga yang ada disebelah ku, terus" Reyna menggantungkan perkataannya, seolah ragu akan memberitahu Zayn tentang apartemen Yasya yang ia tinggali.
"Terus tiap kali aku denger suaranya yang ngajak aku ngobrol atau sekedar cuma manggil namaku, rasanya ada matahari yang terbit dan menghangatkan pagi indah ku" lanjutnya seraya tersenyum centil kearah Zayn.
"Idihhh lebay deh" Reyna terdiam dengan senyum kecutnya, mengingat Reyhan yang tak berada disisinya. Mengapa Reyhan tak sebaik Zayn? baginya Zayn adalah abang keduanya.
Sebelum Reyhan mengusirnya dari rumah, Reyhan tampak sangat perhatian, seperti sikap Zayn padanya selama ini. Mungkin saja, jika posisi itu masih ada, cerita ini akan menjadi kisah cinta pertama yang Reyna curhatkan pada kakak satu-satunya itu.
"Kamu kenapa? kok sedih gitu?" Reyna menorehkan pandangannya kearah Zayn, tatapannya sayu seolah tertahan untuk menggerakkan air mata didalam benaknya.
"Nggak apa-apa kok kak, cuma kangen abang ku aja" katanya sembari tersenyum.
"Udahlah... kan ada kak Zayn... aku ini udah jadi abang juga kan buat kamu?" Reyna kini terhibur oleh kata-kata Zayn membuat semangatnya tumbuh kembali.
"Oh iya, kamu tinggal dimana sekarang?" Reyna membelalakkan matanya, dia mencoba untuk tetap tenang saat menjawab pertanyaan dari pria blasteran itu.
"Aku tinggal di apartemen kak."
"Iya maaf kak... soalnya aku cari apartemen baru, terus sampe sana udah malem banget."
"Iya nggak apa-apa kok, yang penting kamu baik-baik aja" kata Zayn yang kini beralih mengusap puncak kepala Reyna dengan lembut.
"Permisi...." suara lantang terdengar dari depan toko klasik milik Zayn, Zayn menengadahkan wajahnya dan berdiri untuk menatap kedepan pintu masuk.
"Iya.... selamat datang" kata Zayn dengan senyum dan mempersilahkan seseorang pria untuk masuk kedalam tokonya.
"Reyna.. sebentar ya, ada pembeli... kamu main gitar aja dulu, itu aku taruh gitar kamu diruang belakang."
Reyna mengangguk, dan segera berjalan kearah ruangan yang ditunjukkan oleh Zayn.
Setelah menemukan gitarnya, Reyna kembali ke halaman samping tokonya dan memainkan gitarnya dengan perlahan namun kali ini dia duduk di kursi panjang.
~
"silahkan masuk... ingin cari apa??? disini tersedia banyak alat musik klasik, dan modern klasik, semuanya barang impor"
Zayn mempersilahkan pria tinggi dengan pakaian kantoran yang masih lengkap itu.
Pria itu tampak melihat alat musik disekitarnya.
"saya ingin mencari sebuah biola"
"ada... disini mari ikuti saya.."
Zayn mengajak pria bertubuh tinggi tegap itu kearah belakang, dimana ada salah satu ruangan yang penuh dengan biola.
"tunggu..."
Ucap pria itu dan menghentikan langkahnya ketika mendengar suara petikan gitar yang dimainkan oleh Reyna dihalaman samping.
"ada apa ya???"
Tanya Zayn dengan raut wajahnya yang kebingungan.
"aku dengar suara petikan gitar dari sana..."
"oh itu... itu teman saya... dia sedang berlatih gitar disini, ada apa???"
"emmm tidak apa-apa... hanya saja permainan gitarnya sangat indah, tidak tampak seperti seorang pemula"
"iya... sangat indah..."
Mereka mendengar petikan indah dari gitar yang dimainkan oleh Reyna. Sampai akhirnya Zayn tersadar akan membawa pembeli itu untuk masuk keruangan khusus biola.
__ADS_1
"kita sampai lupa, biola nya... sebelah sini"
Zayn memberi instruksi untuk masuk kedalam ruangan itu.
Pria itu mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan yang penuh dengan biola, mulai dari biola yang biasa, sampai yang terlihat mewah ada disana.
Pria itu mendekat kearah biola yang berukuran sedang dengan warna kecoklatan, yang paling manis ada ukiran bunga di setiap lekuk bagian dari biola itu. benar-benar cantik.
"boleh tolong periksa dulu, maaf sebelumnya... karena saya tidak bisa bermain biola"
"tidak apa-apa, kebetulan saya ahli dalam segala bidang musik"
"oh ya...?? sayang sekali... kenapa tidak dikembangkan bakatnya"
"ehmm... cita-cita saya bukanlah menjadi seorang pemusik, bagi saya musik hanyalah sebuah hobi"
Kata Zayn dengan senyumnya yang masih terlihat ramah.
Zayn dengan perlahan memainkannya dan mencoba nada demi nada.
"sepertinya ada nada yang masih fals... saya akan memperbaikinya dulu..."
."tapi...??"
"tenang saja, ini bukan masalah besar, karena jarang untuk dimainkan maka senar yang awalnya kencang bisa saja kendor..."
"emmm begitu???"
"iya... emmm maaf, saya akan kedepan dulu, anda silahkan lihat-lihat..."
Zayn membawa biola itu untuk diperbaiki, sedangkan pria itu tampak masih berada disana dan melihat-lihat beberapa biola yang tertampang didepannya. Kira-kira ada 15 sampai 20 biola diruangan itu.
Pria itu mendengar permainan gitar Reyna lagi, terlihat dia seperti tertarik untuk mendengarkannya lebih dekat. Dia berjalan perlahan menuju halaman samping.
Tak tak tak....
Suara langkah kaki membuat Reyna membalikkan tubuhnya, dan mengira yang datang adalah Zayn.
"Kak.... Zayn..."
Reyna membelalak matanya, dan berdiri seketika. Dia tampak mengalihkan pandangannya dari pria itu. Reyna menunduk lesu tak ingin memandang pria itu. Reyhan hanya menatap Reyna sinis tanpa mengatakan apapun.
"maaf... ini biolanya"
Suara Zayn mengalihkan pandangan Reyhan dari Reyna yang tengah duduk dibangku panjang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"terimakasih..."
ucap Reyhan dengan senyumnya yang tak dapat diartikan.
~
Zayn dan Reyhan telah berada dikasir. Reyhan bahkan tak mengatakan apapun pada Reyna, sebaliknya Reyna juga tidak tau harus melakukan apa. Dia takut Reyhan mengatakan sesuatu yang membuat Zayn ikut terlibat atau bahkan tau bahwa dirinya berbohong.
"Pilihan yang bagus... ini adalah biola dari Amerika yang khusus saya pesan, sudah dua tahun saya merawatnya dan untung saja ada orang yang mau mengadopsinya" ucap Zayn dengan senyuman ramah.
"Berarti saya tidak salah pilih, sejujurnya ini adalah hadiah untuk seseorang."
"Pasti calon istri.. hehehe" ucap Zayn terkekeh.
"Bukan... ini untuk adik angkat saya"
"oh ya??? wow... dia pasti sangat istimewa"
"begitulah..."
"oh ya... boleh kita bertukar kontak, nanti kalau ada apa-apa dengan biolanya jangan sungkan untuk datang kemari"
"tentu..."
"kenalkan... Zayn..."
ucap Zayn mengulurkan tangannya dan dibalas dengan uluran tangan dari Reyhan.
"Reyhan..."
"Apa?"
"Nama saya Reyhan" jelas pria itu membuat Zayn mengangguk sambil berfikir.
"Seperti pernah dengar namanya."
"Mungkin orang lain, lagipula nama Reyhan itu bukan hanya milik satu orang."
"Oh saya baru ingat, teman saya Reyna juga memiliki kakak, namanya juga sama Reyhan."
"Kebetulan sekali" katanya tak perduli.
"Reyna adalah gadis yang sangat baik dan cantik, kalau saja saya punya adik seperti dia pasti saya akan sangat beruntung. Dia ditinggal oleh kakaknya kemaren untuk urusan bisnis, jadi dia kesini untuk berlatih gitar setiap kali kesepian" kata Zayn menjelaskan.
"Iya dia terlihat ceria sekali" kata Reyhan sambil sesekali menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Tidak juga, dibalik keceriaan yang dia miliki dia pasti menyimpan banyak sekali beban" kata Zayn sembari tersenyum menatap gadis itu yang kini masih tak bergeming dari tempatnya.
"Sepertinya adik saya akan segera datang, maaf... saya harus buru-buru pergi."
"Tidak masalah... silahkan datang kembali lain waktu."
__ADS_1
"Terimakasih banyak" ucap Reyhan dan dibalas anggukan oleh pria tampan blasteran didepannya.