
Matahari menyeruak memasuki kamar seorang gadis lebih tepatnya apartemen Yasya yang kini terdapat Reyna didalamnya. Gadis itu menggeliat dan mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mengumpulkan puing-puing nyawa yang masih tersisa. Ia membuka selimut yang membungkus tubuhnya, dan ia tersentak ketika melihat lengan besar yang memeluk pinggangnya.
Reyna membalikkan tubuhnya, dan ia rasakan hembusan nafas yang sangat dekat membuat tengkuknya meremang.
"Pak Yasya?"
Reyna masih tidak menyangka. Semalam ternyata mereka tidur bersama. Reyna mengucek matanya beberapa kali, memastikan apa yang terjadi padanya memang benar-benar terjadi.
Pria itu masih tidur dengan lelapnya, dengan rambut yang acak-acakan, dan kemeja putih khas orang pulang dari kantor.
Alis yang tebal dengan bulu mata yang lentik, hidung yang bangir serta bibir tipis itu membuat wanita manapun akan takluk dengan pesonanya. Sangat tampan.
Reyna tak bisa berhenti untuk tersenyum ketika melihat tangannya yang masih memeluk pinggangnya dengan manja.
Perlahan Reyna mengelus wajahnya tampan Yasya. Bahkan jarak antara mereka hanya satu senti. Untung saja Yasya sedang tidur saat ini, jika dia bangun bisa jadi dia mendengar jantung Reyna yang berdetak tak karuan.
Mata gadis itu membelalak kala tangan besarnya memegang tangannya yang tengah menyentuh pipi mulus itu.
"Sudah puas melihat wajah saya?" ucap Yasya dengan senyum nya dan matanya yang terbuka.
Reyna menarik tangannya dari jemari Yasya dan segera membelakangi tubuh pria itu.
Tiba-tiba saja wajahnya memerah begitu mengingat kejadian baru saja yang membuat dirinya malu akan apa yang ia perbuat sendiri.
Tiba-tiba Reyna merasakan pelukan pria itu semakin erat dipinggangnya dan gadis itu mrasakan wajahnya telah menempel di tengkuknya membuat Reyna menggelinjang kegelian karena nafasnya yang ia rasakan.
"Pak" Reyna menggigit bibir bawahnya. Ia merasakan keadaan mereka saat ini begitu intim.
"Ada apa?" tanya Yasya yang tak beralih dari posisinya.
"Pak Yasya kenapa bisa ada disini tadi malam?"
"Kenapa? memangnya tidak boleh?"
"Bu... bukan begitu... tapi"
"Tapi apa?l? heummm?"
Reyna merasa sangat nyaman dengan posisi ini, sebenarnya ia sangat takut jika saja Yasya tak dapat menahannya. Ia hanya bisa menahan karena ia sendiri juga menginginkan dan merasa nyaman.
Reyna kaget bukan main ketika Yasya membalikkan tubuhnya dan membuatnya berada diatas gadis itu.
Mereka saling berpandangan, entah kenapa tatapannya begitu sangat nyaman bagi Reyna, dia menatap gadis itu dengan intens, sedangkan jantungnya masih berpacu tak beraturan.
"Pak Yasya" Reyna mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Namun berbeda dengan ekspresinya kali ini, dia tampak mengerutkan dahinya.
Reyna menutup matanya dan menggeleng pelan.
"Reyna... saya"
"Ada apa pak?" Tanya gadis itu dan menengadahkan pandangan kearahnya.
__ADS_1
Dengan cepat pria itu mencium bibir Reyna dengan lembut, seolah dia ingin menyatakan perasaannya yang paling dalam. Mataku masih terbuka, mencoba menemukan jawaban dari perlakuannya, perlahan kututup mataku dan mulai terbuai oleh ciumannya yang penuh kasih sayang.
Semakin lama tubuh mereka terasa panas satu sama lain, Reyna mengkalungkan tangannya dileher pria itu.
Yasya menarik gadis itu hingga posisinya duduk dipangkuannya.
Reyna merasakan tubuhnya bergetar hebat, takut jika sesuatu terjadi padanya. Hal yang selama ini ia jaga akan musnah begitu saja. Reyna mendorong pelan dada bidang pria dihadapannya.
"Pak, jangan" katanya dengan mata yang berkaca-kaca, ia merasa takut jika perbuatan mereka terlampau jauh dan diluar batas bayangannya.
"Maaf... saya pasti membuat kamu takut kan?" kata Yasya sembari menghapus jejak air mata gadis itu dengan punggung tangannya.
Reyna membalas pelukan pria itu. Entah mengapa jika didekatnya ia tak segan bahkan ragu untuk menitikkan air mata seperti ini. Berbeda dari orang lain, dia adalah orang yang sangat Reyna percaya saat ini.
"Pak Yasya... tolong bantu saya, saya ingin cari mama."
Kata gadis itu dengan suara sumbangnya khas orang baru menangis. Yasya dengan lembut mengusap rambut Reyna yang panjang itu .
"Tentu... saya akan bantu kamu" ucap Yasya seraya mengecup puncak kepala Reyna.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.39 dan Reyna masih setia untuk berada di depan cermin. Dengan hanya menggerai rambutnya, gadis itu bergegas turun untuk berangkat ke sekolah.
Reyna melewati pagi hari yang sangat indah, dengan kecupan serta pelukan hangat dari seseorang yang benar-benar ia cintai dan begitu ia percayai.
tin.. tin...
Sebuah mobil berwarna silver menghentikan langkah gadis itu.
"Pak Yasya... bukannya tadi bapak pulang ya?"
"Saya mau kuliah, kebetulan searah, jadi saya jemput kamu sekalian" Reyna masih diam mematung dengan memandangi wajah tampan pria yang kini tersenyum kearahnya, yang tampil beda dengan gaya casual. Dengan hanya memakai kaos hitam dan jaket serta celana jeans. Dia tampak lebih muda dari biasanya.
"Saya tau saya tampan, tapi kalau kamu terus memandangi saya seperti itu apakah pak Nugroho tidak akan menghukum kamu nantinya."
Gadis itu memutar bola matanya malas dengan apa yang dikatakan Yasya barusan ane. Begitu percaya diri.
Segera ia membuka pintu mobil dan duduk disebelah pria itu yang kini tengah bersiap untuk membelah jalanan ibukota.
Sesampainya di sekolah gadis itu melemparkan senyum pada Yasya yang kini mulai membalas senyumannya.
"Makasih ya pak" kata Reyna seraya bergegas untuk turun dari mobil. Namun tangan pria kekar itu menarik lengan Reyna dengan sangat kuat hingga tubuhnya terjatuh diatas tubuh Yasya
"Pak...???" wajah gadis itu tiba-tiba bersemu merah, dapat ia rasakan betapa degup jantungnya sama dengan apa yang Reyna rasakan.
"Kalau pamit itu sopan sedikit... atau mau saya ingatkan seperti ini setiap pagi?" kata Yasya dengan senyuman nakalnya, membuat gadis itu dengan kesal memukuli dada bidang pria itu.
"Ihhh genit tau" kata Reyna kesal.0
Cup..
__ADS_1
Sebuah ciuman mendarat dipipi gadis itu dan blus. Dapat dipastikan bahwa wajahnya pasti semakin memerah kali ini.
Reyna segera keluar dari mobil dan berlari tanpa memperdulikan Yasya yang kini mulai tertawa jahil sepeninggalnya.
***
"Reyna, gue seneng banget bisa ketemu sama lo... kangen tau sehari ngga ketemu" ucap Kanaya yang berjalan sambil memeluk lengan gadis itu dengan erat. Membuat sang empunya merasa risih akan perlakuannya yang sedikit tidak normal.
"Aduh udah deh Nay, jangan meluk gue mulu... ihh malu tau diliatin."
Reyna melepaskan Kanaya dari lengan Reyna dan segera menariknya. Ia takut Kanaya akan berbuat senonoh lagi padanya, meskipun itu tidak mungkin.
"Reyna...." sebuah suara samar, namun dapat didengar oleh telinga gadis itu, membuat Reyna membalikkan tubuhnya dan ia melihat Hengky kini telah berdiri dihadapannya dan Kanaya.
"Eh, kayanya gue harus duluan deh. Gue lagi pengen makan baso, elo samperin dulu tuh si babang tampan" bisik Naya membuat Reyna semakin jengkel dibuatnya
"Nay... tungguin gue" Reyna hendak ingin lari dari Hengky, namun dengan cekatan tubuhnl pria itu beralih menghadang tubuh Reyna yang kini mulai bisa menghembuskan nafasnya. Hingga akhirnya Reyna tak dapat melihat punggung Naya yang semakin lama semakin menghilang.
"Kamu menghindar?" tanya Hengky membuat Reyna spontan menggeleng.
"Rey makan diluar yuk... dicafe sebelah."
"Tapi naya?" kata Reyna dengan tangannya yang menunjuk ragu pada bayangan sahabatnya yang kini menghilang.
"Aku traktir, cuma bentar aja" dengan paksa tangan Hengky meraih lengan gadis itu dan membawanya ke cafe yang jaraknya tak jauh dari sekolah , kira-kira 5 menit berjalan sampai.
"Mbak...." panggil Hengky pada pelayan cafe saat kami tengah duduk dimeja paling depan menghadap jalanan.
"Ky... ada apa ya? kok kamu ngajakin aku kesini, bukannya dikantin sama aja."
"Nggak apa-apa, cuma pengen aja" katanya sembari tersenyum seperti biasa.
"Mbak... mas.... mau pesan apa?" suara pelayan dan uluran buku menu darinya membuat Hengky menghentikan perkataan dan segera mendongak menatap pelayan itu.
"Saya mau pesen udang crispy sama ayam penyet level 5, terus minumnya satu kopi dan vanilla late mbk" kata Hengky tanpa jeda didalamnya membuat Reyna membulatkan matanya.
"Baik, silahkan ditunggu ya" kata sang pelayan sembari beralih meninggalkan tempat mereka.
Reyna mengernyitkan dahi, dan menatap sahabatnya penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa Rey? ada yang salah."
"Bukan, bukan itu... tapi kamu masih inget menu favorit aku dicafe ini? bukannya itu udah lama banget ya?."
"Aku nggak akan lupa semua tentang kamu Rey" jari-jari pria tampan di hadapan Reyna menyentuh punggung tangan gadis itu, segera ia menarik tangannya dari genggaman Hengky.
"Eemmm... aku mau tanya? apa kamu ada masalah?" tanya Hengky dengan pandangannya yang menatap gadis itu dengan sendu.
"Maksud kamu?"
"Aku cuma sekedar tanya, kalaupun kamu ada masalah jangan ragu untuk mencariku, aku akan siap bantu kamu dan kamu harus ingat Rey.... aku nggak akan pernah ninggalin kamu" Reyna semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Hengky padanya, setahuku tidak ada yang ia beritahu selain Yasya.
__ADS_1
"Nggak... nggak ada sama sekali."
Tiba-tiba keadaan berubah menjadi sunyi, tak satupun kata yang keluar dari mulut Reyna, maupun Hengky.