
ceklek....
Suara pintu terbuka datang dari luar pintu kamar, langkah gadis itu mengendap-endap mendekat kearah nakas yang menampilkan lampu tidur dan beberapa obat-obatan.
Dibukanya botol obat itu dan segera ia buang ke luar jendela. Perlahan ia masukkan obat yang baru ia ambil dari saku bajunya.
kreekk...
"Keyla... kamu ngapain disini?" tanya Reyhan tiba-tiba membuat jantung Keyla seperti copot. Iaa tersenyum kearah Reyhan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kakak... aku mau ambilin papa vitaminnya, baru aja mau turun, kak Rey udah masuk" ujar gadis itu santai menyembunyikan rasa kegugupannya dengan pandai.
"Dasar adikku ini, sudah jam 9 lewat.. kamu belum tidur?" tanya Reyhan membuat Keyla tersenyum simpul ke arah kakaknya.
"Kata mama, papa Reynald kalau pulang selalu nonton bola malam-malam... jadi aku mau ambilin vitamin biar nggak lupa."
"Adikku ini benar-benar perhatian ya, baiklah... berikan pada ku, biar kakak yang memberikan pada papa, kamu cepat kembali ke kamar mu, dan segera istirahat."
Keyla mengangguk patuh, dia berjalan ke arah Reyhan yang berdiri di depan pintu dan memberikan botol vitamin itu.
"Selamat malam adikku yang cantik" kata Reyhan sambil menepuk kepala gadis itu.
"Malam juga kakak" Mereka saling melepas senyum, dan berjalan kearah yang berlawanan.
Keyla segera menuju kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat. Iya membelakangi pintu sambil mengusap dadanya yang terasa bergetar hebat akibat terkejut maupun takut jika perbuatannya di ketahui oleh Rayhan.
"Akhirnya, untung aja kak Rey nggak liat tadi. Mama... misi kita sudah berhasil" ucap Keyla dengan senyumnya yang jahat.
Sementara itu di bawah sana terdengar suara semangat seseorang tengah menonton bola di jam 9 malam. Dengan seru pria paruh baya itu berteriak sambil sesekali mengepalkan tangannya seolah memberikan semangat kepada pemain sepak bola yang berada di dalam layar monitor TV.
"Ayo... sedikit lagi... ayo.... aaarrrrgggghhht" teriak seorang lelaki paruh baya yang menatap layar televisi dengan semangat yang membara.
"Juventus vs inter Milan lagi?" suara Reyhan dari arah belakangnya membuat lelaki itu menoleh.
"Reyhan... kamu mau nonton juga, ayo kita liat bola sama-sama... sudah lama kita tidak liat bola kan."
"Papa... ini vitamin papa, nonton bola itu boleh, tapi vitamin ini wajib" ucap Reyhan dan mendekat untuk duduk bersebelahan dengan ayahnya.
"Hemmm anakku, nggak nyangka kamu sudah sedewasa ini, perhatian sekali dengan papa."
"Emmm sebenarnya tadi yang mau anterin vitamin Keyla, bukan aku."
"Oh ya? wahhh dua anak papa ini memang sangat sayang dengan papa ya... papa beruntung sekali bisa memiliki kalian."
"Papa bisa aja" wajah Reyhan terlihat cemas, dia menunduk sesekali, wajahnya muram ketika Reynaldi berkata demikian. Dia menatap sang ayah yang tengah meminum vitamin dengan tatapannya yang masih berkonsentrasi pada layar televisi.
'Dua anak papa.. adalah aku dan Keyla... apakah benar seperti itu? aku tiba-tiba khawatir dengan anak itu, entah mengapa aku seperti tidak terima papa menampar dia... apa perkataan Hengky benar? apa aku harus menyelidiki terlebih dahulu? tapi papa??? papa tidak mungkin berbohong' batin Reyhan gusar.
***
Ini sudah semakin larut, namun Reyna belum makan apapun sedari tadi. Dia tampak menekuk lututnya agar tidak merasa sakit ketika berjalan.
"Aw..." teriaknya kecil, rasanya tidak sesakit kemarin namun malam ini lebih baik rasanya.
Gadis itu memeluk lututnya, matanya berkaca-kaca merasakan kerinduan pada keluarganya.
Pandangannya beralih menatap makanan yang belum ia sentuh sama sekali.
Diraihnya nampan itu yang terdapat bubur diatasnya. Dimakan dengan perlahan bibur itu. tiba-tiba fikirannya menerawang.
"Andai saja, aku yang berada di rumah saat ini... aku pasti menemani papa nonton bola, meski aku harus ketiduran di sampingnya, andai aja ada bang Rey, mungkin aku bakalan disuapin, dan dia pasti bilang 'Reyna... makan yang banyak' andai ada mama pasti keluarga kita akan semakin bahagia, mama selalu perhatian pada kami."
Dadanya terasa sesak, lidahnya kelu tidak dapat berkata-kata lagi, tenggorokannya terasa tercekat. Walau mata Reyna berkaca-kaca, namun dirinya sudah banyak menangis hari ini. Dia tidak ingin selemah itu.
"Sudahlah... kenyataannya memang seperti ini, dan aku harus menerimanya" ucap Reyna dengan senyum palsunya. Dia meletakkan bubur itu kembali. Wajahnya terlihat lelah bersamaan dengan fikirannya yang ia hempaskan begitu saja, ia segera mengambil posisi untuk tidur.
Ditariknya selimut yang berada dibawahnya.
"Selamat malam Reyna... semoga mimpi indah" ujar Reyna pada dirinya sendiri dengan pelan. Perlahan dia memejamkan matanya dan melepas semua ketegangan pada otot-otot nya.
Yasya berada diluar ruangan Reyna untuk mengintip kegiatan gadis itu. Yasya merasa sedih mendengar perkataan Reyna, meski pelan, namun idera pendengarannya masih peka meski terdengar samar-samar.
Dia menunggu hingga Reyna terlelap, entah apa yang difikirkan olehnya. Ketika Reyna sudah terlelap, Yasya segera memasuki ruangan itu.
Ditatapnya wajah cantik gadis yang selalu tersenyum, bahkan dia enggan untuk menunjukkan rasa sedihnya. Ketika Reyna terlelap ada rasa lelah dan ekspresi gelisah dalam dirinya. Hati Yasya terasa terganggu, merasakan apa yang dialami oleh gadis itu.
__ADS_1
Untungnya, dibalik masalah yang Reyna hadapi Yasya selalu hadir. Meskipun bukan sebagai keluarga, namun sebagai penyemangat untuk kelangsungan hidupnya.
"Reyna" Yasya mendekat ke arah Reyna, dia menyentuh puncak kepala gadis itu. Perlahan dirinya menunduk, menatap dengan jelas wajah yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Wajah cantik yang selalu menghiasi harinya itu membuat pria itu tak bisa menahan hasrat untuk memberikan perlindungan pada Reyna.
Cup...
Satu kecupan mendarat di kening Reyna yang tengah terlelap.
"Selamat malam Reyna" tatapan Yasya beralih ke tumpukan buku yang berada dimeja pasien.
"Kamu sudah berusaha keras, saya akan bantu kamu untuk menemukan mama mu, jangan khawatir dan bersedih, karena ada saya yang selalu mendampingi mu" bisik Yasya dalam keheningan.
Ia nampak menggenggam jemari gadis itu dengan lembut, diusapnya dengan pelan seolah memberikan kenyamanan.
***
Hari telah berganti begitupun keadaan Rina yang kini mulai normal kembali. Akhirnya setelah sehari dua malam ia masuk rumah sakit dan menjalani opname kini ia sudah bebas menjalani penyiksaan didalam rumah sakit tanpa bisa bebas sedikitpun.
Seorang dokter terlihat tengah melepas infus yang menempel di punggung tangan Reyna. Ia merasakan sedikit sakit saat jarum itu terlepas dari pembuluh darahnya.
"Reyna... hari ini kamu sudah pulih, tapi ingat diminum obatnya secara teratur, agar keadaan kamu segera membaik."
Reyna mengangguk patuh pada dokter dihadapannya. Pandangan gadis itu beralih menatap pria yang tengah tersenyum kearahnya.
Setelah memakai dress berkerah berwarna putih sampai lutut Reyna segera keluar dari ruang ganti. Sudah 2 hari ia dirawat, dan gadis itu hanya mengenakan baju dari rumah sakit, membuatnya sedikit tak nyaman.
Tak tak tak...
Langkah kaki Reyna dan Yasya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, terlihat beberapa diantara mereka yang tengah memakai kursi roda ataupun tongkat.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya pria yang berjalan berdampingan dengan gadis itu.
"Sudah lebih baik... em terimakasih pak Yasya."
"Reyna... bukankah saya sudah bilang, tunjukkan rasa terima kasih mu pada nilai ujianmu, jangan kamu ungkapan sekarang."
"Tapi tetap saja, pak Yasya yang sudah bantu saya."
"Oke... kalau begitu jangan berhenti terimakasih, karena setelah ini."
"Aaaaa... pak Yasya... turunin saya.... malu dilihat orang."
"Ssstttt... setelah ini saya akan bawa kamu kesuatu tempat" kata Yasya yang masih mempertahankan posisinya.
."Kemana?" tanya Reyna penasaran.
"Kamu akan tau nanti" jawab Yasya membuat Reyna mendengus kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Pak Yasya turunin... saya malu."
Gadis itu memukul kecil dada bidang Yasya, membuat pria itu terkekeh dan akhirnya mengalah untuk menurunkannya.
"Pak Yasya... ihhh" Reyna mendorong pelan tibuh pria yang lebih tinggi darinya itu dan segera bejalan mendahuluinya dengan cepat.
"Reyna... saya hanya bercanda."
Reyna tetap melangkahkan kakinya. Sampai langkah gadis itu berhenti tepat didepan gedung rumah sakit.
"Reyna...." seseorang memanggil Reyna, membuat gadis itu menoleh kesamping. Suaranya familiar terdengar tepat ditelinga Reyna membuatnya langsung bisa mengenali sosok dibalik suara tersebut.
"Kak Zayn" Reyna berlari menuju kearahnya, tampak pria blasteran itu membawakan Reyna sebuket bunga mawar.
"Aku nggak nyangka kakak jadi kesini juga" kata Reyna sambil mengulas senyum nya. Zayn membalas senyuman gadis itu dengan aksen bulenya.
"Dasar gadis konyol, mana mungkin aku tidak datang, kamu masuk rumah sakit nggak ngabarin kakak, buat kakak khawatir aja."
"Maaf aku nggak mau buat kakak khawatir."
Zayn memberikan sebuah buket bunga untuk Reyna. Hal itu membuat gadis di hadapannya tersenyum sambil menerima bunga tersebut.
"Wow... makasih kak."
"Reyna kecil... gimana keadaan kamu sekarang?" tanya Zayn membuat Reyna menengadah setelah pandangannya beralih pada bunga di genggaman nya.
"Reyna...." suara teriakan Yasya membuat gadis itu serta Zayn menengok kebelakang menatap Yasya yang kini mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan gadis itu.
__ADS_1
"Pak Yasya... saya disini" teriak Rayna sambil melambaikan tangannya kearah pria itu. Yasya mengalihkan pandangannya ke arah mereka dan berjalan santai menghampiri.
"Oohhh jadi ini yang namanya Yasya... boleh juga" ucapan Zayn ditelinga gadis itu membuat bulu kuduknya merinding. dengan jahil gadis itu memukul pelan hidung Zayn menggunakan bunga yang ia bawa.
"Haaaa... Hachiiiiiiiingggg."
Reyna terkekeh dan tersenyum puas mendengar Zayn bersin.
"Reyna... kamu jalannya cepat sekali."
"Pak Yasya juga yang bikin saya bete... oh ya... pak Yasya, ini kak Zayn... dia teman saya."
"Bukan... sekarang sudah jadi kakak kamu" ujar Zayn dengan senyum andalannya.
"Ah kakak bisa aja... ini pak Yasya kak, guru magang disekolah ku."
Mereka saling melempar senyum dan bertatapan. Tak lama kemudian mereka saling berjabat tangan.
"Iryasya... senang berkenalan dengan kamu."
"Zayn Bagas" kata Zayn dengan senyuman yang ramah.
"Oh kamu Zayn yang pernah Reyna ceritakan, terimakasih ya karena sudah mengajari Reyna bermain gitar. Berkat kamu Reyna jadi ahli mematikannya."
"Tidak masalah... dia sebenarnya punya bakat... cuma belajar seminggu dia bisa menguasai semua teknik yang aku ajarkan."
"Oh ya? bagus sekali... saya bangga denganmu."
Ujar Yasya sambil mengacak rambut Reyna dengan gemas.
"Oh ya Rey... abang kamu kok nggak kelihatan, boleh kenalin ke aku nggak?" Reyna membelalakkan matanya, Ia terkejut dengan pertanyaan Zayn barusan yang menyinggung perihal Reyhan.
"Sebenarnya... Reyhan lagi ada di luar negeri waktu Reyna masuk rumah sakit, aku yang bawa dia" jelas Yasya membuat gadis itu lega. Hal itu berbanding terbalik dengan ekspresi Zayn yang semakin cemas.
"Apa?! Kenapa kamu yang bawa dia kesini? kalian berhubungan?" kata Zayn seraya memandangi mereka berdua secara bergantian.
"Bukan kaya gitu, pak Yasya yang nemuin aku pingsan dijalan, terus bawa aku kesini, aku nggak mau buat khawatir semua orang, makanya aku nggak ngasih tau kakak."
"Oh gitu ya? makasih ya Sya, kamu tudah bawa adikku kesini, entah gimana nasibnya nanti kalo dia nggak ada yang nemuin."
Kata Zayn seraya mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
"Ahhh kakak... sakit tau" teriaknya kecil sembari memegangi pipinya yang mulai memerah.
"Hehehe... dia sudah kuanggap sebagai adik, jadi mungkin dia agak sedikit manja dengan ku."
Yasya hanya mengangguk sambil tersenyum seolah mengiyakan kata-kata Zyan.
"Oh ya, aku harus pergi dulu... Ayah ku pulang hari ini, jadi aku mau pulang ke Jogja."
Ucap Zayn yang tengah memperhatikan arloji dilengannya.
"Hah... kakak... kok nggak bilang-bilang sih."
"Tenang aja, aku cuma seminggu kok di Jogja, nanti kalau kakak sudah kembali, cepat ke toko ya.. kita main gitar sama-sama."
Reyna mengangguk, entah kenapa gadis itu merasa sedikit sedih mendengar Zayn akan pulang kerumah ibunya. Seseorang yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri.
"kak Zayn hati-hati ya... jangan lupa hubungi aku kalo udah sampe."
"Iya adikku... kamu juga semangat ya, besok kan kamu sudah masuk sekolah... inget belajar yang rajin, ujian kenaikan kelas loh... jangan main mulu."
"Iya kak..." ujar Reyna mengakhiri obrolan mereka.
Zayn tersenyum pada Yasya dan Reyna, ia melangkah meninggalkan mereka. Reyna memandang tubuh pria itu yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya yang sedikit murung oleh kepergian Zayn.
"Kenapa? kamu sedih ditinggal Zayn" suara Yasya membunyarkan lamunan gadis itu. Reyna menatap pria itu dengan senyum tipisnya yang menandakan kebenaran.
"Kak Zayn bukan hanya teman, tapi dia selalu menganggap saya sebagai adik kandungnya... hemmm berbeda dengan bang Rey, dia kakak kandung saya."
"Saya tau... terlihat dari sikapnya, pasti dia sangat menyayangi kamu. Untuk masalah kakak mu itu, dia yang akan rugi karena telah mencampakkan kamu."
Yasya menghembuskan nafasnya, dia beralih menatap Reyna, dan memegang pergelangan tangan gadis itu. Ia mengikuti arahannya membalas tatapannya.
"Reyna... kamu lihat kan... meskipun kamu jauh dari keluarga kamu, tapi ada banyak orang yang sangat sayang pada mu... kamu masih punya mereka... jangan takut sendiri.. oke" ucapan Yasya memang benar, harusnya gadis itu bersyukur untuk ini.
__ADS_1
Reyna tersenyum dan mendongak menatap mata pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Kata-katanya barusan membuat hatinya yang sebelumnya bergemuruh murung kini berangsur tenang, seolah ia tidak sendirian didunia ini. Dialah penyemangat gadis tak dianggap itu, penopang saat Reyna mulai lemah, dan lunglai untuk berjalan.
'Pak Yasya... aku mencintaimu... entah... sampai kapan perasaan ini akan tersampaikan. Aku punya banyak waktu untuk mengungkapkannya, tapi keadaan ku saat ini tidak tepat untuk mengatakannya' ujarnya dalam hati sembari menatap lekat manik mata kesukaannya.