The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Flashback: Konspirasi Keyla


__ADS_3

Sebuah mobil turun didepan gerbang sekolah, tampak beberapa siswa berhamburan memasuki gedung itu.


"Pak Yasya, saya berangkat dulu ya."


Kata gadis cantik itu dengan senyuman yang ia berikan untuk pria yang duduk disampingnya.


Yasya menarik lengan gadis itu tatkala dirinya hendak membuka pintu mobil, hingga tubuh Reyna ambruk tepat diatas dada bidang Yasya yang telah tertutup oleh kemeja, membuat Reyna tersentak.


"Pak Yasya, ihhh jangan seperti ini, nanti kalo ada yang lihat gimana?" ujar Reyna memperingatkan dan mencoba memberontak, namun cengkraman dilengannya membuat gadis itu tak bisa berbuat apa-apa.


"Biarkan mereka tau jika Reyna Malik adalah milikku."


Tatapan mereka bertemu, membuat Reyna tersipu oleh senyuman menawan pria yang berada dibawahnya.


Yasya mencium bibir Reyna. Baginya bibir Reyna kini adalah sebuah candu yang tidak dapat ia hindari setiap dekat dengannya.


Yasya memeluk pinggang ramping Reyna, membuat Reyna akhirnya luluh dan melingkarkan kedua lengannya dileher Yasya.


Drttt drttt drttt...


Suara getar dari ponsel Reyna, membuat keduanya tersentak.


Yasya mendengus kesal, dan memijit pelipisnya, menyandarkan kepalanya pada pintu mobil yang masih tertutup. Reyna yang melihat ekspresi wajah pria disampingnya langsung terkekeh.


"Ehem" Reyna berdehem dan segera meraih telfon itu yang entah dari mana asalnya.


"Hallo," ujarnya dengan senyuman sambil sesekali melirik Yasya yang kini juga tersenyum padanya.


"Hallo Reyna," panggilan telfon dari seberang sana membuat Reyna mengenali sosok suara itu.


"Kak Zayn, ada apa?" tanya Reyna dengan antusias.


"Ada yang mau aku omongin, nanti pulang sekolah kamu ketempat ku ya, aku akan bawa kamu kerumah" kata Zayn membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.


"Masalah waktu itu ya?" tanya Reyna penasaran.


"Iya, jadi gimana menurut kamu? kamu udah dapet jawabannya?" tanya Zayn sekali lagi untuk memantapkan hati Reyna yang sempat ragu.


Reyna mengernyitkan keningnya, ditatapnya wajah tampan pria yang tengah duduk disampingnya, membuat Yasya mengisyaratkan tanya 'kenapa?'.


"Sudah, aku sudah memikirkan ini kok kak, kakak tunggu aja nanti sore."


"Em baiklah, mommy juga ingin mendengar jawaban darimu. Kalau gitu, aku mau beresin toko dulu, kamu belajar yang rajin ya" ujar Zayn yang tampak senang dengan jawaban Reyna yang terlihat meyakinkan.


"Iya kak," Reyna segera mematikan panggilannya, dia menghempaskan tubuhnya di kursi mobil yang ia duduki dan bernafas lega.


"Ada apa sayang?" perkataan yang diucapkan oleh Yasya barusan mendapat senyuman manis dari gadis disampingnya.


"Keluarga kak Zayn, ingin mengadopsi ku pak."


Yasya mengangkat kedua alisnya, wajahnya terkejut bukan main.


"Apa?!" ujarnya dengan nada tinggi membuat Reyna sempat ragu.


Reyna menatap kedua mata Yasya yang tengah menatapnya.


"Apa pak Yasya keberatan?"


Yasya tersenyum dan menggenggam tangan Reyna, membuat gadis itu merasakan kehangatan dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


"Tentu saja tidak, kamu berhak bahagia Reyna, keluarga adalah orang-orang yang selalu menyayangi kamu, aku bisa melihat Zayn, dia benar-benar menyayangi kamu seperti kamu adalah bagian dari keluarganya sendiri. Masa depan mu masih panjang, kamu butuh orang tua yang selalu mendukungmu."


Reyna mengangguk setuju dan tersenyum membalas, membuat Yasya mengecup kening gadis itu dengan lembut.


***


Hengky turun dari motornya bersama seorang gadis yang naik dibelakang boncengannya.


Gadis itu tampak masih mengenakan baju putih dan rok hitam khas anak yang masih mengikuti MOS.


"Kak, pulang sekolah jalan yuk."


Kata Keyla dengan manja, membuat Hengky tak memperdulikan perkataan gadis itu.

__ADS_1


Hengky segera meletakkan helm yang baru saja ia kenakan dan menaruhnya diatas motor besar miliknya.


Langkahnya cepat mendahului Keyla, membuat gadis itu mendengus kesal dan segera berlari mengejar langkah pria itu.


Diraihnya lengan Hengky dengan manja, terlihat Hengky merasa tidak nyaman. Namun gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada pria yang sekarang tengah memakai jas osis, membuat perhatian semua murid tertuju pada mereka termasuk Reyna, yang kini tak sengaja lewat didepan mereka.


Tampak gadis itu menatap tak suka pada dua sejoli yang bermesraan dipagi ini.


"Kak, kita masuk yuk."


Ucapan Keyla diberi anggukan oleh Hengky yang menatapnya dengan senyuman paksa. Melewati gadis cantik itu yang tak bergeming dari lamunannya.


Setelah lebih jauh dari pandangan Reyna, Hengky mulai memperlihatkan wajah malasnya kembali.


"Kak, kakak tau kan kalau sampai kakak macem-macem sama aku."


Bisik Keyla tepat ditelinga pria yang kini tengah berjalan bersamanya. Membuat Hengky geram dan menarik lengan Keyla menuju kelas kosong tak berpenghuni jauh dari keramaian.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan Keyla, aku sudah bersedia menjadi pacarmu! kamu nggak usah mengancamku, aku paling tidak suka diancam!" ucapan pelan namun tegas dari Hengky membuat Keyla mengerucutkan bibirnya, dan dengan cepat lengan Hengky menghempaskan tangan Keyla yang sempat bergelayutan padanya lagi.


Hengky melangkah menjauh, ingin keluar dari ruangan yang memuakkan baginya. Namun langkahnya berhenti diambang pintu tatkala Keyla mengucapkan sesuatu yang membuat amarahnya terpancing kembali.


"Kak Hengky, aku sangat mencintaimu! bisakah kakak melihat ku sedikit saja? apa bagusnya Reyna yang telah menjadi simpanan om om itu?"


"CUKUP KEYLA, CUKUP! JANGAN BERBICARA BURUK TENTANG DIA?! ATAU KAMU..."


Keyla melangkah maju seolah menantang Hengky untuk melawannya.


"Atau apa haaa? Oke, aku akan katakan pada semua orang,bjika itu yang kakak inginkan."


Hengky menarik lengan Keyla yang hendak mendahuluinya keluar dari ruangan itu. Tatapan tajamnya membuat Keyla tersenyum puas.


Flashback on.


Hengky sedang berjalan di mall sendirian, awalnya dia bersama dengan Aliya sang ibu, namun karena ada urusan mendadak bersama teman-teman arisannya, kini pria yang tengah menginjak masa puber itu akhirnya berjalan sendirian, mencari sebuah arloji yang belum sempat ia temukan.


Beberapa langkah dari tempatnya berdiri, akhirnya Hengky melihat benda yang ia cari dengan merek G-SHOCK berwarna hitam tak jauh dari pandangannya.


Langkahnya cepat menuju kios didepannya. Diraihnya arloji itu, namun bersamaan dengan itu, sebuah tangan juga meraih benda itu, membuat Hengky menoleh sosok yang ingin merebut arloji kesukaannya.


"Hay kak Hengky" Keyla tersenyum, membuat Hengky memutar bola matanya malas.


"Cepet, lepas tangan lo!" ujar Hengky dengan nada kesal.


"Kenapa? ini aku duluan kok yang ambil" ucap Keyla dengan tatapan tajamnya, membuat Hengky semakin jengkel.


"Ini gue duluan yang liat, lagian lo ngapain sih make jam tangan cowok, cari aja yang lain."


"Kata siapa ini buat aku, ini buat kak Reyhan tau. Lagian darimana kakak tau kalau ini yang liat duluan, kan kita sama-sama pegang."


"Udah ah, gue males ribut sama anak kecil kaya lo gue bayarin jam apapun yang lo mau, asalkan jangan ini."


"Oh gitu ya. Em kalau gitu ambil aja, tapi syaratnya, kakak harus nemenin aku makan."


*****


Keyla mengambil sebuah burger yang ada dimeja, dia tampak dengan santai memakan burger itu.


Tatapannya beralih kepada pria yang tengah duduk menyilangkan tangannya di dada bidangnya.


"Kakak nggak makan?" tanya Keyla dengan cuek Hengky menggeleng.


"Apa kakak ingat waktu kita pertama kali ketemu."


Hengky mengerutkan keningnya dan menatap intens gadis yang selalu penuh dengan teka-teki itu.


Keyla meraih sebuah buku yang tak asing bagi Hengky, sebuah buku sosiologi miliknya yang beberapa bulan ia cari dan terdapat catatan kecil didalamnya.


"Ini buku kakak kan?" kata Keyla sambil memperlihatkan buku familiar miliknya.


Hengky mengambil buku itu dan membolak-balik kan halaman demi halaman untuk memastikan kepemilikannya, dan benar saja, memang itu lah bukunya.


Pria itu baru sadar ketika beberapa bulan yang lalu dirinya menabrak seorang anak SMP sampai gadis itu terjatuh, dan ternyata itu adalah wajah yang tak asing, fikirannya melayang mengingat kembali kejadian dimana dia buru-buru pulang bersama Reyna dan melupakan bukunya yang terjatuh.

__ADS_1


"Aku tau, kakak suka kan sama Reyna?" ujar Keyla lagi yang tidak dipersulit oleh Hengky.


Hengky menampilkan wajah garangnya, tampaknya dia tak suka ada yang mencampuri urusan pribadi nya, apalagi dengan Keyla, sejak tau bahwa dia adalah adik angkat dari Reyhan Hengky semakin tak menyukai gadis dihadapannya ini.


"Lo nggak perlu ikut campur, makan aja yang bener, dan cepet selesaiin."


"Sampai saat ini, kakak juga belum tau kan masalah ini dari mulut Reyna sendiri, apa kakak fikir Reyna bakal cerita ke kakak? apa kakak fikir dia menganggap mu sebagai sahabatnya? aku ragu."


Hengky diam membisu, tatapannya beralih kearah lain, enggan menatap gadis yang tengah tersenyum puas.


"Ku beritahu, tapi kakak jangan terkejut. Reyna.l, selain dia anak haram dari tante Almira, dia juga menjadi seorang simpanan untuk keberlangsungan hidupnya."


Ucapan Keyla dipenuhi dengan gelak tawa, membuat tatapan tajam Hengky beralih padanya.


Brakkkk...


Suara keras dari meja yang pukul kuat oleh Hengky membuat Keyla tersentak dan menghentikan tawanya.


Semua orang menatap kearah mereka, dengan tatapan penasaran. Hengky yang menyadari itu langsung bersikap biasa kembali agar tidak menjadi pusat perhatian.


"Jangan bicara omong kosong tentang Reyna! lo nggak tau apa-apa tentang dia" ucapan tegas dari Hengky membuat Keyla menyunggingkan senyuman.


"Memangnya aku bicara omong kosong apa? kakak lihat sendiri buktinya."


Keyla meraih ponselnya dan memperlihatkan beberapa foto kebersamaan Reyna dengan Yasya.


'Ini kan? pak Yasya? apa benar apa yang dikatakan setan ini?'


Hengky mengangkat sebelah alisnya, dia masih tidak percaya dengan foto yang ia lihat. Bisa saja Keyla hanya memfitnah gadis itu, Reyna adalah gadis yang polos dan baik, dia tidak mungkin menjadi simpanan Yasya.


Hengky menggerakkan giginya, tatapannya penuh dengan kebencian.


"Ini bohong!"


"Kak, aku tidak berkata bohong, semua yang ku katakan memang benar adanya" Keyla mendengus kesal, gadis itu memutar bola matanya, harus bagaimana lagi meyakinkan pria dihadapannya ini yang sangat keras kepala.


Hengky berdiri dari tempat duduknya dan hendak pergi dari tempat itu, namun tangan Keyla mencegah langkah Hengky, membuat pria yang dirundung rasa amarah itu menatap tajam gadis dengan senyuman menyepelekan pada Hengky.


"Jika kakak pergi, maka lihat saja apa yang terjadi nanti" kata Keyla seolah mengancam.


"Apa maksud lo? lo mau ngancem gue?" ujar pria itu dengan kesabarannya yang hampir habis.


"Menurut kakak gimana?" tanya Keyla yang masih bertahan dengan senyuman yang tersungging di pipinya.


Hengky menghempaskan tangan Keyla yang tengah meraih lengannya.


"Aku bakal ngasih tau semua orang tentang aib Reyna, bahkan dia tidak akan bisa menanggung rasa malu. Orang tuanya bercerai karena dirinya anak haram, serta dibuang oleh keluarganya sendiri dan yang mengejutkan lagi, dia sekarang mengikuti jejak ibunya menjadi wanita simpanan pria kaya."


Hengky yang awalnya ingin pergi dari tempatnya, kini masih tak bergeming. Rahangnya tampak mengeras, matanya menahan amarah, darahnya seolah mendidih oleh ancaman yang dilayangkan oleh Keyla padanya.


Ingin sekali rasanya menampar gadis licik itu.


"Apa mau lo?" tanya Hengky yang kini mulai menahan amarahnya untuk tidak meledak begitu saja.


"Sederhana, jadilah pacarku, turuti apapun yang ku mau, maka, pintu akan terkunci secara rapat."


Hengky menatap tajam wajah Keyla yang sekarang menyesap sebuah kopi dihadapannya dengan tatapan santai.


"Apa lo bilang?! gue? jadi pacar lo?! lo kira gue orang gila yang mau seenaknya lo pacarin haaa?! yang naksir gue juga banyak kenapa gue harus mau macarin orang gila kaya lo?!!" kata Hengky dengan emosinya yang kian memuncak.


"Kalo kakak nggak mau ya udah, ini akan jadi urusan ku sama Reyna."


Dan akhirnya, Hengky pun setuju untuk memenuhi permintaan dari gadis licik bernama Keyla itu. Sampai saat ini Hengky masih terjebak dalam permainan yang dilakukan oleh Keyla padanya dan terlebih pada Reyna.


Pada akhirnya Hengky melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika Yasya dan Reyna Makan malam bersama. Mereka sempat bertegur sapa, namun sikap Reyna dan Yasya yang begitu mencurigakan menambah keyakinan Hengky oleh gadis yang sangat ia percayai sebagai sahabatnya itu.


Walaupun begitu, Hengky juga tidak ingin melukai perasaan gadis yang sangat ia cintai. Dia memilih untuk membungkam mulut Keyla, mengingat begitu banyak penderitaan yang dialami oleh Reyna.


Ingin rasanya Hengky memeluk gadis itu, meyakinkan padanya agar semua yang terjadi tidak akan apa-apa jika dijalani dengan tulus.


Namun sisi lain dari hatinya merasa kecewa akan perbuatannya bersama mantan guru magang yang pernah mengajar dikelas nya itu.


Hengky hanya berfikir positif, dan berharap Reyna bisa bahagia, meski dengan cara yang salah dan harus menjauh dari hidupnya.

__ADS_1


Flashback off.


__ADS_2