The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Persahabatan yang hilang


__ADS_3

kring... kring....


Suara bel pulang sekolah menambah riuh suasana yang semakin ramai, membuat semua murid berhamburan keluar kelas dan meninggalkan gedung sekolah untuk pulang masing-masing ke rumah mereka.


Begitu juga hari pertama ospek kali ini yang berjalan dengan lancar.


Hengky berjalan keluar dari gedung itu, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala suara yang tak asing memanggil namanya.


"Kyky" teriak Reyna sambil berjalan mendekati pria itu yang masih tak bergeming dari tempatnya, diam tanpa membalikkan tubuhnya untuk menatap wajah Reyna yang kini berada dibelakangnya.


"Ky, ada yang mau aku tanyain ke kamu, kamu kenapa sih? aku disini Ky, liat aku."


Kata Reyna sambil meraih lengan Hengky yang masih mengenakan jas merah maroon, almamater OSIS nya.


"Ada apa Rey? kalau mau tanya sesuatu tanyakan saja" kata Hengky ketus membuat Reyna mengernyitkan keningnya m


"Kamu ini kenapa Ky kamu..." ucapan Reyna menggantung, kala Hengky menghempaskan tangan Reyna dari lengannya.


"Sejak kapan kamu kenal dengan Keyla?" tanya Reyna dengan mata berkaca-kaca, yang masih berada dibelakangnya Hengky.


"SUDAH SANGAT LAMA... KAMI SEKARANG SUDAH PACARAN" teriak seorang gadis dari belakangnya yang membuat Reyna menatap gadis itu dengan tatapan intens.


Reyna merasa sakit saat mendengar pernyataan itu dari Keyla, bukan karena cemburu, tapi karena Hengky tidak jujur padanya.


"Ky, apa yang dikatakan olehnya itu benar?" pertanyaan dari gadis itu membuat Hengky diam sejenak dan akhirnya mengangguk, membuat gadis dibelakang Reyna menyeringai dengan senyuman sinis nya.


"Maaf Rey, aku nggak ada waktu buat ngomong sama kamu, aku ada janji sama pacar ku, lebih baik, kita nggak usah sahabatan aja untuk seterusnya, karena Keyla nggak suka kamu deket-deket sama aku" kata Hengky dengan tatapan dingin kala dirinya membalikkan tubuhnya untuk menatap gadis yang selama ini menjadi sahabatnya.


Reyna menatap wajah Hengky dengan tatapan sendunya, namun Hengky masih tak peduli dengan tatapan Reyna yang seolah ingin menumpahkan air mata.


Keyla segera berjalan cepat mendekati Hengky, dia melalui tubuh Reyna dan dengan sengaja menyenggol tubuh Reyna dengan keras hingga menyebabkan gadis itu terjatuh.


"Aahhh" teriak Reyna membuat Keyla tersenyum menatapnya.


"Oh, lo jatuh ya, maaf ya, gue nggak sengaja Rey, sini gue tolong" ucap Keyla sembari mengulurkan tangannya, namun sebelum Reyna berhasil meraih tangan Keyla, gadis itu segera menariknya kembali.


"Aduh, maaf Rey, gue harus pulang dulu, kak Rey dan papa udah nungguin gue, lo berdiri sendiri bisa kan?" kata-kata Keyla membuat hati Reyna bertambah sakit, ditambah lagi dengan Hengky yang mengacuhkannya tanpa mempedulikan sikap pacarnya pada Reyna.


"Ayuk sayang, kita pulang dulu."


Ajak Keyla seraya memeluk lengan Hengky dan mereka meninggalkan Reyna yang masih terduduk dilantai.


"REYNAAA."


Teriak Kanaya yang melihat pemandangan didepannya. Reyna berusaha bangkit, dibantu oleh Kanaya yang berlari kearahnya.


"Sini, gue bantu. Lo bodoh banget sih, kenapa nggak ngelawan?!" kata Kanaya kesal

__ADS_1


"Udah, gue nggak apa-apa kok" ucap Reyna dengan senyuman, menutupi kesedihannya.


"Brengsek! gue nggak bakalan ngampunin Hengky sama si Keyla" kata Kanaya berapi-api, rahangnya menegang menahan amarah, rasanya ingin memberikan pelajaran pada dua sejoli itu yang telah memperlakukan sahabatnya hingga seperti ini.


Kanaya hendak melangkah mengejar Hengky dan Keyla namun dengan cepat tangan Reyna menghentikan langkahnya.


"Rey, lepasin tangan gue" kata Kanaya dengan kasar.


"Nggak!" Reyna mencoba untuk meredam emosi sahabatnya yang sempat memuncak.


"Rey, lo itu kenapa sih ha?! gue itu mau belain lo!" kata Kanaya dengan suaranya yang menekan,.


"Nay, cukup! biarin aja, gue nggak mau ada masalah lagi sama dia. LO JANGAN IKUT CAMPUR! INI MASALAH GUE, lo nggak perlu belain gue" ucap Reyna tegas sambil memperlihatkan tatapan tajam pada sahabat didepannya.


"Lo apa-apaan Rey?! Lo itu terlalu lemah, gampang banget lo bilang nggak apa-apa haaa! gue cuma mau belain lo, tapi lo malah bilang kalo gue ikut campur dan ngebentak gue, sebenernya masalah lo ada di gue atau mereka?" ucap Kanaya dengan amarahnya.


"Nay," tatapan Reyna memohon tak dipedulikan oleh Kanaya.


"Fine, gue nggak bakalan ikut campur masalah lo!" gadis itu menghempaskan tangan Reyna yang masih bertengger dilengannya. Amarahnya memuncak, mengingat Reyna yang tidak menghargai pembelaan darinya.


Kanaya pergi begitu saja meninggalkan sahabatnya yang sedang kalut akan perdebatannya dengan Kanaya barusan.


Reyna mematung, dadanya sesak, rasanya satu persatu sahabatnya kini telah pergi meninggalkannya. Bahkan belum sempat Reyna menjelaskan namun amarahnya seperti tidak bisa dikendalikan.


Kanaya tidak tau, betapa liciknya Keyla... jika dia berbuat masalah dengan gadis itu, maka Reyhan tidak akan mengampuni Kanaya.


Sudah berapa kali dirinya dipukul oleh kakak kandungnya itu akibat kata-kata fitnah dari Keyla. Jika berbicara apa adanya saja tidak dipercayai olehnya, apalagi Kanaya.


Gumam Reyna dengan pelan.


***


Sebuah restoran mewah telah ramai oleh segerombolan pengunjung yang datang untuk makan siang disana.


Terlihat beberapa pelayan mondar-mandir menulis pesanan maupun mengantarkan makanan di meja konsumen.


"Makin rame aja" ucap Yasya yang tengah duduk di bangku depan waiters bersama sahabatnya.


"Ini juga berkat lo, kalo lo nggak nyadarin gue, gue juga nggak bakal ada gairah buat ngurusin ini resto."


"Bukan gue yang nyadarin lo, gue cuma ngasih saran aja" kata Yasya sambil tersenyum kearah Satya.


"Mau kopi?" tanya Satya pada Yasya yang kini mengangguk setuju.


"Boleh," Satya meraih kopi yang baru saja diberikan oleh waiters dari belakangnya.


"Gimana lo sama Syahbilla?" pertanyaan dari Satya membuat tubuh Yasya melemah dan menggeleng. Tatapannya hampa dan sendu, sudah beberapa kali ia melupakan kejadian tempo hari yang membuat dirinya kehilangan keberadaan Reyna yang kini entah ada dimana, namun hasilnya kenyataan tidak seindah harapan.

__ADS_1


"Gue gagal Sat," kata Yasya sambil menyesap secangkir kopi hitam ditangannya.


"Maksudnya?"


"Gue belum sempat nyatain perasaan gue ke Reyna. Tapi sebelumnya dia yang nyatain duluan, sebelum gue bales perasaannya, eh Syahbilla dateng, dan ngungkapin kenyataan, kalau dia tunangan gue."


Satya menatap sahabatnya itu dengan tatapan intens, mencoba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Yasya.


"Terus sekarang lo sama Reyna gimana?" tanya Satya lagi.


"Gue nggak tau dimana dia sekarang, gue emang pengecut Sat, bahkan ngungkapin perasaan gue aja nggak bisa! itu semua emang salah gue, disaat Reyna berduka atas meninggalnya tante Almira, gue malah seneng-seneng ngadain pesta besar. Mungkin Reyna bener-bener udah kecewa sama gue."


Satya menatap sendu wajah sahabatnya yang kini telah menyerah dengan kehidupan cintanya. Rasanya Yasya tidak pernah serapuh ini dalam hidupnya, semua beban dan masalah berkumpul menjadi satu.


"Yasya, gue tau apa yang lo alami, gue bisa bantu lo kok, gue tau dimana gadis kecil itu berada?"


"Gadis kecil? maksud lo Reyna?" tanya Yasya antusias.


Sebuah anggukan dari Satya kini membuat harapan Yasya memiliki kesempatan dalam kehidupan cintanya.


***


"Maafkan aku, jika aku tidak terbaring disini mungkin kita sudah menikah minggu lalu."


Ucap Reynaldi yang sekarang tengah berbaring di bangsal rumah sakit dengan sebuah selang oksigen yang melingkar di kedua lubang hidungnya. Membuat suara lemahnya terdengar begitu pelan namun dapat dengan jelas didengar oleh wanita setengah baya yang duduk memegang pergelangan tangan pria itu dengan lembut.


"Mas, jangan difikirkan lagi, yang terpenting mas harus cepat sembuh, lagi pula kita menikah itu untuk merawat anak-anak kita."


Kata Cintiya dengan senyumnya pada calon suaminya itu.


"Kamu benar Tya, terimakasih, dalam keadaan ku yang seperti saat ini, kamu masih sangat peduli dengan ku. Reyhan pasti sangat bahagia jika memiliki ibu yang sangat baik seperti kamu."


Pujian dari Reynaldi membuat Cintya tersenyum dan beralih meraih botol obat dan air putih yang berada diatas meja.


"Hemmm mas, kalau begitu diminum obatnya dulu, kesembuhan mas lebih penting lo" kata Cintya dengan rona wajah bahagia.


"Kamu ini, baiklah akan aku minum."


Reynaldi meraih obat itu dan segera meminumnya bersamaan dengan air yang masuk melalui tenggorokannya.


Rasa kantuk dari pria itu mulai memenuhi kepalanya yang sedikit pening setelah beberapa saat meminum obat itu. Dan tiba-tiba saja tubuhnya ambruk saat itu juga.


Cintya yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dengan seringai nya.


'Tidurlah Reynaldi, susul suamiku yang telah kamu ambil nyawanya' batin Cintya dengan senyuman yang tersungging di sebelah bibirnya.


.

__ADS_1


.



__ADS_2