The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Ketika tiada yang berpihak


__ADS_3

"Halo kakak, tolong ambilin terompet yang aku buat tadi malam ya, aku lupa bawa, atribut ku nggak lengkap."


Ucapan gadis yang tengah menatap pintu toilet didepannya sambil menelfon seseorang disebrang sana. Gadis itu tampak menunggu kedatangan seseorang yang hendak keluar dari sana, namun tidak tau apa yang dia inginkan ditempat sepi itu.


Senyuman mengembang dipenuhi wajah kelicikan terlihat jelas dari ekspresi nya.


Setelah dirinya berhasil membuat Hengky sibuk dengan urusan organisasinya, dan kini tinggal Reyhan yang harus datang untuk melihat pertunjukan dan sekaligus ikut dalam drama yang ia ciptakan.


Didalam kamar mandi....


"Kenapa harus pulang sekolah ini? saya kan mau ketempat kak Zayn,pak Yasya gimana sih."


Kata Reyna mendengus kesal dengan pria yang berada disebrang sana.


Tampaknya ada sebuah hal penting yang harus dikatakan oleh pria itu padanya, namun hal apa yang sangat penting hingga Reyna harus membatalkan pertemuannya dengan Zayn dan Ajeng.


"Sayang, jangan marah. Ini tentang hubungan kita" ucapan pria lembut diseberang sana membuat Reyna membulatkan matanya.


"Maksud pak Yasya apa? jangan bilang ini ada hubungannya dengan Syahbilla?" hati Reyna mendadak tidak tenang dengan apa yang membayangi fikirannya kala dipenuhi oleh rasa gusarnya, mengingat beberapa waktu lalu ketika perasaannya dipermainkan.


Kini Reyna yang baru bernafas lega, akankah harus menahan nafasnya lagi untuk waktu yang sangat lama?.


"Tentu saja, tapi bukan seperti yang kamu fikirkan Reyna. Kamu percayakan padaku?" kata Yasya meyakinkan.


Reyna sempat diam sebentar, rasanya takut untuk percaya pada pria yang tengah berbicara serius padanya. Namun dengan keyakinan yang kuat, hatinya menjadi luluh dan mencoba untuk mengalirkan semua perasaannya begitu saja.


"Saya percaya," jawab Reyna menenangkan hatinya.


"Reyna, apapun yang terjadi nanti. Kita akan hidup bersama, aku janji padamu, setelah kamu lulus, aku akan segera melamar mu" kata Yasya penuh kesungguhan.


Reyna tersentak, memandangi wajahnya sendiri didepan cermin yang memantulkan bayangannya. Dia merasa tak percaya oleh perkataan pria yang dicintai itu, Reyna ingin sekali menantikan hal itu, namun diusianya sekarang ini, rasanya terlalu dini untuk hanya memikirkan tentang pernikahan dan sebagainya.


Apalagi dengan masa lalunya yang kelam akan keluarga kecilnya.


"Pak Yasya, saya hanya," ucapan Reyna menggantung dan langsung disahut oleh Yasya.


"Saya akan menunggu, saya sangat mencintaimu Reyna."


"Lalu Syahbilla?" tanya Reyna sambil menunggu jawaban.


Yasya mendengus kesal, dirinya seperti ingin sekali memeluk erat tubuh Reyna yang selalu mengingatkan sesuatu yang tidak penting.


"Sayang ku, aku tidak mencintainya, jika hubungan kami akan dilanjutkan, itu tidak akan baik untuk kami berdua Reyna, hanya kamu gadis yang sangat aku cintai, bukan Syahbilla. Kita tidak bisa hidup dengan orang yang sama sekali tidak memiliki perasaan cinta bukan?."


Reyna menunduk, perkataan Yasya membuat matanya berkaca-kaca, bukan karena sedih, namun terharu oleh apa yang dikatakan pria itu, membuat hati yang penuh kegelisahan kini berubah menjadi ketenangan.


"Baiklah, saya mau, saya akan bertemu bapak nanti."


Ucapan lemah tanda pasrah dari Reyna membuat pria disebrang sana tersenyum tenang.


"Saya akan menjemput mu, kabari saya jika kamu hendak ingin pulang."


"Iya" panggilan itu ditutup oleh Reyna. Gadis itu menghembuskan nafas berat yang baru saja tertahan.


Diperhatikan baju putih dan dasi abu-abu dengan saku bertuliskan Osis khas anak SMA yang baru saja mengering tatkala dirinya baru saja membersihkan noda teh disana.


"Aw" Reyna meringis kesakitan, kala bagian bawah lehernya terasa perih saat tak sengaja menyentuh bagian itu.

__ADS_1


Dibukanya kancing paling atas, dan diintipnya bagian tulang belikat menonjol yang sebelumnya merasa sakit itu tepat didepan cermin yang sedari tadi ada depannya dengan wastafel dibawahnya.


Reyna memperhatikan luka merah serta sobekan kecil memperlihatkan sedikit darah terbuka bekas teh panas yang mengenai tubuhnya tadi, untung saja lukanya tidak terlalu serius, meskipun begitu Reyna harus segera mengobati luka bakarnya atau itu akan membekas nantinya.


Segera ditutupnya kembali seragamnya. Gadis itu pun keluar dari toilet untuk kembali ke kelasnya.


Namun tak lama ia melangkah, tiba-tiba seseorang menyentuh punggungnya dari belakang, membuat Reyna tersentak dan segera menoleh kebelakang, memperlihatkan gadis yang tak asing baginya itu.


"Rey, gue minta maaf ya soal tadi" ucapan lembut dari gadis itu beserta senyuman liciknya membuat Reyna hanya mengangguk dan ingin segera pergi dari hadapan Keyla.


"Gue itu minta maaf sama lo, lo sombong banget sih. Pantes aja kepribadian lo itu buruk, emang bibitnya aja dari selingkuhan."


Kata-kata pedas dari gadis itu membuat Reyna berhenti dari langkahnya dan membalikkan tubuhnya untuk menatap tajam gadis yang berdiri tak jauh dari tubuhnya tengah tersenyum sinis menantang.


"Wow, anak haram punya nyali juga ternyata. Gue tegesin sama lo anak haram, lo itu nggak punya siapa-siapa sekarang! keluarga lo udah berhasil gue rebut, jangan sok-sokan lo, masang wajah yang bikin semua orang perhatian sama lo? Helloow harusnya lo itu ngaca, lo itu siapa? cuma anak haram dari simpanan Almira."


Ucapan menggantung dari Keyla karena tubuh Reyna yang kini semakin mendekati nya, membuat gadis itu merasa semakin tersenyum menantang.


drrtt..


Getar ponsel dari pesan masuk di ponsel Keyla , membuat gadis itu membaca sebuah pesan dari Reyhan yang baru saja sampai di sekolahnya.


Reyhan: "kamu dimana Key? kakak udah ada didepan sekolah kamu nih," isi pesan dari Reyhan membuat Keyla tersenyum menang.


Keyla dengan cepat membalas pesan itu.


Keyla: "kakak, cepet tolongin aku, aku ada didepan toilet belakang."


Setelah selesai mengetik pesan dan memastikannya terkirim, Keyla dengan cepat membanting ponselnya dengan keras.


"Cuih, gue kasihan sama lo Key, lo udah nggak dapet kasih sayang papa lo berapa tahun ha? sampe nggak punya tata krama kaya gini" ludahan dari Reyna membuat Keyla melangkah mundur dan hampir mengenai sepatu hitam milik gadis itu.


Membuat atmosfer ruangan yang sepi itu menjadi mencekam, menyaksikan dua perselisihan gadis yang sama-sama menatap benci wajah didepan mereka masingmasing.


"Hahahaha, Reyna! cuma itu kemampuan lo,? gue bahkan bisa melenyapkan mama lo, dan pembalasan lo cuma sekedar ludahan. Asal lo tau Reyna, gue, DIAR KEYLA ROUTULIE " ucap Keyla dengan nada tinggi dan mendekatkan tubuhnya kearah telinga Reyna serta membisikkan kata yang sempat menggantung.


"Telah membunuh Almira ibumu hahahaha."


Bisikan dari Keyla ditelinga dengan disusul gelak tawa darinya, membuat Reyna yang menahan amarahnya kini telah tak bisa membendungnya lagi. Rasanya rahangnya yang mengeras sedari tadi hanya ditatap sepele oleh Keyla.


Reyna mendorong tubuh Keyla dengan keras, membuat gadis yang lebih pendek darinya itu terjatuh kebawah dengan posisi duduk.


"Keterlaluan lo Keyla, salah apa mama gue sama lo, sampe lo tega nabrak mama haaa?!"


Keyla segera bangkit dan dengan cepat tangannya melayangkan sebuah tamparan kearah gadis itu.


Plakkkk....


"Berani-beraninya lo dorong gue, itu balasannya."


Wajah amarah dari keduanya, membuat suasana diruangan itu menjadi sangat menakutkan, untung saja tidak ada orang kain disana. Meskipun begitu, Reyna masih tidak bisa membendung matanya yang kini memerah, Reyna tampak melayangkan tangannya hendak membalas tamparan dari gadis dihadapannya yang kini masih tersenyum puas, namun dengan cepat kedua tangan Keyla meraih kedua tangan Reyna dan menariknya untuk dieratkan di lehernya sendiri. Membuat seolah Reyna tengah mencekik gadis itu.


"Keyla lo ngapain? lo gila ya!" Reyna tampak panik, dirinya tidak tau apa yang ingin dilakukan oleh gadis ini. Reyna dengan sekuat tenaga ingin menarik tangannya, namun cengkraman dipergelangan tangannya yang menekan leher gadis itu sendiri membuat ia kesulitan.


"Key, lepasin, lo udah gila ya?!" kata Reyna dengan nada tinggi.


"Aah tolong, uhuk uhuk" Keyla tampak memainkan perannya dengan baik tatkala Reyhan telah sampai disana tepat pada waktunya.

__ADS_1


Melihat pemandangan didepannya yang membuat amarahnya memuncak. Pria berjas itu segera menarik tubuh Reyna dan menghempaskan nya kelantai dengan keras.


"Ahhhh"


Teriakan Reyna tak dihiraukan oleh Reyhan yang kini menatap adik angkatnya itu dengan tatapan iba.


"Ka, kak Reyna kak, dia, dia mau membunuh ku" ucapan Keyla terbata sambil memperlihatkan wajahnya yang memerah karena terbatuk oleh perbuatan gadis yang masih tersungkur dibawah Reyhan.


"Keyla, kebohongan apa lagi yang ingin kamu katakan!" teriakan dari Reyna membuat Reyhan semakin murka. Tubuh pria itu mendekati tubuh Reyna yang masih tak bergeming dari posisinya.


"KAMU ANAK HARAM! DIAM!" suara teriakan keras dari Reyhan membuat banyak siswa-siswi yang datang untuk menyaksikan sesuatu yang terjadi didepan kamar mandi.


Satu persatu dari mereka mengelilingi tubuh tiga orang yang tengah saling menatap penuh amarah itu. Membuat sebagian dari mereka mencibir atau hanya sekedar menikmati pertengkaran dihadapan mereka.


"Bang, aku tidak melakukan apapun, dia yang memfitnah ku, kau tau, mama" perkataan Reyna yang telah bangkit dari tempat ia jatuh mengambang begitu saja kala Reyhan memotong penjelasannya.


"Berhenti memanggilku seperti itu, karena kamu bukanlah adikku! dan jangan sebutkan mama lagi, karena aku sudah tidak mempunyai dia!"


Ucapan keras dan tegas dari Reyhan membuat semua murid disana berbisik dengan nada ketus dan mencibir.


Namun Reyna tidak memperdulikan hal itu, matanya berkaca-kaca dan siap untuk menumpahkan isinya yang tertampung begitu banyak beberapa saat lalu saat ia tak mampu menjelaskan apapun pada Reyhan.


Bagaimanapun Reyna menjelaskan, sedetail apapun alasannya, pria itu takkan lagi mempercayai seluruh perkataan darinya.


"MULAI SEKARANG SEMUA ORANG HARUS TAU, JIKA DIA, BUKANLAH ADIKKU LAGI! DIA HANYALAH ANAK HARAM YANG DILAHIRKAN OLEH SEORANG WANITA MURAHAN YANG MEMILIKI SIMPANAN!"


plakkkk....


Tamparan keras mendarat dipipi Reyhan dari tangan mungil gadis yang notabennya adalah adik kandungnya itu.


Reyna merasa sakit kali ini, bukan hanya dirinya yang dipermalukan, namun Almira yang tidak memiliki kesalahan apapun juga direndahkan oleh anaknya sendiri.


"KURANG AJAR!" tangan mengepal dari pria itu hendak melayangkan tangannya kewajah Reyna.


Membuat orang-orang disekitar mereka termasuk Hengky dan Kanaya yang ternyata sudah berada disana sedari tadi merasa tegang dan menatap kedua saudara kandung ini tak percaya, terkecuali Keyla penyebab dari semua masalah besar ini hanya tersenyum puas melihat pemandangan menarik didepan matanya sendiri.


Reyna dengan sigap memegang kuat kepalan jari Reyhan dan segera menarik lengannya untuk kemudian diputarnya, membuat tubuh Reyhan kini dalam kendali Reyna.


"Bang, hiks, aku tidak ingin melakukan ini, tapi abang akan menyesal jika bang Rey tau sebenarnya, hiks hiks" suara pelan dari tangisan Reyna membuat Reyhan menahan amarahnya.


Tampak Reyna mendorong kuat tubuh Reyhan hingga kini dirinya tersungkur dilantai, yang membuat suasana menjadi begitu riuh karena suara bisikan mencibir dan menghina, namun ada juga dari mereka yang tidak menyangka jika gadis itu juga memiliki ilmu bela diri melawan kakaknya sendiri.


"Kakak, kamu tidak apa-apa kan? Reyna! keterlaluan kamu, bisa-bisanya kamu memperlakukan kakakmu seperti ini?!" kata Keyla sambil membantu Reyhan untuk berdiri.


"Kakak?! dia tidak menganggap ku sebagai adik kan? IYA AKU MEMANG ANAK HARAM?! LALU KENAPA?!" ucapan angkuh dari mulut Reyna membuat semua orang tak percaya termasuk Hengky dan Kanaya.


Reyna segera menghapus jejak air matanya, disaat seperti ini dia tidak ingin terlihat lemah sedikitpun. Walaupun dirinya disudutkan dan meskipun dirinya sendirian, dia tidak pernah takut, karena dia terbiasa seperti ini.


"Huh, anak haram memang anak haram, sikapnya kasar, dan tidak sopan"


"iya... aku juga tidak suka padanya..."


"Reyna ternyata gadis seperti itu..."


Cacian dan makian dari seluruh teman-temannya membuat Reyna tersenyum tenang. Dia merasa tak mempunyai pilihan, karena dia tau apa yang sebenarnya Keyla inginkan.


"ADA APA INI...???!!! KENAPA KALIAN BERKUMPUL DISINI...??!!!!"

__ADS_1


__ADS_2