The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Kenyataan pahit


__ADS_3

Reyna telah sampai satu jam yang lalu disebuah restoran yang Yasya katakan siang tadi.


Satu jam sudah berlalu, dan gadis itu masih setia menunggu kehadiran Yasya yang tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Meski begitu, Reyna yakin jika pria itu akan datang, mengingat janji yang mereka buat.


'Sabar Rey, setelah ini kamu boleh marah sesukamu kepadanya' katanya dalam hati.


Reyna mencoba untuk tetap tenang, meskipun ada rasa mengganjal dihatinya perihal pria itu.


Bahkan dua potong cheesecake dan dua cangkir coklat telah ia pesan sedari tadi, membuat hidangan di hadapannya mungkin sudah terlalu dingin untuk dinikmati.


Kini kesabaran gadis itu mulai diuji, setelah itu ia akan mengutarakan perasaan yang terpendam dalam hatinya.


Reyna menunduk menatap lantai dibawahnya, ia merasa bosan menunggu sejak lama.


"Reyna, sudah lama kamu menunggu saya?"


suara familiar itu membuat Reyna mendongak menatap sosok pria yang sudah lama ia tunggu. Pria yang berpakaian rapi dengan blazer yang menutupi kaos hitam didalamnya membuat penampilannya malam ini terlihat sangat tampan.


Akhirnya setelah sekian lama, gadis itu bisa bernafas lega dengan kehadiran Yasya yang membuatnya semakin khawatir.


Mendadak rasa kesal gadis itu berubah menjadi rasa gugup bercampur bahagia.


"Maaf saya terlambat" kata Yasya dengan rasa bersalah dan juga senyuman yang ia torehkan untuk Reyna.


"Tidak apa-apa pak, saya mengerti, em saya sudah pesan cheesecake dan coklat panas, tapi" Reyna sempat menggantungkan kata-katanya kala melihat menu yang ia pesan telah terlanjur dingin dimakan waktu.


"Sudah dingin?" jelas Yasya dengan pertanyaannya membuat Reyna mengangguk pelan.


"Tidak apa-apa pak" kata Reyna menghangatkan suasana.


Reyna mulai tersenyum pada pria dihadapannya, dan Yasya pun membalas senyuman itu. Mereka saling berpandangan dan menyalurkan sebuah perasaan lewat senyum yang mereka torehkan satu sama lain.


deg... deg... deg...


Jantung mereka mulai berpacu, merasakan cinta yang belum seutuhnya terbuka satu sama lain.


"Pak Yasya" panggilan dari Reyna membuat Yasya menoleh dengan rona diwajah tampannya.


"Hemmmm," Reyna masih ragu, ia mencoba untuk menyemangati diri agar keberaniannya tergugah dihadapan orang yang paling ia cintai.


'Ayo Reyna, katakan, katakanlah' gumamnya sambil mengumpulkan keberanian yang sempat ciut beberapa waktu lalu.


Reyna menghela nafas, ia mulai berkonsentrasi dengan baik untuk menyusun kata-kata yang tepat pada pria dihadapannya.


"Saya ingin membicarakan sesuatu" ujarnya dengan gugup dan tangan yang bergetar.


"Katakanlah," ujar Yasya yang kini masih menatap gadis itu dengan senyumnya yang begitu menawan.


"Entah dari mana saya memulai, tapi setiap saat, setiap waktu, saya selalu belajar dengan giat, saya ingin menunjukkan kualitas saya, saya yang awalnya hanya kagum pada permainan gitar, namun karena pak Yasya saya ingin membuat bapak kagum dengan apa yang saya lakukan" ucap Reyna yang masih menggantungkan kata-katanya dan segera menelan saliva yang sempat tercekat oleh tenggorokannya.

__ADS_1


"Saya ingin selalu bersama pak Yasya, berawal dari kapan, saya sendiri tidak tau, rasa nyaman itu saya dapat ketika bapak mulai memberi perlindungan dan kenyamanan pada saya. Saya ingin membuktikan bahwa saya pantas untuk bapak, tapi yang saya tau adalah perasaan saya, perasaan saya pada pak Yasya adalah sebuah cinta. Tidak salah lagi" Reyna menghembuskan nafas beratnya. Ia hendak mengatakannya sekali lagi untuk meyakinkan hatinya.


"Saya mencintai mu pak Yasya, saya sangat mencintai pak Yasya" ujar Reyna dengan matanya yang berkaca-kaca.


Pria dihadapannya itu meraih kedua tangan Reyna, membuat perasaan gadis itu menjadi tidak khawatir lagi. Mungkin harapannya memang menjadi nyata, ia tak salah mengatakan apa yang ia rasakan.


Senyuman dari Yasya menjadi bukti keyakinan hati Reyna. Kini gadis itu tersenyum sembari menatap pria dihadapannya dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Reyna, saya..." suara Yasya menggantung, tatkala terdengar suara yang membuat ekspresi nya berubah menjadi cemas.


"Sayang" kata seorang yang baru saja datang menatap keduanya, dan dengan cepat Yasya melepaskan genggamannya dari tangan Reyna yang kini mulai menaikkan sebelah alisnya.


"Sa, sayang?" ucap gadis itu dengan wajahnya yang kian terkejut serta jantungnya yang bergetar hebat.


Reyna merasa pernah wajah wanita itu di suatu tempat, namun ingatan itu samar-samar membuatnya kian tak bisa berfikir dengan jernih.


Ditambah lagi, tatapan lekat dari wanita itu pada Yasya membuat hati Reyna kian terluka.


"Sayang, kamu ternyata ada disini ya" ucap gadis itu lagi yang mengulang kata 'sayang' membuat hati Reyna bertambah sakit. Gadis itu hanya menyaksikan betapa manja wanita yang kini langsung duduk dibangku sebelah Yasya serta bergelayut mesra di lengannya.


Reyna tak bisa berkata-kata, ia tak bisa menahan kekecewaannya kala Yasya hanya terdiam dan membalas senyuman dari wanita itu.


Reyna masih mengerutkan keningnya, ia membuang muka. Tanpa dirasa, tenggorokannya terasa tercekat oleh air matanya yang hendak mengalir deras.


"Oh ini ya murid kamu di sekolah tempat magang kamu dulu itu. Tante sudah cerita semua ke aku" kata wanita itu membuat Reyna tak percaya.


"Ka... kamu siapa?" tanya Reyna dengan rasa sakit yang ia tahan dan tangisan yang ia sembunyikan.


"Perkenalkan, namaku Syahbilla, tunangan Iryasya dan sekaligus calon istrinya" kata Syahbilla yang sontak membuat Reyna membulatkan matanya.


Reyna menatap kedua pasangan itu secara bergantian. Ia merasa hancur, disaat seperti ini bahkan cinta yang ia tanam harus pupus dan bertepuk sebelah tangan. Terlebih lagi Yasya tidak pernah bercerita perihal statusnya.


Diliriknya jari manis yang melingkar sebuah cincin yang membuat Reyna semakin yakin akan perkataan yang dilontarkan Syahbilla padanya. Sedang Yasya hanya terdiam dengan menunduk tanpa mau menatap wajah Reyna yang penuh dengan kekecewaan.


Hati Reyna terasa hancur, rasa sakit yang ia rasakan melebihi cinta yang ia tanam. Reyna bahkan tidak pernah tau hubungan apa yang terjalin diantara keduanya.


Reyna yang kini menitikkan air mata, segera menghapusnya dengan segera. Meskipun begitu terlihat matanya yang memerah dan berkaca-kaca. Segera ia bangkit dan mengulurkan tangannya pada Yasya


"Selamat pak Yasya, jika saya tau, saya akan datang waktu itu. Sayangnya pak Yasya tidak membicarakannya, maaf karena tidak hadir dalam acara pertunangan bapak" ucap Reyna yang mencoba untuk tersenyum pada Yasya. Namun pria itu masih terdiam, dan menunduk tanpa mau menatap kedua mata Reyna yang kini hampir menangis saat itu juga.


Menyadari tunangannya masih termenung, gadis itu membalas jabatan tangan Reyna.


"Tidak apa-apa, Reyna, lagi pula, acara itu telah usai seminggu yang lalu" kata Syahbilla membuat Reyna tersentak.


Seminggu lalu? bahkan seminggu yang lalu tepat dimana ia mengetahui kematian ibunya. Ia merasa kecewa pada Yasya, dengan jahat pria itu memberikannya sebuah kasih sayang, namun dengan sengaja melukai hati wanita lain.


Ia bahkan masih berduka saat itu, dan Yasya malah menyelenggarakan pesta besar, yang bodohnya Reyna sendiri tak tau.


Fikiran Reyna menerawang, mengingat dimana ketika sore ia menunggu Yasya, namun ternyata malah Yasya yang mengendarai mobil bersamanya.

__ADS_1


Reyna tersenyum kearah mereka secara bergantian. Ia tau kehadirannya tidak dihargai lagi, apalagi Yasya yang kini tambah membuatnya semakin muak.


"Maaf, saya harus pergi, saya lupa sedang ada janji, pak Yasya" panggil Reyna membuat Yasya mendongak menatapnya dan dengan segera Reyna menorehkan senyuman.


"Saya permisi, selamat malam, oh ya ngomong-ngomong, kalian pasangan yang sangat serasi" kata Reyna dengan kerlingan dimatanya.


"Terimakasih, em apa kamu tidak ingin makan dulu?" tanya Syahbilla pada Reyna yang kini menggeleng dan segera pergi dari sana.


Reyna melangkahkan kakinya keluar dari restoran, ia berhenti sejenak diambang pintu dan membalikkan tubuhnya untuk menatap keduanya yang kini mulai bermesraan.


Reyna tidak bisa membendung perasaannya lagi, matanya yang berkaca-kaca kini mulai deras mengeluarkan air mata.


Ia pergi jauh dari tempat itu sambil terus terisak merasakan sakit yang kini tumbuh dihatinya.


Reyna kecewa, ingin sekali ia berteriak kencang.


Tiba-tiba saja ia tak bisa menyeimbangkan tubuhnya dan terjatuh begitu saja.


"Hiks, hiks, aku baru mengatakannya, hiks, aku bahkan belum mendengar pendapatnya, namun secepat itu aku harus terluka, pak Yasya" tangisannya pecah ditengaalam yang membuat tubuhnya menggigil. Ia tak perduli, bahkan rasa sakit yang ia terima kali ini sudah cukup membuat perasaannya hancur berkeping-keping.


Setelah ia berjalan cukup jauh dan memesan sebuah taksi, akhirnya Reyna melangkahkan kakinya masuk kedalam apartemen yang selama ini ia tinggali.


Dimana apartemen itu adalah kenangan terindah baginya dari Yasya yang selalu memberikan cinta padanya.


Reyna segera mengeluarkan kopernya, isakan darinya kembali menderu setelah ia menghentikan tangisannya beberapa waktu lalu.


Dengan sigap, Reyna membereskan semua barang-barang miliknya tanpa terkecuali.


arang ku.


"Hiks,hiks kenapa rasanya sesakit ini?" isak Reyna ketika kembali mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


Reyna segera menghapus jejak air matanya, mencoba menguatkan hati yang telah rapuh serapuh-rapuhnya untuk malam ini.


Segera dilangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu, membawa gitar dan koper besar miliknya.


Reyna berdiri diambang pintu, melihat sebuah kenangan indah yang berada didepan matanya. Meski hanya sebuah kenangan, tapi ia tidak ingin menyesali ini.


Menurutnya, hal yang paling menyakitkan bukanlah dia yang menyakitinya, ataupun dia telah bersama wanita lain.


Namun yang paling menyakitkan dari kejadian ini adalah, ia secara tidak langsung menjadi orang ketiga diantara dua insan yang menjalani hubungan bahagia.


Reyna merasa bersalah pada Syahbilla, ia merasa dirinya adalah manusia hina yang hampir merebut pria dari wanita lain.


Sudah banyak air mata dan cobaan yang Reyna terima, mulai dari keluarga yang bercerai, ia yang diusir dari rumah, Almira yang telah pergi meninggalkannya, bahkan orang yang paling ia percayai dan paling ia cintai, sebuah tempat yang mampu menopang Reyna selama ini, sekaligus menyeka air matanya untuk setiap kesedihan yang dia rasakan kini mereka semua telah menyakiti hatinya


Hidup Reyna kini seperti tanpa tujuan, bahkan jika ia harus pergi, tiada tempat yang paling indah dibandingkan dengan bertemu Almira yang selalu dan akan tulus mencintai Reyna sepanjang waktu.


"Reyna, sudahlah, mungkin ini memang nasib mu, jangankan keluarga yang bahagia, sebuah cinta yang sederhana, dan yang selama ini menjadi rahasia, kini hanyalah mimpi burukmu saja."

__ADS_1


Gumamnya dan segera mengalihkan pandangan untuk segera keluar dari apartemen itu.



__ADS_2