
"Jadi, bagaimana bapak kepala sekolah? mau mempertimbangkan mereka atau biarkan saya ceritakan hal ini kepada om saya?" kata Yasya dengan senyumnya yang mengancam.
"Maksud pak Yasya apa??" tanya pak kepsek membelalak matanya dengan tubuhnya yang bergetar menahan kegugupan.
"Pak, kami mohon maaf pak... kami tidak akan mengulangi kesalahan lagi, kami akan minta maaf pada Reyna" ujar Fani memohon.
"Sebenarnya apa yang terjadi Sya?" tanya Ahmad sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Jadi begini om...." Yasya menceritakan panjang lebar, dari awal delapan bulan lalu sampai kejadian hari ini.
Mata Ahmad membelalak dengan raut kesal bercampur amarah yang ia redamkan beberapa saat.
"Om mengerti.... bapak mohon maaf... apakah yang diceritakan keponakan saya ini benar adanya?" tanya Ahmad dengan nada serius mengintimidasi.
"Benar pak, tapi... ini masih bisa kita bicarakan dengan kekeluargaan, makanya saya tidak mau memperpanjang masalah ini" kata pak kepsek menjelaskan.
"Baik, saya akan menindak lanjuti perkara ini, karena kalian masih dibawah umur untuk melakukan tindak kriminal, saya akan membawa kalian ke kantor polisi untuk melakukan pemeriksaan."
"Pak tolong pak jangan" Kata Novi memohon.
"Iya pak, pak kepsek tolong kami pak."
"Pak polisi tunggu sebentar, masalah ini bukankah sudah berlalu, dan ini mungkin hanya kesalahpahaman saja, mari pak kita bicarakan baik-baik" kini pak kepsek membela mereka mati-matian membuat Yasya semakin geram dengan tingkah kepala sekolah yang begitu egois.
"Maaf, ini sudah merupakan tindak kriminal, apakah kalian tau apa yang kalian lakukan ini sudah merupakan tindak penganiayaan, dan hampir membunuh teman kalian sendiri.. kalian bisa dipenjara, dan pak kepala sekolah saya harap bapak bisa mengerti, atau bapak bisa terlibat dalam masalah ini, karena bapak sudah ikut andil dalam membela pelaku pengroyokan!!!" ujar Ahmad tegas memarahi.
"Uang om bilang ini memang benar, pak... apakah dulu bapak tidak pernah berfikir jika orang luar mendengar berita ini akan berdampak pada semua siswa., SMA pelita bangsa sekolah terbaik, akan mendapat imege yang buruk juga."
Akhirnya dengan berfikir keras, Pak kepala sekolah pun mengiyakan Ahmad untuk membawa Fani demi keamanan sekolahnya.
Ia tak perduli lagi dengan perkataan wali mereka. Mungkin memang benar kata Yasya, ini sudah sangat keterlaluan.
"Baiklah... silahkan bawa mereka pak, tindak lanjuti sesuai hukum yang ada" ujar pak kepsek menghela nafas panjang.
Mereka semua akhirnya dibawa kekantor polisi.
Yasya menatap Reyna yang juga membalas tatapannya. Entah apa yang difikirkan gadis itu tapi ketenangan setidaknya sudah ia dapatkan mengingat senior yang mem bully nya kini telah diadili.
"Maaf pak Yasya, atas ketidaknyamanan ini. Dan terimakasih bapak sudah menyadarkan perilaku saya yang sudah tidak terpuji."
"Seharusnya saya yang minta maaf, telah memanggil om saya tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu."
"Maafkan bapak ya Reyna, bapak tidak melakukan keadilan terhadap kamu selama ini" Kata kepsek mengalihkan pandangannya pada Reyna.
Mereka akhirnya berbincang-bincang sebentar. Setelah hari sudah semakin sore, akhirnya Reyna dan Yasya pamit untuk pulang.
Reyna dan Yasya berjalan beriringan. Entah mengapa sedari tadi wajah Yasya tersenyum hanya melirik Reyna. Baginya Reyna semakin cantik sepanjang hari. Bahkan hari ini, rambutnya yang digerai meski belum terlalu panjang tapi sudah menampakkan kecantikan yang alami.
"Pak Pasya" panggil Reyna, membuat Yasya menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Reyna yang kini masih bertahan untuk menunduk.
"Yasya Rey" tukas Yasya membuat Reyna tersentak dan terkekeh oleh dirinya sendiri yang salah memanggil lagi.
"Eh iya, maaf... emmm makasih ya pak" kata Reyna malu-malu. Nampak wajahnya yang memerah dengan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.
"Sama-sama" balas Yasya dengan senyumnya yang menawan.
Dan dibalas senyum oleh Reyna yang tak kalah cantik. Tiba-tiba bluuuusss wajah mereka memerah masing-masing. Mereka saling memalingkan wajah, kala terasa ada yang salah dengan diri mereka sendiri.
Perasaan yang nyaman dan merasa dilindungi. Kini Reyna rasakan ditengah dadanya yang berdetak kencang.
"Eh..." kata Reyna setengah berbisik.
"Kenapa Rey?" tanya Yasya masih merona menahan malu.
"Enggak apa-apa kok pak" balas Reyna terkekeh saat menyadari telinga Yasya yang memerah.
"Oh ya, mau pulang bareng saya?" tawar Yasya agak canggung.
Mereka berhenti didepan gedung sekolah sejenak. Reyna sempat berfikir, ia menggigit bibir bawahnya.
"Lain kali aja ya pak, saya udah ada yang jemput" kata Reyna menolak dengan lembut membuat pria itu sedikit kecewa.
"Siapa? yang tadi pagi ngantar kamu?" tanya Yasya penasaran ditengah ketidaksukaannya dalam diam.
"Pak Rasya kok tau saya tadi pagi ada yang anter? kayanya kita gak papasan deh" tanya Reyna curiga. Tatapannya intens bagai mengintrogasi Yasya yang kini tersenyum miring padanya.
"Yasya Reyna!" kata Yasya sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Hehe, abis nama bapak susah sih, ganti nama kek" ujarnya terpotong kala Yasya mengatakan sesuatu padanya.
"Nah itu, udah dijemput tuh" ujar Yasya menunjuk seseorang menggunakan dagunya yang berdiri didepan mobilnya sambil menatap mereka.
Reyna lalu mengikuti isyarat Yasya ia menatap Reyhan yang tersenyum kearahnya sambil melambaikan tangan.
"Pacar kamu ya?" tanya Yasya agak canggung membuat Reyna tersenyum dengan senyuman andalannya.
"Oh dia...." kata Reyna menggantung karena dipanggil oleh Reyhan yang tiba-tiba sudah berdiri dibelakang gerbang.
"Reyna..!" teriak pria itu tidak sabaran membuat Reyna menggerutu dalam hatinya.
"Maaf ya pak, saya pulang dulu. Lain kali kita sambung lagi" ujar gadis itu dan langsung berlari menghampiri Reyhan.
"Darimana aja sih... lama banget, ditungguin dari tadi juga" kata Reyhan malas.
"Hehe, maaf... ada urusan tadi bang" kata Reyna dengan cengengesan.
"Ya udah pulang yuk, atau mau maen dulu ke mall?" tanya Reyhan membuat Reyna menimbang-nimbang tawaran dari sang kakak.
"Emmm kayanya kita pulang dulu aja deh bang, ke mall nya nanti malam gimana? soalnya aku lagi ada tugas nih" tawar Reyna membuat Reyhan mengangguk patuh.
"Oke" kata Reyhan yang kini tersenyum seraya mengacak rambut gadis itu dengan lembut.
Mereka tak sadar akan tatapan dingin seorang pria yang berada dibelakang mereka.
Pria itu terus memadangi langkah mereka hingga mobil mereka pergi begitu saja.
"Siapa kira-kira pria itu? kenapa Reyna sangat bahagia ketika berjumpa dengannya?mungkin saja pacarnya. Kelihatan serasi" gumam Yasya yang kini perang batin dalam hatinya.
"Apa yang aku fikirkan ini, ingat Sya... dia adalah Reyna!" ucap Yasya tegas meyakinkan dirinya sendiri.
Didalam mobil.
"Oh ya Rey, tadi abang liat ada polisi bawa 5 siswi. Ada acara apa?" tanya Reyhan yang kini mulai penasaran. Gadis itu menggaruk tengkuknya, ia bingung harus membuat alasan seperti apa.
Mana mungkin ia mengatakan pada Reyhan kalau para siswi itu berhubungan dengannya. Akan terjadi masalah besar nantinya.
"Itu, itu tadi kakak kelas ku" kata Reyna yang kini mulai memainkan kukunya.
"Loh kok dibawa polisi? mereka ngelakuin kejahatan emangnya" tanya Reyhan lagi membuat Reyna mengacak rambutnya frustasi.
Dirumah kediaman Malik.
kring... kringg...
"Udah jam segini, ada rapat penting lagi sama klien" suara dering telfon itu masih terdengar terus, Reyhan memanggil oma dan Reyna.
Namun mereka tak kunjung menjawab.
"Reyna! Oma! ada telfon nih, aku mau berangkat meeting" teriak Reyhan dengan lantang.
"Kemana aja mereka?!" ujar pria itu yang kini sedikit geram sembari mengangkat panggilan itu dengan terpaksa.
"Halo, selamat siang, apa benar ini kediaman rumah dari adik Reyna Malik? salah satu siswi di SMA pelita bangsa?" Reyhan mengernyitkan keningnya kala suara besar disebrang sana bertanya perihal Reyna.
"Halo, selamat siang... iya betul, ini dengan siapa?" tanya Reyhan yang kini mulai antusias.
"Kami dari pihak kepolisian" kata seseorang disebrang sana membuat pria itu membelalakkan matanya.
"Polisi."
"Iya, mohon maaf, bisa bicara dengan Reyna?" tanya polisi itu membuat Reyhan sedikit takut.
"Apakah adik saya melakukan suatu hal pak?"
"Tidak... kami memanggil Reyna hanya ingin mendengar laporan hari ini tentang kejadian 8 bulan lalu."
"Maksud bapak apa? laporan apa?" tanya Reyhan yang kini begitu penasaran.
"Adik anda menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh teman-temannya, hingga dia tidak sadarkan diri dirumah sakit beberapa hari."
"Apa?!" Tiba-tiba saja jantung Reyhan terasa berhenti seketika. Tubuhnya bergetar dengan pupil matanya yang bergerak. Ia mulai memejamkan matanya sejenak.
"Kami mohon, tolong bawa adik anda kemari untuk dimintai keterangan" lanjut polisi itu memerintahkan.
"Baik pak, saya akan bawa adik saya kesana sekarang "
__ADS_1
Didalam mobil, Reyhan menunggu jawaban dari Reyna, tampak gadis itu sangat gugup dan tidak berani menatap kakaknya.
"Jelaskan!" teriak Reyhan yang begitu garang.
"Ohhh, jadi... mereka berlima tadi yang dibawa polisi itu yang menganiaya kamu?" tanya Reyhan dengan wajahnya yang membunuh. Sedang Reyna hanya menunduk ketakutan.
"Kok diem aja... jawab dong!" teriak Reyha lagi yang kini tidak sabaran.
"Maaf bang, aku nggak cerita karena aku takut abang khawatir, lagipula itu kejadian sudah lama banget kok" kata Reyna menuturkan.
"Udah lama, tapi abang nggak tau sama sekali?!" kata Reyhan menekankan kata-katanya.
"Ma...maaf, waktu itu abang kan lagi nggak ada disini, kita juga udah lepas kontak, dan..." ucapan gadis itu terpotong oleh kata-kata Reyhan.
"Apa mama sama papa ada yang kamu kabari?" tanya Reyhan lagi tanpa basa-basi. Sesekali ia juga melirik Reyna yang berada disampingnya sembari fokus pada jalanan didepannya.
"Enggak ada yang aku kabari, soalnya waktu itu aku pingsan 3 hari, waktu aku sadar udah ada temen ku disamping ranjang ku, aku nggak sadar sama sekali bang. Tapi kata temenku bilang dia udah coba hubungi mama papa, cuma mereka katanya malah nggak peduli" kata Reyna masih menunduk takut.
"Kamu udah telfon mereka lagi setelah sadar?"
"Pernah bang, tapi waktu aku telfon mama, nomornya udah nggak aktif."
"Kalo papa?" tanya pria itu lagi seolah mengintrogasi.
"Papa....." ucap gadis itu menggantung.
"Sekarang jujur-sejujur jujurnya sama aku, kalo ada yang kamu tutupi lagi, abang nggak akan segan buat pindahin kamu ke Singapura" ancam Reyhan membuat gadis itu mendongak menatap Reyhan dengan pandangan takut.
"Papa bilang papa sibuk, nggak ada waktu buat ngurusin aku" kata Reyna dengan suara seraknya.
"Ceritain dari awal sampai akhir kejadian itu" kata Reyhan yang hanya mendapat anggukan dari Reyna.
Reyna langsung menceritakan semuanya pada Reyhan
Dia menangis mengingat hal itu, terlihat air matanya yang baru-baru ini sangat jarang pria itu temui kini seolah terkuras habis karena kejadian yang menimpa adiknya itu.
Mendengar ceritanya Reyhan seolah merasakan apa yang dia alami.
Sendiri, bahkan orang tua mereka tidak perduli dengan duka yang dia rasakan.
Reyhan masih bisa mendengar suara tangisannya meskipun sangat lirih.
"Maafkan abang ya... abang merasa sangat tidak berguna" kata pria itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Reyhan merangkul punggung Reyna, dan mencoba menguatkan adiknya.
"Bukan... bukan salah bang Rey kok, abang nggak tau aja keadaan ku disini" kata Reyna memeluk pria itu dari samping dengan Reyhan yang kini menatapnya sambil melajukan mobilnya tersebut.
Setelah sampai di kantor polisi Reyna menceritakan semuanya dan memberikan bukti-bukti yang dia bawa.
"Saya nggak mau tau pak, saya ingin mereka dihukum seberat-beratnya!" kata Reyhan dengan suara lantang dan amarahnya yang meluap-luap.
"Bang, udah bang... sabar" kata Reyna menenangkan Reyhan yang kini mulai naik pitam.
"Bapak tenang dulu, kami pasti akan menghukum mereka dengan hukum yang berlaku" ujar polisi itu menenangkan Reyhan.
Tiba-tiba segerombolan orang tua datang.
"Pak polisi, apa yang terjadi? kenapa anak saya dibawa kesini" kata seorang ibu-ibu.
"Katakan saja pak, berapa uang jaminannya, berapapun akan kami bayar pak" kata seorang bapak-bapak yang ada dibelakang ibu-ibu tadi.
"Ohh., jadi kalian yang melahirkan anak yang tidak bermoral seperti mereka?!" teriak Reyhan dengan amarahnya.
"Hey, siapa kamu berani-beraninya berkata seperti itu, mohon dijaga mulutnya" kata seorang ibu-ibu membuat pria itu menggertakkan giginya.
"Saya kakak dari siswi yang dianiaya oleh anak kalian" kata Reyhan dengan matanya yang menunjukkan kilatan amarah.
"Abang... sudah lah" kata Reyna dengan pelan sembari menahan ketakutannya.
"Bukan saya yang harus menjaga perkataan, tapi ada baiknya jika kalian menjaga anak kalian ini agar tidak berkeliaran! datang ke sekolah bukan untuk belajar, tapi malah berupaya membunuh temannya sendiri" teriak Reyhan geram.
"Kamu!" kata seorang lelaki tua yang hendak memukul pria itu namun ia tahan tangannya.
"Sudah... hentikan! apa yang terjadi? mohon bapak ibu tidak bertengkar disini" kata seorang petugas memberi peringatan.
Setelah semuanya selesai, akhirnya Fani dan teman-temannya ditahan dikantor polisi selama 6 bulan. Dan mereka terpaksa harus dikeluarkan dari sekolah.
__ADS_1
Reyhan sangat lega karena tidak ada lagi yang akan menyakiti Reyna.