The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Ternyata aku hanya sebatas bayangan


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir lima menit Reyna menangis dan meratapi kesedihannya.


Sebuah sentuhan membelai lembut puncak rambut Reyna yang kini tengah dia kuncir. Membuatnya menghentikan tangisannya dan menatap kearah sosok itu.


"Pak Yasya" dengan cepat, gadis itu mengalihkan pandangannya dan menghapus air mata yang mulai merubah wajahnya menjadi merah.


"Maaf" ucap mereka bersamaan. Reyna bangkit, dirinya merasa enggan untuk menatap wajah tampan pria yang saat ini tengah menatapnya dengan intens.


"Sa... saya harus istirahat" kata Reyna dengan terbata, membuat dirinya melangkah menjauh dari tubuh Yasya.


Yasya yang tengah berdiri di ambang pintu menahan lengan gadis itu, entah mengapa hatinya terasa sakit ketika melihat air mata Reyna yang selama ini ia tahan sendiri.


Angin malam berhembus, membuat dua insan merasakan hawa dingin satu sama lain. Dua insan yang saling mencintai namun tidak bisa mengungkapkannya.


Ditariknya tubuh Reyna yang membelakangi tubuh Yasya, membuat Reyna meringis kesakitan. Matanya masih sempat memerah bekas emosi yang baru saja ia lepaskan.


"Aw..." teriakan kecil itu keluar dari mulut Reyna yang lantas membuat Yasya melepaskan genggamannya pada lengan Reyna.


"Maaf" kata Yasya lagi.


"Tidak apa-apa" ujar Reyna dan masih menundukkan wajahnya, sudah lama ia dekat dengan pria yang tengah berdiri dihadapannya, namun Yasya terlihat sangat asing ketika dirinya bukanlah pria hangat seperti dulu. Meskipun Reyna tidak pernah tau apa alasan dibaliknya, tapi sejujurnya hatinya selalu diliputi kegelisahan.


"Reyna" ujar Yasya seraya memeluk tubuh gadis itu, membuat Reyna tersentak dan membalas pelukannya.


Inilah yang Reyna inginkan, sebuah perlindungan dan tempat dimana ia biasa bersandar.


'Aku paling tidak bisa jika harus melihatmu menangis Reyna, aku sudah berusaha untuk menjauh dari mu, tapi kenyataannya diriku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri' batin Yasya dengan fikirannya yang bimbang ditengah keresahan dalam hatinya.


'Pak Yasya, aku sangat mencintaimu, jika ada suatu kesempatan dilain waktu, aku akan segera mengungkapkannya, pelukan hangat ini sangat aku rindukan setiap kali aku merasa kesepian' batin Reyna dengan kerinduannya yang terpendam begitu dalam.


"Hiks hiks.... pak Yasya" isak Reyna dengan tangisannya yang pecah membuat pria itu mengelus puncak kepala sang gadis dengan lembut.


"Menangis lah Reyna, jika itu bisa membuat hatimu merasa lega" kata Yasya meyakinkan dan juga menenangkan.


Suara isakan terdengar lebih menyakitkan dari biasanya. Namun setengah dari hatinya merasa lega dengan adanya Yasya malam ini.


Keesokan harinya.


Reyna membawakan sebuah sup untuk Reynaldi pagi ini, tepat dirumah sakit ibukota ia melangkahkan kakinya menuju ruangan yang kemarin dituju oleh Reyhan kemarin.


Perlahan dibukanya pintu ruangan itu, dan ternyata ruangan itu kosong tanpa ada pasien ataupun tanda-tanda ada seseorang yang menempatinya.


"Papa dimana? apa sudah dipindahkan?" kata Reyna sembari keluar lagi dari ruangan itu, dan mendapati seorang suster yang lewat dari arah berlawanan.


"Suster" panggilnya pada sang perawat yang kebetulan berjalan kearahnya saat itu.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita berpakaian serba putih itu membuat Reyna menelan salivanya.


"Kemarin ada seorang lelaki yang dirawat diruangan ini, namanya Reynaldi Malik, apa sudah kembali ke rumah?"

__ADS_1


"Oh, tuan Reynaldi, beliau baru saja melakukan CT-scan, sudah dipindahkan 20 menit yang lalu."


"Bisa beritahu dimana ruangannya sus?" tanya Reyna dengan antusias.


"Ada di kamar mawar, dari sini lurus saja lalu belok kiri" terang perawat itu membuat Reyna mengangguk.


"Terimakasih banyak sus" ujar gadis itu dengan senyum merekah.


"Sama-sama" jawabnya singkat lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


Reyna segera melangkahkan kakinya lagi menuju ruangan yang baru saja ditunjukkan oleh suster tadi. Ia melewati lorong-lorong rumah sakit yang ramai dengan orang-orang dan bau obat-obatan menyengat.


Beberapa meter dari tempatnya berdiri, terlihat ruangan mawar yang berada di pojok ruangan sebelah kanan.


Gadis itu mendekati ruangan tersebut, hendak masuk untuk melihat keadaan sang ayah. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti tatkala gadis itu melihat Reyhan dan Keyla yang tengah duduk menunggu Reynaldi untuk siuman didalamnya.


"Apa yang harus aku lakukan, aku ingin menemui papa, meskipun hanya sebentar. Bagaimana jika aku masuk dan bang Rey mengusirku dari sini?" gumamnya dengan suara lirih.


Reyna menatap sekotak sup yang masih hangat ditangannya, ia mencoba berfikir keras untuk bisa memberikan masakannya agar sampai pada sanga ayah.


cklekkk...


Suara pintu terbuka membuat tubuh gadis itu berjingkat kaget. Perlahan Reyna membalikkan tubuhnya untuk menatap siapa yang memergoki dirinya saat ini.


"Lo tau darimana kalo papa masuk rumah sakit?" tatapan kesal juga suara familiar membuat Reyna tersentak dengan rasa gugup yang bertambah.


"memata-matai orang lain itu tidak sopan dan merupakan tindak kejahatan."


Reyna membelalakkan matanya, menatap kesal pada gadis yang umurnya tidak jauh darinya itu.


"Papa bukan orang lain, dia juga orang tua ku, aku berhak menjenguknya" kata Reyna tegas.


Brakkk...


"Heh, Aw! sakit! Reyna, kamu keterlaluan!"


Teriak Keyla setelah sengaja menumpahkan sup yang berada ditangan gadis itu dan tidak sengaja terkena kedua kakinya. Membuatnya meringis kesakitan.


Tak lama sosok familiar bagi Reyna keluar dari ruangan dan menyaksikan apa yang mereka lakukan.


"Ada apa ini?! kenapa ribut-ribut!" kata Reyhan dengan nada tinggi dan mata yang menatap tajam Reyna.


"Kakak, kaki ku terkena sup panas yang Reyna bawa, lihat sampai melepuh" ujar Keyla manja sambil memperlihatkan kakinya yang sedikit memerah.


Reyna hanya diam menonton pertunjukan yang dibuat oleh Keyla. Gadis menatap malas pada dua sodara yang bahkan sudah tidak menganggapnya kali ini.


"Kamu, berani-beraninya datang kemari, pergi dari sini, PERGI!" teriakan Reyhan dengan keras, membuat gadis itu tersentak. Reyna masih tak bergeming dari posisinya membuat Reyhan semakin geram.


"Apa yang kamu lihat, cepat pergi Reyna!" teriak Keyla mengusir.

__ADS_1


"Kenapa aku harus pergi? aku tidak berbuat salah.m, aku hanya datang untuk berkunjung."


"Reyna, berani-beraninya kamu!" kata Keyla seraya mendekat kearah gadis itu dan melayangkan tangannya untuk menamparnya. Dengan cepat gadis itu menangkis lengannya dan memutar hingga dia merasa kesakitan.


Hal itu membuat Reyhan terbawa amarah, terlihat wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras, dan tangannya mengepal. Membuat dia menarik tubuh Keyla dan beralih memukul wajah Reyna dengan sangat keras, membuat gadis itu tersungkur dan terjatuh.


"Aaargghht" teriaknya kesakitan sambil meneteskan air matanya. Ia tak hanya darah segar mengalir di sudut bibir ku, namun juga seperti ada yang mengalir dikedua lubang hidungnya.


"Pergi kamu!! Anak haram! berani-beraninya kamu menindas adikku" suara Reyhan begitu kasar yang kini mengusir adik kandungnya sendiri.


Bang ...


Terlihat pintu yang dibanting dengan keras hingga membuat gadis itu tersentak.


Reyna menahan sakit yang ia rasa, bahkan hinaan yang ia terima seperti masih kurang.


Ia mencoba menutupi wajahnya, rasa sesak di dada, membuat Reyna tak bisa menahan air mata.


Gadis itu memungut kotak makanan yang saat ini telah kosong dengan tumpahan sup yang berada diatas lantai. Hati seorang Reyna merasa teriris, bahkan apa yang akan dilakukan Reyhan ketika tau ini semua hanya salah paham saja?. Bagi Reyna itu semua sudah tidak penting lagi.


Padahal dirinya telah mempersiapkan ini khusus untuk Reynaldi, tapi apa yang ia dapatkan?.


Meskipun yang dia ketahui hanyalah Reyna seorang anak dari lelaki selingkuhan Almira, tapi ia juga adiknya. Tapi Reyhan seperti membohongi kenyataan bahwa dirinya juga saudara kandung.


Reyna berjalan cepat menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dengan menundukkan kepala, membuat tetesan darah diatas lantai.


Gadis itu tidak ingin ada yang melihat keadaannya seperti ini. kedua tangannya tak bisa menahan begitu banyak darah di wajahnya. Hingga membuat dirinya syok dengan apa yang ia lihat, ternyata darah yang mengalir cukup banyak saat Reyna mimisan.


Ia tak perduli lagi. Reyna berlari sampai parkiran rumah sakit. Dapat terlihat semua orang tengah menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.


Reyna meraih tisu yang berada di tasnya, dan dengan cepat ia membersihkan seluruh darah sambil berjalan dengan cepat.


Brakkkk...


Tanpa disadari, seseorang menabraknya, membuat gadis itu hampir terjatuh, untung saja ia masih bisa menyeimbangkan tubuh.


Dengan tatapannya yang masih menunduk, tanpa berani menatap pria yang bisa ditebak lebih tinggi dari Reyna itu.


"Ma... maaf" ucap ku dengan suara serak, dan langsung berlari menjauh.


Reyna merasa takut, seperti seolah dunia mengitarinya. Air matanya tak berhenti untuk sekedar menetes deras. Ia mengambil langkah agar cepat sampai untuk menjauh dari pandangan orang-orang padanya.



 



**

__ADS_1


__ADS_2