The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Bagian dari akhir


__ADS_3

"O... obat... bukankah itu obat dari rumah sakit???".


Ucapan Cintya gugup membuat Reyhan menyeringai. Terlihat wajah Keyla yang ikut gemetar oleh tatapan Alfian.


"Ini memang botol obat dari rumah sakit, tapi didalam botol ini ada obat yang berbeda, aneh kan??? botol obat yang sama tapi isinya beda".


Ucapan dari Alfian membuat Cintya berkeringat dingin, dia tak bisa mengendalikan kepanikannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tatapan dingin dari Reyhan membuat Cintya gelagapan. Diraihnya tangan pria itu untuk meminta pembelaan darinya.


"Rey... Reyhan... apa yang harus kita lakukan??? ternyata papa mu diracuni nak...siapa yang tega melakukan ini hiks".


Air mata menetes disudut mata wanita paruh baya itu, membuat Reyhan meliriknya dengan tatapan dingin. Begitupun dokter Al yang saat ini menatap sinis kearah Cintya.


ceklek....


Suara pintu terbuka, memperlihatkan dua orang pria berpakaian lengkap seragam polisi memberikan hormat pada dokter Al.


"Selamat malam dokter... kami disini untuk menangkap pelaku percobaan pembunuhan pada pasien anda".


Ucapan dari polisi itu membuat Cintya terkejut sekaligus tak percaya, begitupun juga Keyla yang kali ini tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya diam membisu dibalik ketakutannya.


"Percobaan pembunuhan? apa-apaan ini?".


Ucapan terkejut dari Reyhan melirik Cintya yang kali ini tubuhnya bergetar ketakutan.


"Anda datang tepat waktu pak polisi... bawa wanita itu pergi... dia yang telah menukar obat ini dengan obat yang bisa merusak fungsi hati... dia telah melakukan ini sejak lama"


Ucapan dari Al membuat Reyhan tercengang, dirinya sama sekali tidak menyangka, salah satu polisi menarik tubuh wanita itu yang kali ini menarik lengan panjang Reyhan, membuat Reyhan hanya terdiam dalam kebisuannya.


"Reyhan... ini... ini bukan tante... tante tidak pernah melakukannya... ini pasti kesalahpahaman Reyhan... mana mungkin tante melakukan itu... tante sangat mencintai ayahmu. "


Ucapan dari Cintya membuat Reyhan terdiam, fikirannya kosong tanpa mau menatap siapapun.


"Ini adalah buktinya pak polisi... bukti rekaman cctv ketika dia terbukti menukar obat ini dengan obat yang ada dirumah sakit ini, menyebabkan korban yang seharusnya berangsur sembuh, dan hari ini hampir saja beliau bertarung dengan nyawanya".


Kata Alfian sambil menyerahkan sebuah video singkat yang memperlihatkan Cintya tengah menukar obat dari dalam botol dan membuang obat yang asli.


Polisi itu membawa Cintya yang kali ini melepaskan cengkeramannya di lengan Reyhan. Reyhan kali ini tak dapat membendung emosinya, didorongnya tubuh wanita itu hingga kini dapat dengan sempurna ditangkap oleh kedua polisi itu yang membawanya.


"HUKUM DIA DENGAN HUKUM MATI....!!!! KALAU TIDAK... KALIAN YANG AKAN KU HUKUM SAMPAI MATI....!!!"


Teriakan dari Reyhan membuat Cintya ketakutan, begitu juga Keyla yang kali ini diam membisu. Tangannya keringat dingin, membayangkan apa yang dilakukan oleh Reyhan jika ia tau apa yang dilakukan oleh dirinya setahun lalu dan hari ini, serta kejahatan apa yang dilakukan olehnya dan Cintya.


"Siap... kami akan melakukan tugas sebagaimana mestinya... mohon untuk pihak korban datang menghadiri pengadilan..."


Ucap salah satu polisi itu yang membawa Cintya yang hanya bisa terdiam menunduk kali ini.


"Mama.... hiks..."


Tangisan Keyla pecah, melihat mamanya yang kini tengah diborgol oleh besi yang mencengkram kedua lengannya.


Reyhan hanya terdiam, tak ada kata yang bisa mewakili perasaannya saat ini. Entah mengapa hatinya begitu sakit oleh orang yang sangat ia percayai.


"Kenapa tante melakukan ini...???"


Ucapan dingin dari pria itu hanya dibalas dengan senyuman sinis dari wanita yang kini tengah menampakkan wajah aslinya.


"HAHAHAHA... KAMU BERTANYA KENAPA AKU MELAKUKAN INI.... TANYAKAN SENDIRI PADA AYAHMU....!!! AYAHMU TELAH MERENGGUT SUAMI KU...."


Teriakan dari Cintya membuat Reyhan dirundung emosi.


Plakkk..


Satu tamparan mendarat dipipi wanita itu yang kini tengah berdiri dengan kedua tangannya yang diborgol. Reyhan menarik lengan Cintya dan mendekatkan tubuhnya kearah wanita itu yang kini menatapnya dengan tatapan menantang, membuat Reyhan semakin naik pitam.


"Tenang tuan... tenang... jangan terbawa emosi saat ini..."


"*******....! LO MAU BUNUH AYAH GUE... CUMA GARA-GARA KECELAKAAN YANG NGGAK SENGAJA DILAKUIN SUAMI LO SENDIRI... GILA LO....! WANITA SIALAN...!"


Teriakan dari Reyhan tepat ditelinga wanita itu, membuat Cintya tak gentar dan hanya menatapnya dengan tatapan sinis. Alfian segera menarik tubuh Reyhan agar pria itu tidak mengotori tangannya dengan menghajar perempuan iblis itu.


Ucapan dari polisi itu membuat Reyhan membenarkan posisi jasnya dan mengacak rambutnya.


Alfian yang melihat pemandangan itu hanya tersenyum nanar, kecuali Keyla yang kali ini terdiam dan menunduk takut jika dirinya bermasalah. Apalagi dengan suasana hati Reyhan yang kali ini sedang tidak baik.


"Pak... cepat bawa dia pergi..."


Perintah dari Al langsung diberi anggukan oleh polisi itu, yang dengan cepat membawa Cintya keluar dari ruangan itu.


"Ada satu hal lagi dokter..."


Setelah salah satu polisi keluar dengan membawa Cintya, satu polisi yang masih tinggal itu memberikan sebuah pertanyaan yang membuat Reyhan tercengang.


"Silahkan pak..."


"Baiklah... pak Reyhan... apakah benar mobil Avanza berwarna silver dengan plat B 45 I adalah milik anda???".


Reyhan mengerutkan keningnya, tatapannya beralih ke arah Keyla yang saat itu menunduk dengan wajahnya yang begitu ketakutan.


"Benar... ada apa pak???"


"siang ini, mobil anda menabrak seorang pejalan kaki hingga meninggal... kami akan segera melakukan penyelidikan"


"APA??!!!!!"


Reyhan naik pitam, diraihnya lengan gadis yang kini berdiri tak jauh darinya dengan menariknya keras.


"Apa kamu gila Keyla?! KAMU MENABARAK SIAPA? KATAKAN?!!"


Keyla hanya diam, dirinya tak berani menatap wajah sang kakak yang kali ini menatapnya dengan tatapan membunuh. Keyla merasa tertekan, wajahnya memerah ketakutan, badannya terasa keringat dingin, dirinya tak bisa membayangkan jika Reyhan tau bahwa Reyna adalah adik kandungnya dan hari ini dia telah melenyapkan Reyna, bukan hanya Reyna, tapi juga ibu kandungnya sendiri.


"Kak... hiks... aku... aku tidak sengaja..."


Ucapan dari Keyla membuat Reyhan mendengus.


"Sudah kubilang, jangan menaiki mobil jika kamu belum memiliki SIM... apa kamu tidak dengar haaa??? kamu... ck".


Reyhan memijit pelipisnya yang terasa pusing. Memikirkan keadaaan yang dialaminya seharian ini.


"Atau kamu memang sama-sama busuknya dengan ibumu itu haaa?!!"


"Kami telah melakukan penyidikan, bahwa saudari Keyla memang sengaja menabarak korban, kami mohon kerjasamanya".


Reyhan menghela nafasnya lagi, dirinya tak bisa membayangkan betapa jahatnya ibu dan anak ini. Diraihnya lengan Keyla untuk kemudian didorong tubuh mungil gadis itu yang sempat menangis ketakutan.


"Aku sudah terlalu baik untuk kalian... jangan salahkan aku jika aku tidak segan-segan untuk bertindak hal kejam.... polisi... bawa dia pergi... hukum mereka sampai mati..."


Reyhan keluar dari ruangan tempat ayahnya dirawat, wajahnya frustasi dengan kejadian yang baru saja ia alami.


Untung saja, sebelum Cintya menikah dengan papanya dia masih bisa mengetahui rencana busuk mereka.


Bahkan termasuk Reyna yang kali ini menjadi korban dalam masalah ini. Reyhan duduk diruang tunggu, menatap kosong lantai putih dengan wajahnya yang memerah.


"Pa .. aku salah... aku salah telah membawa Keyla untuk hidup bersama kita" gumamnya pelan.


Sudah seminggu semenjak Reynaldi menjalani operasi, dan kini waktunya ia diizinkan untuk pulang karena keadaannya sudah sehat seperti sedia kala.


Reyhan merapihkan barang-barang dan memasukkannya kedalam tas ransel. Wajah tampan pria itu membuat Reynaldi yang kini masih duduk di bangsal merasa lebih tenang dari sebelumnya. Akhirnya semuanya berakhir dengan baik, meski mereka sebelumnya ditipu oleh sepasang ibu dan anak yang mereka anggap sebagai keluarga sendiri.


"Reyhan"


"Iya pa".


Panggilan dari sang ayah membuat Reyhan menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap Reynaldi yang kali ini menatapnya dengan tatapan serius.


"Apa kamu tidak merindukan mama mu dan adikmu???"


Pertanyaan dari Reynaldi membuat Reyhan menampakkan wajah tidak suka dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


"Untuk apa papa membahas mereka...??? bagiku aku hanya punya orang tua tunggal, wanita itu telah mengkhianati papa, bagaimana bisa aku memikirkan orang seperti itu".


Reynaldi menghela nafasnya, ada rasa bersalah pada dirinya karena telah menyalahkan Reyna yang tidak tau apa-apa dengan kesalahan ibunya. Meskipun Reynaldi sangat membenci mantan istrinya itu, namun entah kenapa, mengingat kejadian yang ia lakukan pada gadis yang dulu pernah menjadi kesayangannya itu membuat dadanya sesak.


"Tapi nak".


"SUDAH CUKUP PA....!!!! kita telah banyak dikhianati, mulai sekarang, kita hanya akan hidup berdua, jangan pernah berfikir untuk menampung siapapun lagi".


Ucapan tegas dari Reyhan membuat Reynaldi menggeleng dan mengalah untuk tidak membahas apapun yang membuat putranya ini marah.

__ADS_1


"apa kamu tau siapa yang telah mendonorkan hati untuk papa???"


Pertanyaan dari Reynaldi membuat Reyhan menunduk dan menggeleng.


"Reyhan... siapapun dia, meskipun dokter tidak ingin memberitahukannya, papa ingin tau siapa dia? sampai dia mau mempertaruhkan nyawanya demi keselamatan papa"


"pa aku sudah mencoba, tapi dokter itu tetap tidak ingin memberikan informasinya"


"Papa tidak perduli! sebelum papa keluar dari rumah sakit ini, papa ingin tau dia dan keluarganya, mereka pasti sangat kehilangan dia, coba bayangkan jika posisi mereka berada di posisi keluarga kita, apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun?"


Reyhan mendengus, sebenarnya ada perasaan yang membuatnya juga ingin mengetahui latar dan juga motif orang itu, namun karena dokter bersikeras untuk tidak memberitahukan padanya dia akhirnya menyerah.


Tapi kali ini, ayahnya sendiri yang menginginkan untuk menyelesaikan semuanya. Maka mau tak mau Reyhan akhirnya luluh dan mencoba menuruti perintah sang ayah.


Brakkkk....


Suara gebrakan dari meja dibawah Reyhan membuat dokter tampan didepannya menatap santai pada pria yang kali ini memaksanya untuk mengatakan perihal pendonor bagi sang ayah.


"DOKTER... APA HAK ANDA UNTUK MENYEMBUNYIKAN INI SEMUA....??!!!! saya sudah bersabar, tapi dokter selalu memancing emosi saya"


"terserah kamu, saya hanya menjaga amanat, tidak ingin memperkeruh suasana, yang terpenting sekarang adalah kesehatan ayah kamu".


Ucapan tegas dari Al yang kali ini membetulkan posisi kacamatanya membuat Reyhan bangkit melangkah mendekat kearah sang dokter. Diraihnya kerah Al membuat Al menampakkan senyum sinisnya.


"JANGAN MAIN-MAIN DOKTER...."


Alfian segera mendorong tubuh Reyhan, ditatapnya mata tajam Reyhan dengan tatapan yang sama.


"Baik... baiklah kalau kamu ingin tau siapa dia". Alfian naik pitam, dibukanya laci meja yang tepat berada dibawah mejanya.


pakkkk....


Dengan kasar Alfian melemparkan berkas-berkas dengan map berwarna biru itu tepat didada bidang pria itu. Membuat Reyhan menatap tajam kearahnya dan langsung membuka satu persatu dari map itu.


Tampak wajah Reyhan menegang melihat dokumen yang ia baca. Matanya berkaca-kaca membaca kertas-kertas itu.


"kenapa? kenapa Reyna Malik?!"


Reyhan mundur beberapa langkah, wajahnya memerah seketika, pria itu mengacak rambutnya dan duduk ditempatnya semula, mencoba menjernihkan fikirannya.


"Dia mengalami sebuah kecelakaan yang dilakukan oleh Keyla, tubuhnya cacat, tulang belakangnya retak, dan juga organ paru-paru nya rusak akibat kecelakaan itu". Suara dokter Al menggantung memperhatikan pria yang menunduk dihadapannya itu.


Tampak wajah tampan Reyhan yang semula memerah kini mengeluarkan air matanya.


"Dia adalah adik kandung mu Reyhan, dia bersikeras untuk mendonorkan sebagian dari hatinya untuk ayahmu meski dia tau resikonya akan nyawanya yang takkan terselamatkan jika tetap memaksa untuk melakukannya, apa kamu tau? saya sudah menyerah dengan keadaan ayahmu, namun dia memaksakan kehendaknya hingga saya terpaksa menjadi pembunuh untuk menyelamatkan ayahmu"


Al melepaskan kacamata yang ia kenakan. Diraihnya satu map pribadi milik Reyna yang khusus diperuntukkan bagi Reyhan.


"Sebelum dia melakukan operasi, dia sudah tau jika kamu akan memaksa saya untuk mengatakan siapa pendonor itu, jadi dia menitipkan ini untuk kamu" tubuh Reyhan bergetar, merasakan hawa dingin yang datang bersamaan dengan air matanya yang kian berlinang. Meraih map itu dan membukanya dengan perlahan.


Map itu berisi foto-foto Reyna dan Reyhan ketika masih kecil, juga satu kaset CD, serta satu berkas yang membuktikan bahwa Reyna adalah putri kandung dari Reynaldi. Reyhan menghapus air matanya sebuah penyesalan yang tak dapat diartikan oleh sebuah kata-kata membuat dirinya dirundung kesedihan yang begitu mendalam.


Ada perasaan benci pada dirinya yang telah memperlakukan adik kandungnya itu begitu kejam. Satu hal lagi yang tak dapat termaafkan darinya, yaitu ibunya sendiri tidak pernah melakukan hal hina seperti yang orang lain katakan.


"Hiks... hiks... Reyna adikku".


Tangisannya pecah memenuhi ruangan, membuat hati Alfian tersentuh, air matanya juga ikut merembes meski dia harus segera menghapusnya.


"Dimana dia dok? dimana Reyna kecilku? kenapa bisa ini terjadi?".


"Dia sudah berada di tempatnya., keluarga angkatnya telah membawa jasadnya untuk dimakamkan dimakam keluarga mereka"


"Apa dok?!!"


Hati Reyhan merasakan hancur berkeping-keping, kini meskipun dirinya menyesal untuk seumur hidup, namun dirinya sendiri tak dapat juga merawat jasad sang adik.


"Siapa keluarga yang telah mengadopsi dia?". Pertanyaan dari Reyhan dibalas gelengan dari Alfian.


"kami tidak tau, kami tidak mengenal mereka.?".


Ucapan dari dokter Al membuat Reyhan menarik nafasnya dalam. Hatinya begitu sakit saat ini. Penyesalan itu kini tiada arti, hanya menyisakan rasa sesak di dadanya. Fikiran Reyhan menerawang, mengingat betapa kejamnya ia pada sang adik yang selama ini ia dzolimi, Reyhan mengingat tangannya yang dengan kejam memukul serta menampar wajah cantik adiknya itu.


Reyhan mengingat setiap kesalahan-kesalahan yang ia buat seperti hantu yang datang padanya setiap detiknya. Bahkan yang membuat Reyna kecelakaan adalah mobilnya sendiri dan juga perempuan yang selama ini ia bela malah menjadi bumerang bagi Reyna.


Reyhan berlari dengan membawa berkas-berkas itu dan masuk keruangan sang ayah.


Ini aku pa, ini aku bang, aku Reyna.


Yang dulu pernah kalian cintai meski lambat laun kalian tak menerima Reyna sebagai anak kandung, sejujurnya ini adalah sebuah kesalahpahaman.


Pa, aku telah menyelidiki semuanya. Asal papa tau, mama tidak pernah melakukan skandal itu, dia hanya dijebak oleh tante Tiya.


Meskipun aku tau motif mereka, mungkin tak cukup bagiku untuk berbicara supaya bisa dipercayai oleh kalian.


Abang ku, berulang kali aku ingin mengatakan pada abang perihal keadaan mama yang sekarang tidak lagi ada di dunia ini, namun kesempatan ku berakhir dengan sia-sia karena abang selalu membuat ku menjauh sejauh-jauhnya.


Pa, maafkan Reyna, Reyna tidak bisa melindungi papa, hingga papa hampir saja meregang nyawa.


Tapi keputusan Reyna kali ini adalah keputusan terakhir yang Reyna buat untuk selalu melindungi papa meskipun Reyna pada akhirnya harus pergi menyusul mama.


Reyna sudah tidak mampu lagi menghadapi dunia ini, Reyna terlalu rapuh untuk berdiri sendiri. Reyna telah banyak kehilangan orang-orang yang Reyna sayangi.


Bahkan Reyna cacat saat Reyna menulis surat ini.


Ternyata mama benar, memang Tuhan adil pada setiap hambanya. Tuhan memberikan Reyna kejutan untuk bertemu mama yang selalu Reyna rindukan, meskipun Reyna yang harus pergi dari kalian untuk sementara.


Reyna selalu menyayangi kalian bang Rey dan papa, begitupun dengan mama.


Apapun yang telah kalian ketahui, jangan salahkan diri kalian lagi. Kita semua adalah korban.


Jangan bersedih untuk Reyna, karena Reyna akan pergi dengan tenang setelah kalian bahagia.


Sampai jumpa untuk keluarga ku.


Aku sayang kalian meski aku tak bisa melihat kalian berkumpul diakhir hayat ku.*


Reynaldi meremas surat itu bersamaan dengan hatinya yang terluka. Begitu banyak kesempatan untuknya bisa memberikan kasih sayang pada putrinya, namun yang dilakukannya hanya menyiksa putri kecilnya itu.


Bukan hanya kehilangan masa remajanya, namun Reyna juga kehilangan hidupnya. Reynaldi menangis, membuat sang putra memeluk tubuh pria paruh baya yang kini terduduk dibangsal rumah sakit.


Penyesalan yang sama datang pada sepasang ayah dan anak itu membuat mereka dirundung perasaan bersalah.


"Reyhan, dia memang adikm, hiks hiks hiks papa adalah papa yang jahat, papa adalah orang tua yang buruk untuk kalian. Bahkan mama mu, dia tidak pernah melakukan kesalahan, papa memang tidak berguna, seharusnya papa yang mati saja bukan Reyna".


"Pa, tenang, Reyhan tau apa yang papa rasakan, Reyhan juga merasakannya, tapi apa yang harus kita lakukan, kita harus sabar pa, kita adalah korban"


Reynaldi membalas pelukan dari putranya, dirasakan hawa dingin yang membuat penyesalannya tiada arti mengiris hatinya yang paling dalam.


Kini ia tau betapa menderitanya gadis itu, anak kandung yang ia sia-siakan selama dua tahun ini. Reynaldi merasakan sakit yang Reyna rasakan setelah semuanya terungkap.


Tapi kesedihan itu membuat Reyhan dan Reynaldi akhirnya mengerti dan sadar.


Sebuah makam dengan batu nisan bertuliskan nama Almira Syakieb membuat dua lelaki yang berdiri itu membungkuk untuk memberikan sebuket bunga mawar.


"Almira... maafkan aku, aku telah salah menilaimu, bahkan anak kita, Reyna, dia berhasil membuat ku bangga. Dia memberikan sebagian dari hatinya untuk ku, dimanapun dia berada, dia akan selalu dekat dengan ku, hiks aku menyesal Mira, kenapa hiks, kenapa aku begitu mudah untuk terpengaruh, aku bahkan meninggalkan mu begitu saja"


Isakan dari pria itu membuat Reyhan memeluk punggung sang ayah, mengelusnya dengan perlahan, mencoba memberikan ketenangan untuk menenangkan hatinya.


"Papa, Reyhan tau apa yang papa katakan, tapi jangan terbawa emosi, kita kesini untuk mendoakan mama, dan sekaligus mendoakan Reyna, meski kita tidak tau dimana makamnya"


Reynaldi menghapus air matanya, mengangguk setuju pada sang putra satu-satunya itu.


Reynaldi dan Reyhan berjongkok memberikan doa-doa untuk perempuan yang telah mendahului mereka itu.


Meskipun semuanya berakhir menyedihkan tapi mereka tidak akan berhenti untuk terus hidup dan melupakan semua yang terjadi, walau ada penyesalan dari kesalahan yang mereka lakukan.


***


Yasya memasuki apartemen besarnya yang kini begitu rapi dengan ornamen serba biru itu.


Wajah tampannya mendekati jendela yang kali ini memancarkan sinar mentari dipagi hari.


Sebuah ingatan dan kenangan seperti kembali dalam fikirannya, mengingat dirinya yang selalu bertingkah manja pada gadis yang sangat ia cintai.


Pria itu duduk disisi ranjang yang mengingatkannya akan pelukan hangat yang diberikan olehnya pada Reyna.


Reyna yang sangat ia cintai, kini telah pergi meninggalkannya..


"REYNA!! hiks hiks".

__ADS_1


Tangis pria itu pecah, membuat suaranya menggema di seluruh ruangan.


Yasya merasakan hatinya sakit kembali, mengingat kejadian yang seharusnya menjadi takdirnya.


Bahkan saat ini, jasad Reyna telah dibawa oleh keluarga angkatnya ketempat yang tidak bisa dijangkau oleh pria itu.


kring kring kring


Suara dering ponsel membuat Yasya menghentikan tangisannya dan beralih mengangkat panggilan itu dengan segera.


"hallo Yasya, kamu ada dimana nak???".


Ucapan dari sang ibu membuat Yasya menyeka air matanya, dan menenangkan hatinya agar tidak terdengar lemah oleh Dian.


"Aku ada di apartemen mi... mami nggak perlu khawatir".


"Sayang, mami tau kamu bersedih, tapi Syahbilla" ucapan dari Dian menggantung kala Yasya memotong kata-katanya dengan rasa sakit yang keluar bersamaan.


"Cukup mi! aku tidak ingin membicarakan itu! mulai sekarang, aku Iryasya Ferdiansyah berjanji tidak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan Reyna ku"


Ucapan tegas dari Yasya membuat sang ibu berkaca-kaca, dan mulai putus asa menghadapi putra semata wayangnya itu.


"nak, maafkan mami, seharusnya mami tidak menghalangi cinta kalian, hiks mami menyesal"


Ucapan dari Dian membuat Yasya segera memutuskan panggilannya secara sepihak.


Hatinya terasa sesak mengingat senyuman manis dari gadis yang kini hanya menjadi bayangan dihadapannya.


Kini penyesalannya tiada arti, seandainya dulu dirinya mengatakannya setelah dia menyadari perasaan cinta yang ia rasakan, mungkin hari ini Yasya tidak akan sesedih ini. Seandainya dirinya mengajak gadis itu pergi jauh dari kehidupan ini yang begitu kejam untuknya mungkin Reyna tidak akan membiarkan dirinya tersiksa.


Namun apa yang dilakukannya, hanya berdiam seolah merelakan Reyna untuk berkorban begitu berat dan sekarang telah kehilangan nyawanya. Yang hanya tersimpan sebuah rasa bersalah.


Yasya menatap pemandangan didepannya, gedung bertingkat, serta kendaraan yang berlalu lalang dibawahnya, menambah hawa pagi kala itu yang terdapat mentari senja berwarna orange seperti bersembunyi dibalik gedung tertinggi disana.


Diraihnya sepucuk surat manis dengan pita berwarna pink disudutnya. Fikirannya tiba-tiba menerawang, mengingat dimana dirinya terduduk lemas diruang tunggu rumah sakit.


Flashback on.


Yasya menatap kosong lantai putih yang berada dihadapannya. Matanya sayu menatap sendu, mengingat lemahnya dirinya saat Reyna telah terbaring tak bernyawa.


"Sya"


Panggilan yang tak asing baginya serta tepukan pelan dipundaknya membuat pria itu menoleh menatap pria yang selama ini menjadi salah satu sahabatnya.


Alfian adalah sahabat terdekatnya setelah Satya yang selama ini selalu menemaninya. Meskipun hubungan diantara mereka tak sedekat hubungan Yasya dan Satya, namun tiada alasan bagi mereka untuk saling mengerti satu sama lain.


Dipelukanya tubuh sang sahabat yang kini hanya terdiam dengan tatapannya yang hampa. Namun dengan gerakan cepat, Yasya mendorong tubuh pria itu hingga dirinya tersungkur dilantai.


bukkk


Satu pukulan keras mendarat di wajah tampan Alfian yang kali ini membuat darahnya mendidih mengingat apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Yasya bahkan tidak bisa berfikir jernih, hanya ada amarah dan juga kecewa pada sahabatnya itu.


buk... buk... buk...


Pukulan bertubi-tubi membuat Alfian bangkit dan memutar lengan Yasya yang kali ini tak bisa melawannya lagi. Wajah pria itu lebam, dengan luka dihidungnya dan warna semu membiru di pipi kirinya, membuat Al mau tak mau harus melawan pukulan brutal dari Yasya.


"LEPASIN GUE SIALAN...!!!!! LO BUNUH REYNA GUE... LO LAKI-LAKI ******* AL... GUE PERCAYA SAMA LO... TAPI LO... BUAT GUE KECEWA SAMA LO... LO ******** AL... GUE BENCI SAMA LO...!!!!"


Teriakan dari sang sahabat membuat hati Alfian bergetar, rasanya persahabatan yang mereka jalin sejak dibangku SMA sampai sekarang seperti kandas begitu saja.


Tampak mata dokter muda itu berkaca-kaca dan dilemparnya tubuh Yasya yang kini menatapnya dengan pandangan benci.


"lo nggak tau sya, lo nggak ada di posisi gue, emang lo kira, gue nggak berusaha buat nyelametin Reyna haaa? asal lo tau Sya, semua keputusan ini adalah keputusan dari dia sendiri, oke gue ngaku gue salah tapi lo nggak tau betapa Reyna menderita saat papanya hampir meninggal, dia sendiri didunia ini! harusnya lo tau keadaan dia daripada gue".


Yasya menunduk dengan tatapannya yang masih putus asa, secarik kertas dengan sengaja dilempar oleh dokter muda itu yang membuat Yasya masih tak bergeming.


Alfian mendengus sambil menyentuh darah segar yang keluar dari lubang hidungnya dan segera pergi meninggalkan Yasya.


flashback off.


Yasya membuka surat itu dengan perlahan, dihirupnya udara dingin yang kali ini menyelimuti atmosfer ibukota membuat rasa nyaman diantara suasana hati yang kacau telah mendominasi perasaannya.


Yasya duduk dibangku balkon itu dengan tatapannya mengarah pada secarik kertas yang ia genggam.


Dear pak Yasya....


**apapun yang terjadi diantara kita adalah bagian yang tidak bisa saya lupakan.


Kebersamaan kita adalah hal terpenting sekaligus hal terindah yang pernah saya lewati dalam hidup ini, setelah kenangan saya bersama orang tua yang juga berakhir menyakitkan untuk saya.


Pak Yasya, Terimakasih telah hadir dalam kehidupan saya yang berantakan ini,


terimakasih telah menjadi orang yang selalu menopang saya disaat tiada orang yang perduli pada saya.


Saya sangat mencintaimu pak Yasya.


Saya selalu mencintai pak Yasya dimana pun saya berada.


Mungkin sejak pertemuan kita dicafe itu. hati saya merasa bahagia dan nyaman, juga detak jantung yang berpacu dengan cepat membuat saya tak bisa mengontrol perasaan saya sendiri.


Perasaan ini begitu indah, hingga saya ingin mengatakannya, namun pada waktu yang sama, saat bapak mengajak saya disuatu bukit, saya menyadari bahwa perasaan saya bertepuk sebelah tangan, hahaha konyol.


Saya berulang kali menepis perasaan itu, namun suka duka yang kita lalui mampu membuat kita mengakui bagaimana hebatnya perasaan cinta itu sendiri.


Ingat pada waktu malam prom?, pak Yasya yang menghibur saya ketika saya merasa sedih karena akan ditinggal oleh guru yang sangat saya kagumi. Pak Yasya yang menggenggam tangan saya, mengajak saya untuk berdansa.


Ingat? pada waktu pak Yasya mencium bibir saya untuk pertama kalinya dirumah sakit. Itu adalah ciuman pertama saya.


Saat saya menangis sendirian, ditengah dinginnya malam, pak Yasya memberikan perlindungan kala saya tidak lagi diharapkan oleh orang-orang yang saya sayangi, pak Yasya membawa saya ke apartemen bapak.


Disitu, saya merasa aman dan nyaman. Pak Yasya selalu memeluk dan mencium saya, walau saya takut, tapi saya selalu percaya pada bapak.


Saya mohon, jangan salahkan dirimu untuk apa yang telah terjadi pada saya, jangan menyalahkan siapapun.


Ini adalah takdir saya pak Yasya.


Ini pilihan hidup saya, saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ditambah dengan tubuh saya yang cacat ini. Saya tidak bisa mendampingi pak Yasya seperti keinginan bapak yang tempo hari ingin melamar saya.


Pak Yasya, biarkan saya menopang beban ini sendirian, saya tidak ingin merepotkan pak Yasya lagi, bapak harus bahagia, jangan lukai Syahbilla.


Meskipun kita tidak akan pernah bisa bersama, tapi ingatlah bahwa, saya selalu mencintaimu. Saya akan bahagia jika pak Yasya bahagia, meski kebahagiaan itu bukan ada pada saya.


Biarkan pak Yasya menjadi cinta terakhir dalam hidup saya. Setelah ini, entah hidup ataupun mati saya akan menyerahkan semuanya pada takdir yang telah mempermainkan kehidupan saya.


Sekali lagi, maafkan saya untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan.


Dan terimakasih untuk segalanya yang pernah bapak berikan. saya akan selalu mengingat itu**.


Yasya melipat kertas itu lagi, wajahnya semakin sendu meski senyuman tergurat manis diwajah tampannya.


Kini dirinya menemukan semua jawaban dari penyesalan yang ia buat dalam hidupnya.


Yasya menengok tatkala sebuah tangan menepuk pundaknya.


"Reyna".


Pandangannya berubah menjadi sedih kala sahabatnya yang kini berdiri dihadapannya.


"Oh ternyata elo Sat".


Ucapan dari Yasya membuat Satya memeluk sahabatnya itu, membuat Yasya tak bisa menahan emosinya lagi.


"Sya, gue tau, tapi lo harus bangkit, jangan terpuruk disatu titik. Percaya Sya, Reyna pasti bahagia disana".


"Hiks... Satya gue udah nyerah sat, kenapa Reyna ninggalin gue, gue nggak mau ditinggal sendirian sama dia, gue nggak rela, ini semua salah gue, kenapa dia harus nyelametin nyawa gue ha"


Satya melepaskan pelukannya, ditatapnya dengan lekat wajah sang sahabat yang kali ini tengah meratapi kesedihannya. Satya menepuk kedua bahu sang sahabat memberikan sebuah ketenangan pada Yasya.


"Sya ini pilihan Reyna, lo harusnya bersyukur bisa bernafas sampai detik ini, seharusnya lo hargai pengorbanannya".


Yasya mengangguk, kembali menghapus air matanya, pandangannya beralih kearah pemandangan didepannya.


Meskipun rasanya amat sakit, namun Yasya akan selalu mencintai Reyna. Kini dirinya telah berjanji untuk tidak menikah.


Dia ingin menemui Reyna disurga, meskipun dunia mereka kini berbeda, namun Yasya seperti masih tidak percaya jika Reyna telah pergi meninggalkannya.


Reyna akan selalu ada dihatinya, meskipun dunia yang akan menghancurkannya.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2