The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Angin laut yang romantis


__ADS_3

Tatapan mata intens Hengky membuat Kanaya membulatkan matanya. Dia bingung harus mengatakan apa pada pria yang duduk bersebelahan dengannya.


"Kalian lagi ngobrolin apa?" pertanyaan dari Reyna membuat mereka berdua memalingkan pandangan kearah gadis yang tengah berdiri dengan senyumannya itu.


"Haha, nggak ada kok, Rey... makan aja yuk" sahut Kanaya tertawa seraya mengalihkan pembicaraan.


"Sorry guys, aku ada urusan... lain kali aja gimana?" kata Reyna dengan nada merasa bersalah membuat Kanaya sedikit mengembuskan napasnya.


"Nggak apa-apa Rey .. pergi aja, besok juga udah liburan kan, kita bisa ketemu sering-sering."


Kanaya mencoba untuk membuat Reyna menghindar dari Hengky, walaupun Hengky sudah tau, tapi belum saatnya Reyna menjelaskan masalah mamanya.


Entah apa yang akan dikatakan Reyna nanti, ia takut Reyna akan merasa canggung atau bahkan takut untuk menatap wajah Hengky.


"Rey... tapi ini penting" ucap Hengky dengan nada serius, membuat Reyna bingung dibuatnya.


"Lain kali aja ya Ky... aku bener-bener harus pergi sekarang maaf" ucap Reyna dengan buru-buru, membuat Hengky terpaksa harus merelakan pertanyaannya yang menggantung dan belum sempat terjawab kan.


"Sorry banget Nay, Ky... gue cabut dulu ya bye" ucapan Reyna dibalas senyuman dari Naya dan anggukan dari Hengky.


***


Reyna berjalan pelan dan menghampiri seorang pria yang tengah berdiri disamping mobilnya yang terparkir.


"Pak Yasya" teriak gadis itu, membuat pria bertubuh tinggi itu dengan pakaian kemeja dan celana jeans melengkapi tubuh atletisnya yang membalikkan tubuhnya untuk menatap arah suara yang tak asing baginya.


Reyna tersenyum senang, dia berlari mendekati Yasya.


Dipeluknya tubuh kekar itu, dengan refleks hingga Reyna tak sadar apa yang ia lakukan.


"Pak Yasya... saya berhasil."


Yasya tersenyum bangga membuat dirinya menarik tubuh Reyna.


"Ini pak hasil ujian saya" ucap Reyna dengan mengulurkan kertas hasil ujian kenaikan kelasnya.


"Reyna... ini kamu... kamu peringkat satu."


Yasya menarik tubuh mungil Reyna, merengkuhnya dan diangkatnya tubuh gadis itu serta diputar beberapa kali membuat Reyna berteriak.


"AAHHHHH pak Yasya" Yasya menghentikan gerakannya, dia mencium kening Reyna dengan lembut. Ia baru sadar apa yang ia lakukan pasti mengejutkan bagi gadis itu.


"Reyna... kamu sudah membuat saya bangga, untuk itu saya akan memberi kamu sebuah hadiah."


Wajah Reyna bersemu merah, pandangannya menunduk malu akan rona di wajahnya yang takut diketahui oleh pria di hadapannya.


Gadis itu masih merasakan jantungnya berdegup dengan kencang, bahkan ia tak dapat menahan perasaan yang selama ini iya rasakan pada Yasya. Ditambah lagi dengan Yasya yang baru saja menggendong tubuhnya membuatnya terasa terbang di udara.


"Bertemu mama" ucapan gadis itu membuat Yasya terdiam.


Reyna baru ingat akan janji yang biasa buat untuknya, ia berujar semangat sembari menatap senyum yang tak pernah ia lepaskan dari pandangannya kepada Yasya.


"Ada apa pak?" tanya Reyna memastikan.


"Sebelum itu, ada lagi yang ingin saya berikan, ayo ikuti saya."

__ADS_1


Yasya menarik lengan gadis SMA itu memasuki mobilnya. Senyumnya masih tertahan dengan rasa bahagia kala Reyna bahkan bukan hanya mendapatkan juara kelas, tapi juga juara sekolah.


Yasya mengajak Reyna untuk mengunjungi sebuah pantai berpasir putih. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi mereka, karena dengan usaha Reyna selama ini, dia dapat menyelesaikan ujian ini dengan nilai yang sempurna.


Baik Yasya dan Reyna, mereka sama-sama merasakan sebuah debaran bersamaan dengan angin yang berhembus dari luar mobil.


Yasya kini yang tengah berada diluar, menarik lengan gadis itu untuk keluar dari mobil.


Angin berhembus kencang membuat Rambut panjang Reyna yang tergerai tertiup dengan sempurna. Membuat dirinya terlihat cantik, meski masih mengenakan seragam sekolah.


Mereka mendekati bibir pantai yang terdengar desiran ombak mengenai beberapa batu karang dengan tangan Yasya yang masih menggenggam erat jemari Reyna yang lembut.


Reyna tampak ragu untuk mendekati air yang menyentuh pasir putih itu dengan ombak yang cukup besar.


"Jangan takut, ada saya..." bisik Yasya dengan lembut ditelinga gadis itu, membuat Reyna menunduk menahan pipinya yang mulai menghangat.


Pria itu menarik lengan Reyna, ia mengajak gadis itu berlari dan mendekati air laut. Terlihat pohon-pohon kelapa disekeliling pantai yang meliuk-liuk mengikuti angin yang menerpa.


"Pak Yasya... indah sekali pemandangannya."


Ucap Reyna dengan decak kagum yang membuat Yasya secara spontan mencium pipinya dengan cepat. Membuat wajah gadis itu merona.


Cup...


"Lebih indah gadis cantik yang sekarang berada di samping saya" bisik pria itu ditelinganya.


Reyna merasakan pipinya yang mulai memanas, dengan pandangannya yang menunduk menatap kakinya yang kini berpijak pada pasir putih dibawahnya.


Yasya hanya tertawa kecil sembari menyentuh pipi Reyna dengan gemas.


Tak berselang lama pria itu akhirnya memutuskan untuk berlari ke arah air yang berdesir karena ombak.


"AAHHHHH... pak Yasya" teriak Reyna yang kini mulai memberanikan diri untuk menyentuh pasir basah di bawahnya. gadis itu mulai mencipratkan air laut yang tercampur pasir ke arah Yasya.


Namun tak disangka Reyna menggenggam pasir terlalu banyak hingga membuat pria itu itu diam tak bergeming kalau wajahnya nya tertutupi pasir besar bola tenis.


Plukk...


Pria itu terdiam cukup lama dengan matanya yang menutup rapat, membiarkan Reina yang kini mulai panik dan menghampirinya.


"Pak Yasya, saya nggak sengaja... biar saya bantu" kata Reina dengan meraih wajah Yasya, mencoba membersihkan butiran pasir di kulit mulus pria itu.


Yasha merasakan wajahnya sedikit bersih, lalu ia meraih tangan gadis itu yang menyentuh permukaan pipinya.


Terlihat dia terdiam sesaat, wajahnya sangat cantik ditambah lagi dengan angin yang menerpa, membuat gelombang angin dirambut nya yang tertiup kencang oleh hembusan udara disekeliling pantai.


glek...


Yasya menelan salivanya kala gadis itu tersenyum sambil menahan tawa.


Segera pria itu menggelitiki perut Reyna, membuat gadis itu tampak dia meronta.


"Ah... pak Yasya, geli ihhh" Reyna tampak tertawa dan berlarian, sedang Yasya mengejarnya untuk ia jaili lagi.


"Kamu harus dihukum Reyna... hahaha."

__ADS_1


"Nggak mau...coba aja kalo bisa"


Yasya berlarian mengejar tubuh gadis mungil itu. Membuat siapa saja pasti berfikir bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang tengah menikmati hari.


Reyna gadis cantik yang selalu Yasya cintai, membuat pria terus terpikat oleh senyuman lembutnya, dia sangat kuat dalam menjalani kehidupannya. Tak ada yang dapat mewakilkan perasaan saat ini selain kelembutan yang ia berikan pada gadis itu.


Pukul 17.00


Kira-kira sudah hampir satu jam mereka bermain dipantai. Yasya mengajak Reyna berjalan diatas tumpukan batu karang yang membentuk jalan panjang.


Hari itu sangat sepi, tak seperti hari biasanya. Mungkin karena memang belum akhir pekan. Ditambah lagi suasana menjelang sore.


Membuat Yasya dan Reyna seperti satu-satunya pasangan yang berjalan ditengah hamparan pemandangan pantai.


"Reyna, apa kamu bahagia?" tanya Yasya setengah berbisik membuat gadis itu mengangguk dengan pandangannya yang menunduk. Menyembunyikan rona diwajahnya yang hampir sama warnanya seperti semburat jingga di langit sana.


"Saya sangat bahagia, terimakasih pak Yasya" ujarnya dengan senyuman yang kini dapat ia tampakkan pada pria yang kini berjalan beriringan bersamanya.


"Selain ini, saya ingin memberikan kamu sesuatu" ucap Yasya sembari meraih kotak berbentuk hati berbahan bludru dari saku celananya.


Reyna tampak membelalakkan matanya dan menaikkan sebelah alisnya tatkala matanya secara bergantian memandangi wajahnya dan benda yang berada ditangannya.


"Apa ini pak?" tanya Reyna penasaran.


"Buka saja" Reyna dengan ragu mengambil kotak tersebut dari tangan Yasya, dan dibukanya dengan perlahan.


"Kalung? pak, ini bukannya mahal ya? saya... saya nggak bisa terima" kata gadis itu dengan mengembalikan perhiasan yang baru Yasya beri.


"Tidak mahal kok, kamu terima saja... ini adalah kalung saya waktu masih SMA, waktu ulang tahun mami saya mau ngasih itu, tapi karena lupa ditaruh mana akhirnya saya nggak jadi ngasih... cuma pas kemaren saya beres-beres kamar baru saya ingat naruhnya dimana" kata Yasya menjelaskan.


"Tapi kenapa hurufnya F?" tanya Reyna lagi yang kini masih terbesit penasaran dalam batinnya.


"Inisial itu diambil dari marga saya Ferdiansyah... saya pengen ngasih kamu itu karena saya rasa kamu sangat cocok untuk memakainya."


"Pak... saya tetep nggak bisa terima, ini kalung yang sangat berharga, apalagi ini adalah emas... terlalu mahal untuk saya."


Segera pria itu mengambil kalung yang berada digenggamannya. Pria itu tanpa permisi memakaikan kalung bernuansa emas putih itu dileher gadis cantik tersebut membuat Reyna hanya pasrah.


"Pak" ujarnya dengan kata-katanya yang tertahan.


"Sstttt.... kamu sangat cantik Reyna, jangan pernah lepas kalung ini ya... karena kalung ini adalah penghargaan dari saya."


Bisik Yasya ditelinganya kala tangan pria itu telah selesai memakaikannya kalung bertuliskan huruf F pada Reyna.


Posisi mereka masih dengan keadaan yang sama, dimana Yasya berada dibelakang Reyna yang kini dirinya mulai tersipu lagi.


Perlahan tangan pria itu bergelayut mesra dipinggang ramping Reyna. Yasya bahkan menyandarkan dagunya tepat di pundak Reyna membuat gadis itu merasakan getaran yang luar biasa.


Tak lama kemudian Yasya mengangkat kepalanya, hingga membuat Reyna kini menatap wajah pria itu dengan kepalanya yang sedikit ia miringkan hingga wajah keduanya saling bersentuhan.


Deg deg deg...


Suara degub jantung yang bahkan bisa didengar meski hanya berjarak beberapa inci membuat mereka berdua seperti hanyut dalam kenyamanan. Yasya mengecup bibir lembut Reyna dari belakang, membuat dirinya menggelinjang kenikmatan. Semakin lama pelukan pria itu semakin dengan ciuman kami yang semakin dalam.


Lenguhannya terdengar indah ditelinga pria itu saat mereka menghentikan ciuman lembut yang baru saja Yasya ciptakan.

__ADS_1


Yasya membalikkan tubuh gadis itu hingga kini tubuh mereka saling berhadapan, wajahnya terlihat merona tatkala Yasya metatap wajah cantik Reyna yang begitu menawan.



__ADS_2