The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Cemburu itu cinta


__ADS_3

Sebuah Cafe bernuansa klasik, membuat gadis itu bisa mencium aroma kopi meski kini dirinya masih berdiri di ambang pintu.


Ya, disinilah cafe kesukaan Reyna, Cafe Orange, tempat dimana pertama kali Yasya dan Reyna bertemu.


Yasya memang sengaja mengajak gadis itu kemari, ia ingin Reyna mengingat pertemuan pertamanya bersama dengannya. Saat pertama kali pria itu menikmati coklat yang sebelumnya tidak pernah ia sukai. Dan untuk pertama kalinya Yasya merasakan getaran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Mereka segera duduk tepat di samping jendela yang mengarah pada jalanan. Pemandangan sore yang begitu indah mengingat dulunya mereka berada di tempat yang sama dan dalam waktu yang sama.


"Dua coklat panas" kata Yasya pada sang pelayan.


"Baik, silahkan ditunggu tuan" ucap pria itu pada pelayan cafe.


"Pak Yasya masih ingat?" tanya Reyna yang terlihat tersenyum malu-malu.


"Masih... pertama kita bertemu disini, saya tidak akan melupakan itu, karena untuk pertama kalinya saya menyukai coklat dan...." ucapan Yasya menggantung, dia sempat menghentikan perkataannya sambil memikirkan sesuatu membuat gadis dihadapannya mengernyit.


"Dan apa?" tanya gadis itu penasaran.


"Bukannya seharusnya kamu tau?" lanjutnya dengan memberikan sebuah teka-teki yang membingungkan bagi Reyna.


"Saya tidak tau apa-apa" kata gadis itu sambil menggeleng.


"Jangan pura-pura Reyna."


Tatapan matanya intens itu, seolah ingin membuat Reyna mengingat sesuatu yang ia sendiri lupakan. Ia mencoba beberapa kali untuk mengingat peristiwa yang tidak pernah ia lupakan kala pertama kali dirinya bertemu dengan Yasya. Tapi hasilnya nihil, ingatannya seperti hilang begitu saja.


"Saya tidak ingat pak... ayolah apa?" kata Reyna merengek.


"Reyna... jangan terlalu rumit, kamu sendiri yang terlibat."


"APA maksudnya...??" tanya Reyna sembari menggaruk kepalanya tak mengerti.


"Reyna... apa kamu benar-benar lupa."


Reyna mengangguk dengan wajah polos, namun pria itu hanya menertawakan gadis itu.


"Biar saya beritahu... untuk pertama kalinya, saya diberi gelar 'tua bangka' pada seseorang."


Ucapan Yasya membuat Reyna membelalak, wajah gadis itu merah menahan malu. Ia baru ingat, mengingat sesuatu yang bahkan tak ingin ia ingat lagi. Sungguh peristiwa memalukan dalam hidupnya m


Reyna memalingkan muka, dia masih terlihat terkekeh dengan melihat gadis itu yang begitu lucu menurutnya.


Kini pandangan gadis itu tertuju pada Yasya yang tersenyum kearahnya. Yasya memang pria yang begitu tampan, kulitnya mukut tanpa cacat. Badannya atletis dengan perutnya yang sispack selalu tercetak lewat kemejanya.


Gadis itu menelan ludahnya kala Yasya kini membayangi fikiran nakalnya. Begitu indah ciptaan tuhan batinnya.

__ADS_1


Braakkkk


Reyna tersentak mendengar gebrakan dari meja.


"Kamu melamun apa?" tanya Yasya yang sengaja dengan tatapan jahilnya membuat Reyna mendengus kesal.


Ia memutar bola matanya malas. Baru saja membayangkan sesuatu yang sangat ia suka tiba-tiba suada gebrakan itu mengejutkannya.


"Bukan apa-apa..." kata gadis itu sembari mengerucutkan bibirnya. Dengan sengaja pria itu mendekatkan wajahnya maju ke arah Reyna membuat gadis itu tersentak.


"Jangan seperti itu, ini di tempat umum lo, jangan sampai saya kebablasan..." ucapan Yasya membuat tengkuknya meremang.


"Pak Yasya...." ucapan Reyna terhenti saat seorang pelayan lelaki mengantarkan coklat untuk kami berdua.


"Terimakasih..." ujar Reyna dengan senyumnya, dia mengangguk dan membalas senyuman itu dengan ramah dan segera pergi.


Reyna tersenyum tatkala melihat minuman andalan di cafe ini, melihatnya saja sudah sangat hangat, apalagi kalau meminumnya.


"ehemmm ehemm..."


Tiba-tiba saja orang didepannya itu berdehem, dan wajahnya terlihat tidak suka.


***


Deheman Yasya membuat gadis itu heran.


Gadis itu menatap Yasya masih dengan pandangan polosnya.


"Pak Yasya kenapa? ada yang salah?"


Pertanyaan dari gadis itu membuat Yasya mengedikkan bahu, dan memutar bola mata malas. Segera ia meraih coklat saja yang baru sampai dihadapannya dan segera meminumnya.


"Aaaahhhh... panas... panas" teriakan Yasya membuat gadis dihadapannya menahan tawanya. Hal itu tambah semakin membuat Yasya sebal dibuatnya.


Yasya menatapnya tajam, dan gadis itu hanya berpura-pura mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.


Diraihnya minuman coklat itu dan ditiup secara perlahan untuk kemudian dia minum.


Hari sudah semakin sore, dan kini saatnya Yasya mengantarkan Reyna sampai apartemen. Sebenarnya ia masih sedikit kesal padanya, saat melihat dia tersenyum pada pria lain.


Sesampainya di apartemen pria itu melirik Reyna yang mulai menjauh, perlahan gadis itu memasuki gedung besar dihadapannya. Yasya masih tak bergeming untuk mengawasinya masuk kesana. Sebelum dia masuk, gadis itu membalikkan tubuhnya dan tersenyum manis kearah Yasya.


Pria itu gelapan, tampak pandangannya beralih menatap kedepan dan menutup kaca mobil dan segera melanjukan mobilnya.


***

__ADS_1


"Berhenti Irya."


Pria itu menghentikan langkahnya, kala suara wanita paruh baya yang tidak asing baginya terdengar dari arah belakangnya.


"Hay mi...." ucap Yasya dengan senyuman tanpa dosa.


"Kenapa kamu cengengesan begitu? merasa nggak punya salah?" ujar wanita itu dengan nada tinggi membuat Yasya menghela nafas panjangnya.


"Kemaren kamu nggak pulang seharian, kamu mau kemana malam-malam begini? mau tidur diluar lagi? kamu kenapa jadi jarang pulang, apa orang tua mu ada berbuat salah."


"Mami... aku nggak ada masalah sama sekali, aku ini anak mami kan, apa Irya nggak boleh menjadi dewasa... kenapa mami menganggap ku seolah aku masih kecil?" Yasya mendekat ke arah Dian, dan segera memeluk tubuh wanita itu.


"Kamu?" Yasya melepas pelukannya dari sang ibu, dan memegang kedua pundak wanita paruh baya dihadapannya.


"Aku sayang banget sama mami... aku mau belajar menjalani hidupku sendiri dengan mandiri... belajar mulai dari sekarang, toh suatu hari anak mami ini akan menikah kan... mami percaya kan sama aku?" terlihat wanita itu mulai luluh dengan perkataan puteranya, dia tersenyum dan memahami maksud dari sang anak satu-satunya itu.


"Nak... mami percaya padamu, tapi apa kamu tau, mami tidak ingin kamu jauh dari mami untuk waktu yang lama."


"Mami tenang aja... aku baru tidur di luar hanya beberapa hari, lagi pula aku juga tidak pindah rumah kan... aku ada banyak tugas menjelang kelulusan, jadi aku butuh waktu dan tempat untuk menyendiri dan belajar."


.


"Yasya... beritahu mami, selama ini mami dan papi tau kalau kamu memiliki apartemen, tapi kami tidak pernah tau dimana, biar mami bisa mengantarkan mu makanan jika kamu lapar."


"Mami ayolah... aku ini sudah besar, suatu hari aku juga akan hidup sendiri, kalau terus bergantung pada mami, bagaimana aku bisa menjaga diriku sendiri... nanti bagaimana kehidupan ku dimasa tua, kalau mami tidak mengizinkan ku untuk berusaha sendiri... lagipula, anak mami ini sudah bisa masak lo."


"Oh ya... kamu kok nggak pernah cerita?."


"Cuma sedikit sih, masak sop, nasi goreng, telur... itu aja sih... emmm tapi yang penting, aku bisa mandiri mulai sekarang.. jadi mami jangan khawatir kan aku lagi ya."


"Maafkan mami nak, mami tidak bisa memahami mu... tapi dengan penjelasan mu barusan, mami akhirnya tau, kamu telah belajar banyak hal diluar sepengetahuan dari kami... kalau begitu, lakukan apa yang kamu mau, asalkan itu tidak menyimpang... mami percaya padamu... tapi kalau kamu ingin pergi, izin dulu pada mami."


"Siap mi.... Irya pergi dulu ya... banyak tugas di kampus."


"Iya sayang... istirahat yang cukup, jangan tidur malam-malam" Yasya mengangguk patuh dan segera pamit untuk pergi dari rumahnya.


***


Yasya masuk ke dalam apartemennya dan melihat sosok gadis itu tengah tertidur pulas di atas sofa dengan memeluk buku pelajaran yang ada ada di genggamannya.


Yasya mendekat kearah Reyna yang telah tidur, dia menggeleng pelan dan menunjukkan senyumnya yang hangat.


Diraihnya buku itu, dan direngkuhnya tubuh Reyna yang ramping. Yasya menggendong Reyna ala bridal style dan melangkahkan kakinya perlahan untuk dipindahkan ke dalam kamarnya yang cukup besar.


__ADS_1


__ADS_2