
Reyna berjalan menuju kantin bersama Kanaya sambil membawa buku untuk belajar.
"Eh Rey.... abang lo udah punya cewek belum?" tanya Naya yang membuat gadis itu heran.
"Cewek? emmm kayanya belum sih? soalnya abang nggak pernah cerita."
"Masa ganteng-ganteng jomblo sihh" kata Kanaya sembari tersenyum kecil membuat Reyna tersenyum miring.
"Elo naksir ya sama abang gue?" kata Reyna mengintimidasi sembari mengerlingkan matanya tampak menggoda.
"Eng... enggak kok" ujar gadis itu gugup membuat senyum mengembang di pipi Reyna terpampang jelas.
"Kok kepo gituu, ciyeeeee... gue bilangin lo sama bang Rey" kata Reyna yang kini mencoba untuk menggoda sahabatnya.
"Bilangin aja, emang gue nggak suka kok" seketika wajah Kanaya berubah menjadi masam dan mendahului langkahnya.
"Ehhh napa tu bocah, sensi banget."
"Bang bakso sama es teh ya" kata Naya sambil duduk dibangku kantin.
"Aelahhhh gitu aja ngambek gue becanda kali..." kata Reyna sewot dan langsung duduk disamping sahabatnya.
"Hey Rey... makan juga?" tanya Hengky yang telah berdiri didepan mereka.
"Iya" katanya singkat sembari tersenyum kearah pria itu.
"Boleh gabung nggak?" tawar Hengky yang kini mulai antusias.
"Boleh boleh, kalo perlu gue cari tempat duduk lain" kata Kanaya yang kini mengedipkan matanya kearah Reyna.
Gadis itu menyenggol lengan Kanaya dan mengisyaratkan kata 'diem lo'. Namun memang dasar Kanaya ia hanya tersenyum sembari menggoda sahabatnya itu.
"Makasih... kalian udah pesen belum?" tanya Hengky yang dibalas anggukan oleh Reyna.
Setelah pesanan mereka datang, Kanaya langsung pindah ke bangku belakang serta membawa bakso miliknya.
"Eh mau kemana lo?" tanya Reyna sambil menarik lengan gadis itu
"Kalian ngobrol dulu aja" kata Kanaya santai sambil pergi.
Reyna masih duduk didepan Hengky, diam sesaat dan perlahan meraih mangkuk didepannya.
Tiba-tiba tangan besar Hengky memegang tangan gadis itu lembut.
Reyna menatap manik matanya, mata coklat milik Hengky yang begitu menggoda.
"Rey ... kamu mau nggak jadi pacarku?" pertanyaan Hengky membuat Reyna tertegun dan langsung mengalihkan pandangannya seraya melepas tangannya dari genggaman Hengky.
"Makan dulu yuk" kata Reyna sembari tersenyum kikuk menatap Hengky.
"Rajin banget sampai bawa buku ke kantin" kata Hengky sembari melirik buku yang berada disamping gadis itu.
"Hehe, kan bentar lagi ujian" kata Reyna menimpali.
"Pulang sekolah kita ke taman yuk" ajak Hengky membuat gadis itu mengangkat pandangannya.
"Aku pulang ada janji sama abang ku" kata Reyna menolak dengan lembut.
"Oh ya? bentar aja kok Rey, kita sambil belajar nanti, atau aku yang bilang ke bang Rey deh" kata Hengky tak menyerah dengan tawarannya pada Reyna.
"Ya udah deh" kata Reyna menyetujui.
~
Pulang sekolah.
"Abang.... aku nanti pulang sama Hengky, bang Rey nggak usah jemput aku" kata gadis itu ditelfon.
"Ya udah, abang juga ada kunjungan ke Bandung setengah jam lagi, kebetulan kita nggak bisa main dulu, kamu sama Hengky pulangnya hati-hati ya, abang pulang malam" kata Reyhan menjelaskan membuat Reyna tersenyum.
"Iya bang" mereka pun mengakhiri telfon dan Reyna lanjut duduk di halte depan sekolah menunggu Hengky.
Sudah hampir 2 jam gadis itu menunggu Hengky, namun batang hidung Hengky belum juga terlihat.
drrtt drttt...
Ponsel Reyna bergetar dan menampilkan chat dari Hengky.
"Rey, maaf ya... aku ada rapat OSIS, kamu pulang duluan aja ya, nanti aku jemput kamu dirumah, maaf banget ya udah bikin kamu nunggu lama, soalnya rapat ini penting."
Reyna menghela nafas panjang, kemudian memasukkan ponselnya kedalam saku.
Gadis itu berdiri dan beranjak dari sana.
"Mau bareng" kata seorang lelaki yang naik mobil tepat berhenti disamping langkahnya. Gadis itu menoleh dan betapa terkejutnya ia melihat sosok Yasya yang kini tersenyum lembut menatapnya.
"Pak Yasya" kata gadis itu sembari tersenyum sumringah melihat keberadaan Yasya yang kini mempersilahkan ia masuk.
"Ayo masuk" katanya, namun dasar Reyna. Ia memilih jual mahal terlebih dahulu untuk menaklukkan hati pria yang kini menjadi tambatan hatinya.
"Nggak pak, saya mau naik angkot aja" tolaknya lembut.
"Udah ayo... lagian kita kan juga searah, jam segini angkot melaju dari arah berlawanan dari rumah kamu."
"Tapi pak" sejujurnya selain jual mahal, gadis itu belum siap berduaan bersama Yasya lagi. Apalagi mengingat hari itu, hari pertama kali ia kehilangan ciuman pertamanya.
"Udah ayo" kata Yasya yang kini sedikit memaksa, membuat Reyna akhirnya menghela nafas sembari mengangguk pasrah.
"Ya udah deh" dengan langkah cepat Reyna masuk kedalam mobilnya.
Sudah ia tebak sebelumnya, rasa canggung menyelimuti keduanya kali ini. Mereka duduk bersebelahan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Yasya yang fokus pada jalanan dan Reyna yang kini menikmati pemandangan luar jendela.
"Ehemmmm" Yasya berdehem dan gadis itu menoleh memandang wajah nya. Seolah memberikan isyarat atau apa, namun dengan senyuman gadis itu memperhatikan siku pria itu yang tengah berbalut kemeja panjang miliknya.
"Gimana keadaan bapak sekarang? tangannya masih sakit?" tanya Reyna memecah keheningan.
"Udah baikan, makasih ya dirumah sakit waktu itu kamu meluangkan waktu buat nemenin saya."
"Bukan apa-apa kok pak, siapa pun yang ada disitu pasti akan nemenin bapak juga kalo ada diposisi saya" kata Reyna dengan santai.
"Kita ketempat saya yuk, kamu mau nggak?" tawar Yasya membuat Reyna berfikir sejenak sembari bertanya-tanya.
"Kemana pak?" tanya Reyna dengan alisnya yang mengernyit.
"Ke suatu tempat, kamu pasti suka" kata Yasya sembari menatap gadis itu sesekali sambil terus fokus pada jalanan didepannya.
"Kamu nggak perlu khawatir, cuma sebentar aja kok, kamu pasti suka tempatnya" lanjutnya membuat Reyna hanya tersenyum mendengar penjelasannya.
"Oke" katanya singkat sembari menunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini terlihat semburat merah disana.
Setelah perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya mereka telah sampai ditempat yang Yasya bilang.
Sebuah pegunungan dan pohon besar disamping mobil yang sedang dia parkir.
'Indahnya' batin Reyna kagum, dan ia tersenyum memandangi pemandangan didepannya. Pegunungan hijau dengan pohon-pohon didepan dan pagar yang membatasi jurang dan jalan.
"Kamu suka?" suara itu membuat gadis itu menoleh.
"Suka pak" Yasya melangkah mendekat.
Namun Reyna mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak darinya. Sayangnya ia tak mengetahui ada batu dibalik kakinya dan kehilangan keseimbangan.
Dengan sigap tangan Yasya meraih pinggang Reyna, dan secara otomatis gadis itu jatuh dipelukannya.
Yasya masih memandangi Reyna dengan mata indahnya, ia pun membalas pandangan nya.
__ADS_1
Deg deg deg....
'Pak Yasya, aku... aku mencintaimu pak' batinnya sembari menatap mata Yasya lamat-lamat.
Entah mengapa perlakuan Yasya yang begitu manis ditambah ia mengajak Reyna datang ketempat seindah ini membuat gadis itu semakin terpesona oleh sikap pria itu. Ia semakin percaya diri untuk mencintai Yasya apalagi mengungkapkannya ditempat ini juga.
Reyna bangun dari lamunannya dan berdiri dari pelukan Yasya yang kini ia mulai menyadari apa yang baru saja terjadi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya yang terlihat memperhatikan Reyna dari atas sampai bawah.
"Makasih pak, saya nggak apa-apa kok."
"Syukurlah" Yasya duduk bangku dekat pohon besar itu.
"Sini" Yasya memanggil Reyna dan mengisyaratkan untuk duduk disampingnya.
"Kamu tau nggak, ini tempat dimana masa kecil saya , saya habiskan disini bersama keluarga, biasanya kami piknik kecil-kecilan disini sambil melihat pemandangan ini " katanya sembari memandangi pemandangan indah didepan matanya.
"Tempatnya indah sekali pak" puji Reyna sembari sesekali melirik kearah pria itu.
"Iya... sangat indah."
"Makasih ya sudah membawa saya ke tempat ini" kata gadis itu sembari tersenyum hangat dengan wajahnya yang merah merona.
"Biasanya saya datang kesini jika hati saya sedang kacau, kalau melihat hamparan hijau pemandangan didepan sana akan sangat menenangkan hati" kata Yasya sedikit curhat.
Gadis itu hanya manggut-manggut saja. Namun sedetik kemudian perasaannya seperti dialnda kebimbangan yang tak menentu. Beberapa kali ia mencoba untuk menghela nafas beratnya. Tak ayal gadis itu mencoba untuk mengatakan bagaimana perasaannya kali ini pada pria yang kini berstatus sebagai gurunya tersebut.
Reyna mencoba menghapus beberapa hal yang membuatnya grogi, ia mengerjapkan matanya beberapa kali sembari meras jemarinya sendiri.
"Saya mau mengatakan sesuatu" mereka berbarengan. Kini Reyna bisa bernafas lega. Sejenak hening menyelimuti, namun suara Yasya membangunkan lamunannya kembali.
"Kamu dulu" kata Yasya membuat gadis itu menggeleng.
"Bapak dulu aja" ujar Reyna yang kini mulai penasaran tentang hal yang hendak dikatakan oleh pria itu.
"Kamu dulu Reyna, saya ingin mendengar kamu" kata Yasya yang kini mulai berambisi.
"Nggak nggak... bapak dulu aja, saya nanti malah tambah kepo lo" ucap Reyna dengan kekehan.
Reyna bertekad untuk mengungkapkan perasaannya itu padanya. Dan ia berharap apa yang hendak disampaikan Yasya adalah hal yang juga ingin Reyna dengar.
'Pak Yasya, aku sangat ingin kamu tau tentang hal ini, ku mohon dengarkan aku, betapa aku menyimpannya selama ini, dan aku tidak bisa menyimpannya terlalu lama lagi, dengan perlakuannya pada aku selama ini aku berharap pak Yasya juga merasakan apa yang aku rasa' batinnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Yasya menghela nafas panjangnya, Reyna menjadi lebih gugup dari sebelumnya. Beberapa kali gadis itu menebak-nebak apa yang hendak dikatakan oleh pria itu. Meskipun ia begitu berharap akan perasaan mereka yang sama, namun Reyna hanya bisa memendamnya.
"Reyna maafkan saya, saya harus mengatakannya" kata Yasya menggantung.
"Hemm katakan saja pak, saya pasti dengerin kok" ujar Reyna dengan pipinya yang terlihat menghangat.
"Maaf Rey, atas perlakuan saya ke kamu akhir-akhir ini. Mungkin ini juga salah saya" Reyna membulatkan matanya. Ia juga mengangkat sebelah alisnya, untuk memastikan apa yang dikatakan oleh Yasya.
"Maksud bapak apa? apa bapak?" ucap Reyna menggantung seraya tersenyum tipis seakan tak sabar dengan lanjutan dari perkataannya.
"Iya Rey, saya ingin kita melupakan semuanya, saya menyadari kamu adalah murid saya, dan saya guru kamu, tidak seharusnya saya bertindak jauh terhadap kamu. Minggu depan, setelah acara prom saya sudah tidak lagi mengajar dikelas kamu. Saya harap kamu bisa memaafkan saya karena tempo hari saya telah mencium kamu, saya benar-benar khilaf" kata pria itu yang sontak membuat nafas Reyna tersengal. Tak hanya itu matanya seakan berkaca-kaca oleh cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
"Apa?!" tanya Reyna tidak percaya.
"Kamu tidak mau memaafkan saya Rey?" tanya Yasya bingung.
"Nggak apa-apa kok pak, saya sudah memaafkan pak Yasya."
"Terima kasih Rey, saya janji tidak akan berbuat seperti itu lagi, saya akan lupakan semuanya mulai sekarang, dan mungkin ini kesempatan terakhir saya bicara kepada kamu, makanya saya ajak kamu kesini. Karena saya bertekad tidak lagi berhubungan dengan kamu selain hubungan guru dan murid demi menebus rasa bersalah saya padamu" Lanjutnya membuat hati gadis itu terasa seperti dicabik-cabik, ia bahkan belum mengatakan perasaannya, dan hatinya sudah hancur karena orang yang paling ia cintai.
Selama ini dia hanya menganggap Reyna sebagai murid nya.
Mungkin Yasya benar, Reyna dan dia tidak mungkin bisa bersama.
Dan seperti katanya, Reyna harus melupakan pria itu untuk seterusnya.
Mata gadis itu berkaca-kaca, namun ia mencoba menipu dirinya agar tidak terlihat menyedihkan didepan pria itu.
"Iya pak saya ngerti, bahkan saya sudah melupakan semuanya kok, nggak perlu dibahas lagi, anggap saja tidak pernah terjadi" ucap Reyan dengan menatap pemandangan didepannya seraya menyembunyikan matanya yang terlihat menyedihkan.
Sesekali Reyna melirik pria itu dengan sayu, padahal perkataannya itu sangat berbalik dengan apa yang hatinya ingin ucapkan.
Reyna menghela nafas beratnya.
"Syukurlah, ingat pesan saya ya Rey, harus rajin belajar, kejar terus cita-cita kamu."
"Pasti pak" ucap Reyna dengan senyum terpaksa.
"Oh iya, kamu tadi mau bilang apa ke saya? "
tanyanya yang membuat gadis itu membelalak mata.
"Saya... saya... sebenarnya saya juga mau bilang hal yang sama pak, kebetulan aja pak Yasya juga bilang hal itu" kata Reyna berdusta.
"Oh ya? emmm bagus lah kalau begitu."
drtt... drtt....
Yasya melihat ponsel gadis itu yang bergetar dan mengisyaratkan untuk mengangkatnya.
"Halo abang?" katanya yang bisa ditebak itu adalah panggilan dari Reyhan.
"Oh iya .. iya, oke hati-hati ya, ntar Reyna tunggu abang, jangan pulang malem-malem" kata Reyna singkat seraya menutup telfonnya.
"Kita pulang yuk pak, ini sudah sore" kata Reyna yang kini mulai tersenyum kembali
Dimobil
"Yang tadi telfon siapa Rey? pacar kamu?" tanya Yasya penasaran
"Oh itu kakak ku pak, lagi dines ke Bandung, aku ngga punya pacar" kata gadis itu sembari tersenyum kecut.
"Ka... kamu punya kakak? yang selama ini jemput kamu itu?" kata Yasya gugup dan Reyna hanya mengangguk pertanda iys darinya.
Setengah jam berlalu dan Reyna telah sampai rumah sekarang.
Jam berlalu begitu cepat menunjukkan pukul 19.15. Untung saja Reyhan sudah pulang sedari tadi karena meeting nya dibatalkan dan hanya kunjungan proyek kerja aja.
Kini mereka duduk di bersebelahan dan makan bersama.
"Bulan depan papa mau pulang kesini, kata papa mau jenguk kita, oma juga ikut" Reyna masih terdiam dalam lamunannya, ia tak menggubris perkataan Reyhan. Tangannya hanya mengaduk-aduk makanan dipiringnya sedari tadi sembari melamun dan menampilkan wajahnya yang muram.
"Rey .. hello kok bengong sih?" tanya Reyhan yang kini mulai menyadari Reyna tak menyimak kata-katanya.
"Haa? apa bang?" kemudian Reyhan mengulang lagi perkataannya.
"Oh... iya bang, sebelum papa pulang, aku bakal ngunjungi apartemen" kata Reyna sembari tersenyum kecut menatap makanannya yang belum sempat ia makan.
"Maksud kamu apa?" tanya Reyhan dengan wajahnya yang penuh dengan tanya m
"Ya... aku bakal tinggal di apartemen lah, papa mana mau liat aku lagi" kata Reyna malas sembari meminum air putih disampingnya.
"Rey... papa itu sayang banget sama kamu, kamu jangan ngehindar gitu, papa pulang itu karena udah kangen sama kamu juga" kata Reyhan membujuk membuat gadis itu menghela nafasnya.
"Udahlah, aku nggak mau bahas ini, aku mau keatas, udah ngantuk. Selamat malam" kata Reyna singkat sembari bangkit dari tempatnya makan. Gadis itu kemudian naik kelantai atas dimana tempat yang biass menjadi keluh kesahnya juga kamar yang selama ini menjadi kesukaannya.
"Reyna, dengerin aku dulu" teriak Reyhan memanggil nama Reyna namun ia tak memperdulikan nya.
Reyna membuka pintu kamar dan masuk kedalam.
Tak terasa air mata yang selama ini ia sembunyikan kini hadir kembali.
__ADS_1
Gadis itu merebahkan tubuhnya dan memeluk boneka teddy kesayangannya.
Reyna menangis pelan dengan air mata yang terus mengalir deras, bak hujan menumpahkan isinya.
'Kenapa hari ini begitu menyedihkan untuk ku, cintaku bertepuk sebelah tangan, dan papa tidak menginginkan aku lagi. Aku tau bang rey bohong, papa pasti tidak ingin melihat wajah ku lagi' batin Reyna sembari terisak lirih atas apa yang ia alami seharian ini.
***
Cahaya pagi menyeruak membangunkan Reyna. Gadis cantik meski tanpa makeup ataupun tanpa bedak. Tubuhnya menggeliat bersiap melakukan aktifitas paginya seperti biasa.
Sekolah.
"Rey... kamu kenapa? kok dari tadi diem mulu?" tanya Hengky yang berjalan disebelah gadis itu
"Nggak apa-apa, cuma nggak enak badan aja" katanya sembari menggeleng pelan pada sahabatnya
"Aku antar ke UKS ya?" tawar Hengky mendapat gelengan dari Reyna yang kini mulai malas untuk diajak bicara.
"Enggak perlu, habis ini kelas mau mulai juga" jelas Reyna membuat pria dihadapannya menatap gadis itu dengan pandangannya yang intens.
"Kamu yakin?" tanya Hengky lagi meyakinkan hati gadis itu.
"Iya lahhh" Reyna mendahului langkah Hengky dan segera masuk kelas, ia menghentikan langkah tepat diambang pintu.
"Aku masuk dulu ya Ky" ujarnya sembari tersenyum pada Hengky yang kini juga ikut tersenyum membalas.
"Iya, istirahat nanti aku tunggu di kantin ya" ujar pria itu dan mendapat anggukan dari Reyna yang kini hendak melanjutkan langkahnya.
Entah mengapa hati gadis itu merasa tidak enak sejak kemarin.
Bulan depan Reynaldi akan kembali pulang, dan minggu depan Yasya sudah tidak lagi mengajar lagi dikelasnya. Seharusnya ia senang dengan adanya berita kedatangan papa, tapi apa yang harus ia lakukan jika papa masih tetap membencinya. Begitu batinnya berbicara.
"Selamat pagi anak-anak" ujar seseorang pria yang kini memasuki kelas Reyna, tepat setelah gadis itu duduk di bangkunya.
"Pagi pak" teriak anak-anak dengan kompak.
Kini yang hanya bisa ia lakukan adalah menikmati saat-saat terakhir wajah Yasya yang begitu Reyna kagumi, meskipun dalam diam. Dalam kebungkaman tanpa ada yang tau dimana letak perasaannya.
Reyna tidak tau lagi jika kemaren ia memberitahukan padanya perihal perasaannya yang bertepuk sebelah tangan, untung saja gadis itu bersikeras membujuk Yasya untuk mengatakannya duluan.
Tak ia sangka, Yasya ternyata ingin melempar Reyna jauh dari kehidupannya. Padahal harapan dan juga keinginan Reyna lebih dalam pada pria itu.
'Reyna bodoh! memang kamu siapa dia? kamu hanyalah murid baginya, tidak lebih dari itu' batinnya sembari meremas pulpen yang kini ia genggam
"Heh... ngelamun aja" lengan Kanaya menyenggol siku gadis itu, membuat lamunan Reyna buyar seketika.
"Gue tau kok kalo pak Yasya ganteng, tapi nggak usah lama-lama gitu kali ngeliatin nya, entar jatuh cinta lo" Reyna diam dan tersenyum terpaksa pada Naya.
'Aku udah jatuh cinta kali Nay, lo aja yang nggak tau. Gue udah jatuh cinta sama guru magang itu' gumam Reyna dalam batinnya.
***
"Reyna" suara tak asing itu membuat Reyna memutar tubuhnya.
"Iya ada apa?" seorang lelaki gagah berkacamata mendekati Reyna.
"Gini nih, Minggu depan ada acara prom night, gue bisa minta bantuan lo nggak?" tanyanya dengan pandangan yang penuh harapan.
"Minta bantuan apa Ndre?" tanya gadis itu pada seseorang kakak kelas bernama Andre.
"Mau nggak jadi pasangan gue? lo belum ada pasangan buat datang ke prom kan?."
"Kok gue? jangan deh mending yang lain aja" kata Reyna menolak dengan mentah-mentah.
"Aduh ayolah Rey... dulu kan gue udah bantu lo juga" sahutnya membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.
"Bantu apaan? gue nggak ngerasa dibantu sama lo" ujar Reyna sembari memutar bola matanya malas.
"Nah lo... dasar cewek nggak tau balas budi. Udah lupa lo ya sama ospek lalu, gue bantu lo lolos dari hukuman temen gue" pikiran Reyna melayang, mengingat kembali masa dimana dia tidak membawa kelapa kuning dan dihukum buat bersihin WC satu sekolahan.
"Waktu itu... emang sih lo udah nyelametin gue, eh eh tapi gue tetep dihukum buat ngepang rambut gue besoknya, terus" ucapnya menggantung mengingat kejadian memalukan karena esok hari ketika dia mengepang rambutnya dan melepas kepangannya tanpa boleh disisir. Alhasil rambutnya jadi kribo dan disuruh untuk lari-larian didepan teman-temannya.
"Gue sebel sama lo...." Reyna memukul lengan Andre dan mencubit perutnya. Lalu pergi meninggalkan Andre dengan wajah yang masam.
"Etdahhhh... napa ni bocah, bukannya terima kasih atas jasa gue malah lari, dasar cewek nggak tau terima kasih."
"Rey... tunggu woy" Andre mengikuti langkah Reyna yang semakin lama semakin cepat.
Reyna berlari kecil dan hendak menghindari Andre.
Dia melangkah maju dan menatap belakang, tanpa dia sadari seseorang bertabrakan dengan tubuhnya dan membuat dia hendak terjatuh, namun tangan kekar segera meraih pinggangnya.
"Aduhhhh" wajah lelaki tampan itu dan Reyna saling berdekatan, mereka bertatapan cukup lama.
"Reyna... dimana lo?!" mendengar suara Andre Reyna langsung berdiri menghindari Yasya yang telah menolongnya kala itu.
"Ma, makasih pak" ujarnya sembari menggigit bibir bawahnya.
"Hati-hati kalo jalan, liat kedepan" kata Yasya sembari tersenyum kearah gadis itu. Reyna hanya tersenyum membalas sembari mengangguk malu-malu.
"Nah lo, ketemu kan " suara Andre tepat dibelakangnya kala Reyna masih memandangi wajah pria itu.
"Pak saya duluan ya" Yasya mengangguk dan memandangi punggung Reyna pergi menjauh darinya yang sedang dikejar oleh Andre.
"Lo mau kemana hey" ucap Andre sambil menarik kerah reyna dari belakang.
"Mau lo apasih?" kata gadis itu sembari mengerucut sebal.
"Mau gue, lo jadi pasangan gue!" kata Andre tanpa memperhatikan gerombolan murid yang kini nongkrong di depan kelas.
"WHAT!" semua siswa yang berada disana sontak memandang mereka berdua.
"Ciyeeeee... jadian nih ye" ucap seseorang siswi yang duduk dibangku panjang sebelah Reyna.
"Ayo, trima aja Rey... Andre ganteng juga tuh" suara siswa lain membuat gadis itu menekuk wajahnya.
"Jadian, jadian jadian" ucap mereka kompak membuat gadis itu tak bisa menahan amarahnya.
"Diammmm!" sontak mereka yang berada disana terdiam mendengar teriakkan Reyna yang menggelegar.
"Elo ya, udah gue bilang, gue gak mau jadi pasangan lo di prom night, bisa nggak sih nggak usah ngikutin gue, malu-maluin tau nggak. Dan kalian semua, awas lo ya kalo buat gosip aneh-aneh" kata Reyna dengan suara garangnya, membuat masing-masing dari mereka berbisik-bisik dan akhirnya melupakan semua yang terjadi.
"Rey, ayolah gue mohon. Jadi pasangan gue ya, gue janji, gue bakal nurutin semua permintaan lo deh."
"Ah... udah ah, gue mau ke kantin. Bosen gue ngomong sama lo, nggak ngerti-ngerti."
~
Dikantin
"Hay Rey" sapa Hengky pada Reyna, namun dia mengernyitkan dahi ketika melihat Andre yang berada di belakangnya. Tampak wajah Reyna berubah menjadi masam seketika kala mengingat perbuatan seniornya itu.
"Kenapa kak Andre ngikutin kamu?" tanya Hengky yang kini mulai beralih duduk dihadapan gadis itu, disusul dengan Andre yang kini duduk sembari mengangkat sebelah kakinya.
"Tau tuh, udah tau kali kalo *** gue warnanya emas, makanya buntuti terus" ujar Reyna dengan wajahnya yang ditekuk.
"Hahahaaha... kak ngomong-ngomong *** gue bentuknya diamond loh, yakin nggak mau cebokin punya gue?" tawa Hengky pecah kala Reyna melayangkan kata-kata demikian.
"Resek lo" kata Andre sembari memutar bola matanya malas.
"Rey.... ayolah" kata Andre menyentuh punggung Reyna namun dihempas pelan olehnya.
"Ihhhh apaan sih... risih tau nggak" Reyna langsung duduk dan diikuti oleh Andre.
"Hehe... kamu ternyata galak juga ya Rey?" ujar Hengky sembari terkekeh menatap sahabatnya itu.
__ADS_1
"Gimana nggak galak kalo ngadepin buto ijo kaya dia" ujar Reyna dengan matanya yang melotot kearah Andre.