The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Ada apa dengan Reyna???


__ADS_3

Makan malam tiba.


Kini Reyna duduk di ruang makan dengan Reyhan.


"Abang, ini ada cumi kesukaan bang Rey, aku suapin ya."


Reyna yg biasanya duduk didepan Reyhan, kini beralih duduk disampingnya. Bukan hanya itu, Reyna juga terlihat berbeda dari biasanya, dia semakin perhatian dengan kakak satu-satunya itu.


"Makasih" ucap Reyhan dengan senyum merekah dipipinya.


"Oh iya bang, ini tadi aku juga pesen udang goreng crispy, abang harus coba juga" Reyna mencoba menyuapi kakaknya lagi.


Reyhan semakin bingung dibuatnya, dia hanya diam menuruti instruksi dari adiknya itu.


"Gimana? enak nggak?" tanya Reyna dengan senyum yang berbinar-binar.


Entah kenapa sikapnya berbeda dari biasanya, Reyna yang biasanya terkesan cuek dan humoris, sekarang dia berubah menjadi harmonis.


Reyhan yang awalnya berfikir ada kejanggalan pada diri Reyna menghempas fikiran itu jauh-jauh. Dia mulai mengikuti alur Reyna yang masih menjadi tanda tanya baginya...


Kalaupun Reyna minta sesuatu pasti langsung bilang tapi kenapa seperti ada yang


aneh.


"Bang! enak nggak?" tanya Reyna membuat Reyhan membuyarkan lamunannya yang semakin lama semakin membuat benaknya dipenuhi oleh segudang pertanyaan.


"Enak kok...." Reyhan terkekeh dan mengusap puncak kepala Reyna dengan lembut, Reyna membalas dengan senyuman yang semakin manis itu.


Acara makan malam selesai. Reyna bersikeras untuk mencuci piring yang berada di meja makan sendirian, padahal biasanya


dia selalu beradu dengan Reyhan perihal masalah cuci piring.


"Udah bang biar aku aja, abang pergi ke kamar dulu" kata Reyna sembari mengemasi piring diatas meja makan.


"Yakin nih?" tanya Reyhan sembari menaikkan sebelah alisnya.


Reyna mengangguk, pertanda setuju dengan tawarannya sendiri.


Reyna mendorong abangnya untuk menjauh dari wastefel.


Tanpa sepengetahuan Reyna, Reyhan mengintip Reyna yang sedang cuci piring.


'Tidak ada yang mencurigakan, ekspresinya masih sama' batin Reyhan.


Reyhan kemudian menuju kamarnya yang berada diatas disamping kamar Reyna.


Dia merebahkan tubuhnya di kasur empuknya. Pria itu membuka laptop yang berada disisi meja untuk membuka file pekerjaannya yang belum rampung tersebut.


tak


tak


tak


cekrek...


Suara langkah kaki Reyna dan terbukanya pintu kamar Reyna terdengar dari kamar Reyhan.


Seketika Reyhan menghentikan aktivitasnya, dan mencoba untuk mengintip kegiatan adiknya itu.


Reyhan mengendap-endap dan hendak membuka pintu kamar Reyna.


Pelan-pelan dia mengintip kegiatan adiknya itu dan mendapati Reyna sedang memegang gitar akustik miliknya dengan duduk diatas kasur.


Terlihat Reyna memetik gitar itu perlahan lahan sambil membolak-balikkan buku yang berada didepannya.


Reyhan menutup celah pintu itu dan berfikir keras.


"Apa karena tadi aku beliin dia es krim ya? makanya jadi baik banget gitu" gumam Reyhan dan mencoba mengintip Reyna lagi. Namun sebelum Reyhan membukanya, pintu itu terbuka oleh Reyna yang berada dibaliknya.


Hal itu membuat Reyhan panik setengah mati, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal kala Reyna memergokinya.


"Abang ngapain disini?" Reyhan masih saja tak bergeming, dia hanya diam dengan ekspresi wajah gugup, bak pencuri yang ditangkap oleh sang pemilik rumah.


"Haa .. abang ngintipin Reyna yaa? nggak sopan lo ngintipin anak cewek yang lagi dikamarnya."


"Siapa yang lagi ngintipin kamu, abang cuma... cuma..." ucap Reyhan terbata-bata.


"Cuma apa??" tanya Reyna mengintimidasinya.


"Mau ambil gitar yang kamu pinjem tadi siang" Reyna mengangguk dan tersenyum tipis dia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur beralaskan sprei pink miliknya.


"Ini..." ucap Reyna sambil menyodorkan gitar berwarna coklat muda itu.


"Malo masih mau kamu pakek, pakek aja" kata Reyhan seolah tidak enak hati.


"Enggak kok, aku udah selesai... besok aku bakal beli sendiri gitarnya" Reyhan membelalakkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan adiknya itu.


'Apa aku nyinggung dia banget ya? sampe


segitunya?' batin Reyhan penuh pertanyaan dibenaknya..


"Bukan maksud aku kaya gitu kok Rey..." ucap Reyhan yang semakin tak enak hati terhadap adiknya itu.


"Aku juga nggak bermaksud apa-apa kok bang, aku udah ada hobi baru. Lagian ini juga ini gitarnya abang dari sekolah kan, pasti punya sejarah panjang" kata Reyna seraya terus tersenyum lebar.


"Kamu mau gitar ini?" tanya Reyhan membuat Reyna menggeleng.


"Udah ah bang, ini udah malam, besok kan abang harus kerja juga... selamat malam bang Reyhan."


Reyna menutup pintu dengan pelan, dan Reyhan masih mematung didepan kamar Reyna.


Dibalik pintu, Reyna mencoba menahan air matanya yang sedari tadi tidak dapat terbendung.


Reyna memejamkan matanya dan mencoba bangkit dari keterpurukannya.


Dia meraih boneka kesukaannya dan memeluknya dengan erat.


"Mama..." tiba-tiba sosok itu teringat kembali oleh fikirkan Reyna.


"Aku rindu mama."


Reyna menarik sebuah foto yang berada dibalik bantal miliknya. Dipeluklah foto itu dan menatapnya sekilas.


Air mata Reyna tidak tahan lagi untuk tidak jatuh.


"Mama dimana? apa mama nggak kangen sama Reyna dan abang?. Maksud papa apa? papa bilang aku bukanlah anaknya, papa bohong kan ma?."


Reyna menenggelamkan wajahnya di antara lutut yang ia tekuk. Ia merasakan hawa dingin seperti menjalar dalam tubuhnya.


Flashback on.


Reyna hendak mengikuti langkah kaki seorang perempuan setengah baya. Matanya berkaca dengan tangannya yang menjulur untuk meraih lengan Almira yang kini sudah jauh dari pandangannya.


Sedangkan oma bersikap tak acuh terhadapnya kala itu sampai dengan hari ini. Bahkan tiada kata kasih sayang yang terucap, seolah Reyna ini tiada baginya.


Flashback off.


"Apa yang sebenarnya terjadi ma? aku udah cari mama dimana-mana, tapi kenapa mama tak kunjung menemuiku juga?" gumam Reyna yang selama ini menjadi tanda tanya akan keberadaan ibu kandungnya itu.


Reyna perlahan menutup matanya, seolah rasa kantuknya mendominasi, kini alam bawah sadarnya semakin hilang.


Gelap, Reyna berdiri dibawah lorong yang gelap. Suaranya menggema kala ia mengucapkan sepatah kata.


"Aku dimana?" Reyna melangkahkan kakinya ketika melihat setitik cahaya yang berada jauh dari kakinya berdiri.


Semua berubah menjadi terang, namun dia seperti mengingat tempat itu.


"Ini diruang baca papa... iya... ini seperti dirumah papa yang dulu itu sebelum dijual" Reyna berhenti bergumam kala Reynaldi mendorong seseorang yang sangat Reyna kenali, siapa lagi kalau bukan ibunya Almira.


pakkkkk


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Almira, Almira terhempas dan terisak-isak dibuatnya.


"Ini hukuman karena kamu telah mengkhianati ku!" Reyna seolah tak berdaya, dia ingin berteriak sekeras mungkin untuk menghentikan aksi brutal ayahnya. Namun suaranya seolah tercekat, tak bisa terdengar bahkan berteriak pun hasilnya nihil. Dia seperti diruang hampanya sendiri.


"Mama...." Reyna yang kala itu masih SMP mengintip dibalik pintu dan dengan polosnya menitikkan air mata.


Reyna tiba-tiba ingat kejadian satu setengah tahun silam.


Kala itu Reyhan masih kuliah dan belum juga pulang.


Reynaldi meninggalkan Almira dan Reyna yang masih berdiri mematung.


Reyna menarik lengan Reynaldi dan bergumam pelan.

__ADS_1


"Papa" suara gadis itu lirih sembari terisak menengadahkan pandangannya pada sang ayah.


"Jangan menyentuh ku" ujar Reynaldi kasar seraya mendorong Reyna hingga tersungkur ke lantai.


Reyna menutup matanya dan membukanya lagi, Reyna mengedarkan pandangannya.


Semuanya berubah menjadi putih.


"Kemana perginya semua orang? bang Rey, mama... papa!" Reyna berteriak dan masih terus berjalan.


Reyna menemukan sosok bercahaya terang didepan matanya, dilihatnya sosok itu dan Reyna yang awalnya ragu mencoba untuk mendekat meyakinkan dirinya. Seorang wanita cantik dan anggun yang memakai dress putih panjang, kira-kira umurnya tak beda jauh dengan Reyna.


'Seperti mama, tapi kenapa lebih muda?' gumam Reyna dalam hatinya.


Reyna mengerjapkan matanya beberapa kali.


Wanita cantik itu yang awalnya sangat muda, kini bertranformasi perlahan-lahan, menjadi Almira dimasa kini. Dengan umurnya yang kira-kira 40 tahun, masih saja terpancar jelas aura kecantikan dan kelembutan diwajahnya.


"Mama..." tidak salah lagi Reyna melihat sosok Almira, dia mencoba untuk mengucek matanya lagi dan lagi.


Reyna berlari mendekat dan memeluk mamanya. Ia berhambur memeluk sang ibu yang selama ini tak pernah ia temui sebelumnya kini berada didepan matanya.


"Reyna anakku" Almira membalas pelukan Reyna dengan hangat. Menyalurkan kasih sayangnya pada putri yang begitu ia cintai.


"Mama kemana aja? apa mama nggak kangen sama kami?."


Almira menarik lengan Reyna dan duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih.


"Sini... tidur dipangkuan mama sayang, mama kangen banget sama kamu nak."


Reyna menuruti perintah mamanya. Perasaan tenang itu sangat nyaman.


"Reyna juga kangen sama mama... mama kemana aja selama ini?."


Almira tersenyum sambil mengusap wajah Reyna yang tidur dipangkuannya dengan menengadahkan wajahnya melihat dirinya.


"Mama ada ditempat yang sangat indah" katanya sembari tersenyum hangat menuturkan.


Reyna masih diam dengan senyuman, mencoba untuk mendengarkan penjelasan dari mamanya itu.


"Maafkan mama sayang, mama udah ninggalin kamu, mama bukanlah ibu yang baik untuk kamu dan Reyhan."


"Mama jangan ngomong gitu, mama tetap yang terbaik kok... bang Rey dan aku bahkan papa... kami sama-sama sayang sama mama."


.


Reyna menangkup tangan ibunya dan mengecupnya.


Suara isakan terdengar ditelinga Reyna, dan benar saja Almira sedang menangis saat ini. Membuat hati Reyna seketika ikut hancur. Dalam kasih sayang seorang ibu dan anak Reyna bahkan masih merasakan hawa keluarga.


"Mama...." Reyna memeluk mamanya. Reyna ikut terisak dibuatnya. Sebuah kerinduan yang tak lagi bisa terbendung lebih lama.


"Mama Jangan tinggalin Reyna lagi."


Reyna memejamkan matanya dan membukanya lagi, alangkah terkejutnya ia kala melihat Almira sedang membelakangi dirinya.


"Aku tadi meluk mama" Reyna bergumam dan mencoba meraih Almira, Almira membalikkan badannya dan tersenyum simpul. Entah mengapa, ketika Reyna mencoba untuk mendekat, jarak mereka tidak berkurang sedikitpun, sekali reyna melangkah maka jarak antara mereka masih sama seperti sebelumnya, padahal mamanya enggan untuk bergerak, dia hanya berdiri mematung sambil memandangi anak gadis kesayangannya itu.


"Apa yang terjadi?" Reyna masih bingung dibuatnya.


"Mama harus pergi sayang. Meskipun cuma sebentar, tapi mama sangat senang ketika bertemu dengan kamu, kamu harus jaga abang dan papa ya" begitu kiranya pesan Almira pada putri cantiknya.


Mata Reyna berkaca-kaca, hatinya seolah pecah untuk yang kesekian kalinya.


"Mama... jangan pergi, kita harus hidup sama-sama."


Reyna mencoba mendekat, namun jarak antara mereka masih tetap sama yang ada Almira malah semakin jauh dari pandangannya.


"Selamat tinggal nak" Reyna terus berlari, namun kakinya seolah berhenti seketika, diapun tersungkur dan terjatuh kebawah. Almira seolah memudar dan hilang dari pandangannya.


"MAMAAAA!"


tok


tok


tok


"MAMAAAA!" Reyna terbangun di barengi ketukan pintu dari luar kamarnya, nafasnya masih tersengal-sengal, seperti habis lari maraton.


"Cuma mimpi? tapi mimpi itu terasa nyata" Reyna melirik jam Beker yang berada dinakas disampingnya.


"Jam 7 pagi... aduhhhh pasti bakal telat nih" Reyna buru-buru turun dari ranjangnya membuatnya lupa akan mimpi yang baru saja dia alami.


"Reyna... bangun!" Reyna membuka pintunya dengan tergesa-gesa. Ia mendapati Reyhan yang kini tengah berkacak pinggang menatapnya.


"Aduhhh bang... aku kesiangan, gimana nih?" kata Reyna panik sembari mengerucutkan bibirnya.


"Ini kan hari Minggu... kamu lupa?" kata Reyhan sembari menggeleng melihat tingkah laku adik semata wayang itu.


Reyna menepuk jidatnya. Ia baru ingat jika ini adalah hari minggu.


"Kita sarapan yuk" ajak Reyhan dengan senyuman.


"Tapi aku belum mandi" tukas Reyna sembari menciumi bajunya yang tercium bau apek.


"Nanti aja mandinya... ayoo" kata Reyhan memaksa membuat Reyna menyerah dan akhirnya menuruti kemauan sang kakak.


"Ya udah, aku masakin dulu" Reyna berkata lembut seraya melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.


Reyna mengambil beberapa bumbu dapur untuk dibuatnya nasi goreng.


"Abang ngapain disini... tungguin disana aja lo" kata Reyna kala melihat Reyhan yang membuntutinya dari belakang.


"Bosen... gue bantuin deh" Reyna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ya udah deh... nih abang goreng telurnya, tapi diorak arik ya."


"Caranya?" tanya Reyhan tatapan polosnya membuat Reyna menggeleng pasrah.


"Abang ngga tau ya?" tanya Reyna lagi membuat pria dihadapannya menekuk wajahnya sebal.


"Makanya ajarin" ujar Reyhan ketus.


"Abang iris bawang aja deh kalo gitu... nih" Reyna dan Reyhan membuat nasi goreng bersama, sesekali mereka bercanda ditengah-tengah memasak.


10 menit kemudian...


"Akhirnya jadi juga...." Reyhan bernafas lega.


Reyna menyiapkan beberapa peralatan makan sedangkan Reyhan membawa nasi goreng dari dapur untuk diletakkan ke meja tersebut.


Setelah selesai, mereka duduk bersama. Reyna duduk di kursi sebelah Reyhan seperti tadi malam.


merasa ada yang janggal, Reyna mencicipi nasi goreng itu sedikit tanpa sepengetahuan dari abangnya, dan benar saja..


'Keasinan' Reyna yang ingin memuntahkan makanannya, mengurungkan niatnya dan terlintas ide jail dalam fikirannya.


"Bang... makan yuk, udah laper banget nih."


"Ayo... aku juga udah laper banget nih" kata Reyhan seraya mengusap perutnya memutar.


"Aku suapin... nih... aaaa" Reyna menyodorkan nasi goreng yang telah dia sendoki ke mulut Reyhan.


Reyhan menuruti perintah Reyna dengan membuka mulutnya dan mengunyah nasi itu perlahan.


Reyhan terbatuk-batuk dan segera berlari menuju wastafel untuk memuntahkan sisa makanan yang belum ia telan.


Sedangkan Reyna mengulas tawa jail yang menghiasi wajahnya.


Reyhan kembali ke tempatnya semula, dia terengah-engah, seperti baru saja dikejar ****** tetangga.


.


"Kamu sengaja ya... owh.. mau main-main sama abangmu ini... nih makan makan, hahahaha" Reyhan menyuapi nasi pada Reyna saat Reyna membuka mulutnya ketika tertawa.


Reyna terbatuk-batuk dan segera memuntahkannya, dia berlari menuju wastafel.


"Sialan lo bang... awas ya lo... gue bales ntar!" kata Reyna dengan wajahnya yang penuh emosi.


***


Seminggu setelah prom, dan pidato terakhir Yasya di SMA Pelita, ia masih fokus dengan kuliahnya dan persiapan skripsi nanti.


Entah mengapa Yasya selalu merindukan Reyna, gadis belia yang masih duduk dibangku SMA.

__ADS_1


'Sudahlah ya... kamu lupakan saja' batinnya terasa sesak mengingat senyuman manis dengan lesung pipi diwajah cantik Reyna.


Yasya mengambil ponselnya, digulirkan ke kanan dan ke kiri, ia membuka aplikasi Instagram dan mencari namanya disana.


"Reyna Malik..." tak butuh waktu lama pria itu menemukan akun gadis yang ia cari. Senyumnya sangat cantik, pipinya bak apel merah segar yang baru saja dipetik dari pohonnya. Begitu batinnya.


Rambutnya panjang, lurus sampai ke punggung, dengan curly beberapa senti dari ujungnya.


Beberapa kali Yasya melihat foto-foto itu bersama kakaknya, pemilik akun @M_Reyhan93 tampak tangannya bergelayutan dilengan lelaki itu yang memang benar wajahnya mirip sekali dengan Reyna.


Dan ada beberapa foto juga bersama Hengky dan Kanaya.


Ada satu fotonya sekitar 10 bulan lalu bersama Hengky. Entah mengapa hatinya merasa sakit dan dadanya terasa sesak.


'Tuhan.... meski ini akan mustahil bagiku tapi, aku akan berdoa untuknya yang pertama dan untuk yang terakhirkalinya, jika suatu hari nanti aku diberi kesempatan untuk bersamanya, takkan kusia-siakan kesempatan itu, aku akan tulus mencintainya, menyayanginya dan menjaga dia serta membahagiakan dia setiap saat' batinnya menghela nafas berat yang ia tahan sedari tadi.


Ia scroll lagi foto gadis itu sampai kebawah, dan kulihat foto-foto Reyna kala SMP, ia juga melihat Reyna foto bersama kakaknya dan kedua orang tuanya.


"Tunggu, ibu ini... aku seperti pernah melihatnya... tapi dimana?" Yasya mencoba berfikir keras, mengingat siapa sebenarnya dia.


tok tok tok....


Suara ketukan pintu membangunkan fikiran pria itu dan dengan segera ia menututup akunnya dan meletakkan ponsel itu disembarang tempat.


Yasya berjalan perlahan, membuka pintu kamar itu, dan nampak Dian tengah berdiri dengan tersenyum hangat kepada putranya.


"Irya.... ayo sarapan dulu... setelah ini calon istri dan calon mertua kamu akan segera datang."


Yasya menyambut Dian dengan membalas senyumannya, meski ia sedikit lesu tapi Yasya mencoba untuk menyembunyikan nya.


Kami duduk di meja makan dengan posisi masing-masing.


Memang sebelumnya keluarga ku kemarin pergi mengunjungi keluarga Sabila membicarakan masalah pertunangan dan kami pun setuju. Hari ini giliran keluarga dari pacar ku akan kemari.


***


Reyna berjalan santai dan berhenti disebuah toko kecil yang dimana didalamnya terdapat banyak sekali alat musik klasik, seperti biola, seruling, dan berbagai alat musik lainnya termasuk gitar akustik.


Reyna memandangi setiap inci dari toko itu, memang sangat klasik tapi sangat menarik, bahkan matanya tidak dapat berkedip kala melihat sebuah piano yang cukup besar berada diujung ruangan bernuansa kayu tersebut.


"Wow..... bagus banget" Reyna membuka piano itu perlahan, namun belum sempat dia membuka seseorang menepuk pundaknya tiba-tiba, dan membuatnya berjingkat kaget.


"Nona cari apa?" Reyna membalikkan badannya, dan tampak pria bertubuh tegap tinggi berdiri dibelakangnya, pria itu tampak tampan, dengan alisnya yang tebal, hidungnya yang mancung, dan bibirnya yang tipis, kulitnya yang putih dengan mata abu-abu.


'Kaya bule' batin Reyna terkesiap melihat wajah jakun didepannya ini.


"Nona...." katanya lagi sembari membuyarkan lamunan Reyna.


"Ah iya...." ujar gadis itu sedikit terkejut.


"Maaf... nona sedang cari apa ya?" tanyanya lagi memastikan bahwa pendengaran Reyna tidak terganggu


"Sya cari gitar akustik mister" suara Reyna mendadak mengecil ketika Reyna mengucap kata 'mister'.


Pria itu tersenyum simpul dan menahan tawanya.


"Maaf, saya bukan orang Amerika... panggil Zayn saja."


Reyna menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia mengangguk mengerti.


"Nama saya Zayn Bagas Ahmad, kamu bisa panggil saya Zayn" kata pria itu mengulurkan tangannya, dan dibalas dengan jabatan tangan lembut Reyna.


"Reyna Malik..." pria itu menaikkan sebelah alisnya, dan melepaskan tangannya dari jabatan tangan mereka.


"Ada apa?"


"Hehehe nama kamu dan nama saya saling berhubungan ya, nama saya Zayn, dan kamu bernama Reyna Malik kalo digabungin jadi Zayn Malik" Reyna terkekeh mendengar ucapannya.


"Oh ya, sampe lupa, tadi kamu bilang mau gitar kan, mari saya tunjukkan" Reyna mengikuti Zayn dari belakang, menuju sebuah ruangan belakang.


'Memang sih wajahnya kaya orang bule, tapi logatnya Indonesia banget, tapi wajahnya juga nggak terlalu Indonesia' batin gadis itu sembari mengekor pada Zayn yang kini menunjukkan sebuah ruangan khusus gitar.


"Ini... kamu pilih sendiri mana yang kamu suka" Reyna melihat sekelilingnya, tampak banyak sekali gitar yang berada di sana, Reyna sampai bingung dibuatnya.


"Banyak banget... bagus-bagus lagi" Reyna mencoba beberapa dari gitar tersebut.


"Kamu sendirian kesini nya?" tanya pria bule itu mencairkan suasana.


"Iya... emmmm kak Zayn, boleh nggak kamu coba mainin gitar yang ini, kayanya nadanya bagus. Aku baru mau belajar gitar jadi nggak tau kualitas gitar yang bagus itu kaya gimana" ujar Reyna dengan suaranya yang lembut membuat pria itu tersenyum dan mengangguk.


"Boleh... coba sini" Reyna mengulurkan gitar berwarna cokelat tua itu pada Zayn.


Dan Zayn mencoba untuk memainkan beberapa nada.


"Pilihan kamu bagus Rey, tapi ada nada yang harus aku perbaiki lagi. Kamu nggak mau cari yang lain? yakin yang ini?" tanya Zayn sekali lagi meyakinkan pembelinya.


"Nggak usah deh kak, yang itu aja, aku udah suka" katanya dengan senyum merekah di pipinya.


"Ya udah... ayo ikut aku" Reyna mengikuti langkah Zayn, menuju arah halaman samping.


Mereka duduk bersebelahan dengan Zayn mengotak-atik gitar tersebut.


"Kak, boleh tanya nggak?" tanya Reyna penasaran dengan terus memandangi Zayn.


"Boleh... tanya aja, asalkan jangan tanya soal mata perkuliahan hehe" kata Zayn dengan gurauannya


"Bukan nanya soal itu, hemmm kak Zayn itu orang mana sih?" tanya Reyna dengan wajah penasarannya.


"Ya orang sini lah" ucap Zyan yang sesekali melirik wajah Reyna.


"Tapi wajahnya kaya bule" tukas Reyna yang kini menatap Zayn tanpa berkedip.


"Aku tuh sebenernya orang Indonesia, papaku orang Amerika nikah sama mommy orang Jawa" kata pria itu menjelaskan membuat Reyna manggut-manggut.


"Emmmm gitu... ternyata blasteran" ujarnya sembari tersenyum kala Zayn mengangguk mengiyakan kata-kata Reyna.


Zayn memainkan gitar itu perlahan, setelah selesai menyetel beberapa nada ia mengembalikan gitar itu pada calon pemiliknya.


"Ini udah selesai... kamu coba dulu" Reyna memainkan beberapa nada yang ia hafal sebelum akhirnya ia senang karena akhirnya bisa mendapatkan barang yang ia ingin beli dari kemarin.


"Bagus banget.... makasih ya kak."


"Sama-sama... kalo kamu butuh orang buat ngajarin kamu, kamu maen kesini aja, aku ajarin" ucap Zayn dengan senyum simpul menghiasi wajah tampan blasterannya.


"Iya... makasih banyak kak" setelah membeli gitar yang dia sukai dan membayarnya, Reyna bergegas keluar dari toko kecil itu, dan memberhentikan taksi.


***


Sesampainya di rumah, Reyna bergegas menuju kamarnya dan meletakkan gitar itu.


"Bang Rey...."


tok tok tok....


Reyna mengetuk pintu kamar Reyhan, dan tidak butuh waktu lama, Reyhan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa sih... ganggu tidur siang aja" suara serak dan langkahh lunglai berdiri di depan Reyna saat ini.


"Bang Rey udah makan siang belum?" Reyhan menggeleng.


"Kita turun yuk... kita makan sama-sama, aku udah beliin makanan lo buat abang."


Reyna menuntun tangan Reyhan perlahan.


"Nihh bang... aku udah beliin ayam pop, sini aku suapin aaaa" kata Reyna membuat Reyhan menuruti kata-kata adiknya.


"Rey... kamu tadi habis dari mana?" tanya Reyhan yang kini tatapannya tidak beralih dari wajah adiknya.


"Beli gitar" katanya sembari melanjutkan menyuapi Reyhan.


Reyhan menahan tangan Reyna, tatapannya dingin, membuat Reyna tidak nyaman.


"Kenapa kamu bersikap kaya gini ke aku?" Reyna semakin gugup dibuatnya.


"Abang ngga suka disuapin ya?" tanya Reyna dengan tatapan polosnya.


"Bukan, tapi sikap kamu itu aneh, kamu itu bukan Reyna yang abang kenal. Reyna itu cuek dan humoris, kamu juga nggak pernah ngalah ke abang, hampir tiap hari lo kita berantem, tapi kamu?."


"Bang udahlah, ini masih aku kok, mungkin karena kemaren kita baru ketemu aja setelah setahun berpisah. Abang juga nggak tau kan perkembangan sikap ku selama ini kaya gimana, tapi yang penting kita udah sama-sama lagi kan."


Reyhan melepaskan tangan Reyna yang dia tahan, dia mulai mencerna kata-kata Reyna yang barusan dia dengar.


Mungkin benar, apa kata Reyna.


Dia belum terbiasa dengan sikap adiknya ini, mungkin alasan Reyna cuek adalah karena belum terbiasa dengannya sehingga membiasakannya dengan sikap yang humoris.

__ADS_1


__ADS_2