The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Ketika cinta datang untuk bersemi


__ADS_3

Reyna membawa Yasya yang basah kuyup kedalam rumahnya. Dibukanya ruangan khusus untuk kamar tamu didepan anak tangga.


"Nenek kemana?" tanya Yasya memandangi seluruh ruangan yang sunyi.


"Nenek sudah tidur, sebaiknya, pak Yasya cepat mandi. Didalam ada handuk, saya akan bawakan baju ganti."


Kata Reyna sambil membukakan pintu kamar yang cukup besar dan terdapat kamar mandi kecil didalamnya. Membuat pria itu tersenyum manis dan mengacak puncak kepala gadis itu dengan lembut.


"Kamu juga, jangan sampai sakit okay" ucapan hangat dari pria yang sekarang berada dihadapannya membuat gadis itu tersipu dengan wajahnya yang menunjukkan semburat merah dipipinya.


Yasya yang melihat senyuman Reyna merasa gemas dan mengusap lembut pipi Reyna yang terlihat memerah seperti tomat.


Sebelum Yasya mendekatkan wajahnya ke arah wajah Reyna, gadis itu langsung berlari menaiki anak tangga didepannya, dan berhenti sesaat.


"Pak Yasya, setelah ini saya bawakan makanan dan baju untuk bapak,saya akan mandi dulu."


Perilaku gadis itu membuat wajah tampan Yasya terkekeh, dan malah semakin menggoda Reyna.


"Kita sama-sama ingin mandi, kenapa tidak mandi di satu kamar mandi saja, mungkin akan lebih hemat dan, lebih menyenangkan rasanya" kata-kata Yasya membuat gadis itu membulatkan matanya dan menggeleng. Seolah tak memperdulikan perkataan Yasya, Reyna langsung naik begitu saja kedalam kamarnya.


brakk...


Suara tertutupnya pintu yang begitu pelan membuat pria dibawah semakin terkekeh atas aksi dari gadis yang sangat ia cintai.


Begitupun Reyna yang kini merasakan detak jantungnya berpacu begitu cepat dibalik pintu kamarnya.


Yasya dan Reyna telah mengutarakan satu persatu dari perasaan mereka. Rasa bebas dan rasa bahagia mereka rasakan dalam hati masing-masing.


Meskipun begitu, Reyna masih memikirkan nasib Syahbilla. Apa ini benar untuknya? apakah sama-sama saling mencintai diantara mereka akan berakhir bahagia?


Disaat perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya, ada sedikit rasa ragu mengganjal perasaannya yang terdalam.


Setelah sekitar setengah jam berlalu, Reyna telah selesai dengan ritual mandinya, kini gadis itu tampak semakin cantik memakai piyama berwarna putih dengan celana panjang membungkus tubuh rampingnya.


Diraihnya kaos oblong berwarna putih dan celana longgar berwarna pink yang ia punya.


Mau bagaimana lagi, Reyna bahkan tidak memiliki setelan baju untuk seorang pria ditempat tinggalnya yang baru saja ia huni beberapa hari yang lalu.


tok tok tok...


Suara ketukan ringan dari luar kamar tamu membuat Yasya yang baru saja keluar dari kamar mandi mengacak rambutnya yang tengah basah.


Handuknya terikat dibagian pinggang dan membungkus tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan tubuh seksi pria itu.


ceklek...


Reyna memandangi bagian bawah tubuh Yasya dengan melotot dan langsung melemparkan pakaian yang ia bawa keatas hingga tak sengaja mengenai wajah tampan Yasya.


"A.... emmm" Yasya yang melihat reaksi Reyna kini dengan refleks langsung membungkam mulut gadis itu dalam dekapannya. Mata gadis itu masih terpejam, takut melihat sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

__ADS_1


"Sssttt, jangan berteriak sayang, kalau tidak nenek akan bangun" perkataan dari Yasya membuat mata Reyna terbuka dan membulatkan matanya.


'Apa!? sayang? apa aku tidak salah dengar?' batin Reyna kegirangan dengan wajah memerah dipipi manisnya yang kini menunduk malu.


"Pak Yasya, lepaskan saya."


Kata Reyna kala Yasya masih mempertahankan dekapannya pada gadis itu yang hampir mati oleh seribu pesona pria yang selalu membuatnya jatuh cinta.


"Baiklah, tapi, kamu jangan berteriak lagi jika melihat tubuhku, nanti kalau kita menikah kamu akan setiap hari melihatnya. Jadi biasakan mulai dari sekarang" perkataan Yasya barusan membuat Falery semakin tak bisa mengontrol wajahnya yang kian memerah.


Wajah cantik Reyna semakin merona oleh perkataan Yasya yang menggelikan baginya. Seperti ada kupu-kupu melayang diperutnya kala Yasya mendekapnya dari belakang seperti itu. Menikah? untuk porsi umurnya, bahkan memikirkannya saja dia belum mampu.


"Oke, saya akan siapkan makan malam untuk pak Yasya, sebaiknya, pak Yasya ganti baju dulu."


Reyna tampak melepaskan kedua lengan kekar itu dari tubuhnya, namun masih beberapa senti dirinya menjauh, Yasya langsung saja menarik tubuhnya hingga kini mereka saling berpelukan diambang pintu kamar tamu.


Ditariknya tubuh Reyna kedalam dan ditutup pintu itu membuat gadis itu tersentak dalam dekapan dada telanjang milik Yasya.


"Pak Yasya... ihhh" Reyna segera menjauhkan diri lagi, wajahnya memandangi dinding seolah tidak berani menatap tubuh Yasya yang begitu menggoda baginya.


Reyna tersenyum malu, dengan gemas Yasya menyentuh dagu gadis itu dan mengangkat kepalanya hingga Reyna mendongak menatap manik mata pria yang jauh lebih tinggi darinya.


Yasya dengan lembut mencium pipi Reyna dan beralih ******* bibir manis gadis itu yang tampak rambutnya dijepit sedikit dibagian belakang karena masih sedikit basah.


Pria itu meraih pinggang gadis itu.


Yasya mendorong tubuh Reyna hingga gadis itu sekarang menghimpit dinding.


Kini tubuh pria berbadan besar itu menghimpit Reyna yang berada dipangkuannya. Posisi Yasya yang tengah berdiri dengan kedua kaki Reyna yang melingkar di pinggang Yasya membuat pria tanpa busana dibagian dadanya itu sedikit kesulitan.


Reyna merangkul leher Yasya yang sekarang menatapnya dengan godaan yang memabukkan baginya.


"Aku juga mencintaimu pak Yasya."


Balasan kata dari Reyna membuat Yasya memeluk erat gadis itu dengan pelukannya yang sangat hangat.


Yasya dan Reyna, sama-sama memiliki kerinduan mereka. Rasa ingin memiliki dan bersama adalah cara mereka menyalurkan hasrat cinta selama masih dibatas kewajaran.


Kini tiada lagi rahasia cinta yang dapat mereka pendam seperti sebelumnya.


***


Reyna tengah memanaskan sebuah sup untuk pria yang kali ini sedang duduk malas di ruang makannya.


Wajahnya masam, tampak jelas ketika pria itu memperhatikan penampilannya yang begitu feminim ketika memakai baju Reyna.


Sesekali Reyna melirik pria itu yang menunggunya menghangatkan makan malamnya kali ini.


Gadis itu terkekeh dengan senyuman manis diwajah cantiknya. Yasya yang menyadari itu langsung menatap tajam kearah Reyna, membuat gadis itu diam seketika.

__ADS_1


"Kenapa ketawa? ada yang lucu?!" tanya Yasya yang menatap gadis itu dengan malas.


"Nggak kok," balas Reyna dengan ujung bibirnya yang berkedut menahan tawa, sambil memindahkan sup ke mangkuk dan membawanya mendekat kearah pria itu yang telah lama menunggunya.


"Mau pakai baju apapun, kalau dipakai orang yang tampan, pasti akan tetap tampan?" ucapan Reyna membuat Yasya menyebikkan bibirnya dan mengangkat sebelah alisnya.


"Oh ya,? jadi saya tampan?" pertanyaan Yasya membuat Reyna menyangga kepalanya dengan tangan nya yang sekarang tengah duduk dihadapan Yasya. Memperhatikan pria itu dengan seksama, pria tampan dengan mata lebar sedikit sipit beralis tebal, hidung mancung, dan bibir tipis, serta kulitnya yang putih bersih bagai salju. Ditambah dengan tubuhnya yang sangat atletis membuat siapa saja pasti tergila-gila oleh pria satu ini, termasuk naluri Reyna.


Reyna masih tak bergeming dengan tatapan matanya yang memandang lekat wajah Yasya yang sekarang teralihkan oleh makanan dimulutnya, kini lirikannya beralih ke wajah Reyna yang melamun.


"Sayang" panggilan dari Yasya sambil menyatukan wajah mereka, membuat lamunan Reyna terganggu.


Cup...


Satu kecupan manis dibibir Reyna membuat sang pemilik tersentak dan terbangun dari khayalannya pada pria itu.


"Aku tau aku tampan, dan kamu adalah orang yang paling dicintai pria tampan ini, saat ini dan selamanya."


Reyna mengalihkan pandangannya, gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, membuatnya menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Pak Yasya, ada suatu hal yang ingin saya katakan" tiba-tiba nada suara gadis itu berubah menjadi serius, membuat Yasya menatap intens kearahnya.


"Apa?" pertanyaan keluar dari mulut Yasya yang sempat menghentikan aktivitas makannya sejenak.


Reyna sempat berfikir, ingin bercerita namun dirinya bingung, entah darimana memulainya.


"Saya berencana mendonorkan hati."


Ucapan Reyna terputus tatkala Yasya menatap gadis itu dengan tatapan tajam dan menghentikan suapan terakhir nya.


"Donor untuk siapa? kenapa kamu melakukan itu, itu sangat berbahaya Reyna."


Perkataan cemas dari Yasya membuat Reyna tersenyum lembut kearah pria yang tengah duduk dihadapannya. Betapa khawatirnya Yasya saat mengetahui Reyna akan melakukan donor hati, membuat gadis itu sangat beruntung bisa diperhatikan seperti itu.


"Pak Yasya, tidak perlu khawatir, ini hanya jaringan hati saja, bukan seluruh organ saya hanya butuh dukungan dari orang yang saya cintai... kata dokter, hati bisa beregenerasi dengan sendirinya, ini hanya untuk kesembuhan papa."


Wajah pria itu menatap Reyna sendu, disentuhnya punggung tangan Reyna yang berada di meja dan dielusnya dengan pelan, membuat Reyna memegang erat tangan pria itu, mencoba memberikan ketenangan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Kamu telah banyak disakiti oleh keluargamu sendiri, bahkan jika kamu berkata jujur, tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan mereka kembali, apa kamu tidak ingin kehidupan kamu merasa tenang?"


"Setelah saya mendonorkan hati untuk papa, saya tidak akan menganggu kehidupan mereka lagi, saya akan seterusnya menjaga nenek dan tidak akan mengungkit ini."


Reyna menghela nafasnya, mencoba melanjutkan perkataannya yang sempat menggantung.


"Setidaknya untuk balas budi karena mereka telah membesarkan saya" kata Reyna sambil tersenyum meyakinkan


Yasya bangkit dari duduknya, dia beralih memeluk tubuh Reyna yang tengah duduk di kursi makan. Membuat gadis itu membalas pelukan dari pria yang sangat ia cintai.


__ADS_1


.



__ADS_2