
"Kakak Zayn..." panggilan familiar dari seorang gadis membuat pria blasteran yang berada didalam toko itu segera keluar untuk menemui asal suara.
tak
tak
tak
"Reyna, akhirnya datang juga, aku kira kamu bakal lupa lagi."
"maaf kak, ada sedikit masalah" ucapan gadis itu menggantung tatkala melihat keberadaan Yasya yang tengah membelakangi tubuhnya.
"Masalah apa?" Zayn mengerutkan dahinya, dia menatap dua orang yang berada dihadapannya itu dengan tatapan tanda tanya.
"Emmm Reyna, sepertinya saya harus pergi dulu, kamu mainnya jangan sampai larut malam ya, saya akan ke kantor dulu" Yasya yang dapat membaca situasi segan ini akhirnya pamit, membiarkan kedua orang yang seperti saudara itu berbicara.
"Pak Yasya hati-hati ya."
"Iya... kamu juga, Zayn jaga Reyna baik-baik ya" pesan Yasya dengan suara lembutnya.
"Pasti" jawab Zayn penuh tanggung jawab.
Yasya mengalihkan pandangannya kearah gadis yang berdiri dihadapannya itu, membuat Reyna tersenyum dan tersipu.
"Saya akan jemput kamu nanti...oke" Reyna mengangguk patuh dan tersenyum simpul.
***
Yasya keluar dari toko alat musik klasik milik Zayn. Ia tahu apa yang ingin Reyna katakan pada dia, mungkin dia memang butuh sosok kakak saat ini, saat keluarganya tak ada yang mendengarnya.
Pria itu merasa sedikit lega, meskipun ia juga turut berduka atas meninggalnya Almira. Bahkan dirinya tidak menyangka jika waktu itu yang ia tolong tanpa sengaja adalah ibu dari orang yang sangat ia cintai.
Melihat Reyna yang sekarang, Yasya tidak akan khawatir lagi. Dia masih punya masa depan yang cerah, dan sebentar lagi, Yasya akan mengungkapkan betapa ia sangat mencintai gadis itu selama ini.
Yasya berhenti disebuah toko bunga, ia memperhatikan bunga-bunga indah dihadapannya. Alangkah terkejutnya Reyna jika ia memberikan bunga untuknya.
__ADS_1
"Pak, satu bucket mawar merah..." ucap Yasya pada pedagang bunga dipinggiran jalan.
"Sebentar tuan" terlihat dia tengah masuk ke kios yang penuh dengan bunga-bunga didalamnya.
Pria itu sangat bahagia hari ini, dimana hari ini adalah hari yang sangat ia dambakan. Senyuman selalu terpancar tiap kali dirinya mengingat gadis itu. Gadis kecil yang cantik, baik dan santun.
"Tuhan... lancarkan hari ini" gumamnya pelan sambil tersenyum dengan rona diwajahnya.
Yasya tidak bisa menahan perasaannya lagi semakin lama. Semakin dekat dengan gadis itu maka semakin rasa ingin memilikinya begitu besar.
Ia ingin terus memeluk Reyna, memilikinya, karena perasaannya terlalu nyaman untuk ia simpan sendiri.
Yasya masih menunggu penjual toko yang keberadaannya masih tidak terlihat olehnya.
Tiba-tiba saja, seseorang dari belakang menutup kedua mata Yasya. Pria itu terkejut dengan seseorang misterius ini.
Ia bahkan tidak bisa menebak sebuah tangan yang sedang diraba olehnya.
Dengan gerakan cepat Yasya melepaskan kedua tangan mungil yang berada di matanya, dan dengan cepat ia membalikkan tubuhnya menghadap seseorang itu.
"Syah.... Syahbilla... kamu?" Yasya terkejut melihat keberadaan Bila, bagaimana mungkin, dia bilang akan ke Paris tiga bulan lebih, tapi apa yang dilakukannya disini.
"Tuan ini bunga anda." Penjual toko itu menyodorkan buket bunga besar padaku, membuat Syahbilla tersenyum simpul menatap kedua bola mataku yang masih bingung dengan kehadirannya saat ini.
"Sayang, aku mau ngasih kejutan buat kamu, tapi kamu malah mengejutkan aku seperti ini, uhhh nyebelin! emmm tapi aku suka, makasih ya sayang" ucap gadis dihadapan ku ini dan segera menerima bunga dari pedagang itu. Membuat wajah pria itu pucat pasi dibuatnya.
'Bagaimana ini mungkin. Aku belum menjelaskan pada keluarga ku, dan Reyna?Aaaaahhhhhhhh.... Kenapa ini semua datang secara bersamaan' batin pria itu gusar dengan perasaannya yang tak menentu.
"Kamu kenapa? kamu kok kaya nggak suka kalo aku udah pulang."
Yasya tersentak dengan kata-kata Syahbilla barusan, segera pria itu mengalihkan pembicaraan, agar dia tidak curiga terhadapnya.
'Walau bagaimanapun, Bila adalah gadis yang sangat baik, meskipun hatiku bukan untuknya saat ini. Tapi, aku tidak bisa melukai hatinya begitu saja, kita sudah pacaran hampir 2 tahun lamanya' gumamnya dengan perasaannya yang begitu membuatnya bimbang.
"Ah iya... maaf, niatnya aku yang mau buat kejutan, tapi kamu malah ada disini. Kamu tau darimana kalau aku ada disini?" kata Yasya bohong.
__ADS_1
"Emmm apa tante yang bilang ke kamu kalau aku bakal pulang hari ini? padahal aku udah bilang lo kalo aku mau ngasih kejutan besar buat kamu."
"Kejutan besar apa?" tanya Yasya penasaran.
"Kamu jangan kaget ya?" kata Syahbilla menambah penasaran Yasya makin besar.
"Apa sayang? bilang aja" tanya Yasya dengan menangkup kedua pipi Syahbilla dengan gemas. Jujur saja pria itu sangat gugup jika itu tentang hubungan mereka, Yasya hanya menutupi semuanya agar dia tidak merasa ada yang salah darinya.
"Jadi... tante belum ngasi tau kamu ya?" tanya Syahbilla lagi.
Yasya menggeleng pelan. Membuat dia tersenyum dan memeluk pinggang pria itu dengan erat.
"Nanti malam... orang tua kita akan menyelenggarakan pesta pertunangan untuk kita."
"Apa....?!" refleks saja hati Yasya terasa berdenyut kesakitan mendengar perkataan dari Syahbilla.
'Kenapa... kenapa seperti ini? aku baru saja ingin mengatakannya pada keluarga ku jika aku ingin membatalkan semuanya dan memilih untuk menjalaninya dengan Reyna' gumamnya yang kini sudah tidak berarti lagi.
Tapi tak disangka, Yasya ternyata begitu sangat terlambat untuk menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada gadis pujaan hatinya itu.
"Kenapa? apa kamu tidak setuju... keluarga kita sudah sangat senang lo."
"Bu... bukan kaya gitu, tapi ini mendadak banget, bahkan mami nggak bicara apa-apa sama aku, aku agak kaget aja kok" ujar Yasya sesantai mungkin.
"Hehehe... maaf ya sayang, sebenarnya kemaren aku pergi ke Paris untuk menjemput papa, dan papa bilang kalau seharusnya pertunangan kita dipercepat. Tau nggak tante dan om sangat senang sekali mendengarnya."
"Mami... papi?" fikiran Yasya menerawang jauh. Membawanya pada masa dimana seorang gadis tengah membuat pria itu berjanji pada dirinya sendiri.
Flashback on.
"Pak Yasya harus janj, jangan mengecewakan mereka... jangan melukai hati orang tua dan keluarga bapak."
"Saya berjanji Reyna, tidak akan membuat keluarga saya kecewa"
Flashback off
__ADS_1