
"Wow... lihat deh, itu Syahbilla, putri dari om Hamid, cantik banget" puji salah satu tamu undangan.
"Iya, katanya calon tunangannya juga sangat tampan... wah kayaknya mereka berdua bener-bener serasi nih" sahut gadis lain yang tengah memperhatikan Syahbilla memakai gaun berwarna merah maroon, dengan rambutnya yang digulung kebelakang membuat gadis itu tampak anggun dan terlihat mengagumkan.
Mata mereka seolah terpana oleh kecantikan Syahbilla malam ini, ditambah lagi dengan kharisma yang akan diberikan oleh Yasya jika mereka berjalan bersama, siapapun yang melihatnya pasti akan merasa iri dengan pasangan itu.
"Selamat malam hadirin semua" suara MC memenuhi ruangan ditengah acara itu membuat orang-orang yang berada disana mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.
"Pada acara malam hari ini kita semua akan menyaksikan pesta pertunangan dari keluarga Ferdiansyah dan keluarga Wijaya, mari kita berikan tepuk tangan untuk mereka berdua... Iryasya Ferdiansyah dan Syahbilla Annetta" tak lama setelah itu suara riuh tepuk tangan dan juga siulan dari para tamu undangan membuat acara pada malam semakin riuh.
prok prok prok....
Suara kemeriahan itu juga membuat Yasya menelan ludah dengan kasar. Membuat raut wajahnya kian dilanda kecemasan.
Fikirannya tidak bisa teralihkan oleh gadis yang sangat ia cintai. Hatinya terasa retak dengan dilangsungkannya acara malam ini. Membuat kesempatan yang ia harapkan pergi begitu saja menyisakan sebuah penyesalan yang tiada artinya.
Ia bahkan tak bisa berfikir dengan jernih, ia lupa akan langkahnya yang akan melangsungkan tukar cincin didepan orang-orang itu.
"Yasya, ayo maju nak, kamu kenapa malah diam saja"
Yasya menatap wajah sang ibunda, merasakan setiap ekspresi yang dilontarkan oleh Dian. Hangat dan bahagia, wajahnya penuh dengan pancaran kebanggaan padanya. Dia bahkan tidak tega jika harus menyakiti hati dari perempuan yang telah melahirkannya tersebut.
"Emmm iya" dengan langkah berat, Yasya menghampiri gadis yang selama ini menjadi kekasihnya itu.
Membuat wajahnya pucat pasi, tanpa bisa mengatakan apapun. Jangankan berekspresi, tersenyum saja terpaksa untuk melegakan hati semua orang.
Kali ini Yasya telah sampai dihadapan Syahbilla. Acara malam hari ini dirumah megahnya terasa sangat asing saat melihat deretan orang-orang disekelilingnya dan juga gadis yang berada dihadapannya.
Pria itu tersenyum lembut pada kekasihnya yang tengah membalas senyuman, para tamu pun ikut terpukau oleh kecantikan dan ketampanan dari pasangan kedua pewaris keluarga tersebut. Ada yang menyanjung mereka sebagai pasangan serasi dan lain sebagainya. Membuat para orangtua mereka tersenyum bangga pada putra-putri mereka yang kini telah diambang kebahagiaan.
"Baiklah... kita akan melihat pasangan dimalam hari ini yang berada dihadapan saya untuk bertukar cincin, dimohon untuk nyonya Dian memberikan cincin untuk mereka berdua" lanjut Mc mempersilahkan.
Prok... prok... prokk...
Suara riuh tepuk tangan dari para tamu membuat acara malam hari ini semakin meriah. Disusul dengan Dian yang maju untuk menyerahkan kotak cincin bludru berwarna untuk mereka berdua.
"Ayo nak... silahkan" ucapan lembut Dian dengan senyuman mempersilahkan kedua anak muda yang telah lama menjalin kasih itu untuk segera bertukar cincin.
Yasya mengangguk dengan senyum yang ragu, dia perlahan meraih cincin yang ukurannya lebih kecil itu dengan tangan yang gemetar. Membuat sang ibu terkekeh melihat putranya.
"Santai saja... tidak usah terlalu gugup" kata Dian menenangkan putranya.
"Tante... jangan godain Yasya, aku juga gugup loh" ucapan Dian dan Syahbilla terdengar samar-samar. Membuat hati Yasya yakin akan keputusannya malam ini.
Perlahan tangan Yasya menarik lengan Syahbilla dan ditautkan cincin yang ukurannya sangat pas itu di jari manis gadis yang terlihat anggun pada malam ini.
Tak butuh waktu lama, Syahbilla pun menyusul untuk menautkan cincin yang berukuran lebih besar itu di jari manis Yasya.
prok... prok... prok...
Suara tepuk tangan dan rona bahagia dari para tamu, membuat Yasya dan Syahbilla menghadap kearah mereka semua.
__ADS_1
Membuat fikiran Yasya dipenuhi rasa kebimbangan. Matanya mengedar keseluruh ruangan, dan menemukan sosok Satya yang tengah berdiri membawa minuman dan menatapnya dengan senyuman yang tidak dapat diartikan.
Akhirnya acara malam ini berjalan dengan lancar, acara yang membuat semua orang yang hadir begitu bahagia tapi tidak dengan Yasya.
Meskipun begitu ia tak bisa melakukan apapun kecuali pasrah dengan apa yang telah direncanakan.
Acara malam ini telah selesai, para tamu undangan berhamburan untuk pamit dari rumah megah itu. Membuat suasana menjadi lebih sepi.
Hamid, Rosella dan Syahbilla ikut berpamitan pada keluarga Ferdiansyah.
"Malam hari ini sungguh luar biasa ya jeng," ucap Rosella pada Dian yang tidak bisa melepaskan senyumannya sedari tadi.
"Iya... jadi nggak sabar nanti kalau Yasya dan Syahbilla benar-benar sudah menikah" kata Dian menimpali membuat Yasya yang kini mendengar kedua orang tua itu bicara hanya bisa menelan salivanya tanpa berekspresi.
Yasya yang menggenggam tangan Syahbilla sedari tadi mulai merenggangkan jemarinya. Membuat gadis yang berada disampingnya memeluk pria itu dengan erat.
"Yasya... aku sangat bahagia malam hari ini, terimakasih sudah mau nunggu aku dari Paris. Aku nggak sabar dengan apa yang dikatakan tante tadi, pasti keluarga kita akan sangat bahagia nanti" ujar gadis itu dengan senyuman yang berbinar.
Yasya masih menatap ragu, wajahnya berubah sendu mengingat kebimbangan dalam hati yang ia rasakan saat ini.
Dibalas pelukan dari Syahbilla dengan tangannya.
"Iya...." balasnya dengan hati yang penuh kebimbangan.
Syahbilla melepaskan pelukannya dari pria yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu. Membuat gadis itu mendongak, menatap pria yang sangat ia cintai. Yasya hanya menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
"Sayang... aku pulang dulu ya, malam sudah sangat larut, kamu jangan tidur malam-malam okay... besok kita berangkat kuliah bareng okay."
***
Sementara itu di apartemen Reyna yang semula bersiap untuk tidur kini tubuhnya terkesiap. Matanya membulat, dengan hatinya yang merasa gelisah entah kenapa.
"Kenapa hatiku merasa tidak tenang?" ujarnya sambil memegangi dadanya yang terasa bergetar.
Reyna bangkit dari tidurnya, dia mencoba memejamkan matanya beberapa kali, namun hasilnya nihil. Ada sesuatu yang menggangu perasaannya, tapi apa?.
Terlihat wajah gadis cantik itu khawatir tanpa sebab, rasanya seperti ada yang mengganjal.
Dia mencoba mengambil sebuah gitar yang berada disamping tempat tidurnya, memainkannya secara perlahan. Reyna mencoba untuk tenang meski fikirannya melayang terbang entah kemana...
Fikirannya mengarah kebayang Yasya yang belum ada kabar sama sekali setelah ia meninggalkan Reyna ditempat Zayn.
"Apa aku harus telfon pak Yasya ya? aku khawatir, khawatir banget," gumamnya dengan pandangan matanya yang tak dapat fokus.
Hatinya tidak bisa dibohongi lagi, perasaan kalut mulai menyelimuti hatinya. Kini ditaruhnya alat musik petik itu dan diraihnya ponsel yang berada diatas nakas.
Reyna mencoba menunggu panggilannya diangkat oleh pria disebrang sana.
"Hallo" suara itu membuat Reyna tenang seketika meskipun hatinya masih dirundung kegelisahan.
"Hallo pak Yasya, pak Yasya ada dimana?" pertanyaan Reyna membuat pria disebrang sana terdiam cukup lama, membuat Reyna semakin cemas.
__ADS_1
"Pak... pak Yasya?" panggilnya lagi untuk memastikan.
"Ah iya, maaf, saya tadi ada urusan penting, hemmm Reyna, maaf, saya harus istirahat tolong jangan ganggu saya" kata pria itu ketus membuat Reyna akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Ah iya pak, selamat..." Belum sempat Reyna melanjutkan perkataannya, panggilannya dengan cepat ditutup oleh Yasya dengan sepihak.
Reyna mengerutkan dahinya, rasanya sedikit kecewa mendengar kata-kata dari Yasya yang agak dingin padanya.
"Apa yang terjadi dengan dia? apa aku punya salah, emm mungkin dia sedang capek aja, ya sudahlah" kata Reyna mulai berfikir positif, dia naik keatas ranjang lagi dan menarik selimutnya perlahan.
"Selamat malam Reyna" ucap gadis itu pada dirinya sendiri. Membuat matanya terpejam dengan perlahan.
***
kring kring kring....
Suara dering ponsel Yasya terdengar cukup keras malam itu. Membuat dirinya yang tengah merenung dipinggiran kolam bersama sahabatnya terkejut.
"Ponsel lo bunyi tuh" kata Satya memperingatkan.
"Boy, gue... gue bener-bener frustasi" kata Yasya yang kini mulai mengacak rambutnya dengan asal.
"Udah... angkat dulu aja telfonnya" kata Satya membujuk.
Yasya mengacak rambutnya frustasi. Dengan malas ia meraih ponsel yang ada disaku celananya.
"Hallo" ucapnya dengan nada datar.
"hallo pak Yasya.... pak Yasya ada dimana?" suara disebrang sana membuatnya membelalakkan matanya. Membuat dirinya berfikir keras harus bicara apa pada gadis yang tengah menelfonnya malam ini.
Fikirannya melayang, mengingat kebersamaannya bersama Reyna. Membuat matanya berkaca-kaca. Karena niat besarnya untuk memiliki gadis pujaannya sekarang hanyalah mimpi semata.
"Pak... pak Yasya?" panggilan gadis itu seketika membuat Yasya terdiam dengan bayangan Reyna dimatanya.
"Ah iya, maaf, saya tadi ada urusan penting, hemmm Reyna, maaf, saya harus istirahat tolong jangan ganggu saya" kata pria itu ketus.
"Ah iya pak... selamat" belum sempat Reyna mengakhiri salam perpisahan, langsung saja dirinya menutup panggilan itu.
"Lo masih berharap sama dia?" tanya Satya yang kali ini mulai mengerti apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
Yasya menggeleng, tatapannya pasrah dengan apa yang terjadi hari ini. Hatinya merasa bimbang dan resah, malam yang semakin larut membuat dirinya tidak bisa berfikir lagi.
"Gue mau cabut" ucapan Yasya dengan nada dingin dan berlalu pergi.
"Hey... lo mau kemana? ini udah tengah malam sya" kata Satya memperingatkan namun tidak digubris oleh pria itu yang kini terus berjalan jauh dari kaki Satya berdiri.
"Bodo amat" Yasya tidak menggubris pertanyaan Satya, membuat Satya menatapnya dengan kasihan.
Bagaimana mungkin, seorang pria tidak akan hancur ketika dirinya telah sampai pada batas mencintai gadis yang paling berharga untuknya. Dan tepat dihari ini dia malah bertunangan dengan orang yang sama sekali tidak ia cintai.
Yasya sudah kalah, hatinya yang sebelumnya pasrah dan gundah, kini berubah menjadi serba salah. Ingin sekali ia memeluk gadis yang selalu kuat dimatanya itu.
__ADS_1
Meski dia masih gadis yang sangat belia, namun dia sangatlah bijak dan dewasa.