The Secret Of My Love

The Secret Of My Love
Luka yang terbuka kembali


__ADS_3

"Rey"


"ada apa ky???"


Tanya Reyna yang menatap Hengky dengan menaikkan sebelah alisnya. Pandangan Hengky yang lekat membuat Reyna seperti tak leluasa, suasananya berubah menjadi hening. Hengky seperti masih penasaran dengan keadaan Reyna, jiwanya berkecamuk, ingin rasanya menjadi tempat sandaran bagi gadis cantik dihadapannya ini.


"Reyna.... Hengky...??? mami masuk ya..."


Suara Aliya membuat mereka menoleh kearah pintu yang berada disisi kiri meja belajar.


"Iya tante... masuk aja" kata Reyna dengan senyuman ramah.


Terlihat Aliya membawa nampan berisi kue kering dan dua cangkir teh. Perlahan ia meletakkan nampan tersebut diatas meja.


"Tante nggak perlu repot-repot begini, Reyna kemari cuma belajar, lagi pula hari semakin sore" ujar Reyna lembut dengan senyuman dipipinya.


"Nggak apa-apa Rey, anggap rumah sendiri ya, tadi tante sudah bilang ke Kyky suruh ambil camilan buat kamu... tapi liat kuenya masih didapur, jadi tante ambilin sekalian."


Reyna dan Hengky saling berpandangan dan menatap Aliya kembali. Reyna tersenyum lembut.


"Debenernya Reyna yang cegah Hengky, tadi pengennya langsung belajar aja" kata Reyna membela karena memang itu adalah inisiatifnya untuk belajar ditempat Hengky.


Hengky menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia merasa tidak enak terhadap Reyna.


Memang Reyna yang meminta, namun melihat sang ibu malah datang sendiri kedalam ruangan itu membuat dirinya merasa bersalah.


"Yasudah... ini sudah menjelang sore, kamu cepat minum teh dan makan kuenya... nanti biar Kyky yang anterin kamu pulang."


Reyna tersentak mendengar perkataan Aliya, dia menoleh kearah Hengky yang sedang menatapnya juga. Tatapan Reyna terlihat ragu, seolah ingin menolak.


"Iya mi, nanti pasti Kyky antar Reyna sampai kerumahnya... mami tenang saja" kata Hengky menyanggupi. Sedang Reyna kini tengah beradu argumen dengan fikirannya sendiri. Entah bagaimana caranya agar Hengky tidak mengetahui perihal masalahnya saat ini.


"Tapi tante" Reyna sempat hendak menyanggah, namun tatapan Aliya seperti sebuah harapan yang tak mungkin ia kecewakan.


"Kenapa Reyna?" tanya Aliya, dengan kerutan di dahinya membuat Reyna ragu untuk menolak. Namun fikirannya dilanda kebimbangan akan masalah yang ia sembunyikan pada sahabatnya.


Reyna hanya terdiam sambil menggeleng pelan.


Waktu menunjukkan pukul 17.30


Matahari terbenam terlihat diufuk barat, langit yang semula terang kini perlahan menjadi gelap gulita. Kini saatnya gadis itu harus kembali ke asalnya pulang ke tempat apartemen Iryasya.


Namun apa jadinya jika Hengky yang mengantarnya?. Reyna sempat berfikir keras, ia hanya berdoa supaya Tuhan membantunya untuk mengatasi masalah yang ada.


"Ayo Rey... naik" kata Hengky yang memberikan sebuah helm pada gadis dihadapannya. Reyna mengangguk patuh, namun ada keraguan dalam dirinya. Reyna masih terdiam, dia tak enak hati menolak tawaran dari Aliya.


"Rey... kok bengong?" ujar Hengky saat Reyna mulai terdiam tanpa kata. Gadis itu segera menggeleng, ia mencoba mengikuti alur, hanya dengan itu ia dapat selamat dari Hengky.


"Iya... kita jalan?" kata Reyna sambil mengenakan helm dan menaiki motor besar milik Hengky.


Hengky mengangguk dan segera menjalankan motornya.


'Reyna, Jangan ragu untuk mengatakannya Rey. Aku tidak ingin mendengar penjelasan dari siapapun kecuali itu keluar dari mulutmu sendiri' batin Hengky sambil terus fokus dengan jalanan didepannya.


Lambat laun, mereka hampir sampai dikediaman rumah Malik. Reyna tampak semakin khawatir, wajahnya semakin panik.


"Ky... berhenti di depan" ujar Reyna seraya menepuk pundak Hengky dan menunjuk jalanan didepannya yang sepi.


***


Seorang pria tengah memakai jas dan dasi panjang tengah berpakaian resmi untuk menghadiri makan malam.


"Mi....." Yasya yang tengah memandang wanita paruh baya di balik cermin. Seketika dirinya membalikkan tubuhnya untuk menatap lekat sang ibu yang telah merawatnya hingga dewasa.


"Aduhhh anak mami sangat tampan malam ini, bagus sekali... ayo kita keluar, tamunya papi udah pada dateng semua lo."


Yasya menggeleng pasrah. Dirinya dengan terpaksa mendekat kearah sang ibu.


Terlihat Satya yang tengah duduk disudut meja makan sedang berbincang-bincang dengan tuan Ferdiansyah dan beberapa rekan-rekan kerja dari sang ayah.


Yasya merasa sangat asing ditempatnya sendiri, dia merasa tak siap jika harus menjajaki dunia bisnis.


"Selamat malam tuan-tuan.... perkenalkan, ini adalah putra tunggal kami, Iryasya Ferdiansyah" suara Dian memperkenalkan putra satu-satunya itu kepada semua orang yang berada disana. Yasya mencoba tersenyum, dirinya menatap lekat wajah sang ayah, dan dibalas senyuman oleh Adi.


***


Reyna tampak turun dari motor besar milik lelaki rupawan itu dan perlahan melepaskan helm yang tengah ia pakai.


"Kok berhenti disini Rey? bukannya tinggal masuk gang aja ya."


"Nggak apa-apa... kamu pulang duluan, aku mau kerumah tetangga dulu... ada urusan sebentar" ucap Reyna dengan senyuman agar Hengky tidak khawatir padanya.

__ADS_1


"Kamu yakin nggak mau aku anter sampai rumah?" Reyna menggeleng, ia merasa harus melakukan ini sekarang juga, atau kalau tidak maka akan gawat jika salah satu dari anggota keluarganya tau Reyna berhenti dihalaman rumah mereka.


"Oke... hemmm kamu nggak lagi ada masalah kan?."


"Enggak ada ky... udah... pulang aja" kata Reyna dengan penuh keyakinan.


Hengky menatap bingung pada gadis dihadapannya, bahkan gadis yang menyimpan begitu banyak beban itu tetap saja bisa ceria seperti ini. Hanya Reyna yang paling kuat yang pernah dikenal oleh Hengky seumur hidupnya.


Tatapan Hengky berubah menjadi sendu, fikirannya kacau balau, ingin rasanya menanyakan langsung padanya. Namun Hengky tak ingin Reyna terbebani, dan membiarkan Reyna untuk siap bercerita sampai pada waktunya.


"Kyky.... kok bengong?."


"Rey" ucap Hengky dengan cepat memarkirkan motornya dan segera turun untuk memeluk sahabatnya itu.


Reyna membelalak matanya, dia tak mengerti dengan apa yang dilakukan Hengky....


"Ky.... ada apa?" tanya gadis itu sembari mengelus punggung Hengky yang tengah mendekapnya.


"Tidak ada... hanya saja? jika kamu ingin menceritakan sesuatu padaku, jangan ragu untuk mengatakannya. Aku siap mendengar dan membantu mu, aku pernah janji padamu Rey. Aku akan menjadi penopang dan penyemangat saat kamu nggak punya siapa-siapa. "


.


Mata Reyna berkaca-kaca, ingin sekali rasanya dia mengatakan apa yang terjadi. Tapi dia belum siap, karena misteri keberadaan Almira belum terpecahkan. Sebelum keadaan kembali, tiada kata yang perlu terucap dari mulutnya.


Dia membalas pelukan sahabatnya itu, Reyna meyakinkan dirinya untuk tetap tegar dan tidak akan lemah sedikitpun dihadapan sahabat-sahabatnya.


Reyna melepas pelukan dari sahabatnya. Reyna menatap lekat wajah sendu pria yang bertubuh tinggi dihadapannya. Dengan wajah yakin dan senyum seperti tanpa beban membuat Reyna berdiri dan bangkit kembali dari kesedihannya.


"Aku nggak apa-apa, nggak ada yang terjadi padaku... jangan khawatir, kalau aku ada masalah pasti aku bakal cerita."


"Aku nggak akan pernah ninggalin kamu Rey, kamu nggak perlu ragu."


"Iya.. iya... aku tau, kamu cepetan pulang, Tante Aliya pasti lagi nungguin kamu dirumah" Hengky menghembuskan nafasnya, dia mengangguk patuh pada Reyna.


Segera dia menjalankan kendaraannya dan berpamitan pada sahabatnya yang sangat ia cintai itu.


Reyna menghembuskan nafas lega, entah Hengky mengetahui ataupun tidak, yang terpenting hatinya belum siap terbuka pada orang-orang disekitarnya.


Reyna berjalan perlahan dengan membawa tas kecil yang berada dipunggungnya, dia hampir lupa dengan gitar yang ia titipkan pada Zayn.


Reyna memasuki kompleks perumahan, dan perlahan dia mulai rindu dengan keadaan rumahnya. Reyna berhenti disebuah rumah yang cukup besar dan sederhana dengan taman bunga kecil didepannya. Teringat omanya yang setiap pagi dan sore selalu duduk dan menyirami tanaman asri di hadapannya.


Perlahan langkahnya mendekat kearah rumah itu, dia beralih kearah samping belakang, dimana terdapat ruang makan yang berhubungan dengan dapur. Reyna rindu dengan abangnya, biasanya dimalam seperti ini dia menyuapi Reyhan dengan makanan kesukaannya. Gadis itu mengintip dibalik jendela yang terhubung langsung dengan ruang makan.


"Papa.... Reyna kangen sama papa, hiks... kenapa harus Keyla yang ada disana" tak terasa wajah Reyna memerah, dan matanya mulai berkaca-kaca. Ingin sekali dia memeluk sang ayah yang ia rindukan selama ini.


Reyna membalikkan tubuhnya, dia menghapus jejak air mata yang berada disudut mata dan menggenang di pipinya.


Reyna tertunduk lesu tiba-tiba langkah kakinya terhenti, melihat sebuah kaki seorang wanita. Matanya perlahan mendongak menatap wanita paruh baya yang tengah memakai gaun merah dan membawa sebuah bingkisan ditangannya.


"Mau apa kamu kesini?!" kata wanita itu sinis. Membuat Reyna terkejut dan menatap tajam kearah wanita itu.


"Tante Tiya, tante ngapain kesini?" tanya Reyna dengan ekspresi wajah penasaran sekaligus terkejut.


"Seharusnya aku yang bertanya, ngapain kamu kesini?! mau ngemis-ngemis sama papamu ha? biar kamu bisa ditampung di rumah ini lagi."


"Nggak sengaja lewat" ucap Reyna dengan mengalihkan pandangannya.


"Oh ya... gimana keadaan ******* itu, ups maaf ibumu" kata Cintiya mengejek dan menatap Reyna sinis.


"Tante.... tante boleh mengatakan apapun tentang aku! tapi tante nggak berhak menghina mama ku!" Reyna menatap Cintya penuh amarah, matanya membulat meski terlihat kilatan amarah dimatanya.


"Kamu berani ya ngebentak aku, asal kamu tahu, sebentar lagi aku yang akan menggantikan posisi ibumu, jadi jangan harap kamu bisa kembali lagi kerumah ini."


"Oh... begitu? selamat" jawab Reyna tak peduli. Baginya mau Keyla atau perempuan ini yang akan memasuki keluarganya, ia tak perduli lagi. Toh dia sudah dibuang dan tak diinginkan untuk apa memikirkan soal mereka.


Reyna hendak pergi dan menjauh dari Cintiya, namun tangan Cintya menghadang tubuh Reyna hingga dirinya berhenti.


"Kamu... anak haram berani-beraninya melawan ku."


Cintya mendorong tubuh Reyna hingga dirinya terjatuh, dorongan yang kuat dari Cintya membuat perban dilutut Reyna terbuka dan darahnya kembali bercucuran. Hal itu membuat Reyna bangkit.


Cintya dengan cepat menjatuhkan tubuhnya sendiri, dan melempar bingkisan yang ia bawa.


"Tante... tante ngapain?" Cintya tidak menggubris pertanyaan Reyna. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Tolong, Mas Reynal!" teriak Cintya, membuat Reynaldi, Reyhan dan juga Keyla keluar dari rumah.


Reyna menatap pintu yang terbuka, dan menampilkan ayah beserta kakaknya menatap dirinya dengan amarah.


"Tante... apa yang terjadi" kata Reyhan dan segera membantu Cintya untuk bangkit.

__ADS_1


"Mama!" Keyla terlihat mengerutkan keningnya, matanya yang berkaca-kaca dan segera menyusul Reyhan untuk menolong sang ibu.


"APA yang terjadi....?!!" teriak Reynaldi dengan wajahnya yang begitu garang.


Reyna masih diam membisu, wajahnya pucat pasi. Pastilah dirinya akan disalahkan kali ini.


Mengingat betapa liciknya Keyla pasti induknya akan lebih berbahaya daripada dirinya. Ia mengeratkan kepalan ditangannya. Ingin rasanya membongkar semua permainan ini, tapi rasanya tidak akan mungkin. Cintya dan Keyla pasti tidak akan tinggal diam.


"Papa...." ucap Reyna menggantung kala Reynaldi melayangkan sebuah tatapan sinis padanya.


"Jangan memanggilku seperti itu... apa yang kamu lakukan disini?!" mata Reyna membulat, serta hendak mengeluarkan genangan air mata yang masih oa tahan.


"Mas... Reyna tidak bersalah.m, aku tadi melihat dia dari belakang, dan aku mencoba mengajaknya untuk kedalam, makan malam bersama kita, tapi dia hiks... malah mendorong ku. Mungkin memang benar perkataannya, aku harus membatalkan rencana pernikahan kita."


"Tante, apa maksud tante aku tidak" ucapan Reyna terpotong oleh perkataan Cintya.


"Reyna tante tau... tante yang bersalah, mungkin memang benar yang kamu katakan barusan, kehadiran tante dan Keyla yang membuat kamu diusir, sebegitu bencinya kamu pada tante, sampai masakan yang tante susah payah buatkan untuk Reyhan kamu buang."


"Reyna, kamu benar-benar keterlaluan!" kata Reyhan dengan amarahnya yang memuncak.


"Reyna... jika kami hanyalah pengganggu, maka kami rela pergi, asalkan kamu jangan mendorong ibuku, hiks mama."


Isak Keyla dan memeluk tubuh Cintiya.


Sedangkan Reyna hanya membisu, dirinya tidak tau harus berbuat apa. Ditatapnya sang ayah yang hanya berdiam. Harapannya hanya ingin mencari kepedulian dari matanya namun ternyata Reyna salah.


Seorang ayah yang dulunya begitu lembut dan perhatian, dia yang selalu memeluk Reyna dalam ketakutan dan juga selalu ada untuknya. Kini bukanlah orang yang sama.


"Kamu pergi dari rumah ini!" Reynaldi naik pitam, rahangnya mengeras menahan amarah. Ia berteriak pada Reyna dengan kencang. Sedang Reyna tak beranjak dari tempatnya, entah mengapa, ia seperti menantang Reynaldi yang kini sudah termakan amarah.


Plakkkk....


Sebuah tamparan mendarat dipipi Reyna, membuat matanya berkaca-kaca. Panas di pipinya bahkan seperti ia hilangkan rasanya.


"Aku tidak" ucapan Reyna sempat terputus kala Reynaldi melayangkan tamparannya lagi.


Plakkkkk....


Tamparan keras mendarat dipipi mulus Reyna lagi. Membuat Reyna menunduk, kedua wajahnya memerah, sudut bibirnya berdarah karena tamparan keras dari sang ayah.


Reyhan menatap pemandangan didepannya dengan wajah terkejut, sedangkan Keyla dan Cintya tersenyum puas.


"Jangan pernah dekati anak-anak ku dan calon istri ku lagi, jika tidak... aku tidak akan membuat hidupmu lebih beruntung dari ini."


Reyna masih menunduk lesu, dirinya tak berani menatap wajah sang ayah yang tengah dilanda amarah.


"PERGI!" teriak Reynaldi dan mendorong tubuh Reyna menjauh.


"Pa" gumam Reyhan menatap sendu pada Reyna yang enggan mengangkat wajahnya.


"Reyhan, Keyla cepat bawa mama kalian masuk" Keyla dan Reyhan menuntun Cintya untuk masuk ke dalam rumah besar itu. Reynaldi menggantikan tangan Reyhan yang tengah menopang lengan Cintya.


Reyna tidak berkata apa-apa, dia membalikkan tubuhnya. Tenggorokannya seperti tercekat, jantungnya berdebar hebat, tubuhnya terasa tak berdaya. Matanya seolah ingin menumpahkan air mata yang ia tahan.


Sedangkan Reyhan menatap Reyna yang tengah berjalan tertatih dengan tatapan sendu. Hatinya merasa tidak tega melihat adiknya tersiksa seperti itu. Dilihatnya punggung Reyna yang semakin lama semakin menjauh dari pandangannya.


Reyhan hendak menutup pintunya, dan tatapannya tanpa sengaja beralih kearah paving halamannya yang banyak jejak darah berceceran tepat dimana Reyna berdiri. Buru-buru dirinya menutup pintu dan segera menemui keluarganya di ruang makan.


"Tante.... tante ada yang luka nggak?" tanya Reyhan dengan raut wajahnya yang tampak khawatir pada calon ibunya itu.


"Tante nggak apa-apa sayang, nggak ada luka sama sekali, kamu nggak perlu khawatir" ujar Cintya dengan senyum lembutnya.


"Baguslah" Reyhan tersenyum lega, namun ekspresinya berubah seketika ketika mengingat darah itu. Tatapannya berubah menjadi khawatir.


'Kalau darah itu bukan dari tante Tiya, jadi darah itu berasal dari Reyna... tapi kenapa? bukankah Reyna yang mendorong tante Tiya, seharusnya dia tidak terluka kan, ini aneh' batin Reyhan dengan kerutan di dahinya.


Reyna terus berjalan, langkahnya tertatih karena lututnya yang tengah bercucuran darah. Luka yang sebelumnya belum kering kini terbuka kembali.


Matanya berkaca-kaca, seolah tak bisa menahan emosi dan perasaan yang ia rasakan.


Dinginnya malam menjadi teman setia dari tangis Reyna tanpa bersuara.


Cukup jauh Reyna berjalan, dia menghentikan langkahnya disebuah bangku trotoar dan beristirahat sejenak disana.


Terlihat wajahnya yang semakin pucat karena belum makan sedari tadi, ditambah dengan kedua pipinya yang lebam bekas tamparan, dan darah yang mengalir disudut bibirnya.


Membuat keadaannya seperti baru saja mengalami sebuah penganiayaan. Reyna menatap lututnya yang berdarah sangat banyak, dilepaskannya perban yang terbuka itu dan dibuang kesembarang tempat.


"Aku salah apa Tuhan.? kenapa hidupku seperti ini, aku bahkan tidak pernah menyakiti siapapun" isak Reyna sembari memeluk tubuhnya sendiri, beberapa orang berlalu-lalang memperhatikan keadaannya yang memprihatinkan. Reyna tak menggubris mereka, hatinya terlalu sakit untuk menghawatirkan yang lainnya.


Semakin lama malam semakin larut, Reyna tak bergeming dari tempatnya duduk sedari tadi.

__ADS_1


Trotoar yang awalnya ramai, kini berubah menjadi sepi. Reyna masih diam mematung, meneteskan beberapa air mata yang tersisa.


"Ternyata seperti ini rasanya dibuang? bahkan bang Rey tidak memperdulikan ku sama sekali" ucap gadis itu seraya menghapus jejak air matanya.


__ADS_2